Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Bayi yang Lahir dalam Kegelapan
Arc 1: Bayi dalam Badai
Langit malam itu tampak murka. Awan hitam bergulung-gulung, saling bertumpuk hingga menutup bulan dan bintang. Badai menderu seperti naga kelaparan, menghajar hutan lebat di kaki Pegunungan Qingyun dengan angin yang menusuk kulit dan hujan yang turun tanpa henti.
Petir menyambar berkali-kali, kilatnya membelah langit bagai pedang perak. Setiap kali cahaya itu muncul, hutan yang gelap gulita mendadak tersibak, memperlihatkan pepohonan raksasa yang bergoyang keras, seolah hendak tumbang. Gemuruh petir mengguncang dada, membuat siapa pun yang mendengar merasa kecil di hadapan kekuatan alam.
Di tengah keganasan itu, seekor burung hantu beterbangan panik, kelelawar berhamburan keluar dari sarangnya, dan serigala-serigala hutan melolong panjang. Mereka semua seolah tahu: malam ini bukan malam biasa. Malam ini, langit dan bumi seakan menyaksikan lahirnya sesuatu yang tak boleh diremehkan.
Tak jauh dari kaki tebing, tampak sebuah gua kecil tersembunyi. Dari luar, gua itu hanyalah celah gelap yang nyaris tak terlihat tertutup semak basah. Namun bagi seorang wanita muda yang terluka parah, gua itu adalah satu-satunya tempat berlindung dari hujan dan tajamnya pedang para pengejar.
Di dalam gua, suasana dingin menusuk. Air hujan menetes dari celah batu, membasahi lantai yang keras. Aroma tanah basah bercampur bau anyir darah memenuhi udara, menusuk hidung dan membuat napas terasa berat.
Seorang wanita berusia dua puluhan tahun terbaring lemah di lantai batu yang dingin. Rambut hitam panjangnya menempel di wajah karena keringat dan air hujan. Bajunya robek, penuh noda merah darah yang terus merembes dari bahu dan punggungnya. Luka sayatan dalam membuat napasnya terputus-putus, setiap tarikan dada terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Namun di balik rasa sakit itu, matanya masih berkilat. Mata yang menyimpan tekad, sekalipun tubuhnya hampir runtuh. Di sampingnya tergeletak sebilah pedang kuno—Pedang Naga Langit. Gagang pedang itu diukir seekor naga melingkar, sisiknya detail, matanya tajam. Meski pedang itu tampak tua, auranya berat dan suci, seolah mampu menundukkan langit.
Wanita itu mengelus perutnya yang besar dengan tangan bergetar. “Tidak, aku tidak boleh mati, bukan sekarang, setidaknya aku harus melahirkanmu terlebih dahulu.”
Jeritan kesakitan keluar dari bibirnya. Tubuhnya menggeliat, kakinya kaku karena kontraksi. Darah mengalir deras dari luka sekaligus proses persalinan yang begitu brutal tanpa bantuan siapa pun.
Petir menyambar di luar, membuat dinding gua bergetar. Jeritannya bersaing dengan suara badai, namun ia terus bertahan. Berkali-kali ia hampir pingsan, tapi tekadnya lebih keras dari rasa sakit yang sedang dirasakannya.
Beberapa menit terasa seperti beberapa jam. Lantai batu dipenuhi bercak darah yang terus bertambah. Nafasnya semakin pendek, wajahnya pucat pasi. Namun di tengah penderitaan itu, suara kecil akhirnya lahir.
Tangisan bayi.
Tangisan nyaring itu bergema di gua, terdengar murni dan penuh kehidupan. Suara itu menusuk kegelapan, seakan menerangi malam yang pekat.
Air mata wanita itu jatuh deras. Senyumnya muncul di wajah yang dipenuhi rasa sakit. Ia mengangkat bayi mungil itu dengan tangan bergetar. Tubuhnya kecil, kulitnya merah, tapi tangisannya begitu kuat, seolah menolak dunia yang penuh kekejaman.
“Putraku, kau akhirnya lahir.” ucapnya parau, bibirnya bergetar. “Kau, Lin Feng. Nama itu akan menjadi cahaya dalam kegelapan.”
Namun senyum itu segera pudar, berganti ketakutan. Tangisan bayi memang tanda kehidupan, tapi juga panggilan maut. Para pengejarnya pasti mendengar bila suara itu keluar dari dalam gua.
Dengan sisa tenaga, wanita itu meraih kantong kecil dari jubahnya. Tangannya gemetar hebat saat mengeluarkan beberapa batu giok kecil yang terukir simbol kuno. Batu-batu itu bersinar samar, seolah merespons sentuhan darah di jari-jarinya.
Ia menata batu giok itu mengelilingi keranjang bambu tua yang ia temukan di pojok gua. Meski hampir kehilangan kesadaran, tangannya tetap bergerak, menggambar garis formasi di lantai dengan darahnya sendiri. Setiap goresan simbol kuno terasa berat, namun ia paksakan.
Begitu lingkaran sempurna terbentuk, batu giok memancarkan cahaya redup. Lingkaran cahaya itu berdenyut pelan, lalu menyelimuti bayi kecil yang masih menangis keras. Ajaibnya, suara tangisan itu langsung teredam. Bayi itu tetap berteriak sekuat tenaga, namun dunia di luar lingkaran tak mendengar apa pun.
Itu adalah Formasi Isolasi Suara—seni kuno yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli pedang dengan kendali energi murni. Wanita itu telah mengorbankan sisa kekuatan spiritualnya untuk membuatnya.
Ia menatap bayinya dengan senyum getir, air mata terus mengalir. “Kau aman sekarang, meski hanya sebentar, ibu sudah melakukan bagiannya.”
Tangannya yang berlumuran darah mengusap lembut wajah kecil itu. Bayi itu menendang-nendang kakinya, matanya tertutup rapat, menangis tanpa tahu apa yang menantinya di dunia luar.
Wanita itu terisak. “Lin Feng, meski ibu tak bisa menemanimu lama, ketahuilah, kau dilahirkan bukan untuk tenggelam dalam kegelapan. Kau akan tumbuh, dan suatu hari nanti kau akan mengangkat pedang itu.”
Ia menoleh pada Pedang Naga Langit yang bersandar di dinding. Pedang itu berkilau redup di bawah cahaya petir. Aura pedang itu seakan beresonansi dengan bayi, membuat udara di gua bergetar.
Wanita itu tersenyum getir. “Pedang itu, adalah pedang pusaka. Pedang yang diperebutkan banyak sekte, pedang yang membuat keluargamu hancur. Tapi suatu hari, kau akan pantas menggunakannya, Lin Feng.”
Tubuhnya semakin lemah. Darah terus merembes, membasahi lantai hingga mengalir ke luar gua bercampur air hujan. Aroma anyir semakin kuat, menusuk hidung.
Ia memaksakan diri bangkit sedikit, lalu memeluk bayi itu erat sekali. “Ingatlah, ibu mungkin hilang, tapi kasih sayang ini akan selalu ada di dalam darahmu.”
Tangannya bergetar, ia lalu meletakkan bayi itu ke dalam keranjang bambu, menutupinya dengan kain tipis. Lingkaran formasi masih menyala samar, menjaga suara tangisan tetap tersembunyi.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Derap sepatu membelah hujan, berat dan tergesa.
“Cepat! Jangan biarkan wanita itu kabur! Pedang Naga Langit harus kita dapatkan malam ini!” teriak seseorang dari luar gua.
Wanita itu menegang. Jantungnya berdegup kencang, meski tubuhnya hampir mati. Matanya menatap tajam ke pintu gua.
Air mata terakhir jatuh dari pipinya. Ia menoleh pada bayinya sekali lagi. “Lin Feng, bertahanlah, bahkan jika ibu harus mati, kau harus hidup.”
Petir kembali menyambar, menerangi gua sekejap. Bayi itu masih menangis tanpa henti, namun suaranya tetap terkurung dalam formasi isolasi. Dunia luar tak mendengar apa pun.
Malam itu, di tengah badai dan darah, seorang bayi lahir ke dunia. Bayi yang tak tahu bahwa hidupnya akan menjadi perjalanan panjang melawan langit, bumi, dan takdir itu sendiri.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa