Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desakan usia
"Usiamu sudah nggak muda lagi, bukan saatnya bermain-main. Ayah dan ibu ingin melihatmu menikah sebelum meninggal."
Kalimat itu ... Kalimat yang hampir setiap hari Rinjani dengar di meja makan. Dia muak mendengar obrolan seputar pernikahan.
"Janjimu untuk menikah di usia 27 tahun sebentar lagi berakhir. Untuk berjaga-jaga ayah mencari pria yang baik untukmu."
Kali ini Rinjani mendongakkan kepalanya. Dia lupa bahwa sebentar lagi usia 27 tahunnya usai. Dengan arti lain perjanjiannya dengan ayah pun akan berakhir.
"Ayah nggak perlu takut, sebelum usia 27 ku berakhir aku akan menikah kok," jawabnya santai.
"Dengan waktu dua minggu?" Ayah Rinjani tampak tidak percaya.
"Tentu saja, memangnya ayah kira selama ini Rinjani jomblo? Sebelum usia Rinjani 28 tahun, pacar Rinjani datang untuk melamar. Jadi ayah nggak perlu repot-repot cari calon suami untuk Rinjani." Wanita itu tersenyum puas.
Akhirnya dia bisa mematahkan ucapan ayahnya.
"Waktumu dua minggu."
Rinjani merengut melihat senyuman ayahnya. Dia lantas meninggalkan rumah dan menuju kantornya yang berada di salah satu gedung. Unit yang dia sewa dengan satu karyawan setia.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?" tanya Rinjani sembari meletakkan tas di atas meja. Membuka laptop memeriksa draf yang kemarin dia kerjakan setengah sadar akibat sangat mengantuk.
"Aman banget Bu, jadi bisa ditinggal kencan."
"Huh?" Rinjani melirik karyawannya.
"Siapa tau kan Bu, mumpung pak Irham lagi ada di kota ini."
"Irham sudah pulang?" Rinjani semakin bingung.
"Lah saya kira ibu sudah tahu. Apa jangan-jangan mau ngasih kejutan lagi." Zira menutup mulutnya.
Sedangkan Rinjani langsung menghubungi sang kekasih untuk memastikan. Beberapa panggilan terlewat sebelum akhirnya dijawab oleh Irham.
"Pagi cintaku sayangku. Kok telponnya masuk terus sih? Aku sibuk banget nih."
"Kangen dengar suara kamu, sudah beberapa hari ini cuma chat doang, itu pun singkat banget. Kapan pulangnya, ayah udah desak aku buat nikah."
"Sabar sayang. Aku juga sibuk demi masa depan kita kok. Sampaikan ke ayah secepatnya aku sama orang tuaku datang melamarmu."
"Kapan pulang?"
"Tiga minggu lagi."
"Pas ultah aku, kamu nggak pulang?"
"Nggak bisa sayang, banyak pekerjaan."
Rinjani mengakhiri panggilan dengan wajah lesunya. Menatap Zira kembali. "Salah lihat kali, Irham pulangnya tiga minggu lagi."
"Nggak kok Bu. Beneran saya liat pak Irham pas ke supermarket."
"Dekat apartemennya?"
"Iya."
Rinjani lantas meninggalkan kantor demi memastikan sendiri apakah Zira salah lihat atau Irham yang berbohong.
Dan kini Rinjani sudah memastikan. Zira tidak berbohong, Irham memang sudah pulang sayangnya dia menemukan kekasihnya bersama wanita lain dan sedang bertukar saliva di sofa.
"Aku kira masih di luar kota," ucapnya dengan napas tertahan.
"Ri-Rinjani ...." Irham memisahkan diri dan gelagapan. Menghampiri Rinjani yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kamu salah paham, aku bisa jelaskan semuanya. Dia ...."
"Nggak perlu, aku percaya apa yang aku lihat Irham." Rinjani menarik napas dalam. "Kita akhiri di sini secara baik-baik dan aku memberimu waktu tiga hari untuk mengosongkan apartemen ini," ucapnya dan berlalu tanpa mengidahkan panggilan Irham.
Alih-alih pulang ke kantor, dia malah terdampar di tempat sepi. Ia berjongkok dan bersandar pada tembok sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Selain sakit karena dikhianati setelah apa yang dia berikan selama bertahun-tahun, dia juga memikirkan ucapan ayahnya tadi pagi. Dia begitu percaya diri Irham akan datang melamarnya sebelum usianya genap 28 tahun. Pada akhirnya Irham malah menduakan dirinya.
Ponselnya terus berdering dari pemanggil yang sama, yaitu Irham.
"Berhenti menghubungiku sialan! Kosongkan saja apartemenku secepatnya dan bawa jala*ng itu pergi!" bentak Rinjani setelah menjawab panggilan Irham.
Dadanya naik turun, ia berusaha mengontrol emosinya yang hampir meledak.
Ayah sudah menemukan pria baik untukmu, jaga-jaga jika kekasihmu lagi-lagi mengulur waktu untuk menikah
Pesan masuk beserta file tentang pria yang dipilihkan oleh ayahnya.
"Persetan dengan pernikahan, aku nggak butuh laki-laki dalam hidupku!"
.
.
.
Tes ombak dulu, kalau ramai author lanjut
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,