Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Di rumah kontrakan, jam alarm berbunyi dengan nyaring dan menunjukkan pukul enam pagi.
Suara bising itu seketika memecah keheningan kamar yang berantakan.
Alex langsung bangun dari tidurnya dan membelalakkan matanya dengan panik.
Ia menatap jam dinding, lalu melirik ke samping ranjang di mana Mira masih tertidur pulas dengan selimut yang menggulung tubuhnya.
Rasa kesal mulai merayapi dada Alex; jam segini biasanya rumah sudah rapi, baju kerjanya sudah disetrika, dan aroma kopi sudah menguar dari dapur. Namun kini, suasana rumah justru terasa mati.
Alex mengguncang bahu istrinya dengan kasar. "Mira, bangun! Ayo kita harus bekerja, kita bisa terlambat!"
"Hmmm... masih mengantuk, Mas. Lima menit lagi," gumam Mira dengan suara serak, malah menarik selimutnya semakin tinggi hingga menutupi kepala.
Melihat respons santai dari istri barunya, kekesalan Alex memuncak.
"Mira, bangun! Kamu belum buatkan aku sarapan!" bentaknya, teringat perutnya yang sudah mulai perih karena semalam mereka hanya makan mie instan.
Mira mendengus kesal, membuka selimutnya dengan sentakan kasar lalu menatap Alex dengan pandangan sinis.
"Ishhh, bawel kamu, Mas! Baru juga jam enam pagi sudah teriak-teriak. Nggak usah lebay, kita bisa beli makan di kantin kantor nanti!"
Alex tertegun. Kata-kata ketus Mira barusan terasa seperti tamparan bagi egonya.
Ia teringat bagaimana dulu Lani selalu bangun sebelum subuh, menyajikan sarapan hangat dengan senyuman lembut di bibir, bahkan tak pernah sekalipun mengeluh sesibuk apa pun pekerjaannya.
Alex yang tidak mau bertengkar langsung masuk ke kamar mandi dengan hati yang dongkol, membanting pintunya dengan keras.
Di bawah kucuran air dingin, benak Alex mulai dihantui penyesalan kecil yang perlahan-lahan mulai mengikis kebahagiaan pernikahan sirinya.
Setelah selesai mandi, Alex memakai pakaiannya yang belum disetrika oleh Mira setelah acara pernikahan mereka kemarin.
Kemeja kerjanya tampak kusut masai penuh lipatan, membuat penampilannya jauh dari kesan rapi seperti biasanya.
Alex mendengus pasrah sembari merapikan kerah bajunya di depan cermin, menahan rasa malu yang mulai membayangi benaknya.
Dulu, sehelai benang pun tidak akan dibiarkan mencuat oleh Lani dari pakaian kerjanya.
Tak lama kemudian, Mira masuk ke kamar mandi dan segera mandi dengan tergesa-gesa.
Suara guyuran air dari dalam kamar mandi terdengar begitu buru-buru, berkejaran dengan jarum jam yang terus berputar tanpa ampun.
Setelah itu, mereka bergegas berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor Alex.
Di sepanjang jalan, Alex memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menyalip di antara kepadatan arus lalu lintas pagi.
Alih-alih merasa tenang, jantungnya justru bertalu hebat karena tahu waktu mereka sudah habis.
Benar saja, mereka terlambat lima menit dari jam masuk yang ditentukan.
Mereka masuk dengan tatapan mata teman-temannya yang langsung tertuju ke arah pintu kedatangan.
Bisik-bisik tetangga kantor seketika berdengung halus di ruangan.
Beberapa rekan kerja menatap sinis ke arah kemeja Alex yang kusut, sementara yang lain memandang Mira dengan tatapan penuh selidik, mengingat rumor perselingkuhan mereka sudah mulai menyebar di kalangan karyawan.
Alex mencoba mengabaikan pandangan-pandangan menusuk itu dan melangkah menuju mejanya. Namun, belum sempat ia mendudukkan diri, sebuah suara berat dari ambang pintu ruangan utama menghentikan gerakannya.
"Alex, Mira, ke ruangan saya sekarang," ucap Pak Firman dengan nada suara yang dingin tanpa ekspresi, lalu berbalik masuk kembali ke kubikel kerjanya.
Langkah kaki Alex dan Mira mendadak terasa berat.
Saling lempar pandangan dengan wajah pucat, keduanya berjalan beriringan menuju ruangan sang atasan, bersiap menghadapi badai pertama di pagi hari yang suram itu.
"Duduk."
Suara Pak Firman terdengar begitu dingin dan berwibawa, memecah keheningan di dalam ruangan kerjanya yang bernuansa formal.
Alex dan Mira duduk dengan perasaan waswas. Kursi kulit di hadapan sang atasan mendadak terasa begitu panas dan tidak nyaman bagi mereka berdua.
"Terlambat lima menit?"
Pak Firman menatap jam tangannya, lalu beralih menatap tajam ke arah kedua karyawannya bergantian.
Tatapannya berhenti agak lama pada kemeja Alex yang tampak sangat kusut.
"M-maaf Pak, saya..." Alex mencoba membuka suara, berniat merangkai alasan kemacetan jalan raya untuk menyelamatkan diri.
"Saya tidak mau mendengarkan alasan apa pun, Alex," potong Pak Firman cepat, mengangkat satu tangannya di udara. "Dan saya mendengar kabar kalau kalian berdua menikah siri?"
Mendengar pertanyaan itu, Mira justru tersenyum bangga.
Dengan penuh percaya diri, ia mengangkat tangan kanannya.
"Iya Pak," jawab Mira memamerkan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manis, seolah ingin menegaskan bahwa kini Alex telah sepenuhnya menjadi miliknya.
Pak Firman menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari mengetuk-ngetuk pena di atas meja.
"Di perusahaan kita sudah menerapkan tidak boleh ada pasangan suami istri dalam satu kantor. Jadi maaf Mira, kamu saya pecat, mengingat pekerjaan Alex sangat bagus beberapa bulan ini."
Bagai disambar petir di pagi buta, senyum di wajah Mira seketika lenyap. Matanya membelalak tidak terima.
"Pak! Anda tidak bisa seenaknya memecat saya! Saya sudah di perusahaan ini sejak lama!" protes Mira, suaranya meninggi karena terkejut dan gengsi yang terusik.
"Justru karena kamu sudah lama di sini, seharusnya kamu tahu jika di sini tidak boleh ada pasangan suami istri!!" ucap Pak Firman dengan nada tinggi, memotong kalimat Mira dengan ketegasan yang mutlak hingga membuat ruangan itu mendadak senyap.
Pak Firman menatap Mira tanpa riak belas kasihan.
"Lekas urus semuanya dan ambil pesangonmu. Silakan keluar dari sini, dan kamu Alex, aku masih harus bicara dengan kamu."
Merasa posisinya sudah tidak bisa diganggu gugat, Mira bangkit dari duduknya dengan wajah penuh amarah.
Napasnya memburu menahan malu dan murka yang bercampur menjadi satu. Tanpa memedulikan Alex lagi, ia berbalik dan menghentakkan kakinya keras-keras, keluar dari ruangan Pak Firman sambil membanting pintu.
Firman menatap Alex dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam, menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya melihat pria di hadapannya.
"Serius, Alex? Kamu melepaskan Lani dan memilih Mira yang sudah menikah berapa kali?" tanya Pak Firman, nadanya merendah namun terasa begitu menusuk.
Alex terkejut ketika mendengar perkataan dari pimpinannya.
"M-maksud Bapak apa? Menikah berapa kali?"
"Apa Lani tidak mengatakannya?"
Pak Firman tersenyum getir, menatap Alex dengan pandangan kasihan.
"Kamu bodoh, Alex. Apa karena dia tidak bisa memberikan kamu anak, lalu kamu menceraikannya dan melepaskannya begitu saja?"
Alex membeku di kursinya, lidahnya mendadak kelu sementara otaknya mendadak buntu memikirkan fakta masa lalu Mira yang baru saja ia dengar.
"Asal kamu tahu, Alex," lanjut Pak Firman, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan serius.
"Jika bukan Lani yang dulu memohon dan memintaku agar kamu bekerja di sini, mungkin aku tidak akan pernah menerimamu. Dia yang menjamin kamu dengan seluruh harga dirinya di depan saya. Dan sekarang, kamu malah membuangnya seperti sampah demi wanita seperti Mira?"
Bagai dihantam godam besar, dada Alex terasa sesak luar biasa.
Kenyataan bahwa Lani-lah yang membukakan jalan kariernya selama ini—tanpa pernah wanita itu sombongkan sedikit pun di rumah—membuat rasa bersalah yang amat besar mulai menggerogoti jiwanya.
"Sudah, keluar kamu. Sekarang kamu lanjutkan pekerjaanmu," usir Pak Firman dingin, langsung meraih berkas di atas mejanya tanpa mau menatap Alex lagi.
Alex bangkit berdiri dengan tubuh yang lemas dan langkah kaki yang limbung.
Ia keluar dari ruangan dengan kepala yang dipenuhi oleh badai penyesalan, menyadari bahwa ia baru saja membuang berlian demi sebutir kerikil beracun.