"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggoda
Bibir mungil berwarna Ceri itu, sudah mendarat dibibir Andreas. Membuat paru-paru pria itu seolah berhenti melakukan tugasnya.
Singkat bibir itu mendarat, namun berhasil membuat seluruh isi kepala Andreas kosong seketika.
Aroma vanila terasa begitu dekat, memenuhi indra penciumannya hingga membuat napasnya tercekat. Tubuh Andreas menegang. Jemarinya yang semula bertumpu santai di sofa perlahan menggenggam pelan.
Risa memundurkan wajahnya, namun deru nafasnya masih terasa diwajah Andreas. Tatapan mereka bertemu, dan pria itu belum juga bergerak.
"Aku ... Aku minta maaf An." bisiknya pelan.
Tapi nada suaranya tidak benar-benar terdengar menyesal. Justru begitu lembut, hangat dan cukup berbahaya bagi pria normal seperti Andreas.
Andreas menelan ludah pelan. Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri di tengah sunyi ruangan kantor.
"Risa ... " suara Andreas serak. "Tidak seharusnya kamu ..."
Risa menunduk kecil, jemarinya memainkan ujung blazer yang ia kenakan. "Aku nggak tahu An. Aku benar-benar minta maaf." ujarnya, terdengar nyaris seperti gumaman.
Lampu gedung yang remang membuat wajah Risa terlihat semakin lembut. Bulu matanya menunduk, memberi bayangan tipis di pipinya.
Andreas memejamkan mata sebentar. Ia seharusnya menghentikan ini. Seharusnya menjaga jarak. Namun yang justru memenuhi pikirannya adalah sensasi lembut bibir Risa beberapa detik lalu.
Sialnya, Andreas menyukainya.
"An, aku tahu ... Kamu sudah memiliki istri. Tapi, cuma kamu satu-satunya orang yang mengerti kesepianku."
Andreas yang sudah kehilangan akal, yang terlihat olehnya adalah betapa ranumnya bibir Risa dan betapa segarnya wangi Vanila ketika tubuh mereka saat bersentuhan.
Sensasi yang selama ini ia rindukan, dari Isana. Ia dapatkan kembali ditubuh wanita lain, padahal ia tahu ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi.
Andreas ingin menyangkal, kalau sensasi itu telah memabukkannya. Namun, selalu desakkan didalam dirinya membuatnya kalah.
Risa menyelipkan anak rambut yang sempat menutupi sebagian wajahnya. Ia masih menunduk, membenarkan letak high heels dikaki jejangnya. "Aku, maaf aku sudah terbawa suasana." lirihnya, mencoba untuk bangkit dan menjauh dari Andreas.
Menyadari gerakan wanita itu, tangan Andreas serta merta menarik pergelangan Risa.
Tarikan yang lembut, membuat Risa menghentikan langkahnya. Rambut yang tadi ia selipkan ditelinga, perlahan jatuh lagi. Membentuk bayangan yang kontras diwajah putih mulus wanita itu.
"Ris, aku tidak pernah menyuruh mu pergi."
Suara Andreas terdengar parau, serak tipis seolah ada sesuatu yang menahan dan sulit untuk dijelaskan.
"Aku hanya tidak mau, terlalu egois An. Ini perasaan ku, aku yang bertanggung jawab terhadap perasaanku. Bukan kamu."
Risa membiarkan saja tangannya dalam genggaman Andreas. Bahkan ia membuat gerakan, sedikit mengusap-ngusap kan jemari lentiknya pada jemari pria itu.
"Kamu tunggu dulu disini. Setelah berkas terakhir, aku akan mengantarkan mu pulang."
Sebuah keputusan yang Andreas ambil. Dan semua terkesan terlalu buru-buru.
Senyuman yang begitu manis kembali menghiasi bibir itu. Bagai mendapat sebuah kemenangan, Risa mengangguk dalam-dalam.
Andreas, melangkah kembali ke meja kerjanya. Membuka map, lembar demi lembar dengan fokus dan teliti. Tangannya menggenggam pena, mencoret kan sesuatu disana dengan gerakan yang tak lagi menunggu.
Pria itu seperti sedang melakukan sesuatu yang sudah biasa ia kerjakan dan tak ingin sedetik waktu pun terlewat kan. Hanya demi, tak membuat Risa lama menunggu.
Selesai dengan itu, Andreas berdiri. Meraih jas yang terlampir dikursi yang tadi ia duduki. Senyumnya kembali mengembang, ketika tatapannya bertemu tatapan Risa.
"Sudah selesai?"
"Sudah, ayo aku antar kamu pulang."
Wanita itu membenarkan tali tas Selempangnya dengan gerakan yang begitu feminim. Sedang Andreas, meraih ponsel dan tas hitam yang sudah ia isi dengan laptop dan tabletnya.
Risa keluar ruangan, membiarkan Andreas tertinggal dibelakang, memadamkan lampu ruangan.
Kaki jenjang Risa melangkah satu-satu. Sengaja ingin segera mensejajarkan langkah dengan Andreas.
"Sebelum pulang, bagaimana kalau kita makan dulu? Aku bosan, pulang kerja dan berakhir sendirian diapartemen ku."
Suara manja Risa yang terdengar begitu candu ditelinga Andreas.
"Oke, boleh juga."
Pria itu langsung saja setuju, seolah waktu kebersamaan bersama Risa bukanlah sesuatu yang menghalanginya untuk kembali pulang ke rumahnya.
Pintu lift terbuka, gegas mereka berdua masuk. Namun ketika pintu lift hampir tertutup, dua orang pria yang tampak bersahaja berdiri disana, ikut melangkah masuk.
"Selamat malam, Pak Setyo" Andreas menyapa dengan sopan bergantian dengan Risa.
Pria paruh baya yang terlihat bersahaja itu adalah atasannya. Seorang Senior Director bersama Angga—personal asistennya.
"Selamat malam Andreas. Risa." Setyo menjawab sembari menatap mereka bergantian.
Setyo melirik arlojinya, "Apa tidak terlalu malam An? bukankah istrimu sedang hamil besar?"
Andreas tertegun, ada sesuatu dihatinya yang merasa sedang di ingatkan oleh atasannya itu. Perihal istrinya yang sedang hamil besar, yang seringnya terlihat pucat dan kelelahan. Namun tetap memaksakan diri untuk melayaninya menyiapkan makan malam ketika ia pulang.
"Kalau istri sedang hamil besar begitu, ia butuh perhatian lebih. Kasihan dia, sudah mengorbankan tubuhnya demi buah hatimu."
Kalimat yang kembali mengguyur hati Andreas. Ucapan Setyo benar, sedang dirinya ... Apa yang ia lakukan tadi bersama Risa? Bahkan sekarang ia berjanji untuk makan malam bersama wanita itu, yang ia tahu istrinya sedang menunggu.
Setyo melirik Risa sekilas, nampak perubahan diwajah wanita itu. Senyum kecut, yang terlalu dipaksakan.
"Mulai sekarang, aku akan mengurangi pekerjaanmu. Sehingga kamu bisa pulang lebih cepat. Menunggui istrimu yang sedang dalam penantian kelahiran anak kalian. Segera pulang An, jangan malah mengobrol tidak jelas di Restoran."
Andreas menunduk, "Terimakasih Pak." ucapnya.
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lobi perusahaan. Andreas dan Risa mempersilahkan Setyo dan asisten melangkah lebih dulu.
Jujur saja, hati Andreas tengah berkecamuk. Ucapan Setyo seolah menegur sisi dirinya yang telah mabuk oleh candu yang Risa tawarkan. Antara pulang kerumah menemui istrinya atau melanjutkan janjinya untuk makan malam bersama Risa.
Ditengah kegamangan itu, Risa seolah tahu bahwa dirinya terancam tidak dipilih.
Ia menghentakkan kakinya, berdecak kesal yang sengaja ia keraskan. "Ya sudah, aku pulang sendiri saja."
Andreas tersentak, reflek tangannya meraih pergelangan tangan Risa. Namun tidak berhasil, wanita itu terus mempercepat langkahnya.
"Ris, Risa!"
Andreas mengekorinya, bahkan ikut mempercepat langkahnya.
Namun Risa tidak menggubris, wajahnya begitu masam, tanpa menoleh sedikitpun pada pria itu.
Andreas menghela nafas, keinginan mengejar wanita itu dan perasaan bersalah bercampur jadi satu. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel. Dan mulai mengetikkan sesuatu.
< Ris, kok kamu malah pergi, katanya mau makan malam dulu? >
Belum dibalas, namun dari perubahan warna centang dipesan itu, terlihat kalau sudah dibaca.
< Katanya mau ngobrol-ngobrol dulu, sebelum aku antar pulang? >
Tak lama muncul balasan.
< Ya sudah, aku tunggu diparkiran >
Andreas tersenyum senang, Risa tidak marah dan ini berhasil membuat egonya menang.
*
*
*
~ Salam hangat dari Penulis 🤍