NovelToon NovelToon
I Will Go To Your Destiny

I Will Go To Your Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: M.Khaidar Ali Fathan

Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semesta Tidak Berjalan Mulus

Pagi hari yang cerah menyambut keberangkatan mereka. Di landasan peluncuran, para kru mulai mengaktifkan sistem pesawat. Mesin pendorong akhirnya menyala. Tim Galaxy Explorer resmi memulai perjalanan misi pertama mereka.

jutaan manusia di bumi terus menyoraki dan menyemangati, melepas kepergian pesawat The EXGA 2 yang meluncur menuju luar angkasa.

Beralih ke dalam kokpit The EXGA 2, sesaat setelah mereka berhasil lolos dari lapisan atmosfer bumi.

"Cek, cek status. Apakah semuanya aman?" Erick Stairs membuka suara.

"Cek, lapor! Untuk bagian status body pesawat di sini aman, Kapten," sahut Devan.

"Cek, lapor! Untuk bagian mesin pesawat aman, Kapten," timpal Rubel.

"Lapor, Kapten. Kapsul tidur dalam kondisi siap digunakan," tambah Xhera.

"Lapor, semua sudah aman, Kapten," tutup Viola.

Erick mengangguk puas dari kursi kemudi.

"Baik, laporan diterima. Saya akan mengarahkan pesawat ke jalur bulan. Untuk semua kru, istirahatkan tubuh kalian sebelum kita tiba di wormhole. Laksanakan!"

"Siap, Kapten!" seru para kru serempak.

Sesuai perintah, mereka semua memasuki kapsul tidur untuk menghemat energi selama perjalanan. Namun, di dalam tidurnya, Devan justru mengalami mimpi yang aneh.

Dalam mimpinya yang buram, ia bertemu dengan seorang putri yang cantik nan anggun. Penglihatannya samar-samar, tetapi ia bisa merasakan sang putri mengajaknya masuk ke sebuah wilayah kerajaan yang megah. Detik berikutnya, suasana berubah drastis secara kilat. Keindahan itu runtuh. Bangunan di sekelilingnya hancur tak bersisa. Di akhir mimpi, sang putri menatapnya sambil menangis, namun bibirnya tersenyum ke arah Devan.

"TIDAK!"

Devan tersentak bangun dengan napasnya yang Terengah engah,.

Sontak saja teriakan itu mengejutkan para kru lain yang ternyata sudah bangun lebih dulu setelah melewati satu hari perjalanan penuh.

"Ada apa, Pangeran?!" Rubel langsung menghampiri kapsul Devan dengan wajah panik.

"Tidak... Tidak ada apa-apa," jawab Devan terbata-bata sambil mengusap wajahnya yang tegang.

Erick menoleh dari kursinya. "Apa kau bermimpi, Devan?"

"Tidak, Guru. Yah... Sejujurnya, mimpi itu terasa begitu nyata." Devan menghela napas, berusaha menenangkan detak jantungnya.

"Tidak masalah. Hal biasa, apalagi kita baru mendapatkan misi sebesar ini," hibur Erick, mencoba memaklumi ketegangan muridnya.

"Baiklah, semua kru segera bersiap. Setengah jam lagi kita akan tiba di depan wormhole."

Waktu berlalu cepat, dan kini kemegahan objek misterius itu terpampang jelas di balik kaca kokpit mereka.

"Kalau dilihat dari dekat, di sekitar lingkaran wormhole seperti ada cerminan galaksi di sisi yang lain," gumam Erick takjub. Namun, ia segera kembali fokus. "Rubel, persiapkan pendorong rem boost EXGA! Viola, aktifkan cairan pelindung untuk body pesawat! Devan, siapkan kamera The EXGA dan dokumentasikan apa saja yang terjadi di dalam nanti!"

"Pendorong rem boost EXGA siap diaktifkan, tinggal menunggu perintah," sahut Rubel cekatan.

"Lapisan seluruh body pesawat telah ditutupi cairan pelindung," lapor Viola.

"Kamera The EXGA siap," tambah Devan, langsung membidikkan lensa ke arah fenomena di depan mereka.

"Baiklah, Kru. Kencangkan peredam hentakan kalian! Sepertinya kita akan merasakan G-force yang lumayan kuat ketika kita masuk ke dalam. Kita akan mulai dari kecepatan normal. Satu, dua, tiga... Kita masuk!"

Pesawat The EXGA 2 perlahan meluncur membelah batasan objek tersebut. Ternyata, di dalam wormhole itu tidak hanya ada lorong hitam yang hampa. Setelah beberapa kilometer masuk, mulai muncul kiasan cerminan galaksi yang indah, seakan melengkung mengikuti bentuk lorong dimensi.

Devan dengan cekatan langsung mendokumentasikan pemandangan menakjubkan yang belum pernah dilihat manusia mana pun.

"Ini dia... Tempat di mana pesawat nirawak kita hanya mampu sampai di lorong hitam," ucap Erick, mengagumi pembuktian teori mereka.

"Wah, indahnya!" Viola tertegun, matanya berbinar menatap hamparan cerminan galaksi yang meliuk-liuk di luar sana.

Namun, di tengah rasa takjub itu, telinga Devan menangkap sesuatu yang ganjil. Sekilas ia mendengar suara di sampingnya, seperti ada suara wanita yang tertarik ke arah bumi.

"Ayah... Ku mohon tolong aku ....." Wanita misterius

"Tunggu, suara siapa tadi?!" Devan menoleh cepat ke arah luar jendela.

Sebelum rasa penasarannya terjawab, Viola tiba-tiba memekik sambil menunjuk ke depan.

"Lihat kabut di depan, Kapten! Perasaan saya tidak enak!"

Sebuah kabut tebal dan pekat tepat setelah lorong cerminan galaksi tadi.

"Saya juga merasakannya, Viola. Semua kru, bersiaplah! Sepertinya sesuatu yang berbahaya akan terjadi di depan, persiapkan diri kalian!" perintah Erick dengan nada yang berubah serius.

Begitu The EXGA 2 menerobos masuk ke dalam lorong berkabut itu, guncangan hebat langsung melanda. Tekanan G-force melonjak drastis secara tiba-tiba, membuat pesawat seolah ditarik paksa oleh kekuatan raksasa yang tak kasat mata.

"Rubel, aktifkan pendorong boost EXGA!" teriak Erick di tengah gemuruh mesin.

"Pendorong boost EXGA aktif!" Rubel menekan tombol di panelnya.

Namun, kekuatan pendorong itu hanya sedikit meringankan dampak G-force. Pesawat The EXGA 2 mulai bergetar hebat. Kerja keras mesin yang dipaksa melawan arus membuat sistemnya mulai mengalami overheat.

"Sial! Kapten, lapor! Akibat getaran yang tinggi, tombol kipas pendingin mengalami kemacetan! Saya harus pergi ke belakang untuk mengaktifkannya secara manual! Kalau tidak segera diaktifkan, kita akan tertarik terlalu kuat dan membuat pesawat ini hancur!" jawab Rubel panik.

"Baiklah, laksanakan cepat dan hati-hati! Ajak Devan bersamamu!" perintah Erick sambil sekuat tenaga menahan setir kemudi agar pesawat tetap melaju lurus.

"Siap!" sahut Rubel dan Devan bersamaan.

Keduanya langsung beranjak dari kursi, berlari ke bagian belakang pesawat dengan langkah tertatih-tatih akibat guncangan hebat dan tekanan G-force. Sesampainya di ruang mesin, kepanikan baru muncul. Tuas pengaktifan kipas pendingin ternyata tersendat akibat tekanan luar yang terlalu besar.

"Sial! Bila salah satu tersendat, tuas harus diangkat keduanya agar kipas pendingin kembali bekerja," gerutu Rubel sambil mencoba menarik tuas dengan sekuat tenaga. "Baiklah, Devan! Aku akan mempertahankan posisi tuas yang ini, dan kau aktifkan tuas di ruangan yang sebelah kiri! Tuas di sana tidak begitu mengeluarkan banyak tenaga!"

"Baik!"

Devan langsung berbalik dan berlari cepat menuju ruangan di sebelah kiri.

Sementara itu di kokpit, situasi justru semakin memburuk. "Sial, kenapa harus sekarang?! Gawat, gawat! Semuanya bersiap, ada beberapa asteroid kecil yang datang ke arah kita! Kalian semua bersiap terhadap benturan!" teraf Erick tegang.

Ia berusaha keras memutar kemudi untuk menghindari setiap bongkahan batu ruang angkasa yang meluncur cepat. Beberapa asteroid kecil sempat menghantam keras, membuat alarm bahaya di dalam pesawat berdengung.

Di ruang sebelah kiri, Devan akhirnya berhasil meraih tuas yang dimaksud. Ia mengerahkan tenaganya dan berhasil menarik tuas tersebut ke atas. Namun, petaka justru datang tepat di saat yang sama. Sebuah asteroid yang lumayan besar menghantam telak bagian luar ruangan tempat Devan berada.

BRAAKK!

Hantaman luar biasa itu membuat dinding ruangan penyok parah. Tekanan udara bergolak, menimbulkan kerusakan sistem mekanis yang instan. Pintu keluar otomatis di belakang Devan langsung macet total, berderit statis tak bisa terbuka. Lebih buruk lagi, akibat benturan keras itu, struktur penyangga ruangan mulai bergeser dan sedikit terlepas dari badan pesawat utama.

"Sial! Tidak mungkin aku akan berakhir di sini!" Devan panik, ia terus memukul dan mencoba mendobrak pintu besi yang tersendat itu dengan bahunya.

Di ruangan sebelah, Rubel merasakan fungsi pendingin kembali normal. "Aaagrrhh! Nah, bagus! Kipas berhasil aktif, Devan! Ayo kita kembali ke kokpit!" serunya lewat interkom.

"Maaf, Kak Rubel, saya terjebak di ruangan ini akibat benturan asteroid! Cih, lebih parah lagi, ruangan ini sepertinya akan lepas!" balas Devan dengan nada gemetar melalui alat komunikasi.

"Apa?! Tunggu! Saya akan segera ke sana!"

Mendengar hal itu, Rubel langsung melepas tuasnya dan berlari panik menuju ruangan kiri.

Namun, getaran dahsyat dari luar tidak mau berkompromi. Suara besi yang mengunci struktur penyangga mulai retak dan patah satu per satu karena tidak kuat menahan beban ruangan yang sudah ringsek tersebut. Menyadari ajalnya mungkin sudah di depan mata, Devan menghentikan usahanya pada pintu. Ia mulai bergumam sendiri dengan tatapan kosong.

"Padahal aku masih ingin menjelajahi alam semesta... Padahal aku masih ingin mendengar cerita dongeng Kakek Garven. Maafkan aku Ayah, Ibu... Aku tidak bisa kembali."

KRAAAK!

Penyangga utama akhirnya patah total. Detik itu juga, ruangan logam tersebut terlempar lepas, terhisap badai dimensi keluar dari badan pesawat utama The EXGA 2.

Rubel yang baru saja tiba di depan pintu penghubung hanya bisa tertegun lemas. Lewat kaca kecil di pintu, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ruangan tempat Devan berada melayang menjauh dengan cepat, hilang ditelan kabut tebal wormhole.

"TIDAK! SIALAAAAAANN!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!