Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANTI MALANG SANTI SAYANG
Jam 08.03. PT. Gumilang Perkasa.
Santi berdiri di depan ruang HRD. Sama seperti kemarin, daster bunga-bunga biru. Lusuh. Sandal merah. Rambut masih kuncir karet gelang. Di tangan hanya ada map cokelat dari Dody. Tidak ada ID card OB. tidak ada seragam. Semua sudah dibalikkan ke Tante Wati kemarin.
Pintu HRD dibanting. Keluar Tante Wati. Blazer merah menyala, rok span, high heels 15 cm. Kalung emas huruf "W" berkilauan. Muka sudah mode perang.
"Nah datang juga kamu!"
Tante Wati senyum masam. Dia mengibas-ngibaskan tangan di depan Santi.
"Aku denger kamu tadi malam tidur di mansionnya Dody ya?! Senangnya jadi nyonya ya...."
Satu ruangan HRD pada menunduk. Ada 5 staff HRD yang pura-pura mengetik, padahal telinganya mengarah ke drama.
Santi menunduk.
"Tante... aku cuma mau minta kejelasan tentang resignku dari OB. Ini perintah dari pak Dody…..”
"Perintah? ? Keponakanku?!"
Tante Wati membuat jatuh map yang dipegang Santi. Kertas buyar.
"Denger ya, Santi. Di kantor ini, aku yang bikin aturan. Bukan keponakanku yang lupa diri! Surat tunangan Dody-Wandy ada di brankasku! Kamu ngotrak nikahnya saja! Kamu tetep OB! Titik!"
Santi jongkok memungut kertas yang jatuh berserakan di lantai ruangan
Tante Wati tertawa sumbang kelihatan sedang tidak senang.
"Sakit? Bagus. Biar kamu inget tempat kamu."
Bisik Tante Wati.
"Kamu karena nikah ngotrak dengan Dody kamu langsung jadi ratu? Enggak! Selama aku masih HRD, kamu bakal aku bikin kerja keras! Kamu pikir keponakanku berani lawan Opa Darwis? Tunangannya aja yang konglomerat pergi ke negara S! Apalagi kamu OB gak pantes sekali!"
Santi menggigit bibir. Dia menangis sedih mendengar suara tante Santi yang menohok sampai di hati yang terdalam. Foto Nonik tampak masuk ke meja staff HRD tanpa Santi berani mengambilnya. Nanti kalau ada kesempatan longgar dan sedang sepi baru ambil. ambil sekarang sangat riskan.
"Ayo berdiri yang benar!"
Tante Wati berteriak marah. Dia menunjuk ke pojok ruangan. Ada ember dan pel dan 1 botol cairan pembersih lantai.
"Tugas pertama kamu sebagai 'Nyonya'."
Tante Wati tersenyum penuh kepahitan.
"Pel lantai ini sampai bersih. Dari ujung ke ujung. 20 kali bolak-balik. Sampai benar-benar bersih. Tidak boleh ada bekas apapun, harus bersih. Aku tunggu."
Staff HRD pada menoleh dengan penuh arti. Ada yg berbisik: "Busyet galak amat seperti macan garong..."
Santi mengusap tangannya dengan sedih. dia harus menuruti apa kata tante Wati
"Baik, Tante..."
"Bukan tante Wati. Panggil aku ibu Wati dengan hormat!"
"Baik, Bu Wati."
Jam 08.10 sampai 09.30. Santi mengepel. Putaran 1. Daster sudah basah oleh keringat. Putaran 5. Lutut gemetar. Tangannya capai sekali seperti semutan. Putaran 12. Nonik VC.
"Mama khok capai begitu? Mama lagi apa?"
"Mama lagi olahraga, Sayang."
Itu Nonik memakai HP pinjaman dari bu Dewi tetangga sekosan dengannya yang dimintai tolong Santi menunggui Nonik yang sedang dirawat di rumah sakit K. Putaran 20. Santi selesai. Lantai sudah bersih. Tapi Santi sudah mau pingsan rasanya.
Tante Wati bertepuk tangan pelan.
"Pintar. Kayak gini dong. Tahu dengan baik yang aku maksud!"
Dia menjejak lantai yang baru dibersihkan Santi dengan susah payah, meninggalkan jejak high heels.
"ulangi ini. Ada jejak sepatuku."
Santi mau memprotes tetapi..
TING!
Lift kebuka. Keluar Dody. Jas hitam mahal. Dasi marun. Muka datar kayak es batu. Satu ruangan HRD langsung berdiri.
"Selamat pagi, Pak Dody!"
Dody tidak menjawab. Matanya menyapu ruangan.Melihat tante Wati berdiri tegak. Lihat Santi dasteran memegang pel, tangan ada cairan, muka pucat, lantai basah.
Dody diam. Hanya diam. Dia berjalan. melewati Santi. Tidak menolong sama sekali. Tidak menegur. Tidak membela. Tidak ada kasihan dimatanya yang tajam bagai elang. Dia masuk ke lift menuju lantai 20. Lift tertutup.
Hening yang mencekam.
Tante Wati tertawa dengan sinis.
"sudah kelar khan kalau pak Dody tidak akan melihat kepayahan kamu itu. Ayo teruslah mengepel sampai bersih sampai tidak ada noda jejak sepatu sama sekali!"
Santi menggigit bibir dengan sedih. Air matanya jatuh ke lantai satu-satu. Tetapi dia mengambil pel lagi. Mencelup kain pel ke ember.
RUANG CEO - LANTAI 20
Dody duduk di kursi. Depan meja ada 6 monitor CCTV.
Monitor 6: RUANG HRD.
Di monitor 6, keliatan jelas. Tante Wati menunjuk memberi arahan. Santi mengepel. Bolak-balik. Ke-1. Ke-5. Ke-12. Ke-20. Kelihatan sekali Tante Wati sangat tidak suka kepada Santi karena dia hanyalah OB. Kelihatan sekali Santi VC sama Nonik sambil bohong
"Mama olahraga".
Kelihatan pada waktu Dody masuk, Santi berharap ditolong olehnya. Kelihatan rekaman ulang pas Dody diam, lewat, masuk lift.
Dody tidak berkedip. Tangan kanannya mengepal di atas meja. Buku-buku jarinya putih.
Di laci mejanya ada 1 map merah. Tulisan: "Surat PHK Tante Wati". Tanggal, hari ini. Tanda tangan Dody Gumilang.
Tetapi map itu tidak dia keluarkan. Kenapa?
Karena di HP-nya ada WA dari Opa Darwis 5 menit lalu.
"Tante kamu jangan dipecat dulu, Dod. Saham dia 15%. Kamu butuh suara dia buat RUPS 24 hari lagi. Saham warisan taruhannya. Tahan. Kalo kamu bela OB itu sekarang, merger sama Wandy batal. Perusahaan bangkrut. Nonik nggak jadi operasi."
Dody membanting HP ke meja. Di CCTV, Santi sudah mulai mengepel putaran ke-21. Dody menutup mata. Nafasnya berat. Dia seperti menyangga beban yang berat sekali. dia teringat pertunangannya dengan Wandy 2 tahun yang lalu viral dalam seminggu di tayangkan di televisi-televisi membahas pertunangan CEO PT Gumilang Perkasa.
Dia membuka laci. Bukan mengambil map PHK. Dia meminum air dibotol biru untuk menenangkan dirinya
Berbisik ke layar CCTV:
"Tahan 24 hari lagi, Santi... RUPS beres, Tante harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan para direksi. Aku janji. Pasti aku tepati."
Tetapi Santi di layar tidak mendengar. Santi hanya terus mengepel lantai. Putaran ke-22. Putaran ke-23.
RUANG HRD
Tante Wati duduk di kursi dengan anggun bak para bangsawan tempo dulu yang elegan dan misterius
"Lebih cepat dong, Nyonya! anak kamu sedang butuh kamu untuk dirawat dan ditunggui! Atau mau aku VC-in Wandy? Biar dia tahu tunangannya menikah dengan OB?"
Santi sudah tidak kuat. dunianya terasa diliputi gelap pekat. Pel yang dipegangnya jatuh.
BRUG
Santi pingsan. kepalanya sakit sekali entah apa yang mengenainya.
Staff HRD menjerit. Tante Wati masih tenang. Sedang apa kamu khok tidur?!"
TING!
Pintu lift terbuka lagi.
Keluar Dody. Kali ini mukanya beda. Matanya merah. Dia jalan cepat. tidak ke Tante Wati. Dia jongkok. Mengangkat Santi. Daster sobek, sakit seperti ada cairan noda di kepala, tangan sakit karena mengepel terus-menerus.
Dody menggendong Santi ala peragawan yang anggun. Lewat didepan Tante Wati.
"Dody! Kamu mau kemana?! Dia cuma pingsan palsu! Opa Darwis bakal marah!"
Dody berhenti. menatap Tantenya. Dingin.
"CCTV nyala, Tante. 20 kali bolak-balik. Putaran 1 sampe 20. Aku hitung. RUPS 24 hari lagi."
Tante Wati pucat.
"Setelah itu, kursi HRD kosong. Tante siap-siap pensiun dini. Dan Wandy? Aku urus setelah Tante."
Kelihatan Dody mulai perhatian kepada Santi. Dody bawa Santi masuk lift. Pintu lift menutup.
Di CCTV yang masih menyala, Tante Wati jatuh duduk. Pertama kalinya dia takut.
Lift tertutup. Di pelukan Dody, Santi berbisik lirih: "Nonik..."
BERSAMBUNG