Ia tengah lari dari perjodohannya. Nur Aida Rindayani tak pernah menyangka, Ia justru menemukan seorang pria yang tergeletak di pantai dan membawanya pulang. Sebuah fitnah keji, lalu memaksa mereka menikah dalam sekejap.
Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.
Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kirain, Nenek bakal syok
Para warga tiba di Puskesmas. Menaikkan tubuh Amrul diatas brankar yang tersedia, lalu membawanya ke dalam. Mereka memanggil dokter, untuk memeriksa Amrul yang sejak tadi tak kunjung sadar.
"Rul... Sadar Rul. Nanti Ayah carikan, yang lebih cantik dari Aida. Yang perawan, dan lebih dari segalanya." bujuk sang Juragan, dengan menepuk-nepuk pipi putra kesayangannya. Tapi, Amrul tak juga membuka matanya.
Tepat di sebelah ruangan itu. Rupanya ada Nenek Aida yang tengah menjalani observasi atas darah tinggi yang Ia derita. Ia bersama Mei, sahabat Aida yang selalu setia menunggunya.
"Mei?" panggil Nenek padanya. Dengan lirih, dan perlahan bangun dari tidurnya.
"Nenek, ada apa?" tanya Mei, yang menghampirinya.
"Nenek, dengar nama Aida di sebut-sebut di sebelah. Ada apa?"
"Bentar ya, Mei cari tahu."
Mei pamit, dan berjalan menuju ruang sebelah yang tampak ramai dengan kerumunan warga. Ia menerobos masuk, dan melihat Amrul terkapar lemas dengan segala tindakan dari Dokter disana. Masih belum tahu, apakah perlu di bawa ke Rumah sakit, atau cukup observasi saja.
"Mang, ada apa ini?" tanya Mei, pada Mang suri. Salah seorang tetangga Nenek.
"Eh, Mei. Kamu disini, sama siapa?"
"Mei jagain nenek, lagi diruang sebelah. Nenek sakit."
"Lah, sakit? Kirain kemana. Kasihan noh, Aida."
"Kenapa lagi, sama dia?"
"Ya itu, hampir di arah warga gara-berduaan dirumah. Lah, Mamang ngga tahu apa-apa, akhirnya nikahin aja mereka berdua."
"WHAT? Apa!! Aida nikah sama siapa?"
"Itu, yang tinggal dirumah nenek. Masa iya sama Amrul. Ya ngga akan pingsan lah." jawab Mang suri, dengan apa adanya.
"Wediaaaaan!" ucap Mei spontan, lalu berlari menuju nenek lagi diruang sebelah.
"Mei, kenapa lari-lari?" tegur sang nenek, pada gadis ceria itu.
"Nek?" panggil Mei, dengan nafas yang tersengal.
"Iya, kenapa?"
"Ai-Aida nikah. Nikah dadakan," jawab Mei, masih mengatur nafasnya.
Nenek memicingkan mata, dan memberi Mei segelas air yang disediakan untuknya.
"Mei, ngomong yang bener. Jangan begitu." nasehatnya, yang selalu dituruti Mei.
Ia pun menghela nafas panjang. Beberapa kali, tarik dan hembusnya. Begitu terus hingga dirinya merasa lega, dan mampu untuk kembali bercerita.
"Aida, dinikahin paksa sama Mas Tono. Karena ketahuan dirumah berduaan. Mei, belum ngerti benar, bagaimana itu terjadi. Tapi... Mereka udah menikah. Dan yang di sebelah itu Amrul, yang lagi pingsan dan syok.
Nenek terperanjat. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Bahkan, Ia merebahkan dirinya diatas tempat tidur, dan meringkuk dengan tangisnya.
"Ya Allah, apalagi yang terjadi? Kenapa begini? Bagaimana Aida ku sekarang?" ratapnya.
Untung saja, tak beberapa lama Aida datang bersama Tono. Yang meski baru saja menikah, tapi wajah mereka tampak di balut rasa pedih. Terutama Aida, yang merasa bersalah dan takut jika sang nenek masih sakit.
"Assalamualaikum," ucap keduanya, bersamaan. Nenek langsung bangun, dan menyambut mereka dengan wajah pedihnya.
"Aida.... Apa benar beritanya?" tanya nenek, dengan helaan nafas panjangnya.
Aida menoleh pada Tono, hingga akhirnya Tono lah yang menjawab semua pertanyaan nenek. Meminta maaf, atas segala keputusan yang diambil secara tergesa-gesa itu.
"Maafkan, kami berdua, Nek." sesal Tono.
Namun, respon nenek justru berbanding terbalik dengan ketakutan Aida. Yang Ia takutkan, jika nenek syok dan semakin sakit. Nyatanya membuat nenek tersenyum lebar, dan tampak begitu semringah.
"Ayo pulang," ajak Nenek yang langsung turun dari brankarnya.
"Nenek sembuh?" kaget Mei.
"Sembuh nenek. Seriusan. Ayo pulang, setidaknya kita adakan syukuran untuk pernikahan mereka." tarik nenek pada lengan Mei. Sedangkan kedua pasang pengantin dadakan itu, hanya menatapnya bengong bersama.
"Kirain, nenek bakalan syok." bisik Tono.
"Iya, sama." balas Aida, yang kemudian berjalan cepat menyusul neneknya.
melaknat pebinor dan memuja pelakor
pemikiran munafik wanita
melaknat pelakor dan memuja pebinor
dan novel ini menunjukan dirimu dengan cara kau memperlakukan pelakor dan pebinor
bahkan ada novel istri diculik, tinggal bersama, bahkan tidur bersama dengan pebinor penculiknya dan ketika suami datang menyelamatkan nya dan menghajar pebinor itu istrinya malah membela pebinor karena dia bilang dia diperlakukan dengan baik, dan novel itu membenarkan
cari satu saja novel yang bertema pebinor menculik atau memaksa istri orang tinggal bersamanya, dan novel itu anggap itu sebuah kesalahan
kalian tidak akan dapat novel kayak gitu, karena faktanya semua novel akan membenarkan itu