SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PERANG DINGIN DI RAK MINUMAN
Pukul 15.30 WIB - Sepulang Sekolah
Minimarket "Circle K" - 500 meter dari Perbatasan.
Matahari Jakarta sore ini seakan punya dendam pribadi pada umat manusia. Panasnya menyengat, bikin aspal serasa meleleh.
Di dalam Minimarket yang AC-nya dingin itu, suasana tampak damai... untuk sementara.
Geng Royals baru saja masuk. Mereka seperti bidadari yang turun dari kayangan (atau lebih tepatnya, turun dari mobil jemputan karena macet parah dan mereka haus).
Roseanna Vallerian memimpin, mengibaskan rambut panjangnya yang masih on point. Dia langsung menuju rak minuman dingin.
"Naura, catat. Besok gue mau AC di kelas ditambah satu PK lagi. Gue nggak bisa belajar kalau keringetan dikit," perintah Roseanna sambil jalan.
"Siap, Rose. Gue udah kirim email ke Yayasan," jawab Naura sigap sambil ngetik di HP.
Di belakang mereka, Aqeela Azalea sedang memandang takjub ke arah rak roti.
"Wah... roti sobek harganya cuma sepuluh ribu? Murah banget! Apa ini aman dimakan? Nggak ada racunnya kan?"
"Aman, Tuan Putri," sahut Raisa Azure sarkas. Raisa langsung mengambil dua botol air mineral dingin dan menempelkannya ke pipinya yang merah karena kepanasan. "Ah, seger. Gue berasa idup lagi."
Dan di pojok paling belakang, ada Lia.
Lia berjalan lambat seperti zombie cantik. Dia masih pakai headphone Sony-nya (lagu: Doja Cat - Woman), matanya terpaku pada layar HP. Dia bahkan hampir nabrak rak chiki kalau nggak ditarik sama Raisa.
"Lia! Jalan liat depan!" tegur Raisa.
Lia cuma bergumam, "Hm," lalu lanjut jalan ke arah kulkas es krim. Dunianya cuma selebar layar 6 inci itu.
Roseanna sampai di depan lemari pendingin. Matanya tertuju pada satu botol Ion Water dingin yang tersisa di barisan paling depan. Tenggorokannya yang kering berteriak minta disiram.
Roseanna mengulurkan tangannya yang lentik untuk mengambil botol itu.
Tapi, di saat yang bersamaan, sebuah tangan besar yang kasar, berminyak, dan ada bekas luka di punggung tangannya, juga menyambar botol yang sama.
Grep.
Dua tangan bertemu di satu botol.
Roseanna menoleh kaget. Dia mendongak.
Di sebelahnya, berdiri Fattah Maverick.
Cowok itu masih pakai seragam yang sama kayak tadi pagi (berantakan, kancing dibuka), ditambah bau matahari dan rokok yang nempel di jaket denimnya. Keringat mengalir di pelipisnya, bikin rambutnya lepek tapi entah kenapa malah kelihatan hot.
Fattah nyengir. "Wih, jodoh nih. Tangannya samaan."
Roseanna langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik. Dia menatap Fattah dengan tatapan jijik.
"Minggir. Itu punya saya."
"Enak aja," Fattah menggenggam botol itu erat-erat. "Siapa cepet dia dapet, Neng. Hukum rimba."
"Saya liat duluan," kata Roseanna dingin. "Dan kamu bau oli. Jangan deket-deket saya."
"Bau oli itu bau cowok pekerja keras," bela Fattah, mendekatkan wajahnya ke Roseanna (sengaja biar Roseanna kesel). "Emangnya cowok-cowok sekolah lo? Bau parfum doang tapi angkat galon nggak kuat."
"Jaga jarak," Roseanna mendorong dada Fattah dengan jari telunjuknya. "Kasih botol itu ke saya. Saya bayar dua kali lipat."
Fattah tertawa renyah. "Duit lagi, duit lagi. Lo pikir gue haus akan harta? Gue haus akan ion tubuh, Rose. Minggir, gue mau bayar."
Fattah berbalik mau ke kasir. Tapi Roseanna yang pantang menyerah (dan bossy) langsung menghadang jalan Fattah.
"Saya bilang kasih!" Roseanna berusaha merebut botol itu.
Terjadilah tarik-menarik botol Ion Water yang sangat tidak elegan di tengah minimarket.
"Lepasin! Kuku lo tajem!"
"Kamu yang lepasin! Dasar pencuri!"
Sementara itu, di lorong snack...
Ilham Mahendra sedang memilih keripik pedas dengan wajah masam. Mood-nya masih hancur gara-gara dicuekin tadi pagi.
"Sumpah ya, tuh cewek belagu banget," gerutu Ilham pada Mohan yang ada di sebelahnya. "Awas aja kalau ketemu lagi. Gue—"
Kalimat Ilham terhenti. Matanya membulat.
Di ujung lorong, di depan freezer es krim, berdiri cewek itu.
Lia.
Cewek yang sama yang nyuekin dia tadi pagi. Dia masih pake headphone gede itu, masih nunduk main HP, dan masih kelihatan nggak peduli sama dunia.
Darah Ilham langsung mendidih sampai ke ubun-ubun.
"Itu dia," desis Ilham. "Si Cewek Budek."
"Eh, cantik ya Ham," komentar Mohan polos sambil memeluk tiga bungkus roti kasur. "Rambutnya bagus."
"Bagus apanya?! Itu sarang ular!" Ilham melempar keripiknya ke keranjang Mohan. "Liatin gue. Gue bakal bikin dia nengok dan minta maaf."
Ilham berjalan gagah (sok keren) mendekati Lia. Dia berdiri tepat di depan Lia, menghalangi akses ke freezer es krim.
Lia berhenti. Dia melihat ada sepasang sepatu boots butut di depannya. Dia mendongak pelan.
Mata mereka bertemu.
Ilham menyeringai sinis, melipat tangan di dada. "Hai. Inget gue?"
Hening.
Lia menatap Ilham selama tiga detik. Tatapannya datar. Kosong. Tanpa ekspresi.
Lalu... Lia menggeser badannya ke kiri, melewati Ilham begitu saja, membuka pintu freezer, dan mengambil es krim Magnum.
Sama sekali nggak ngomong. Sama sekali nggak nanya.
Jantung Ilham rasanya mau copot saking emosinya.
"WOY!"
Ilham berbalik, mencengkeram bahu Lia.
"LO BENERAN BUDEK ATAU PURA-PURA GOBLOK SIH?!" bentak Ilham, suaranya menggelegar di seluruh toko.
Lia kaget. Dia melepas headphone-nya dan menatap Ilham dengan alis berkerut.
"Apaan sih lo? Kasar banget jadi cowok," kata Lia tenang, tapi menusuk. "Jangan pegang-pegang. Baju gue mahal."
"Mahal mata lo!" Ilham menunjuk mukanya sendiri. "Lo nyuekin gue tadi pagi di tembok! Lo nyuekin gue barusan! Lo nggak tau siapa gue hah?!"
Lia menatap Ilham dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan judging abis.
"Nggak tau. Dan nggak penting."
JLEB.
Harga diri Ilham sebagai Wakil Ketua Geng Vanguards hancur berkeping-keping.
"Gue Ilham Mahendra! Wakil Ketua Vanguards! Orang yang tadi pagi lo lempar duit tapi lo nggak nengok sedikitpun!" teriak Ilham frustrasi.
"Oh," jawab Lia singkat. "Terus? Lo mau minta tanda tangan gue?"
"ARGHHHH!!" Ilham menjambak rambutnya sendiri. Dia bener-bener mau meledak. "Gue mau lo minta maaf karena nggak sopan!"
"Gue nggak sopan?" Lia tertawa kecil, sinis banget. "Lo yang teriak-teriak di kuping orang, lo yang narik baju orang, terus lo bilang gue nggak sopan? Freak."
Lia memasang kembali headphone-nya, berbalik badan, dan berjalan ke kasir.
Ilham mematung. Mukanya merah padam. Asap imajiner keluar dari telinganya.
"Ham, sabar Ham..." Harry datang menepuk-nepuk punggung Ilham. "Orang sabar disayang Tuhan. Orang emosi cepet tua."
"Gue bakal bikin perhitungan sama dia, Har," desis Ilham dendam. "Gue nggak bakal tenang sebelum dia neriakin nama gue sambil nangis."
Di kasir, keributan semakin menjadi-jadi.
Roseanna dan Fattah masih rebutan botol minum.
Lia antre di belakang mereka sambil main HP.
Ilham berdiri di belakang Lia sambil menatap punggung Lia dengan tatapan membunuh.
Aqeela dan Harry berdiri sebelahan di rak permen.
"Neng, ini permen karet harganya 50 ribu?" tanya Harry kaget liat price tag. "Bisa ditiup sampe jadi balon udara nggak?"
Aqeela menoleh, tersenyum ramah (karena dia nggak tau Harry itu musuh). "Itu impor dari Swiss, Mas. Rasanya beda, lebih... elegant."
"Buset, permen aja elegan. Gigi gue minder," Harry nyengir. "Kenalan dong Neng. Nama Abang Harry. Harry Styles versi kearifan lokal."
Aqeela terkikik. "Aku Aqeela. Salam kenal, Harry."
"Harry!" panggil Fattah dari depan. "Pinjem duit lo dong! Dompet gue ketinggalan di jok motor!"
Fattah baru sadar dia nggak bawa dompet pas mau bayar Ion Water (yang akhirnya berhasil dia rebut dari Roseanna).
Roseanna tersenyum kemenangan. "Hah. Miskin."
Roseanna mengeluarkan Black Card-nya. "Mbak, saya bayar semuanya. Termasuk botol yang dipegang cowok ini. Tapi botolnya kasih ke saya."
"Enak aja!" Fattah menahan tangan kasir. "Gue bisa bayar! Har! Mana duit lo?!"
Harry merogoh saku celananya. Kosong. "Yah, Bos. Duit gue abis buat beli kuota tadi pagi."
Fattah skakmat. Malu banget. Mukanya merah.
Roseanna mengambil botol itu dari tangan Fattah dengan mudah.
"Belajar manajemen keuangan dulu sebelum berani lawan saya," bisik Roseanna sombong di telinga Fattah.
Fattah menatap Roseanna tajam. Jarak wajah mereka dekat banget.
"Oke, Rose. Lo menang ronde ini," bisik Fattah, suaranya serak. "Tapi denger. Suatu saat, lo bakal butuh bantuan gue. Dan saat itu, Black Card lo nggak bakal laku."
Roseanna terdiam sejenak mendengar nada serius Fattah. Tapi dia langsung mengibaskan rambutnya.
"Mimpi."
Roseanna membayar belanjaannya, lalu mengajak gengnya keluar.
"Ayo Girls. Di sini panas."
Lia berjalan melewati Ilham lagi. Kali ini, tas Lia nggak sengaja nyenggol lengan Ilham.
"Awas dong," gumam Lia pelan tanpa noleh.
Ilham cuma bisa diem, nahan napas, nahan tinju, nahan segalanya.
Geng Royals masuk ke mobil jemputan masing-masing dan pergi.
Di depan minimarket, geng Vanguards duduk lesehan di trotoar sambil minum es teh plastikan (karena nggak jadi beli yang mahal).
"Sialan," umpat Fattah sambil menyalakan rokok. "Harga diri gue jatoh di depan kasir."
"Sama Bos," Ilham meremas kaleng soda kosong sampai gepeng. "Gue berasa jadi butiran debu di mata tuh cewek headphone."
Mohan makan es krim Paddle Pop (yang dia beli pake duit receh sisa di saku).
"Tapi cewek-cewek tadi wangi ya. Kayak wangi bunga melati di kuburan... eh maksudnya di taman."
Oliver menutup bukunya. "Analisis saya: Interaksi ini meningkatkan tensi permusuhan sebesar 80%. Peluang terjadinya konflik fisik di masa depan: Sangat Tinggi."
Fattah menghembuskan asap rokok ke udara. Matanya menatap jalanan tempat mobil Roseanna menghilang.
"Kita nggak bisa diem aja," kata Fattah. "Besok, kita bales. Bukan pake otot. Tapi pake cara main mereka."
"Gimana caranya Bos?" tanya Harry.
Fattah tersenyum licik.
"Besok jam istirahat. Kita invasi kantin mereka. Kita bikin Pertiwi jadi pasar malem."