NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Bukan Pembawa Sial***

Kirana kebangun jam 3 pagi. Bantalnya basah, pipinya lengket. Tapi dadanya nggak sesek kayak tadi malam.

Dia duduk di dipan kayu. Kaki digantung. Dingin. Di luar masih hujan, _tetes... tetes..._ netes ke ember ijo.

Tangannya ngeraba mushaf di bawah bantal. Mushaf tua, sampulnya udah ngelupas. Hadiah dari Mama waktu Kirana khatam pertama umur 8 tahun. Di pojok ada tulisan tangan Mama: _Untuk Kirana, anak paling sabar. Mama sayang kamu._

Kirana buka Surat Ad-Dhuha. Jarinya gemeter. _"Wad dhuha, wal laili idza saja... wa wajadaka yatiman fa aawa... wa wajadaka dhollan fahada... wa wajadaka 'aa-ilan fa aghna"_

Dia baca pelan-pelan. Sambil nangis. Tapi nangisnya beda. Nangis yang lega.

"Ya Allah... Engkau jadikan Kirana yatim... lindungin aku ya Allah..." bisiknya. "Kirana nggak sial ya Allah.. Kirana selalu dijaga Mu Allah".

Nggak ada jawaban. Cuma suara hujan. Tapi di dada Kirana anget. Anget kayak dipeluk Mama dulu pas demam.

Dia sujud di lantai, nggak pake sajadah. Jidatnya nempel ke ubin dingin. "Ya Allah... kalo Kirana emang pembawa sial, ambil aja Kirana sekarang. Tapi kalo Kirana masih hidup, kasih Kirana kuat Ya Allah. Kuat kayak Mama. Kuat buat diem kalo dihina. Kuat buat senyum kalo disakiti."

Lama dia sujud. Sampe azan subuh kedengeran dari mushola pondok.

Kirana bangun. Wudhu lagi. Air sumurnya nusuk tulang, tapi kali ini nggak kerasa dinginnya.

Sholat subuh dia paling khusyuk. Nggak mikir Bibi Asih. Nggak mikir kata "pembawa sial". Cuma dia, Allah, sama foto Bapak Mama di dinding.

Abis salam, dia bisik ke foto itu, "Ma, Pa... Kirana rindu."

Di hatinya ada jawaban. Pelan. Lembut. _"Kamu anak terkuat yang pernah Ibu punya, Nak."_

Kirana senyum. Senyum pertama yang benar-benar ringan. Bukan senyum nahan sakit.

Paman Syarif dan Keputusan yang Ditahan - Jam 07.30 WIB

Abis subuh, Paman Syarif manggil Kirana ke ruang tamu. Ruang tamu yang gentengnya masih bocor. Ember ijo udahk penuh.

"Nak, sini duduk" suara Paman Syarif serak. Mata dia sembab. Semaleman dia nggak tidur denger Kirana nangis di kamar.

Kirana duduk di lantai. Jaga jarak. "Iya Paman"

Paman Syarif narik napas panjang. Tangannya gemeter megang tasbih. "Paman minta maaf Nak. 10 tahun Paman diem. 10 tahun Paman denger kamu disalahin, dihina, dipanggil sial... Paman diem aja. Paman pengecut Nak."

Air mata Paman Syarif jatuh. Jatuh ke sarungnya yang masih basah. "Paman tuh kakaknya Bapakmu. Paman yang nikahin Bapak Mama kamu. Paman yang gendong kamu pas kamu lahir. Tapi pas kamu yatim... Paman nggak bisa jagain kamu dari omongan istri Paman sendiri."

Kirana langsung peluk lutut Paman Syarif. Nangis lagi. "Nggak Paman. Kirana ngerti. Paman udah kasih Kirana tempat tinggal. Udah kasih Kirana ngaji. Udah kasih Kirana makan tiap hari. Itu udah cukup Paman. Sumpah udah cukup."

Paman Syarif elus rambut Kirana. Kasar tangannya, tapi lembut. "Nak, kamu tuh bukan pembawa sial. Kamu tuh berkah. Sejak kamu lahir, Bapakmu rajin ke masjid. Mamamu jadi hafidzah. Pondok ini rame karena doa Mama kamu. Bukan karena kamu sial Nak."

Kirana ngangkat muka. Mata sembab. "Beneran Paman? Kirana berkah?"

"Beneran Nak. Demi Allah beneran. Kalo pondok sepi, itu ujian dari Allah. Bukan salah kamu. Orang tua kamu meninggal itu takdir Allah. Bukan gara-gara kamu lahir. Jangan pernah percaya omongan orang lagi ya Nak."

Dari kamar, kedengeran suara Bibi Asih batuk-batuk kenceng. Sengaja. Kode kalo dia denger.

Paman Syarif langsung diem. Mukanya berubah. Takut. 10 tahun dia takut sama istrinya sendiri.

Kirana ngerti. Dia lepas pelukan. Berdiri. "Udah Paman. Kirana ngerti. Paman nggak usah berantem sama Bibi gara-gara Kirana. Kirana kuat kok Paman."

Paman Syarif mau ngomong lagi, tapi pintunya kebuka. Bibi Asih berdiri di ambang pintu. Mata melot. "Ngobrol apa kalian? Pagi-pagi udah curhat-curhatan? Kerja sana Kirana! Piring belum dicuci semua!"

Kirana nunduk. "Iya Bi"

Dia jalan ke dapur. Punggungnya tegak. Beda dari biasanya yang bungkuk.

Paman Syarif liat keponakannya dari belakang. Dalam hati dia berdoa, "Ya Allah, kasih hamba keberanian buat jagain amanah kakak hamba Ya Allah. Hamba pengecut Ya Allah."

Abis dzuhur, Kirana ngajar ngaji lagi. 15 anak TPA duduk melingkar.

Hari ini dia ngajarin Surat Al-Insyirah. _"Alam nasyrah laka sadrak... wa wadha'na 'anka wizrak... fa inna ma'al usri yusra"_

"Artinya apa Nak?" tanya Kirana lembut.

Fatimah angkat tangan. "Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan Ustadzah"

Kirana senyum. "Pinter Fatim. Jadi kalo kita lagi susah, lagi dihina, lagi sedih... inget ya Nak. Abis itu pasti ada gampangnya. Allah janji."

Tiba-tiba Aisyah, santri baru umur 13 tahun, nanya pelan, "Ustadzah Kirana... beneran Ustadzah pembawa sial?"

Semua anak diem. Tatapannya ke Kirana.

Kirana kaget. Dadanya nyut. Tapi dia tarik napas. Senyum. "Siapa yang bilang gitu Nak?"

"Mbak Dinda Ma... katanya Ustadzah penyebab orang tua Ustadzah meninggal. Katanya pondok jadi sepi gara-gara Ustadzah"

Kirana diem 3 detik. Terus dia buka mushafnya. Tunjuk Surat Ad-Dhuha. "Nak, Allah bilang gini: _wa wajadaka yatiman fa aawa_. Artinya: Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu."

Dia natap mata Aisyah satu-satu. "Jadi Ustadzah nggak sial Nak. Ustadzah dijaga Allah. Ustadzah yatim, iya. Tapi yatim tuh mulia di mata Allah. Rasulullah aja yatim Nak."

Aisyah manggut-manggut. Mata polosnya berbinar. "Berarti Ustadzah Kirana berkah ya Ustadzah? Soalnya suara Ustadzah adem. Ngajarinnya sabar. Nggak pernah bentak-bentak kayak Mbak Dinda."

Anak-anak lain ikutan, "Iya Ustadzah berkah! Ustadzah Kirana paling baik!"

Kirana mau nangis lagi. Tapi ditahan. "Makasih ya Nak. Ustadzah juga sayang kalian semua."

Dari luar jendela, Dinda nguping. Mukanya merah padam. Dia ngedumel, "Sok suci banget sih si pembawa sial" terus pergi.

Tapi di hati Kirana, kata "Ustadzah berkah" itu lebih nyampe daripada 10 tahun kata "pembawa sial".

Pukul 21.00 . Santri pada tidur. Pondok sepi.

Kirana nggak bisa tidur. Dia nyalain lampu senter kecil. Buka kardus bajunya.

Di balik kardus, ada dinding yang catnya ngelupas. Kosong.

Kirana ambil arang bekas dapur. Tangannya gemeter. Dia nulis pelan-pelan di dinding itu. Hurufnya belepotan.

_Kirana Agilla. Anak yatim. Bukan pembawa sial. Kirana berkah. Allah jaga Kirana. Mama Papa sayang Kirana._

Dia tulis ulang 3 kali. Sampe arangnya abis. Sampe tangannya item semua.

Terus dia peluk dinding itu. Bisik, "Ini rumah Kirana Ma. Kamar 2x2 ini rumah Kirana. Walaupun kecil, walaupun bocor, walaupun Bibi benci Kirana... tapi Kirana punya Allah Ma. Kirana punya Mama..Papa"

Dia tunjuk tulisan di dinding. Air matanya netes ke arang. Hurufnya jadi luntur dikit. Tapi nggak hilang.

Dari luar, Paman Syarif lewat. Dia liat cahaya senter dari celah pintu. Nggak ngetok. Cuma berdiri di situ. Denger Kirana bisik-bisik.

Dia denger Kirana baca Ad-Dhuha lagi. Suaranya pelan, tapi tegar. Nggak gemeter kayak dulu.

Paman Syarif merem. Air matanya jatuh. "Ya Allah..... Ponakan hamba udah gede Ya Allah. Dia kuat. Maafin hamba yang 10 tahun nggak bisa jagain dia Ya Allah."

Dia jalan pelan ke kamar. Nggak ganggu Kirana. Biarin keponakannya ngobrol sama Allah.

Di dalam kamar, Kirana matiin senter. Merem. Kali ini dia tidur tanpa peluk lutut. Tidurnya telentang. Tangannya kebuka.

Mimpinya: Mama dateng lagi. Kali ini nggak nangis. Mama senyum, nyuapin dia bubur. "Makan Nak. Kamu kuat Nak. Kamu anak baik."

Kirana senyum dalam tidur. Pertama kali setelah 10 tahun.

1
Miss Danica
@Sarah inilah uniknya. baca terus ya.. novel ini menarik banyak pesan moral dan pertentang etika.
Sarah
Masa iya sih... di pondok itu gak ada seorang pun yang rada bener. Sekelas pondok pesantren, lho ini. Masa sih masih pada percaya sama yang namanya “Orang yang jadi pembawa sial”. Itu kan mendekati musyrik juga. Percaya sesuatu semacam itu. Pondoknya yang di kampung banget kah? Sampai gak ada satu pun yang kuat iman gitu? Atau pondoknya... pondok-pondok sesat kayak di berita-berita? 😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!