NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Keputusan dan Penolakan

Setelah tiba di rumah, Kinanti bergegas memasuki kamarnya. Ia tidak sabar untuk segera mengganti dress formalnya dengan pakaian yang lebih nyaman, dilanjutkan dengan rutinitas perawatan malam hari. Setelah selesai, Kinanti pun keluar dari kamar, bermaksud menemui sang ayah yang kebetulan sedang berada di ruang televisi.

"Bapak ada waktu?" tanya Kinanti pelan.

"Ada, Nak. Kenapa?" jawab Pak Wisnu.

"Tadi Kinan sudah membicarakan perihal lamaran dengan Juragan Adi. Beliau memberikan Kinan waktu untuk berpikir hingga besok, tapi..." ucap Kinanti menggantung.

"Tapi kenapa, Nak?" tanya Pak Wisnu, melihat keraguan yang jelas terpancar di wajah putri tunggalnya.

"Kinan takut, sampai besok pun Kinan belum bisa memberikan jawaban," lirih Kinanti.

Pak Wisnu menghela napas panjang, menatap wajah putrinya yang nampak cemas dan ragu.

"Nak, setiap pilihan sudah pasti ada risikonya masing-masing. Tetapi, jika kamu tidak segera memberikan jawaban, sama saja kamu menggantungkan harapan orang dengan ketidakpastian. Coba kamu pikirkan bagaimana perasaan Juragan Jaya, Bu Sarasvati, dan Juragan Adi yang menunggu lama jawaban darimu. Meskipun kamu menolak lamaran ini, jika disampaikan dengan baik-baik, setidaknya mereka merasa dihargai," nasihat Pak Wisnu.

Kinanti terdiam, merenungkan setiap perkataan ayahnya, dan ia pun merasa bersalah atas keraguannya.

"Jika ini yang terbaik, maka jawaban Kinan adalah menolaknya, Pak. Ada banyak faktor yang tidak bisa Kinan terima," ucap Kinanti akhirnya, mantap.

"Apa saja, Nak?" tanya Pak Wisnu lembut.

"Status sosial, perbedaan umur, dan... gadis di pesta itu. Kinan bisa merasakan jika dia sangat menyukai Juragan Adi dan... pasti sangat menginginkan Juragan Adi menjadi suaminya."

"Baiklah, Nak. Jika ini pilihanmu, Bapak hargai itu. Besok kita akan ke rumah Juragan Jaya untuk menyampaikan jawabanmu," Pak Wisnu mengelus sayang kepala Kinanti.

"Terima kasih, Pak. Kinan sayang Bapak," ucap Kinanti memeluk sang ayah, yang dibalas dengan pelukan hangat oleh Pak Wisnu.

"Sudah malam. Tidurlah, Nak," suruh Pak Wisnu yang masih dalam pelukan.

"Iya, Pak. Kinan tidur dulu. Selamat malam, Pak." Kinanti pun pergi ke kamar untuk beristirahat.

✦ ✧ ✦ ✧ ✦✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦

🌸 Penolakan di Pagi Hari

Pagi hari yang cerah. Di kediaman keluarga Wijaya, telah kedatangan tamu, yang tak lain adalah Pak Wisnu dan Kinanti, putri tunggalnya. Di sana juga sudah ada Pak Wijaya dan Bu Sarasvati selaku tuan rumah, serta tak ketinggalan Juragan Aditya, pemuda yang ingin meminang pujaan hatinya.

"Mohon maaf sebelumnya, Juragan Jaya, Bu Juragan, dan Juragan Adi, jika kedatangan kami mengganggu waktu Anda. Saya ke sini mewakili anak saya, ingin menyampaikan jawaban tentang lamaran Juragan. Bahwasanya putri saya, Kinanti, menolak lamaran tersebut. Alasan putri saya ada beberapa faktor yang menjadi kekhawatiran Kinan. Jadi, saya sebagai orang tua Kinanti, meminta maaf karena terlalu lama memberikan jawaban dan atas penolakan Kinanti, Juragan," ucap Pak Wisnu dengan penuh hormat.

Pak Wijaya mengangguk pelan setelah mendengar penyampaian Pak Wisnu. Sementara itu, Aditya menatap Kinanti dengan tatapan yang sulit diartikan, intens dan menusuk.

"Kalau boleh tahu, apa alasannya?" tanya Bu Sarasvati, yang tampak sedih dan kecewa.

"Alasan Kinanti menolak adalah karena perbedaan status sosial dan umur yang sangat jauh, Nyonya," bukan Pak Wisnu yang menjawab, melainkan Kinanti sendiri.

"Baiklah kalau begitu, kami terima alasannya, Wisnu. Nak Kinanti, terima kasih sudah memberikan jawabannya. Saya dan keluarga menghargai keputusan Nak Kinanti," ujar Pak Wijaya dengan nada berwibawa.

"Kalau begitu, saya dan anak saya pamit dulu. Juragan Jaya, Bu Juragan, Juragan Adi, permisi," pamit Pak Wisnu sembari menundukkan kepala.

"Tunggu!" cegah Aditya dengan suara berat.

"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Kinanti, apakah bisa?"

Bu Sarasvati dan Pak Wijaya saling tatap. Pak Wisnu nampak bimbang, ragu untuk mengizinkan atau tidak, mengingat sedari tadi Aditya minim memberikan tanggapan saat perbincangan.

"Sekalian saya antarkan Kinanti ke tempat kerjanya," tambah Aditya.

Setelah berpikir sejenak, dengan ragu Pak Wisnu mengizinkan.

✦ ✧ ✦ ✧ ✦✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦

🚗 Kekecewaan Aditya

Suasana di dalam mobil hitam Aditya nampak hening, tanpa ada percakapan yang terjadi. Sang pemilik mobil menyetir dengan raut wajah datar, hal itu membuat gadis di samping kursi pengemudi, Kinanti, merasa sangat tidak nyaman.

"Apa alasanmu menolak lamaran Saya?" Aditya membuka pertanyaan dengan wajah tanpa ekspresi.

"Status sosial dan umur, Juragan," jawab Kinanti, menundukkan kepala karena tak berani memandang wajah Aditya.

"Kinanti, kita sudah pernah membicarakan ini. Saya menikahimu, itu berarti saya siap membimbingmu. Perbedaan usia bukan patokan kita tidak bisa saling melengkapi. Sekarang kamu mempermasalahkan status sosial?!"

"Ta-tapi... Juragan, status sosial itu pen—"

"Kita yang menjalankan pernikahan ini, bukan mereka," tegas Aditya memotong ucapan Kinanti, membuatnya terdiam. Kinanti tidak berani lagi mengeluarkan suaranya, takut jika Aditya lepas kendali terhadapnya.

Sesampainya di depan toko bunga yang masih sepi. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, sementara toko bunga baru buka pukul 8 pagi nanti.

"Masuklah. Kita sudah sampai," ucap Aditya datar.

"Terima kasih, Juragan. Mohon maaf sudah merepotkan," pamit Kinanti, menundukkan kepala dan buru-buru membuka pintu mobil.

Aditya menatap tajam kepergian Kinanti, kemudian melajukan mobilnya menuju perkebunan kelapa sawit karena hari ini ada panen yang mengharuskannya berada di sana.

✦ ✧ ✦ ✧ ✦✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦

🍽️ Makan Malam dan Kekuatan Cinta

Waktu terus berjalan. Jam pulang kerja akhirnya tiba.

"Tumben kamu tidak bawa kendaraan sendiri, Kinan?" tanya Laras, teman kerjanya.

Kinanti yang sibuk mengemasi kotak bekal dan barang pribadinya ke dalam tas kecil hanya tersenyum simpul.

"Mau bareng aku saja, Kinan?" Kini suara dari Wulan pun ikut terdengar.

"Tidak usah, Mbak Wulan. Kinan nanti ada yang menjemput."

"Oh, ya sudah kalau begitu, Mbak duluan ya."

"Hati-hati, Mbak."

"Duluan, Kinan."

Setelah selesai dengan semua barang-barangnya, Kinanti pun berjalan keluar dan berdiri di samping toko sambil bermain ponsel, menunggu jemputan dari sang Ayah yang sudah ia hubungi.

Tak lama, sebuah motor terparkir tepat di depannya.

"Nak, menunggu lama, ya? Maaf, Bapak baru datang," ucap Pak Wisnu.

"Tidak, Pak. Kinan baru keluar dari toko, kok."

Kinanti langsung naik motor, dan ayahnya tancap gas meninggalkan toko bunga.

Sesampainya di rumah, Kinanti bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat. Setelah selesai, Kinanti pun mulai memasak untuk makan malam.

"Nak, mau masak apa?" tanya Pak Wisnu, memasuki area dapur.

"Tumisan sawi, tahu tempe goreng, dan ikan goreng, Pak."

"Ya sudah, Bapak tinggal ke belakang sebentar ya, Nak."

Kinanti menganggukkan kepalanya sambil mengaduk tumisan sawi. Tumisan sawi dengan telur orak-arik, tahu tempe goreng, dan ikan goreng siap dihidangkan. Kinanti memanggil Pak Wisnu untuk makan malam.

"Bapak, makan malam sudah siap," ajak Kinanti.

"Tadi pagi Juragan Adi bicara apa, Nak?" tanya Pak Wisnu, membuat Kinanti terdiam sejenak saat menikmati makannya.

"Beliau kecewa saat Kinan menolak lamaran. Beliau bilang kalau status dan usia bukan jadi hambatan. Kinan tidak bilang kalau penolakan Kinan juga karena gadis itu, Pak," jelas Kinanti, menundukkan kepala.

"Ya sudah, Nak, tidak apa-apa. Mungkin kalian memang tidak berjodoh," kata Pak Wisnu menenangkan.

Kinanti mengangguk pelan.

"Tapi tadi Juragan tidak macam-macam sama kamu, kan, Nak?" tanya Pak Wisnu memastikan.

Kinanti menggeleng. "Tidak, Pak. Juragan Adi cuma mengungkapkan kekecewaan."

"Ya sudah kalau begitu. Habis makan istirahat, jangan begadang sambil main ponsel," pesan Pak Wisnu.

Setelah itu, mereka kembali menikmati makan malam dengan khidmat.

✦ ✧ ✦ ✧ ✦✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦

💔 Cinta yang Ditolak

Di tempat lain, dengan suasana yang berbeda. Keluarga Wijaya sedang berkumpul di ruang keluarga, terkecuali Abyan yang setelah makan malam langsung ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah.

"Adi, bagaimana dengan Lidia, putri teman Ayah? Dia sangat ingin menikah denganmu, Nak. Bagaimana kalau kamu coba mengen—"

"Adi tidak akan menikah dengan Lidia atau siapa pun, Yah," potong Aditya. Raut wajah datarnya seakan tidak berminat dengan pembicaraan ini.

Pak Wijaya dan Bu Sarasvati hanya bisa menghela napas panjang melihat putra sulungnya.

"Lalu bagaimana, Nak? Dengan siapa kamu akan menikah nanti?" tanya Bu Sarasvati dengan lembut.

"Kinanti."

"Nak, Kinanti sudah menolak lamaranmu. Kamu harus menerima itu, Adi," ujar Pak Wijaya tegas.

"Tidak, Yah! Jika aku tidak menikah dengan Kinanti, maka tidak ada pernikahan di sini! Tidak akan pernah!" hardik Aditya, lalu pergi meninggalkan rumah orang tuanya.

"Yah, bagaimana ini?" Bu Sarasvati khawatir.

Pak Wijaya hanya diam, entah apa yang dipikirkannya.

Bersambung__

___

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!