Perempuan Etanol
“Ini etanol terbaik yang pernah ada dalam minuman. Kenapa tidak coba?” Aku menggeleng dan hanya tersenyum atas pernyataannya. “Kenapa? Agamamu melarang?” Kali ini aku mengangguk dan masih tersenyum pa
0
0
Hold My Hand
Perlahan aku menarik lepas plester yang menempel di punggung tangan kananku. Ada luka berbentuk titik berwarna merah tua tampak di atas kulitku begitu benda berwarna putih itu benar-benar terlepas. Lu
0
0
Aku, Merpati Berwangi Pandan
Hatiku gersang, saat melihat ia datang. Terlalu tandas, bahkan untuk sebuah karang. Matanya yang bundar, laksana telaga bening coklat, mengkilap, tak berani menatap. Aku tahu tujuannya datang, bersila
0
0
Sepeda Merah Alan
Aku memperhatikan bagaimana mobil pick up itu parkir di halaman rumah. Seorang pria turun dari bangku kemudi, dengan cepat dan terlihat tidak sabar dia menurunkan sepeda berwarna merah itu dari atas m
0
0
Kantung Beban
Gaun pesta ungu dengan tujuh nol di belakang sebagai hadiah ulang tahunku tidak mampu menyingkirkan gaun floral hijau yang kukenakan. Floral selalu menjadi penenang. Pernah kau merasa kedamaian dan ke
0
0
First Heartbeat
Aku menengok keluar jendela dengan was-was. Turbulensi ini merupakan yang terparah yang pernah kualami. Aku sudah menunduk untuk meraih life vest dari bawah kursi saat guncangan di pesawat mulai berku
0
0
Lilin Terakhir dalam Mimpi Einstein
Bagi lelaki itu, setiap saat adalah pagi. Lantas ke mana perginya malam ? Mungkin telah mati atau tepatnya telah pergi, bersamaan dengan hilangnya nyala lilin terakhir. Bagi Zalham, malam hanya menyis
0
0
Lelaki Senja
Hari itu senja tampak lebih memerah. Lebih kelabu dari sore biasanya. Aku duduk terpaku bersamaan dengan gugurnya dedaunan yang sesekali tertiup angin. Mendung, batinku melirik langit yang kehilangan
0
0
Si Payung Cokelat
Jeda mengabadikan ruas di pangkalan waktu. Biru udara merekah, menyelaraskan muara manik-manik hujan di tepi payung. Tidak seperti ilusi yang menjadi hening, tidak pula seperti titik yang menjadi jej
0
0
Pemuda Penunggu Senja
Dia selalu di sini. Duduk tepat di bawah rona merah dan jingga bertemu. Di atas hamparan lautan yang luas. Ia duduk bersila dengan pandangan menantang langit. Bola matanya sangat tajam, dengan bingkai
0
0
Laki-Laki Pencerita
Kupersembahkan hari ini kepada yang menunggu, Kembalinya kertas dalam abu. Seorang laki-laki tua bersandar pada sebuah bangku kayu, nampak di hadapannya berserakan lembaran kertas yang telah dipenuhi
0
0
Tentang Dia dan Puisi Itu
Di sebuah ruang kelas pada pagi hari, seorang siswa lelaki dengan jaket biru memasuki pelataran kelas yang masih begitu sepi. Lelaki itu mengernyit heran ketika menemukan seorang perempuan yang duduk
0
0
Nazahra
Dengan demikian Nazahra, kudapati dan telah selesai sebuah cerita untukmu. Sebuah cerita panjang yang berkelanjutan. Dan tanpa ada satu titik pun sebagai tempat bersembunyi akhir ceritaku itu. Ada yan
0
0
Purnama Ke-121
Purnama yang berpendar akhirnya jatuh terkulai. Purnama bulat sempurna itu adalah purnama ke-120 yang berpendar membuat hati seorang pungguk terus ditikam pedihnya memendam rasa. Pungguk malang itu b
0
0
Untuk Kenangan di Stasiun Jember
Dan untuk setiap orang yang pulang Dengan wajah menunduk Mungkin seiring daun-daun yang gugur, secepat itu pula perpisahan terjadi. Di sudut-sudut tertentu–di belahan bumi mana pun; tua-muda, laki-lak
0
0
I (Don’t) Hate You
“Kamu bodoh!” teriaknya. Membuat siswa dan siswi yang sedang berjalan berlalu lalang berhenti untuk menatap kami. Aku berbalik menemuinya kembali. “Apa kamu bilang!” seruku marah. “Kamu b-o-d-o-h!” uc
0
0
Ceritaku dan Pemuda Surga
Semua masih segar dalam ingatanku. Tak terkecuali. Seakan memutar kaset usang yang selalu kuputar berulang kali tanpa kata henti dan juga bosan. Kali ini kuputar kembali bukan dengan air mata seperti
0
0
Lelaki di Balik Hujan
Kugenggam erat dua mug berukuran sedang yang sejak tadi mengepulkan asap, lantas membawanya ke teras depan. Tampak seorang lelaki paruh baya berumur 50 tahun sedang duduk, asyik membolak-balik halama
0
0
Kepada Malam
Langit yang tadinya didominasi warna biru dan putih, sekarang sudah mulai bersemburat oranye. Warna langit yang selalu aku tunggu, yang selalu mengingatkan aku padamu. Kamu. Apa kabar kamu sekarang? A
0
0
Who?
Aku mencoba berkonsentrasi. Deretan huruf di papan tulis serupa kalimat tanpa makna. Otakku tidak bisa mencerna sedikit pun. Entah kenapa. Pikiranku berkelana. Ada sesuatu yang aneh sejak masuk ke sin
0
0