Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Aroma obat-obatan yang menyengat dan bunyi ritmis alat pendeteksi detak jantung perlahan mengembalikan kesadaran Kinara. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap langit-langit putih kamar rumah sakit yang asing. Rasa nyeri yang hebat langsung berdenyut di punggung dan bahunya saat ia mencoba menggerakkan tubuh.
Kinara menoleh ke kanan dan kiri. Ruangan itu tampak sunyi. Ia sendirian di dalam kamar perawatan VIP tersebut. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama ketika sayup-sayup suara dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka menangkap perhatiannya. Itu suara Zergan dan seorang pria yang terdengar seperti petugas kepolisian, serta suara isakan tangis Haura.
"Berdasarkan pemeriksaan awal dan interogasi di tempat, ketiga pelaku murni preman lokal yang sering mangkal di sekitar Alun-Alun, Zergan. Mereka mengaku memang mengincar barang berharga dan berniat membawa korban karena melihat korban sendirian di tempat gelap. Tidak ada indikasi keterlibatan pihak luar atau musuh bisnis keluarga Anda," terdengar suara polisi menjelaskan sebelum pamit pergi.
Mendengar hal itu, Kinara tertegun di atas bangsalnya. Ia terdiam seribu bahasa, mencerna informasi yang baru saja didengarnya.
'Berarti... mereka cuma preman iseng? Penculikan yang sesungguhnya belum terjadi malam ini?' pikir Kinara dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa ia telah salah mengira garis waktu kehidupan lalunya. Penculikan tragis oleh musuh bisnis keluarga Airlangga ternyata memang belum dimulai. Malam ini hanyalah sebuah kebetulan yang hampir merenggut nyawa Haura karena kecerobohan gadis itu sendiri.
"Hiks... Zer, aku takut banget. Kalau tadi nggak ada perempuan itu, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama aku..." suara tangisan Haura kembali pecah di luar pintu.
"Sstt... sudah, tenanglah. Kamu aman sekarang. Aku di sini, Haura. Maafkan aku karena tadi sempat melepaskan tanganmu," terdengar suara Zergan yang begitu dalam, lembut, dan penuh penyesalan, mencoba menenangkan kekasihnya.
Mendengar intonasi suara itu, Kinara tahu persis apa yang sedang terjadi di luar sana tanpa harus melihatnya langsung. Zergan pasti sedang mendekap erat tubuh Haura, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang untuk meredakan rasa takutnya.
Rasa sakit yang teramat pekat kembali menghantam dada Kinara. Rasanya begitu sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Air matanya menetes pelan di atas bantal rumah sakit. 'Rasanya terlalu sakit... kenapa melihat mereka seperti ini selalu membuat hatiku hancur?' batinnya meratap. Namun, ia segera menghapus air mata itu dengan kasar. 'Sabar, Nara... Kamu harus kuat. Kamu ke sini hanya untuk menyelamatkan nyawa orang, bukan untuk merebut kembali hatinya. Ingat tujuanmu untuk bebas di kehidupan ini.'
Enggan menjadi penonton dari kemesraan pria yang pernah menjadi suaminya, Kinara memantapkan tekad. Dengan perlahan dan menahan ringisan di bibirnya, ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Sambil memegangi bahunya yang kaku dan nyeri, ia melangkah pelan menuju pintu, berniat untuk pulang ke kos secara diam-diam.
Namun, tepat saat ia membuka pintu, langkahnya langsung mengagetkan dua orang yang berada di koridor. Benar dugaan Kinara, Zergan baru saja melepas pelukannya dari Haura.
"Eh? Kamu sudah bangun?" Haura buru-buru menghapus sisa air matanya dan melangkah mendekati Kinara. Wajah ketusnya siang tadi sepenuhnya hilang, digantikan sorot mata penuh rasa bersalah dan terima kasih yang amat tulus.
"K-kamu mau ke mana? Kondisi kamu belum stabil. Dokter bilang punggungmu memar parah," ucap Haura menahan lengan Kinara dengan lembut. "Aku... aku mau berterima kasih banyak sama kamu. Kalau kamu nggak datang dan jadi tameng buat aku sama Zergan, mungkin aku udah dibawa kabur sama preman-preman itu. Maaf karena siang tadi aku sempat mengira kamu orang gila."
Kinara hanya tersenyum tipis, tampak lelah. "Nggak apa-apa. Yang penting kamu aman."
Ting-ting-ting!
Ponsel di dalam tas Haura mendadak berdering nyaring. Haura merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. "Ah, Mama telepon," ucapnya panik. Ia menatap Kinara dan Zergan bergantian. "Aku angkat telepon dari Mama sebentar di ujung koridor, ya." Haura pun berjalan menjauh, meninggalkan Kinara dan Zergan dalam keheningan yang mendadak terasa mencekam.
Begitu Haura berada cukup jauh, atmosfer di sekitar mereka langsung berubah dingin. Zergan melangkah maju, menutup jarak di antara mereka. Matanya yang tajam bak elang mengunci sepenuhnya pergerakan Kinara, seolah sedang menguliti isi kepala gadis di hadapannya.
"Sekarang, jelaskan semuanya padaku," tuntut Zergan dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa tahu nama kami, tahu bahaya yang mengintai, dan yang paling membuatku terganggu..." Zergan menggantung kalimatnya sejenak, matanya menyipit tajam. "...kenapa saat di gang tadi, kamu refleks memanggilku dengan sebutan 'Mas'?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat jantung Kinara mencelos. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Di kehidupan lalu, selama enam tahun pernikahan, panggilan "Mas Zergan" sudah menjadi makanan sehari-harinya hingga melekat menjadi refleks yang sangat sulit dihilangkan dalam situasi darurat.
Kinara mengepalkan jemarinya, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan datar di hadapan tatapan menyelidik Zergan.
"Soal namamu dan bahaya itu... sudah kukatakan siang tadi, aku hanya tidak sengaja mendapat firasat buruk tentang kalian berdua," jawab Kinara bohong, mencari alasan asal bunyi dengan raut wajah sedingin mungkin. "Dan soal panggilan 'Mas'..." Kinara mendengus pelan, berpura-pura menganggapnya hal sepele. "...jangan terlalu percaya diri, Tuan Airlangga. Di daerah asalku, memanggil pria yang lebih tua atau pria asing yang dihormati dengan sebutan 'Mas' adalah hal yang sangat lumrah dan refleks yang biasa dilakukan oleh semua orang saat panik. Jadi jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak."
Zergan terdiam, menatap lekat-lekat mata Kinara untuk mencari kebohongan. Namun, Kinara berhasil menyembunyikan emosinya dengan sangat rapat di balik tatapan matanya yang kosong dan lelah. Meski logikanya mencoba menerima alasan lumrah tersebut, ada bagian kecil di lubuk hati Zergan yang merasa tidak puas dan merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan oleh gadis ini.
"Aku rasa urusanku di sini sudah selesai. Biaya pengobatan ini, aku anggap sebagai bayaran karena aku sudah menolong kekasihmu," ucap Kinara tegas memotong keheningan.
Tanpa menunggu jawaban atau izin dari Zergan, Kinara langsung melangkah lebar melewati tubuh jangkung pria itu. Ia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan punggung yang terasa nyeri, mengabaikan panggilan Haura yang baru selesai menelepon. Kinara terus melangkah keluar menuju pintu utama rumah sakit, bertekad untuk pulang ke kosnya dan mengubur dalam-dalam sisa perasaannya malam ini.
kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍
dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
besok² crazy up dong kk thor💪