Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
Seorang wanita cantik dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya keluar dari pesawat, dia berjalan ke arah pria yang sudah menjemputnya disana.
"Hi Dad I miss you so much where's mommy?" Dia memeluk ayahnya dengan erat.
"Mommy sedang di rumah kakek sayang kita juga diminta beliau untuk kesana!" Dipeluklah putrinya tak kalah erat dan mengecup keningnya, kemudian dia membawa koper tersebut dan berjalan meninggalkan bandara.
"Apakah ada masalah Dad?"
"Tidak kakek hanya ingin menemui mommymu sudah lama dia tak kesana" freya hanya manggut manggut sambil memastikan riasannya masih bagus.
"Kamu lebih senang di London atau disini?" Tanya Joice Rodriguez ayah Freya.
"Aku lebih senang disini bersama Daddy dan Mommy, disana soalnya rasa sepi tidak ada yang membuatkan makanan jadi apa apa aku harus sendiri" Joice mengelus rambut putrinya dengan sayang, dia tersenyum mendengar keluhan putrinya itu.
"Bagaimana jika kamu meninggalkan pekerjaanmu sebagai penulis artikel? Daddy ingin kamu bekerja diperusahaan Daddy."
"Hmm nanti aku pikirkan Dad kebetulan jurusanku juga management jadi tak masalah jika bekerja di perusahaan Daddy."
_
Beberapa menit kemudian sampailah di mansion kakeknya, rasanya masih sama seperti dulu semuanya tak ada yang berubah di mansion ini.
"Terima kasih Dad" dia mengucapkan terimakasih karena ayahnya membukakan pintu mobil, sungguh pria yang gentle bukan.
"Ayo masuk kedalam kita sudah ditunggu sepertinya" mereka berdua berjalan beriringan bersama semua pelayan dan pengawal menyambutnya dengan baik.
"Oh cucu kesayanganku kemarilah" Freya berjalan mendekat ke arah kakeknya lalu memeluknya dengan erat.
"I miss you kakek" Kakeknya mengelus rambut hitam panjang itu dengan kasih sayang sama seperti waktu kecil, kasih sayang yang diberikan keluarganya tidak pernah habis sampai sekarang itulah kenapa dia menjadi wanita penyayang.
Dia tidak melihat sang Mommy disini dia bingung, tadi kata ayahnya Mommy nya berada dirumah kakeknya tapi yang ada hanya orang asing.
Tiba tiba suara langkah dari belakang terdengar, wanita cantik yang anggun menghampiri dan memeluknya dengan erat.
"Mencari Mommy hmm" Freya menoleh ternyata ibunya ada disini dan terlihat sehat syukurlah.
"Oh Mom I miss youuuuuu!" Dia menghamburkan pelukannya dengan erat kearah sang mommy.
Ibunya membawanya duduk bersebelahan dengan ayahnya.
Dia merasa sedikit aneh karena disini tidak hanya ada kelurganya tapi ada orang lain entah siapa freya tidak mengenalnya yang jelas.
Merasa cucunya memperhatikan dengan kebingungan akhirnya dia memperkenalkan sahabat dan cucu dari sahabatnya.
"Kamu bingung karena ada orang lain disini?" Freya mengangguk mengiyakan.
"Baiklah ini adalah sahabat kakek namanya Alaric Xander." freya berdiri dengan senyuman dan menerima jabatan tangan sahabat kakeknya itu.
"Dan yang ini adalah Pablo Xander cucunya." Freya juga menerima jabatan tangan dari pria itu, ekspresi pria itu terlihat datar tapi dia menawan.
_
Mereka duduk bersama menikmati makanan yang sudah disajikan di meja makan, mereka semua makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan hanya ada suara dentingan garpu dan pisau.
"Hmm sebenarnya kakek ingin menjodohkanmu dengan cucu kakek alaric apa kamu akan menerimanya?" pertanyaan dari sang kakek membuatnya menghentikan suapan didalam mulutnya, dia meletakkan peralatan mata dan memindai wajah pria itu kemudian menoleh ke kakeknya.
"Aku baru pulang dari London kakek bahkan aku tidak mengenal dia bukankah ini terlalu cepat untuk melangsungkan perjodohan?"
"Kalian bisa mengenal lebih dulu bahkan granpda juga belum menentukan tanggal pernikahan." Freya memutar bola matanya dengan malas, dia sebenarnya masih muda, dia juga bisa mencari pria tipenya.
"Benar kata kakek kalian bisa mengenal lebih dulu, pablo juga pria yang baik Daddy sudah mengenalnya bahkan Daddy lebih percaya kepada pablo daripada pria lain." sebelum kakeknya mengatakan hal lain sang langsung menyela dan memberikan pendapatnya.
"Itu benar sayang pablo pria yang baik tidak salah untuk mengenal lebih dulu." Dan sekarang ibunya juga setuju ah ini membuat kepalanya semakin pusing tapi tidak ada salahnya menerima pria itu apalagi keluarganya sudah kenal dekat dan kekeknya juga sahabatan.
"Baiklah tapi bagaimana dengan pablo?" freya menatap pablo dengan intens untuk melihat raut keseriusan diwajah datarnya itu.
"Saya akan mengikuti kemauan kakek saya, kita juga bisa saling mengenal lebih dulu." dia bahkan menjawab dengan raut datarnya itu.
"Baiklah sekarang sudah clear lebih baik lanjutkan makan kalian semua."
Akhirnya semua orang melanjutkan kembali aktivitasnya. Freya bahkan sekarang sudah berada dikamarnya setelah makan, tubuhnya sangat lelah mungkin dia mengalami jetlag.
"Sayang ayo keluar sebentar pablo dan kakek alaric ingin berpamitan padamu." sang ibu mengelus rambut panjangnya, dia berbaring dengan telungkup, walaupun sedikit merasa kesal tapi dia pun bangun karena harus menghormati tamu.
"hmm ya mom, apakah mereka sudah selesai berbicara bersama Daddy dan kakek
"Iya that's why they want to go home."
"hmm alright." mereka berdua berjalan keluar dari kamar freya dan menghampiri kakek alaric dan pablo.
"Freya kapan kapan kamu datanglah kerumah kakek, atau kalian bisa berkencan lebih dulu untuk menghabiskan waktu bersama dan semakin dekat." freya hanya tersenyum menanggapi ucapan kakek alaric.
"Saya permisi terimakasih!" setelah mengucapkan itu pria itu keluar bersama kakeknya dengan beberapa bodyguard yang mereka bawa. Freya memperhatikan punggung pria itu dari belakang langkahnya dan punggungnya terlihat tegas penuh wibawa.