"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: VVIP atau Keluar!
Langkah kaki Vandiko Elhaz menggema di lorong RS Medika yang dingin .
Pakaiannya yang basah kuyup oleh sisa hujan menciptakan jejak air di lantai marmer yang mengilap, namun ia tidak peduli
Wajahnya datar, tetapi matanya memancarkan aura yang membuat siapa pun yang berpapasan dengannya merasa tertekan .
Di ujung lorong, tepat di depan ruang administrasi kelas tiga, seorang perawat senior bernama Siska sedang melipat tangan di dada .
Ia menatap Vandiko dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi .
"Vandiko! Akhirnya kau muncul juga," bentak Siska tanpa memedulikan etika .
"Kau tahu berapa tunggakan ibumu? Lima puluh juta rupiah! Jika kau tidak melunasinya dalam satu jam, kami terpaksa memindahkan ibumu ke selasar luar .
Rumah sakit bukan yayasan amal untuk orang miskin sepertimu!
Vandiko berhenti tepat di depan meja administrasi, Ia menatap Siska dengan tenang, lalu secara tidak sadar, layar virtual transparan muncul di atas kepala perawat itu.
[Mata Dewa Aktif!]
[Nama: Siska Marlina]
[Jabatan: Perawat Senior]
[Rahasia: Baru saja menerima suap 5 juta dari keluarga pasien lain untuk menyerobot ranjang ibu Anda]
Melihat informasi itu, sudut bibir Vandiko terangkat sedikit Dingin.
"Lima puluh juta? " tanya Vandiko dengan nada rendah "
"Iya! Dan jangan harap bisa mencicil lagi . Pakai otakmu, mana mungkin pemuda yang bajunya bahkan lebih murah dari lap pel di sini bisa punya uang sebanyak itu? " Siska tertawa sinis, memancing perhatian pengunjung lain "
Lebih baik bawa ibumu pulang dan biarkan dia mati dengan tenang di rumah."
PLAK!
Suara tamparan tidak terjadi, melainkan Vandiko menghantamkan kartu debit hitam yang ia temukan di saku jaketnya (hadiah dari sistem yang muncul tiba-tiba)
ke atas meja administrasi .
"Gesek. Sekarang," perintah Vandiko, Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas yang tak terbantahkan .
Siska tertegun, Ia melihat kartu hitam dengan ukiran emas itu—Black Card.
Ia tahu kartu itu hanya dimiliki oleh triliuner, tapi ia segera menepis pikiran itu .
Pasti ini kartu mainan atau kartu yang sudah mati, pikirnya .
"Kau mencoba menipuku dengan kartu mainan ini? Baiklah, akan kupermalukan kau di depan semua orang!" Siska mengambil kartu itu dengan kasar dan memasukkannya ke mesin EDC .
Ia menekan angka 50.000.000 dengan senyum meremehkan
Namun, sedetik kemudian...
Tit!
Struk keluar TRANSAKSI BERHASIL
Mata Siska hampir keluar dari kelopaknya . Tangannya gemetar hebat saat melihat kertas kecil itu .
"T-Tunggu... ini pasti kesalahan sistem, Tidak mungkin!"
"Lanjutkan," potong Vandiko .
"Pindahkan Ibuku ke ruang VVIP terbaik di lantai teratas sekarang juga, Jika dalam sepuluh menit ibuku belum dipindahkan, aku akan membeli rumah sakit ini dan memecatmu secara tidak hormat karena menerima suap lima juta rupiah dari keluarga pasien di kamar 302."
Siska memucat seketika, Wajahnya yang tadi merah karena marah kini menjadi seputih kertas .
"A-Apa? Bagaimana Anda tahu..."
"Satu...
( Vandiko mulai menghitung )
"Dua..."
"Suster Siska! Apa yang kau lakukan? Cepat panggil dokter spesialis terbaik! Pindahkan Nyonya Elhaz ke ruang Kepresidenan!
" teriak seorang pria paruh baya yang tiba-tiba berlari menghampiri.
(Dia adalah Direktur Rumah Sakit yang baru saja mendapat notifikasi)
bahwa ada pemegang Black Card melakukan transaksi besar di cabangnya .
Para pengunjung rumah sakit ternganga, Pemuda yang tadi mereka anggap gelandangan basah kuyup, kini disembah oleh sang Direktur .
Vandiko menatap Direktur itu, lalu melirik Siska yang kini jatuh terduduk di lantai .
"Direktur, perawat ini bilang ibuku lebih baik mati di rumah," ucap Vandiko datar .
Sang Direktur gemetar "Siska! Kau dipecat! Dan aku akan memastikan namamu masuk daftar hitam di seluruh rumah sakit di negeri ini!"
Vandiko tidak merasa kasihan sedikit pun Baginya, ini hanyalah awal .
Saat ia berjalan menuju lift VVIP, sistem kembali berbunyi .
[Ting! Misi Berhasil!]
[Hadiah: Skill 'Mata Dewa' Dipermanenkan.]
[Bonus: Anda mendapatkan 1% Saham Rumah Sakit Medika karena telah melakukan transaksi VVIP pertama.]
Vandiko masuk ke dalam lift yang berdinding kaca
Dari sana, ia melihat bayangannya sendiri di cermin lift .
Jasnya mungkin masih basah, tapi tatapan matanya sudah bukan lagi milik Vandiko yang lemah .
Clarissa, Evan... kalian bilang dunia ini diatur oleh saldo rekening? Baiklah, aku akan menunjukkan pada kalian bagaimana rasanya dihancurkan oleh angka-angka yang kalian agungkan itu .
Ponselnya kembali bergetar
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
"Vandiko, aku tahu kau sedang kesulitan.
Aku punya tawaran pekerjaan haram untukmu di klub malam malam ini Datanglah, atau ibumu tidak akan bisa makan besok."
Itu adalah pesan dari anak buah Evan yang ingin menjebaknya, Vandiko tersenyum sinis.
"Menjebakku? Mari kita lihat siapa yang akan masuk ke dalam lubang yang mereka gali sendiri."