Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Collin Lange
Mahreen menatap sebal ke Collin yang tidak ada basa-basi ke dirinya. Sejurus kemudian dia terdiam saat mendengar aksen Collin.
"Brit?" tanya Mahreen.
"Half Irish half English. Kenapa?" jawab Collin.
"Hhhmmm. Irish lagi," gumam Mahreen.
"Ada apa dengan Irish?" tanya Collin dingin.
"Betsuni. Ayo, kita pulang Lange! Aku rindu kasurku. Letnan, dimana tas Morr aku? Anda tidak membongkarnya bukan? Tidak memakai kartu kredit aku bukan?" Mahreen menatap tajam ke kepala polisi Leiden University itu.
Kepala polisi yang sudah biasa dengan sikap seenaknya Mahreen, hanya menggeleng. "Masih aman semuanya, Princess."
Dia meminta anak buahnya untuk memberikan tas itu ke Mahreen. Gadis cantik itu langsung memeriksa semuanya dan tersenyum manis saat tahu tidak ada yang hilang.
"Terima kasih atas kerjasamanya," senyum Mahreen sambil mengangguk sopan lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Collin hanya menghela napas panjang. "Maafkan Princess Mahreen, Letnan."
"Kami sudah biasa. Apalagi sudah lima kali ditahan disini jadi tahu lah," kekeh kepala polisi itu. "Tolong Mr Lange, jauhkan Princess Mahreen dari masalah. Terima kasih."
"Tentu saja."
"Langggeeee!" teriak Mahreen.
"Permisi," pamit Collin. Pria itu pun menghampiri Mahreen yang sudah tidak sabar di depan kantor polisi Leiden University.
"Tidak usah berteriak-teriak Princess! Anda tahu manner tidak?" ucap Collin dingin.
"Tidak usah mengatur aku! Mana mobil kamu? Atau kamu datang naik sepeda? Yang benar saja aku boncengan naik sepeda sama kamu?" balas Mahreen judes.
"Kita naik mobil, Princess. Itu mobilnya." Collin menunjukkan sebuah mobil Toyota Aygo X.
Mahreen melongo. "Bomb Bomb Car? Ya ampun Lange! Bisa tidak yang bagusan? Dimana BMW aku?"
"Sudah ditarik ayah anda. Sekarang anda bersama saya setiap mau pergi," jawab Collin dingin.
Mahreen semakin tantrum. "Bagaimana bisa Abi seperti itu! Tidak bisa! Aku butuh BMW aku!" Gadis itu mengambil ponselnya tapi Collin menahannya.
Collin Lange
"Aku tidak perduli kamu guling-guling di tanah, berteriak seperti gadis tidak berpendidikan, yang tidak beretika meskipun kamu Princess! Tugas aku adalah, menjaga kamu untuk tidak membuat ayahmu mengeluarkan kamu dari daftar anggota keluarga Al Khalifa! Karena aku yakin, kamu tidak akan bisa hidup tanpa bantuan finansial ayahmu!" ucap Collin ke Mahreen.
Gadis itu menganga mendengar ucapan pengawal setengah jamnya itu. Bagaimana bisa pria dari antah berantah ini berani melarang dirinya? Bahkan menghina dirinya?
"Beraninya kamu!" desis Mahreen.
"Sekarang ... Anda mau naik mobil saya atau silahkan jalan kaki atau naik trem sampai ke flat anda. Semua pilihan di anda," ucap Collin kalem.
Mahreen mendengus dan dia memilih berbalik meninggalkan Collin. Mahreen lebih memilih naik transportasi umum daripada satu mobil dengan pria asing yang katanya adalah kiriman ayahnya.
Collin menghela napas panjang. "Ya ampun, Ken. Adikmu sangat ... Menyebalkan!"
***
Menjelang jam makan siang, Mahreen baru sampai di flatnya sementara Collin sudah bersandar di depan mobilnya. Pria itu sudah menunggu di pelataran parkir gedung flatnya. Mahreen merasa sebal namun dia juga capek karena halte bus cukup jauh dari flatnya.
Collin hanya menatap dingin sambil bersedekap dan Mahreen membuang wajahnya. Collin pun berjalan mengikuti Mahreen yang masuk ke dalam gedung flatnya.
"Kenapa kamu mengikuti aku?" hardik Mahreen.
"Karena aku harus ikut anda. Bukannya pengawal anda sebelumnya juga tinggal di flat anda?" jawab Collin cuek.
Mahreen menyipitkan matanya. "Damn bloody stubborn Shamrock Rovers!"
Collin tersenyum. "Meskipun aku half Irish, tapi aku fans Manchester United."
Mahreen memutar bola matanya malas. "Oh pleaseeeee, another Man United!" Gadis itu menghentakkan kakinya yang pegal.
Collin hanya mengikuti Mahreen. "Jordan O'Grady adalah Oom anda bukan? Sayang dia harus pensiun dini akibat cidera."
"Yup. Oom Jordan emang pensiun dini. Mana si Jamal yang ogah jadi pemain bola, eh sekarang jadi pemain Manchester United hanya gara-gara gabut?" gerutu Mahreen.
JJ O'Grady atau biasa dipanggil Jamal di keluarganya karena memang namanya Junichi Jamal O'Grady. Dia memang tidak tertarik dengan sepakbola meskipun ayahnya memasukkan ke dalam akademi sepakbola Manchester United.
Seperti halnya anggota keluarga lainnya, JJ kuliah lebih cepat dan sambil kuliah dia tetap berlatih di Manchester United. Yang membuatnya kocak, dia masuk tim cadangan tapi tetap didaftarkan pemain cadangan waktu pra musim. Semakin plenger saat tanding uji coba dengan Barcelona, JJ membuat hattrick di babak kedua karena striker andalan cidera.
Endingnya, JJ kuliah online dan tetap bermain di Manchester United. Semua sepupunya hanya bisa geleng-geleng kepala karena saat wawancara, JJ mengaku gabut di kampus jadi mending main bola.
"Tapi JJ bagus kok jadi gelandang serang," puji Collin.
"Dia bocah plenger!" cebik Mahreen.
"Plenger?" tanya Collin.
"Bocah tidak jelas! Random!" jawab Mahreen sambil membuka pintu flatnya.
Collin hanya tersenyum smirk. "Begitu."
Mereka pun masuk dan Mahreen melihat kamar yang biasa dipakai pengawalnya, sudah bersih seolah tidak ada orang yang pernah tinggal disana.
"Haaaahhh, Abi tuh benar-benar deh!" Mahreen menoleh ke Collin. "Kamar kamu disitu! Flat ini bisa dibilang yang agak mewah buat aku. Sebenarnya bisa saja ke apartemen mewah tapi jauh dari kampus."
Mahreen melepaskan cardigannya. Collin bisa melihat lekuk tubuh Mahreen yang hanya memakai kaos crop dan memamerkan perut ratanya. Collin juga menilai dada Mahreen cukup lumayan untuk ukuran gadis langsing itu.
"Lange," panggil Mahreen.
"Yes Princess?" jawab Collin.
"Aku masih tidak memaafkan ucapan kamu tadi di parkiran kantor polisi! Aku tahu kamu hanya pengawal yang dikirim ayahku tapi kamu tidak Fantas mengatakan hal itu padaku!" ucap Mahreen judes.
"Aku hanya menunjukkan fakta, Princess. Anda tidak akan bisa hidup tanpa bantuan finansial ayah anda. Sekarang, skill anda apa selain berkelahi?" balas Collin tanpa ekspresi.
Mahreen menatap datar ke Collin. "Aku berkelahi juga ada pasal!"
"Katakan hal itu pada pria-pria yang anda tinggalkan hanya karena tidak sesuai dengan keinginan anda," jawab Collin. "Setahu saya, mantan pacar anda selama kuliah di Leiden sudah ada empat nama. Semuanya putus dengan tidak baik!"
"Karena mereka hendak menguasai hartaku, Lange! Dan tubuhku! Sangat tidak gentleman bukan?" ucap Mahreen.
"Mereka tidak akan bersikap seperti itu jika anda bisa menjaga diri ...." Collin terkejut sedikit saat Mahreen mendatangi dirinya tiba-tiba.
"Aku masih muda. Wajar bukan jika aku menikmati hidupku. Lagipula, apa yang dilakukan gadis berusia delapan belas tahun ini kalau tidak bersenang-senang?" Mahreen menatap usil ke Collin. "Berapa usiamu, Lange? Tiga puluh? Tiga lima?"
"Dua puluh sembilan."
"Tua!" ejek Mahreen.
"Setidaknya, aku tidak sembarangan seperti anda," jawab Collin.
"Jangan mentang-mentang kamu tua, jadi kamu bersikap seperti ayahku ya!" ucap Mahreen.
"Jika anda mau menurut, aku tidak akan bersikap seperti ayah anda," senyum Collin licik.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh