Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Aris, Liora dan kejadian di Sumber Makmur
Pagi di toko "Sumber Makmur" dimulai dengan aroma oli dan debu logam. Aris sedang sibuk menyusun klem pipa saat seorang wanita muda masuk. Penampilannya kontras dengan lingkungan sekitar; ia mengenakan kemeja rapi dan kacamata frame tipis, tampak sedang mencari sesuatu di rak bagian belakang.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aris mendekat.
Wanita itu menoleh, menunjukkan ekspresi sedikit bingung. "Saya butuh ball valve kuningan ukuran setengah inci dan satu rol seal tape. Ada?"
"Ada di sebelah sini," Aris mengambilkan barang yang diminta dengan cekatan. Sambil menghitung total belanjaan, wanita itu menatap deretan kunci pipa di dinding dengan dahi berkerut.
"Sebenarnya..." wanita itu ragu sejenak. "Apa kalian melayani jasa pasang juga?
Saya mencoba memasang pipa ledeng kecil untuk filter air di rumah, tapi sepertinya ada sambungan yang terus merembes."
Pak Jaya yang sedang duduk di balik meja kasir menyahut, "Bisa saja, Nak. Tapi hari ini kami ada panggilan di blok C sampai siang. Kalau mau, Aris bisa ke sana sore nanti setelah jadwal di blok itu selesai. Bagaimana, Ris?"
Aris mengangguk. "Bisa, Pak. Saya catat alamatnya saja."
"Saya Liora," ucap wanita itu sambil menuliskan alamat di secarik kertas. "Tolong ya, saya sangat butuh air itu mengalir hari ini."
...****************...
Sore harinya, setelah berkutat dengan pipa mampet di blok C yang menguras tenaga, Aris berangkat menuju rumah Liora sendirian. Pak Jaya memilih tinggal di toko untuk beres-beres. Rumah Liora terletak di area yang sedikit lebih tenang, namun tetap memperlihatkan ciri khas kota ini: dinding yang lembap dan saluran air yang tumpang tindih di depannya.
"Sore Mbak, saya Aris dari toko tadi." Sapa Aris setelah sampai di rumah Liora.
Liora pun langsung mengenalinya, "oh iya, bisa langsung saja ke belakang, disana.." tunjuk Liora. Dan Aris pun langsung mempersiapkan alat seperti biasa.
Sambil memutar kunci inggris untuk mengencangkan pipa di dapur Liora, Aris membuka obrolan. "Pipa di daerah sini tekanannya agak lemah ya, Mbak? Tadi saya cek di meteran depan, alirannya tersendat."
Liora yang sedang menyusun beberapa buku di meja makan menoleh. "Jangan panggil Mbak, panggil Liora saja. Pipa nya? Memang. Itu masalah klasik di kota ini. Carut-marut infrastruktur."
Aris teringat cerita kemarin. "Pak Jaya juga bilang begitu. Katanya dulu kota ini jauh lebih baik sebelum kepengurusannya jadi berantakan."
Liora berjalan mendekat, menyandarkan tubuh di pintu dapur. "Benar, tapi hanya sebagian. Saya sudah lama melakukan riset kecil-kecilan tentang tata kota ini sejak pindah ke sini. Kekacauan pipa dan kabel di bawah sana bukan cuma karena anggaran yang dikorupsi, tapi karena pembangunannya memang tidak pernah direncanakan untuk jangka panjang. Setiap ada pemimpin baru, mereka hanya menumpuk pipa baru di atas pipa lama tanpa mencabut yang rusak."
Aris mendongak. "Jadi Mbak anggap ini hal biasa?"
"jangan Mbak, Liora atau apa saja.
Iya, biasa saja setidaknya sampai sekarang," jawab Liora tenang. "Manajemen yang buruk biasanya memang menghasilkan kekacauan visual seperti itu. Selama air masih sampai ke rumah saya, saya rasa itu hanya masalah teknis yang menjengkelkan, bukan sesuatu yang harus dicurigai secara berlebihan."
Aris menyelesaikan pekerjaannya, memastikan tidak ada lagi tetesan. Liora memberinya upah yang sangat layak, bahkan lebih dari tarif biasanya. "Terima kasih, Ris. Kamu bekerja dengan rapi."
...****************...
Dalam perjalanan pulang menuju toko, Aris memilih berjalan kaki menyusuri pinggiran jalan yang sejajar dengan saluran air bawah tanah yang terbuka di beberapa titik. Pikirannya melayang pada ucapan Liora tentang "menumpuk pipa baru di atas yang lama".
Ia berjalan tertunduk, matanya tak sengaja memperhatikan celah beton di bawah kakinya. Di dalam lubang gelap itu, ia melihat sekumpulan kabel hitam besar dan pipa-pipa logam yang tidak lagi terjalin acak. Semakin ia berjalan ke arah pusat kota, kabel-kabel itu tampak mulai mengelompok dan terarah menuju satu titik yang sama di kejauhan. Sebuah area industri yang dikelilingi pagar tinggi.
Aris berhenti sejenak, mencoba melihat lebih jelas ke dalam lubang itu. "Semuanya terpusat ke sana?" gumamnya.
Namun, rasa lelah segera mengalahkan rasa ingin tahunya. Ia menganggap itu mungkin hanya pusat gardu listrik utama atau stasiun pompa air pusat. Aris kembali berjalan, sampai akhirnya tiba di toko Pak Jaya tepat saat matahari tenggelam. Baginya, hari itu hanyalah hari biasa dengan pekerjaan biasa. Ia belum menyadari bahwa pusat kabel yang ia lihat adalah "Vena kota" dari sesuatu yang akan segera merubah hidupnya selamanya.
Sudah selesai, Ris?" sapa Pak Jaya dari dalam toko.
"Sudah, Pak. Liora titip salam," jawab Aris sambil menyerahkan uang setoran, kembali ke rutinitasnya tanpa sedikit pun firasat buruk.
...****************...
Keesokan harinya, Liora muncul kembali di depan toko "Sumber Makmur". Wajahnya tampak sedikit tidak enak hati. "Pipa yang kemarin sepertinya masih ada rembesan sedikit di sambungan bawah, Aris. Maaf ya, sepertinya saya salah putar tadi pagi."
Pak Jaya yang sedang mengelap meja langsung berdiri. "Ah, masa? Biar aku ikut cek sekarang, mungkin drat-nya memang sudah aus."
Aris segera menahan lengan Pak Jaya. "Jangan, Pak. Bapak di toko saja. Biar saya yang urus. Kemarin Bapak sudah mengeluh pinggang sakit habis bongkar stok pipa besi, jangan dipaksa lagi."
Pak Jaya menghela napas, lalu duduk kembali sambil memijat pinggangnya. "Ya sudah, kau saja, Ris. Hati-hati, bawa isolasi pipa yang lebih tebal."
Aris dan Liora pun berangkat. Perbaikan kali ini memang hanya masalah kecil, dan dalam waktu singkat semuanya selesai.
Saat Aris hendak berpamitan untuk jalan kaki kembali ke toko, Liora menghentikannya.
"Aris, ayo saya antar. Kebetulan saya mau keluar juga," tawar Liora.
"Tidak usah. Dekat, kok," tolak Aris sopan.
"Jangan menolak. Kamu sudah dua hari ini bolak-balik membantu saya. Ayo, anggap saja ini ucapan terima kasih karena sudah menjaga Pak Jaya tidak kelelahan," Liora
Memaksa sambil mengambil kunci mobilnya. Akhirnya, Aris mengalah dan masuk ke mobil Liora.
Suasana di dalam mobil cukup tenang sampai mereka melewati jalan protokol. Tiba-tiba, suara sirine yang memekakkan telinga memecah keheningan. Sebuah ambulans melesat cepat mendahului mereka, disusul oleh dua mobil polisi dengan lampu strobo yang menyala terang.
"Ada kecelakaan?" gumam Liora sambil mempercepat laju mobilnya mengikuti arah ambulans tersebut.
Namun, jantung Aris seakan berhenti berdetak saat mereka mendekati blok tempat toko "Sumber Makmur" berada. Ambulans dan mobil polisi yang tadi mendahului mereka berhenti tepat di depan toko Pak Jaya. Garis polisi kuning sudah terbentang, membelah kerumunan warga yang mulai memadat.
"Pak Jaya!" teriak Aris. Ia langsung melompat keluar bahkan sebelum mobil Liora berhenti sempurna. Liora menyusul di belakangnya dengan wajah pucat.
Mereka berdua berlari menembus kerumunan. Aris mencoba menerobos garis polisi, namun seorang petugas menahannya dengan tegas.
"Jangan masuk dulu, Mas! Lokasi sedang disterilkan!" bentak petugas itu.
"Itu toko Pak Jaya! Saya kerja di situ! Pak Jaya di mana?" seru Aris panik. Matanya liar mencari sosok pria tua itu di antara petugas ambulans yang sedang sibuk mengeluarkan tandu kosong. Namun, petugas-petugas itu tampak bekerja dengan sangat hati-hati, bahkan beberapa dari mereka mengenakan masker dan sarung tangan medis yang lebih tebal dari biasanya.
Seorang polisi senior mendekati mereka. "Kalian siapa? Ada hubungan apa dengan pemilik tempat ini?"
"Saya Aris, saya bekerja di sini. Dan ini Liora, pelanggan toko kami. Ada apa sebenarnya, Pak? Kenapa toko ditutup?" tanya Aris dengan suara bergetar.
Polisi itu hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mencatat nama mereka di buku saku. "Untuk sekarang, kami belum bisa memberikan keterangan apapun dan lokasi ini sementara harus dikosongkan. Kalian berdua, besok pagi jam sembilan datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Mengerti?"
"Tapi Pak, Pak Jaya..." Liora mencoba bicara, namun polisi itu hanya memberi isyarat agar mereka menjauh.
Aris berdiri mematung di pinggir jalan. Ia melihat petugas ambulans membawa sesuatu yang terbungkus rapat ke dalam mobil, tapi itu bukan tandu biasa. Suasana terasa sangat mencekam dan asing. Toko besi yang biasanya penuh candaan Pak Jaya kini berubah menjadi tempat kejadian perkara yang dingin. Aris dan Liora hanya bisa saling pandang dalam kebingungan.