Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 4 -SERANGAN AWAL (1)
Pagi itu dimulai dengan tenang. Cahaya matahari menyinari lapangan latihan kediaman Solarith. Arta dan Elian sedang sibuk menyiapkan logistik untuk seleksi, mereka memeriksa dokumen dan peta taktis di atas meja.
Tidak ada satu pun tanda atau getaran yang memberitahu mereka bahwa akan ada bahaya besar yang datang dari luar angkasa.
Hening itu pecah saat gerbang lapangan terbuka dengan keras. Seorang utusan istana berlari sekuat tenaga dengan wajah yang sangat pucat. Napasnya terengah-engah karena ketakutan.
"Tuan, berita darurat! Berita darurat!"
Teriakannya menghentikan aktivitas semua orang di lapangan. Elian langsung bergerak menghampiri pria itu.
"Tenanglah. Atur napasmu dan katakan apa yang terjadi!" perintah Elian, meski ia mulai terlihat cemas.
Namun, sebelum utusan itu sempat menjawab, suara bising yang rendah dan berat mulai terdengar. Suaranya sangat kuat hingga membuat dada terasa bergetar. Semua orang serentak melihat ke atas.
Pesawat luar angkasa milik Nebula yang sebelumnya diam di langit mulai bergerak. Benda besar itu berpindah posisi dengan sangat cepat, seolah-olah langit sedang bergeser perlahan di atas ibu kota.
Tanpa membuang waktu, Arta merapalkan mantra terbang. "Aku harus ke istana sekarang!" teriaknya pada Elian. Dengan kecepatan penuh, aku akan sampai dalam lima menit, pikir Arta panik.
Tiba-tiba, suara melengking yang tajam terdengar di udara. Suara itu bukan berasal dari pesawat Nebula, melainkan dari arah lain.
Seketika, langit terlihat bercahaya kemerahan selama beberapa detik. Ratusan tembakan laser meluncur dari atmosfer dan menghujani pesawat Nebula. Setiap hantaman menciptakan ledakan cahaya yang sangat terang.
Dampaknya sangat buruk. Beberapa tembakan laser yang meleset menghantam permukaan bumi. Salah satunya mengenai sisi timur istana dengan sangat tepat. Dalam sekejap, separuh bangunan besar itu hancur menjadi puing-puing yang terbakar.
"Apa?! Apa yang terjadi?!" teriak Arta yang masih berada di udara. Wajahnya memucat. Kejadian ini terlalu cepat dan di luar dugaannya.
Pesawat Nebula yang terbakar mulai jatuh karena kehilangan daya. Saat benda raksasa itu menghantam tanah di pinggiran kota, terjadi guncangan hebat seperti gempa bumi. Guncangan itu merambat dan meruntuhkan rumah-rumah penduduk, menciptakan debu tebal di mana-mana.
Arta mendarat di dekat reruntuhan istana. Dengan kaki yang gemetar, ia berjalan melewati puing-puing bangunan. Taman-taman indah yang kemarin ia kunjungi bersama Elian kini tertimbun batu dan besi panas.
Di pusat istana, pemandangan menjadi lebih parah. Banyak orang tergeletak di antara reruntuhan. Suara teriakan minta tolong terdengar dari bawah bangunan, namun Arta tidak bisa berpikir jernih. Ia merasa sangat trauma melihat kehancuran itu.
"Apa... apa yang harus kulakukan?" ucapnya lirih. Ia menatap langit yang kini dipenuhi bekas jalur lintasan laser.
Terdengar suara derap kaki kuda. Elian datang bersama para kesatrianya melewati jalanan yang hancur. Elian langsung melompat turun dari kudanya.
"Arta! Apa kamu baik-baik saja?!" teriak Elian panik. Ia memeriksa kondisi fisik Arta.
Namun, Arta tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan tatapan kosong ke arah langit.
"Arta?" Elian mengguncang bahunya.
Perlahan, kaki Arta terasa lemas. Ia tidak sanggup lagi menerima kenyataan pahit di depannya. Arta jatuh pingsan, namun Elian dengan cepat menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah.
"Ada apa?! Arta! Arta!"
Suara Elian perlahan menghilang dari pendengaran Arta, hingga akhirnya semuanya menjadi gelap total.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat