Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARTU HITAM.
Malam semakin larut klakson sesekali masih berbunyi terdengar samar dari luar restoran.
Langkah kaki pelayan dan pengunjung masih beralulalang di dalam restoran mewah itu.
"Ah.... Kenyang sekali," ucap Bayu sambil mengelus perutnya.
Di depannya, ketiga wanita masih duduk diam menatap kearahnya.
"Apa sudah selesai?", tanya Ratih menatap sinis sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Baik, karena kalian udah setia menungguku makan, penurut seperti istri pada suami, aku akan membayar makanan dan minuman kalian", ucap Bayu santai, sesekali tersenyum menatap satu persatu dari ketiganya.
"Kamu...!!!?", ucap ketiganya berteriak bersamaan menahan emosi.
............
Setelah sampai di depan kasir Ratih menatap Bayu, "awas kau ya... Jika gak mampu bayar jangan salahkan kami", katanya dalam hati.
"Kenapa kamu menatapku gitu?", tanya Bayu pada Ratih.
"Udah bayar aja" ucap Ratih datar sambil menatap tajam.
Dua wanita kasir menatap keempatnya, "selamat malam, bisa kami bantu?", tanya kasir satu.
"Aku mau bayar meja nomor delapan dan delapan belas," ucap Bayu sambil tersenyum menatap petugas kasir.
"Bentar ya tuan, kami cek dulu", ia mengotak Atik pembukuan dan menghitung... "Totalnya semua jadi dua juta tujuh ratus ribu,"
"Ini", kata Bayu menyodorkan kartu berwarna hitam kearah kasir.
"Ini..." Jawab kasir menerima kartu itu dengan terbengong, kemudian ia menoleh pada petugas kasir dua, "bukankah ini kartu hitam", ucapnya berbisik menyerahkan pada petugas kasir dua.
"iya... Gak salah lagi, ini memang kartu hitam" bisiknya pelan.
"Kenapa?", tanya Bayu datar.
"Boleh tuan tunggu sebentar, kami mau melapor pada maneger dulu", ucap kasir satu sangat sopan.
"Silahkan" balas Bayu tersenyum.
"silahkan Tuan duduk dulu" ucap kasir itu sambil menunjuk dengan sopan kearah meja kosong.
"iya", jawab Bayu dengan memasukkan kedua tangannya kesaku jaket kulitnya.
Petugas kasir itu pun berjalan kearah koridor ruangan dan segera masuk lift menuju lantai atas.
Di belakang Bayu, April mulai menarik lengan baju Ratih, "kenapa... Ada masalah ya dengan kartunya... Jangan-jangan hasil curian?" Bisiknya pada Ratih.
"Gak mungkin", balas Anita masih berbisik menatap April.
"Kalau benar, gimana... Kita pasti dapat masalah, kita kan dibayari dia" jawab April lagi.
"Santai aja... Jika memang dia pencuri kita bisa ngomong aja apa adanya, gak akan ada masalah... Paling-paling hanya dia yang masuk penjara", tanggap Ratih masih terlihat tenang, sangat berbeda dengan April yang kini mulai gelisah.
"Kalian sih enak, jika ini sampai viral akan menghancurkan karirku tau gak... Aku ini model terkenal", ucap April kembali, ia menoleh kesana-kemari, matanya melirik kearah Anita lalu kearah Ratih dan tangannya semakin gemetar.
"Udah-udah... Jika dia memang pencuri, aku bisa bayar sendiri, gak usah hawatir seperti itu... Aku kan udah janji mau mentraktir kalian", jelas Anita tersenyum menggenggam tangan April.
Mendengar percakapan itu, Bayu hanya bisa tersenyum, kemudian membalikkan badan. "Mari kita tunggu dan duduk".
........
Keempatnya pun kembali duduk di tempat meja kosong.
"Kamu bukan pencuri kan?" Tanya Ratih menatap bayu sinis.
"Kita lihat aja nanti" ucap Bayu masih tersenyum, menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Udah-udah aku bayar sendiri aja", kata Anita kembali berdiri dan ingin ketempat kasir.
Namun ketika langkahnya masih dua langkah, Bayu menggapai tangan Anita, dan mereka saling menatap, pandangan mereka saling bertemu.
"Kita tunggu aja dulu, aku kan Uda janji mau membayar" kata Bayu pelan dan serius
Anita masih menatap kedua mata Bayu yang terlihat sangat tulus dan tangannya tanpa sadar masih digenggam Bayu.
.........
"Lepas-lepas... Jangan coba-coba menggoda temanku ya... Dia bukan cewek gampangan tahu", teriak Ratih ketus sambil melepas paksa genggaman tangan Bayu.
Anita pun jadi menggaruk kepalanya dengan satu jarinya, pipinya memerah lirikan matanya kesana-kemari dan tak mampu berkata apa-apa... Kemudian ia pun dengan diam ragu-ragu pelan-pelan kembali duduk.
"Eh.. siapa yang sedang menggoda, aku-", balas Bayu cepat.
"Aku apa.. ngapain kamu pegang-pegang tangan Anita?" Potong Ratih sambil melotot.
"Kalian ini sangat menyebalkan ya.." tanggap Bayu lagi".
"Eh... Aku tahu maksudmu ya... Aku ini sudah berkali-kali bertemu lelaki hidung belang seperti kamu... Yang selalu mencari wanita lugu", sambung April sambil menunjuk kearah Bayu.
"Eh... Jangan samakan aku dengan mereka ya" tanggap Bayu.
"Udah lah... Dimana-mana Lelaki memang sama aja" sahut Ratih masih melotot.
.....
"Plak plak plak." Suara langkah maneger dan petugas kasir datang menghampiri mereka.
"Anda yang bernama Tuan Bayu?", tanya maneger itu sangat sopan.
"Iya"
"Terimakasih... Sudah mau berkunjung ke restoran kami, ini ada sedikit hadiah buat anda dari bapak direktur restoran kami, dan ini kartu anda, jangan sungkan-sungkan mampir lagi ketempat restoran kami Tuan". Ucap sopan maneger itu sambil menyodorkan kartu hitam milik Bayu dengan kedua tangannya.
"Iya, terimakasih" jawab Bayu tersenyum sambil menerima kartu itu.
Pelayan itu meletakkan sampanye besar di meja mereka.. lengkap dengan gelas kecilnya.
"Ya sudah... Kami kembali dulu, aku harap tuan nyaman", ucap maneger itu sambil undur diri diikuti petugas kasir di belakangnya.
"Eh.... Ini kan sampanye merk Armand de Brignac Midas." Ucap April menatap heran kearah Bayu.
"Merk apa itu... Aku kok baru dengar..?" Tanya Ratna menatap kearah April.
"Ini minuman paling mahal Lo..., seumur hidup aku hanya bisa ngelihat minuman ini di film-film aja... Gak tau rasanya seperti apa, aku gak mimpi kan ya..?", jelas April sambil mencubit pipinya sendiri.
Bayu tersenyum.
"Tolong jangan lebay deh", sahut Anita mencondongkan tubuhnya kearah meja.
"Iya kebiasaan April ini.... Lebay banget", imbuh Ratih.
"Eh... Kalian ini... Kamu gak tahu aja harga perbotolnya... Kalo kalian tahu pasti bakal jantungan, gini ya... gajiku jika dikumpulkan dengan gaji kalian selama setahun aja masih gak bisa membeli minuman ini" jelas April, "aku jadi penasaran rasanya.." lanjutnya.
"Ha... Emangnya berapa harganya!!?," tanya Ratih penasaran menyipitkan matanya kearah April.
April mengangkat ketiga jarinya.
"Tiga puluh juta?" Tanya Anita.
April menggeleng.
"Tiga ratus juta?" Tanya Ratih.
April masih menggeleng.
Anita dan Ratih saling lempar pandang, kemudian kembali menatap sangat serius kearah April.
"Tiga miliar" ucap April dengan suara jelas dan pelan.
"Haaa.......!!!!???" Ucap spontan keduanya dengan bersamaan.
April mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jika, demikian... Syang kan... Bisa buat beli rumah loo...." Balas Anita menoleh kearah Ratih.
Sedang Ratih menatap botol sampanye itu, "sayang sekali uang 3 miliar hanya buat diminum", gumam Ratih masih setengah tak percaya lalu mengelus-elus botol itu.
Kemudian April melirik kearah Bayu, di ikuti keduanya.
"Apa... Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Ucap Bayu canggung.
"Kamu bukan mafia seperti yang ada di film-film itu kan....???" Tanya April dengan tatapan tajam kearah Bayu.
...........
Bersambung.