NovelToon NovelToon
FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Sistem Nox Aktif

“Cepat! Jangan melihat ke belakang! Terus lari!”

Suara nyaring Yara melengking di sepanjang koridor fakultas yang kini tak ubahnya seperti lorong neraka. Napasnya tersengal, paru-parunya terasa terbakar oleh udara yang sarat akan bau karat besi dan bau darah yang masih segar.

DOR! DOR! DOR!

Tembakan bertubi-tubi memecah kesunyian yang mencekam. Setiap peluru yang keluar dari moncong senapan Yara tepat sasaran, melubangi dahi makhluk-makhluk busuk yang mengejar mereka. Namun, jumlah mereka seolah tak ada habisnya. Raungan parau para zombie semakin dekat, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.

“Kapten! Para mahasiswa sudah berhasil dibawa ke titik evakuasi!” teriak Yara di tengah kebisingan. Keringat bercampur debu mengalir di pelipisnya, tapi matanya tetap tajam, fokus pada target.

Drrrttt… drrrttt… wup-wup-wup—BRRRRRR!

Suara baling-baling helikopter penyelamat terdengar memekakkan telinga dari arah atap gedung. Angin kencang yang dihasilkan mesin raksasa itu menerjang ke bawah, membuat dokumen-dokumen kampus yang berserakan dan bercak darah kering beterbangan di udara.

“Cepat naik! Satu per satu! Jangan berdesakan jika kalian masih ingin hidup!” teriak seorang prajurit dari pintu helikopter yang terbuka.

Wajah-wajah pucat para mahasiswa yang ketakutan tampak berebut masuk. Mereka merangkak dengan tangan gemetar, mengabaikan martabat demi satu kesempatan untuk menjauh dari kota yang sudah menjadi kuburan massal ini.

“Kapten! Semua warga sipil sudah di dalam!” lapor salah satu anggota tim.

Mendengar itu, sang Kapten—Erick—memberikan isyarat tangan yang tegas. “Tim Alpha, mundur! Menuju tangga darurat sekarang!”

Yara menahan barisan paling belakang. Ia adalah tameng terakhir. Dengan sisa peluru di senapannya, ia menciptakan garis api yang membuat gerombolan mayat hidup itu tertahan sejenak.

“Yara! Apa yang kau tunggu? Cepat!” teriak Erick dari ambang pintu menuju atap. Nada suaranya terdengar sangat mendesak, penuh kekhawatiran yang tampak begitu nyata.

“Tunggu sebentar!” Yara melepaskan tembakan terakhirnya, lalu berbalik lari sekencang mungkin.

Namun, saat ia mencapai tangga, langkahnya mendadak terhenti. Ia menoleh ke bawah, ke arah atrium gedung yang terbuka luas. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Timnya terdesak hebat di lantai bawah sebelum sempat naik. Gerombolan zombie memenuhi area itu seperti lautan hitam yang bergerak. Mereka tidak hanya berjalan; mereka merangkak, memanjat dinding, bahkan saling menindih satu sama lain, membentuk gunungan daging busuk demi mencapai satu tujuan: daging segar di atas mereka.

“Kapten! Lihat itu!” Yara menunjuk ke arah massa yang mulai merayap naik ke pilar gedung.

Erick menoleh. Wajahnya mengeras.

Dalam sekejap, Yara tidak membuang waktu. Ia merogoh tas taktisnya dan mengeluarkan sebuah benda bulat dengan kabel-kabel kasar yang melilitnya. Bom rakitan terakhir.

“Semua menjauh dari pintu!” pekik Yara.

Tanpa keraguan sedikit pun, ia menarik pemantiknya dan melemparkan benda itu tepat ke tengah kerumunan yang paling padat.

DUARRRRRR!

Ledakan hebat mengguncang seluruh fondasi gedung fakultas. Api berkobar, menghancurkan puluhan zombie dalam sekejap dan menciptakan celah yang cukup lebar. Debu semen dan puing-puing berjatuhan, memberikan mereka waktu beberapa detik yang sangat berharga.

“Sekarang! Naik ke atap!” teriak Erick.

Mereka berlari sekuat tenaga. Yara bisa merasakan otot kakinya yang memprotes karena kelelahan, tapi adrenalin terus memaksanya bergerak. Mereka sampai di atap, lalu membanting pintu besi itu hingga tertutup rapat.

BRAK!

Pintu itu bergetar hebat.

BRAK! BRAK!

Hantaman dari sisi lain terdengar semakin brutal. Engsel pintu yang sudah tua mulai merenggang. Pintu itu tidak akan bertahan lama. Mungkin hanya hitungan detik sebelum ribuan tangan busuk menjebolnya.

Satu per satu anggota tim penyelamat melompat masuk ke dalam helikopter yang sudah mulai terangkat dari permukaan atap. Angin semakin kencang, debu mengaburkan pandangan. Suara mesin helikopter meraung-raung, seolah mendesak mereka untuk segera pergi.

Yara melangkah maju, tangannya terjulur ke arah helikopter. Ia bisa melihat Erick berdiri di ambang pintu helikopter, siap menyambutnya.

“Kapten! Pegang tanganku!” teriak Yara.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Erick mengulurkan tangannya, ujung jari mereka hampir bersentuhan. Yara merasa lega. Ia merasa selamat.

Namun, tepat saat jemari mereka akan terpaut…

Erick menarik tangannya kembali.

Wajahnya yang tadi penuh kekhawatiran berubah drastis. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh kemenangan tersungging di bibirnya.

VREEEMMM!

Helikopter itu tiba-tiba melakukan manuver mundur dengan cepat.

Yara yang sudah melompat untuk menggapai tangan Erick kehilangan tumpuan. Tubuhnya membeku di udara selama sepersekian detik sebelum gravitasi menariknya jatuh kembali ke beton keras atap gedung.

BRUK!

“Akh—!”

Tubuh Yara terhempas keras. Tulang rusuknya terasa seperti remuk. Ia terbatuk, mengeluarkan darah yang terasa pahit di tenggorokannya. Dengan sisa tenaganya, ia mendongak.

“Erick! Apa yang kau lakukan?!” teriaknya dengan suara yang pecah oleh ketidakpercayaan. “Kembali! Jemput aku!”

Di atas helikopter yang kini melayang beberapa meter dari atap, Erick berdiri tegak. Di sampingnya, rekan-rekan satu tim yang selama ini Yara anggap sebagai keluarga—orang-orang yang nyawanya berkali-kali ia selamatkan—berdiri berjajar.

Dan mereka semua… tersenyum. Senyum yang penuh ejekan.

“Maaf ya, Yara,” ucap Erick dengan nada yang sangat ringan, seolah ia hanya sedang meminta maaf karena lupa membawa pesanan kopi. “Berat helikopter ini sudah mencapai batas maksimal. Bahan bakar kami tipis. Dan jujur saja, helikopter ini tidak cukup luas untuk menampung pahlawan sepertimu.”

Gelak tawa pecah dari dalam kabin helikopter.

“Jangan khawatir, Yara. Pengorbananmu tidak akan sia-sia. Namamu akan kami catat dalam sejarah sebagai martir yang hebat,” tambah rekan timnya yang lain sambil melambai tangan.

Deg.

Dunia Yara seakan runtuh lebih cepat daripada kehancuran kota ini. Hatinya yang selama ini mengeras karena perang, kini hancur berkeping-keping oleh pengkhianatan orang-orang yang ia percayai.

“Kapten… kenapa?” suaranya bergetar. Air mata yang tak pernah tumpah di medan perang kini mengalir tanpa bisa ia tahan.

Namun, tidak ada jawaban. Baling-baling helikopter hanya berputar semakin kencang, menciptakan badai kecil yang semakin menjauhkan harapan terakhirnya. Helikopter itu terbang mengecil menuju ufuk senja, meninggalkan Yara sendirian di atas gedung yang akan segera runtuh.

BRAK! BRAK!

Pintu di belakangnya akhirnya jebol sepenuhnya.

Gerombolan zombie menyeruak keluar seperti bendungan yang pecah. Mata mereka kosong, kulit mereka abu-abu kebiruan, dan mulut mereka menganga lebar mengeluarkan cairan hitam pekat.

Grrrhhhhh… aaarrghhh… khhrrr…

Yara menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sedihnya menguap, digantikan oleh amarah yang membara hingga ke sumsum tulang.

“Brengsek kalian semua…” geramnya.

Ia mengangkat pistolnya dengan tangan gemetar namun mantap.

DOR! DOR! DOR!

Satu demi satu zombie yang mendekat tumbang dengan kepala hancur. Yara menembak dengan sisa-sisa kemarahan dan keputusasaan. Hingga akhirnya…

Klik. Klik.

Senjata itu kosong.

“Sial… benar-benar akhir yang menyedihkan.”

Tanpa ragu, ia mencabut belati militer di pinggangnya. Matanya berkilat tajam, menatap ribuan makhluk yang kini mengepungnya.

“Kalau aku harus mati di sini… aku akan membawa sebanyak mungkin dari kalian ke neraka!”

BUGH! CRASSH!

Yara menerjang ke depan. Ia bergerak liar, menusuk leher, menebas kepala, dan menghantam rahang zombie-zombie itu. Tubuhnya yang mungil namun terlatih bergerak seperti tarian maut di tengah kerumunan mayat. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Terlalu mustahil untuk dilawan seorang diri.

Satu gigitan tajam mendarat di bahunya.

“AGGHH!”

Dua gigitan di betisnya.

Tiga… empat…

Yara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjatuh ke lantai yang dingin. Pandangannya mulai mengabur saat massa zombie itu mengerumuninya, mencabik-cabik seragam militernya, dan merobek dagingnya tanpa ampun.

Grrrhhhhh… aaarrghhh… khkkk…

Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga ia tak lagi bisa berteriak. Di sisa kesadarannya yang kian menipis, Yara menatap langit senja yang luas. Cahaya matahari yang tenggelam tampak begitu indah, kontras dengan kengerian yang ia alami.

'Jika aku bisa kembali ke masa lalu…' batinnya di tengah deru napas yang tersengal.

'Aku tidak ingin menjadi orang baik yang naif lagi…'

Suaranya melemah, tenggelam di antara suara kunyahan dan geraman makhluk-makhluk itu.

'Jika aku diberi kesempatan kedua… aku akan menjadi iblis. Aku akan membalas setiap tetes darah yang tumpah hari ini…'

Kegelapan total mulai menelannya. Kesadarannya padam. Tubuhnya hancur, tercabik hingga tak lagi menyerupai manusia.

Namun…

Tiba-tiba, di tengah kegelapan abadi itu, sebuah cahaya putih berpendar dari sisa-sisa kesadaran Yara. Sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi menggema di ruang hampa yang tak berujung.

【 SISTEM NOX DIAKTIFKAN 】

【 STATUS SUBJEK: KRITIS — PROSES PEMULIHAN JIWA DIMULAI 】

【 MEMUAT ULANG DATABASE SEMESTA… 】

【 REGRESI WAKTU DIMULAI… 】

【 ENTITAS LAMA “YARA” DINYATAKAN DIMUSNAHKAN 】

【 MENCARI TUBUH INANG YANG KOMPATIBEL… 】

Ting!

【 TUBUH BARU DITEMUKAN: ELARA QUIZEL 】

【 TINGKAT SINKRONISASI: 99.9% 】

【 TUAN RUMAH BERHASIL DISELAMATKAN 】

Dalam sekejap, dunia seolah berputar mundur dengan kecepatan cahaya. Suara zombie menghilang. Bau darah lenyap. Langit yang memerah kembali menjadi biru cerah. Gedung-gedung yang hancur perlahan menyatu kembali menjadi utuh dan megah. Seolah kiamat yang menghancurkan dunia hanyalah mimpi buruk yang panjang.

Dan di suatu tempat, di sebuah kamar mewah yang jauh dari medan perang…

Seorang wanita membuka matanya dengan sentakan hebat.

Kelopak mata itu bergetar hebat.

Napasnya tersengal-sengal, seolah paru-parunya baru saja dipaksa menghirup udara setelah tenggelam di dasar laut yang paling dalam.

“—Hah! Hah!”

Yara… terbangun. Atau setidaknya, kesadaran Yara yang terbangun.

Ia langsung terduduk tegak di atas ranjang. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan liar. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Matanya membelalak, memindai sekeliling dengan insting seorang prajurit yang terancam. Namun, apa yang ia lihat bukanlah beton atap gedung yang hancur atau kerumunan zombie.

Langit-langit ruangan itu berwarna putih bersih dengan ukiran gips yang elegan. Sebuah lampu gantung kristal yang mewah menggantung di tengah. Aroma parfum mawar yang lembut dan mahal memenuhi udara, menggantikan bau busuk mayat yang tadi menghimpitnya.

Sunyi. Begitu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jam dinding yang berdetak teratur.

Tidak ada jeritan. Tidak ada bau darah. Tidak ada… zombie.

“Aku… masih hidup?” bisiknya dengan suara serak.

Tangannya gemetar saat ia mengangkatnya ke depan wajah. Ia ingin memastikan apakah tangannya masih lengkap setelah dicabik-cabik tadi. Namun, ia tertegun.

Tangan itu… besar. Pucat. Dan sangat… berisi.

“…?”

Alisnya berkerut dalam. Ia menyentuh lengannya, lalu meraba perutnya. Ia tidak merasakan otot perut yang keras hasil latihan militer bertahun-tahun. Yang ia rasakan hanyalah lapisan lemak yang tebal dan empuk di balik gaun tidur sutra yang mewah.

Jantungnya kembali berpacu. Ia segera menyibakkan selimut tebal itu dan turun dari ranjang dengan tergesa.

BRUK!

“Aduh!”

Tubuhnya oleng. Ia kehilangan keseimbangan karena berat badannya sendiri. Rasanya seolah ia sedang memakai rompi pemberat seberat 50 kilogram yang tidak bisa dilepas.

“Tubuhku… kenapa seberat ini?”

Dengan napas yang tercekat, ia merangkak bangun dan berjalan tertatih menuju sebuah cermin besar setinggi manusia di sudut ruangan. Dan saat pantulan itu terlihat di depan matanya…

“AAAAA—!!”

Suara teriakan melengking yang tidak ia kenali menggema di seluruh ruangan.

Di depan cermin itu, bukanlah sosok Yara sang prajurit elit dengan tubuh atletis dan luka parut yang membanggakan. Yang berdiri di sana adalah seorang wanita muda yang sangat gemuk. Pipinya tembam hingga matanya terlihat sipit, lengannya besar, dan tubuhnya jauh dari kata ideal untuk seorang petarung.

“Ini… bukan aku! Ini bukan tubuhku!”

Ia menyentuh wajahnya dengan liar. Pipi itu terasa lembut, asing, dan empuk. Ia mencubit lemak di pinggangnya, merasakan rasa sakit yang nyata. Ini bukan mimpi.

Panik, bingung, dan takut bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa seorang kapten tim elit militer terbangun di dalam tubuh seorang wanita yang bahkan mungkin akan kesulitan untuk berlari seratus meter?

Di saat ia berada di puncak kebingungan, sebuah suara mekanis dingin yang sama dengan yang ia dengar saat kematiannya kembali terdengar, kali ini tepat di dalam kepalanya.

Ting!

【 SISTEM AKTIF… 】

【 MEMUAT ULANG DATA TUAN RUMAH… 】

【 PROSES SINKRONISASI SELESAI 】

Yara membeku di depan cermin. Matanya menatap kosong ke udara.

“Suara itu… suara yang di gedung tadi?”

【 SELAMAT DATANG, TUAN RUMAH 】

【 SISTEM NOX SIAP MELAYANI ANDA 】

“Sistem? Apa maksudnya ini? Di mana aku? Dan kenapa tubuhku jadi seperti bola begini?!” Yara berteriak pada kekosongan, berharap ada jawaban masuk akal.

【 KONFIRMASI: PROSES REGRESI BERHASIL 】

【 WAKTU SAAT INI: 5 BULAN SEBELUM HARI KIAMAT (Z-DAY) 】

Deg.

Seluruh tubuhnya kaku seolah tersengat listrik. Lima bulan sebelum kiamat? Itu artinya… kota ini masih aman? Orang-orang yang mengkhianatinya masih hidup?

Kenangan terakhirnya pengkhianatan Erick, rasa sakit yang menyayat saat digigit, dan kegelapan dingin semua itu terasa begitu nyata untuk disebut sebagai mimpi.

“Jadi… aku kembali?” bisiknya tak percaya.

【 ENTITAS SEBELUMNYA: YARA (KAPTEN TIM ALPHA) 】

【 STATUS: DIHAPUS DARI TIMELINE ASLI 】

“Dihapus?” Suara Yara bergetar. “Lalu… siapa aku sekarang? Siapa pemilik tubuh ini?”

Ting!

Sebuah panel transparan berwarna biru neon muncul melayang di hadapannya, menampilkan data yang membuat otaknya seakan berhenti bekerja.

《 DATA TUAN RUMAH 》

Nama: Elara Quizel

Jenis Kelamin: Perempuan

Usia: 24 Tahun

Status: Menikah

Posisi: Istri dari Presiden Direktur Quizel Group (Leonard Quizel)

“Istri… Presdir?” Yara mengerutkan kening. “Aku adalah istri seorang konglomerat?”

【 CATATAN TAMBAHAN SISTEM 】

【 TUAN RUMAH ELARA QUIZEL ADALAH SOSOK YANG DIBENCI OLEH PASANGAN DAN LINGKUNGAN SOSIALNYA KARENA SIFATNYA YANG MANJA DAN OBSESIF 】

Yara, atau sekarang Elara, terdiam. Ia menatap kosong ke panel itu. Di dunia sebelumnya, ia menghabiskan hidupnya dengan memegang senjata dan tidur di parit-parit kotor. Sekarang, ia adalah seorang wanita kaya yang memiliki tubuh obesitas dan dibenci suaminya?

Sebelum ia sempat mencerna ironi ini, panel sistem kembali berkedip merah.

Ting!

《 MISI UTAMA AKTIF: PERSIAPAN SURVIVAL 》

[ TUJUAN: TRANSFORMASI TUBUH ]

Target: Turunkan berat badan hingga ≤ 45kg dalam 90 hari.

Status Saat Ini: 110kg.

[ HADIAH MISI: ]

Peningkatan Atribut Fisik (Kekuatan, Kecepatan, Daya Tahan).

Membuka Fitur 'Gudang Dimensi' (Sangat berguna untuk menimbun logistik kiamat).

[ PENALTI GAGAL: ]

Pembatasan permanen fungsi sistem.

Kematian organ tubuh secara bertahap.

“Turun 65 kilogram dalam tiga bulan? Kau bercanda?!” Elara berteriak frustrasi melihat angka yang mustahil itu.

Namun, ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Mata yang tertimbun lemak itu perlahan berubah. Kilat ketakutannya menghilang, digantikan oleh tatapan tajam dan dingin yang biasa ia miliki saat memimpin pasukan di garis depan.

Tiga bulan untuk berubah. Lima bulan untuk bersiap sebelum zombie-zombie itu kembali merobek dunia ini.

Dunia belum hancur. Waktu telah kembali. Dan kali ini, ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun: pengetahuan tentang masa depan dan bantuan sistem misterius ini.

Perlahan, bibir tebal Elara melengkung membentuk senyum tipis yang mematikan.

“Bagus. Sangat bagus.”

Tangannya mengepal kuat, meskipun terasa lembut karena lemak, tekad di dalamnya sekeras baja.

“Kesempatan kedua ini tidak akan kusia-siakan. Erick… dan kalian semua yang tertawa di helikopter itu…”

Matanya berkilat penuh dendam di bawah cahaya lampu kristal.

“Kali ini, aku tidak akan menjadi mangsa kalian lagi. Aku akan memastikan kalian memohon kematian saat kiamat itu tiba.”

Elara Quizel menatap dirinya sendiri di cermin dengan tegas, tanpa sedikit pun keraguan yang tersisa.

“Sistem, terima misinya. Mari kita mulai neraka ini.”

Bersambung 🧟‍♀️🧟‍♀️

"Dari kematian yang menyakitkan, lahirlah seseorang yang tak lagi mengenal belas kasihan.”

Catatan:

Regresi adalah fenomena langka di mana kesadaran seseorang kembali ke masa lalu sebelum sebuah peristiwa besar terjadi.

Namun, tidak semua yang mengalami regresi mendapatkan kesempatan kedua dan tidak semua yang kembali… tetap menjadi manusia yang sama.

1
Cimol krispy
astaga, kebayang banget gimana chaos nya keadaan diluar mansion.
Filan
tambah OP aja kelompok Elara.
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.

dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan sekarang, kamu bisa membalas semua dendammu elara
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
kira-kira mereka menyelamatkan manusia-manusia lain gak ya? takut kalo mereka salah orang
Mega Siregar
nanti kalo udah langsing dan seksi, jangan mau ama suami macam dia 😤
Three Flowers
bonusnya makin besaar🥳
Three Flowers
habisnya dulu kamu sama sekali nggak peduli padanya, Leo
Three Flowers
jadi di sini sudah jelas Leo nggak menginginkan kamu lg, Rachel
Three Flowers
sekarang Elara yang pegang kendali, menjadi penasehat utama perusahaan Leonard
-Thiea-
Gak susah membujuk mereka, karena elara udah tahu apa yg diinginkan mereka.
-Thiea-
Masa sih, bukannya dulu kamu kayak jijik lihat dia gendut.
Mingyu gf😘
sekarang leonard bner bner bucin ya🤭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
Ela semangat yok bisa berubah yok. ntar kalo udh proporsional bakal byk cowok ngantri pgn jd bucinmu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Mega Siregar
penasaran, jika jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain, tubuh yara mana ya??
Xlyzy: musnah kah entitas Yara di musnahkan hanya jiwa nya yang di selamatkan sama sistem
total 1 replies
PrettyDuck
setelah ini kalian akan jadi power couple yang melawan akhir zaman /Angry/
PrettyDuck
emang dasar gak pernah puas
PrettyDuck
apa gak makin klepek2 leo ☺️
Three Flowers
baguslah kalo kamu menyadari bahwa apa yang diomongin Elara selalu benar
Three Flowers
padahal Rachel sendiri yang berulah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!