NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

BAB 1: Kucing, Loker, dan Tuan Muda

Suara bising khas jam istirahat di SMA Pelita selalu sukses bikin kepala Elva Ileana pusing. Di sekolah elite yang isinya anak-anak sultan ini, Elva selalu merasa seperti alien. Padahal, kalau mau jujur, status keluarganya tidak kalah mentereng dibanding yang lain. Papanya pengusaha properti, mamanya sosialita yang hobi bolak-balik ke Paris.

Tapi di rumah mewah bak istana itu, Elva tidak lebih dari sekadar pajangan yang nggak berharga. Dia selalu dibanding-bandingkan dengan kakak perempuannya yang berprestasi dan adik laki-lakinya yang jadi kesayangan. Dianggap terlalu polos, lugu, dan gampang dibodohi. Imbasnya? Di sekolah pun dia jadi sasaran empuk anak-anak yang hobi power trip.

"Heh, kuper! Kuping lo pajangan doang, ya?"

Sebuah sentakan kasar di bahunya bikin lamunan Elva buyar. Tubuh kecilnya terdorong sampai punggungnya membentur deretan loker besi abu-abu. Elva meringis pelan, meraba bahunya yang mendadak ngilu. Di depannya, Clarissa—si ratu bully angkatan—berdiri sambil berkacak pinggang, didampingi dua orang dayang-dayangnya yang menatap Elva dengan pandangan meremehkan.

"Gue nanya dari tadi, tugas kelompok Fisika gue mana? Lo sengaja belum ngerjain biar gue dapet nilai jelek, kan?!" bentak Clarissa, suaranya sengaja dikeraskan biar seisi lorong menoleh.

"U-udah kok, Clar. Tadi udah aku taruh di meja kamu sebelum bel masuk," jawab Elva cicit, matanya menunduk dalam, nggak berani menatap mata Clarissa yang melotot galak. Jantungnya berdegup kencang, kedua tangannya meremas ujung rok seragamnya sampai lecek.

"Alesan lo! Mana ada? Tadi gue cek meja gue bersih!" Clarissa maju selangkah, lalu tanpa aba-aba, dia mendorong kepala Elva pakai telunjuknya.

"Jangan mentang-mentang lo anak orang kaya tapi bego ya, Elva. Di rumah lo nggak dianggap, di sini lo juga bukan siapa-siapa. Sadar diri!" Kata-kata Clarissa telak menusuk ulu hati Elva. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu, tapi dia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh. Dia nggak mau kelihatan makin lemah di depan orang-orang ini.

Di ujung lorong, kerumunan murid mendadak terbelah. Suasana yang tadinya bising langsung sunyi senyap seolah ada malaikat maut yang mau lewat. Langkah sepatu yang konstan terdengar mendekat. Elva sempat melirik sedikit, dan hatinya makin menciut saat melihat siapa yang datang.

Zayn Dominic.

Anak tunggal pemilik yayasan SMA Pelita itu berjalan dengan santai, sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Alih-alih memakai almamater sekolah dengan rapi, Zayn justru membalut tubuh tegapnya dengan jaket kulit hitam andalannya. Rambut hitamnya yang agak acak-acakan justru bikin auranya kelihatan makin intimidatif.

Tatapan matanya yang tajam dan dingin lurus menatap ke depan, seolah manusia-manusia di lorong itu cuma angin lalu.

Clarissa yang tadinya galak mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia buru-buru merapikan rambutnya, memasang senyum paling manis yang dia punya.

"Eh, Zayn... baru balik dari ruang OSIS, ya?" sapanya dengan suara yang dibuat-buat manja.

Zayn menghentikan langkahnya tepat di sebelah kerumunan itu. Matanya melirik sekilas ke arah Elva yang masih menyandar di loker dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, lalu beralih ke Clarissa. Wajah Zayn sama sekali nggak menunjukkan ekspresi kasihan atau peduli. Datar banget, kayak tembok.

"Minggir. Lo semua ngalangin jalan gue," ucap Zayn, suaranya berat, dingin, dan mutlak tanpa bantahan.

Clarissa agak kaget, tapi langsung mundur teratur sambil tersenyum canggung. "Ah, iya, sorry Zayn. Silakan lewat."

Zayn kembali berjalan tanpa menoleh lagi. Baginya, drama perundungan di lorong sekolah kaya gini adalah hal yang paling membosankan sedunia. Dia nggak punya waktu buat jadi pahlawan kesiangan buat cewek lemah yang bahkan nggak bisa membela dirinya sendiri.

Elva cuma bisa menghela napas panjang saat punggung tegap Zayn menjauh. Benar kata Clarissa, di dunia ini, dia memang sendirian. Nggak bakal ada yang peduli.

...****************...

Sore harinya, mendung mulai menggelayuti langit Jakarta. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu, membuat area SMA Pelita perlahan sepi. Tapi Elva sengaja menahan diri di kelas. Dia malas pulang cepat. Pulang ke rumah mewah itu cuma berarti pindah tempat dari satu neraka ke neraka lain. Di sana dia cuma bakal dicuekin, atau paling mentok dengerin sindiran mamanya tentang betapa tidak bergunanya dia dibanding saudaranya yang lain.

Setelah memastikan koridor benar-benar sepi, Elva berjalan ke arah area belakang sekolah, dekat gudang tua yang jarang dilewati orang. Di sana ada spot favoritnya: sebuah sudut kecil di bawah pohon rindang yang sejuk.

Elva berjongkok di samping dinding bata yang agak berlumut. Dia membuka tas sekolahnya, lalu mengeluarkan sebuah kaleng makanan basah khusus kucing dan mangkuk plastik kecil yang selalu dia bawa.

"Pus... Pusss... Sini, sayang," panggil Elva dengan suara yang lembut, berbeda jauh dengan suaranya yang ketakutan tadi siang.

Tidak butuh waktu lama, seekor kucing liar berbulu oranye-putih keluar dari balik semak-semak. Kucing itu mengeong manja, langsung menggosokkan kepalanya ke kaki Elva. Senyum murni yang sangat manis langsung terbit di wajah Elva, menyapu bersih mendung dan kesedihan yang menggelayuti wajahnya sejak siang.

"Laper, ya? Maaf ya agak telat sore ini. Tadi aku harus ngeberesin tugas dulu," bisik Elva pelan sambil menuangkan makanan kucing itu ke mangkuk. Dia mengelus lembut bulu si kucing yang sibuk makan dengan lahap.

"Makan yang banyak, ya. Cuma kamu doang yang selalu nungguin aku di sini."

Elva terkekeh pelan, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan dirinya yang rapuh di lorong sekolah tadi. Di sini, di tempat sepi ini, kepolosan dan ketulusannya terpancar utuh tanpa ada yang menginjak-injak.

Tanpa Elva sadari, di lantai dua gedung kosong yang berbatasan langsung dengan area belakang, seseorang sedang berdiri di dekat jendela yang terbuka. Zayn Dominic awalnya cuma mau merokok santai di tempat sepi itu sebelum pulang ke rumahnya yang juga terasa asing. Langkahnya terhenti saat mendengar suara bisikan lembut dari bawah. Iseng, Zayn melongokkan kepalanya ke bawah.

Alis Zayn bertaut saat mengenali siluet cewek yang sedang berjongkok itu. "Cewek lemah yang di-bully Clarissa tadi siang," batin Zayn.

Zayn bersedekap, bersandar pada bingkai jendela sambil memperhatikan Elva dari atas. Cowok itu mengernyitkan dahi. Dia bingung. Tadi siang perempuan itu kelihatan mengenaskan, tapi sekarang, kenapa dia bisa tersenyum setulus itu cuma karena seekor kucing liar? Rambut hitam panjangnya yang digerai tampak bergoyang pelan ditiup angin sore, membingkai wajah polosnya yang kelihatan sangat kontras dengan latar belakang dinding bata yang kusam.

Zayn memperhatikan bagaimana jemari lentik Elva dengan telaten mengusap kepala si kucing, lalu bagaimana mata bulat cewek itu menyipit lucu saat tertawa kecil. Ada rasa hangat yang aneh yang mendadak berdesir di dada Zayn. Sesuatu yang belum pernah dia rasain sebelumnya.

Selama ini, cewek-cewek di sekeliling Zayn selalu masang topeng, entah itu demi harta, status, atau sekadar gengsi bisa deket sama anak pemilik yayasan. Tapi cewek di bawah sana... dia bener-bener nyata. Polos tanpa rekayasa.

"Aneh," gumam Zayn lirih, matanya masih nggak bisa lepas dari figur Elva.

Tiba-tiba, petir menyambar cukup keras di langit, disusul rintik hujan yang mulai turun satu-persatu. Elva kaget, buru-buru merapikan kaleng makanannya.

"Pus, aku pulang dulu ya, udah mau hujan lebat. Besok aku ke sini lagi. Kamu sembunyi di tempat yang aman, oke?" pamit Elva pada si kucing sambil mengelus kepalanya sekali lagi.

Elva berdiri, memakai tasnya, lalu berlari kecil membelah rintik hujan menuju gerbang sekolah. Zayn terus memandangi punggung Elva yang perlahan menjauh dan hilang di balik belokan gedung. Rok seragamnya agak basah terkena air, tapi cewek itu tetep kelihatan berharga di mata Zayn sekarang.

Isapan terakhir pada rokoknya dimatikan di ambang jendela. Zayn membuang puntung rokok itu, lalu membalikkan badan dengan kedua tangan kembali masuk ke saku jaket kulit hitamnya. Sebuah senyuman tipis—yang jarang banget muncul di wajah dingin seorang Zayn Dominic—terukir di sudut bibirnya.

"Elva, ya?" bisik Zayn pada kesunyian ruangan kosong itu, mengecap nama yang sempat dia dengar diteriakkan Clarissa tadi siang.

Entah kenapa, Zayn merasa mulai hari ini, kehidupan sekolahnya yang membosankan bakal jadi sedikit lebih menarik. Dan entah kenapa juga, dia mendadak punya keinginan kuat buat memastikan kalau senyum tulus di wajah perempuan bernama Elva itu nggak boleh dihancurkan oleh siapa pun. Termasuk oleh Clarissa, atau bahkan oleh keluarga Elva sendiri.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!