NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saldo Istri, Nafkah Suami

​Aroma harum sisa panggangan daging dan kesegaran taman air mancur restoran perlahan memudar seiring bergeraknya mobil SUV hitam mewah milik Dimas membelah jalanan kota sore itu. Di dalam kabin mobil yang luas, sejuk, dan senyap tersebut, suasana terasa begitu hangat. Nasya duduk di baris tengah menemani Arumi, sementara Dimas sendiri yang mengambil alih kemudi di depan, menyetir dengan sangat tenang dan andal. Posisi itu sama sekali tidak menghalangi fokus sepasang mata hitam Dimas untuk sesekali mencuri pandang ke arah spion tengah, menatap Arumi yang sedang bersandar santai sembari memeluk Langit yang mulai tertidur pulas.

​Di samping Arumi, Bintang juga sudah mulai menyandarkan kepalanya yang terasa berat karena kekenyangan setelah menghabiskan seporsi besar daging wagyu pilihan Dimas. Tangan kecil Bintang masih menggenggam erat sebuah mainan robot-robotan premium hadiah spontan dari Dimas saat mereka melewati toko mainan di lobi restoran tadi. Arumi sempat tersenyum tipis saat teringat bagaimana Dimas tanpa ragu langsung membelikan mainan itu tanpa melihat label harga, sangat berbeda dengan Revan yang dulu selalu mengomeli Bintang jika menyentuh mainan di mall.

​"Kamu serius, Rum, mau langsung ketemu Pak RT sore ini juga?" tanya Nasya memecah keheningan, suaranya pelan agar tidak mengejutkan dua jagoan kecil yang mulai terlelap.

​Arumi mengangguk mantap, tatapan matanya lurus memandang ke luar jendela mobil, memperhatikan deretan ruko kota yang mulai menyalakan lampu jalannya. "Lebih cepat lebih baik, Nas. Fondasi lantai satu rumahku sedang dikerjakan. Lahan kosong tepat di samping rumah peninggalan Bapak itu luasnya hampir dua ratus meter persegi. Daripada nganggur atau cuma jadi tempat tumpukan material bangunan, mendingan kita langsung plot untuk lokasi dapur industri katering kita. Warga kampung juga butuh kepastian kerja."

​Dari bangku kemudi, Dimas melirik spion tengah lalu tersenyum tipis. Senyuman yang sangat menawan tersungging di bibirnya yang tegas. "Aku suka cara kerja kamu yang serba cepat, Arumi. Tim legalitas dan arsitek operasional dari perusahaanku sebenarnya sudah stand-by sejak siang tadi. Begitu kamu beri lampu hijau dan Pak RT memberikan izin lingkungan secara resmi, besok pagi surat izin prinsip pendirian usaha katering korporat kita sudah bisa diproses di dinas terkait."

​Arumi tersenyum tipis mendengarnya. Penggunaan kata aku-kamu yang mulai mengalir santai di antara mereka pasca jabat tangan bisnis di restoran tadi entah mengapa membuat dada Arumi berdesir aneh. Ada kesan setara, profesional, sekaligus kedekatan emosional tersembunyi yang diselipkan Dimas dengan sangat rapi. Pria brondong yang dulu pemalu itu kini benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita dengan penuh hormat.

​Tepat pukul lima sore, mobil SUV hitam mewah milik Dimas itu akhirnya berhenti dengan halus di mulut Gang Rejeki. Kehadiran mobil berkelas bertubuh gagah tersebut langsung menarik perhatian para pemuda karang taruna yang sedang berjaga di pos ronda. Mereka langsung berdiri, bersiap memandu jika mobil besar itu kesulitan bermanuver.

​Dimas dengan cekatan mematikan mesin lalu turun terlebih dahulu. Tanpa diminta, ia langsung berjalan ke pintu tengah dan membukakannya untuk Arumi. Gestur tubuhnya yang sigap, tegap, dan penuh perhatian itu tak luput dari pandangan mata ibu-ibu kampung yang sedang mencuci piring di area dapur umum proyek di seberang jalan.

​"Sini, Rum, biar Langit aku yang gendong. Kamu pasti pegal kalau harus menuntun Bintang juga," ujar Dimas dengan nada suara yang sangat lembut, mengulurkan kedua tangannya yang kokoh ke dalam kabin mobil.

​Arumi sempat ragu sejenak, namun melihat ketulusan di mata Dimas, ia akhirnya menyerahkan Langit yang sedang tertidur pulas ke dalam dekapan pria itu. Dengan sangat hati-hati, seolah sedang memeluk barang paling berharga di dunia, Dimas mendekap tubuh kecil Langit di dadanya, menopang kepala balita itu dengan telapak tangannya yang lebar agar tidak terbangun.

​"Ayo, Bintang, pegang tangan Ibu," ajak Arumi sembari menuntun anak pertamanya turun dari mobil. Nasya ikut turun di belakang mereka dengan gaya modisnya, membawakan tas berisi sisa mainan baru anak-anak.

​Rombongan kecil itu berjalan memasuki Gang Rejeki, membelah hiruk-pikuk proyek rumah lantai tiga Arumi yang masih menyisakan deru mesin molen beton di sore hari. Kang Jaya yang sedang sibuk mengarahkan tukang batu seketika menghentikan aktivitasnya saat melihat Arumi datang ditemani oleh sepasang pria dan wanita kota yang penampilannya sangat berkelas, mengendarai mobil mewah yang terparkir di depan gang.

​"Mbak Rum! Wah, baru pulang ya?" sapa Kang Jaya ramah, pandangannya sempat tertuju pada sosok Dimas yang dengan santai berjalan di samping Arumi sembari menggendong Langit dengan penuh kasih sayang. Di dalam hatinya, Kang Jaya membatin kagum, "Gagah tenan orang ini, cocok sekali berdiri di sebelah Mbak Arumi daripada si mantan suami kikir itu."

​"Iya, Kang Jaya. Ini ada sahabat lama saya, Nasya, dan adiknya, Dimas. Kami mau langsung ke rumah Pak RT dulu ya," jawab Arumi sembari melemparkan senyuman hangat kepada para pekerja.

​Rumah Pak RT yang terletak tidak jauh dari lokasi proyek sore itu tampak sepi. Pria paruh baya itu sedang duduk di teras rumahnya, menikmati udara sore sembari membaca koran lokal. Begitu melihat Arumi datang bersama rombongan, Pak RT langsung melipat korannya dan bangkit berdiri dengan wajah penuh senyum hangat.

​"Oalah, Mbak Rum! Silakan masuk, silakan duduk. Wah, ini ada tamu dari kota ya?" sambut Pak RT dengan ramah, mempersilakan mereka duduk di kursi rotan terasnya.

​Dimas melangkah perlahan ke dalam ruang tamu, lalu dengan sangat lembut merebahkan tubuh Langit yang masih tertidur pulas di atas sofa panjang, memastikan posisi kepala anak itu nyaman dengan bantal kecil yang diberikan oleh Bu RT yang baru saja keluar dari dalam rumah. setelah itu, Dimas kembali ke teras dan duduk di samping Nasya.

​Setelah semua orang duduk melingkar di teras, Arumi langsung membuka pembicaraan tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi.

​"Pak RT, mohon maaf mengganggu waktu sorenya. Kedatangan saya bersama Nasya dan Dimas ke sini adalah untuk memaparkan sebuah rencana besar yang ingin kami wujudkan di Gang Rejeki ini," buka Arumi dengan nada suara yang tenang namun penuh keyakinan.

​Pak RT membetulkan letak kacamata bacanya, wajah paruh bayanya mendadak serius namun dipenuhi rasa penasaran. "Rencana besar apa itu, Mbak Rum? Kalau soal pembangunan rumah lantai tiga Mbak Rum, sejauh ini semuanya aman terkendali, warga sangat senang membantu."

​"Bukan tentang rumah saya, Pak RT. Tapi tentang masa depan ekonomi warga kita di sini," sela Arumi, matanya berbinar cerah. "Semenjak dapur umum proyek rumah saya didirikan, saya melihat ibu-ibu di kampung kita ini memiliki bakat memasak yang luar biasa jujur, bersih, dan rapi. Di sisi lain, Dimas ini adalah pemilik perusahaan manajemen logistik dari kota sebelah yang saat ini sedang memegang kontrak besar untuk suplai makanan katering korporat di berbagai instansi dan pabrik besar."

​Arumi menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah Dimas yang langsung mengangguk paham dan membuka berkas proposal yang sejak tadi dibawanya dari mobil.

​"Kami berencana untuk mendirikan sebuah Dapur Industri Katering Profesional Skala Besar tepat di atas lahan kosong seluas dua ratus meter persegi di samping proyek rumah saya, Pak RT," lanjut Arumi pasti. "Uang warisan almarhum Bapak akan saya investasikan di sini sebagai modal utama, sementara perusahaan Dimas akan bertindak sebagai manajemen operasional, legalitas, dan penyedia pasar."

​Pak RT terkesiap, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut mendengar skala bisnis yang disebutkan oleh Arumi. "Dapur industri skala besar, Mbak Rum? Maksudnya... seperti pabrik katering?"

​"Betul, Pak RT," sambung Dimas, suaranya yang bariton dan mantap langsung mengambil alih atensi. "Perusahaan katering yang akan saya bangun bersama Arumi ini nantinya akan memproduksi ribuan porsi makanan setiap harinya untuk disuplai ke kawasan industri. Dan sesuai dengan syarat mutlak yang diajukan oleh Arumi kepada saya, seluruh tenaga kerja operasional dapur mulai dari asisten koki, pemotong sayur, tim pengemas, hingga bagian kebersihan wajib diambil dari warga lokal Gang Rejeki. Terutama ibu-ibu, para janda tua, atau bapak-bapak yang membutuhkan pekerjaan tetap dengan sistem upah bulanan resmi sesuai standar yang layak."

​Mendengar pemaparan dari Dimas dan Arumi, ruangan teras rumah Pak RT mendadak hening seketika. Bu RT yang sejak tadi berdiri di ambang pintu memegang nampan berisi teh hangat bahkan sampai menghentikan langkahnya, matanya berkaca-kaca menahan rasa haru yang teramat sangat.

​Pak RT menarik napas dalam-dalam, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa syukur yang luar biasa. Pria paruh baya itu menatap Arumi dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa hormat yang teramat dalam, seolah melihat sosok malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan kampung mereka.

​"Mbak Rum... Mas Dimas..." suara Pak RT terdengar sedikit serak karena menahan emosi haru. Ia meletakkan kedua telapak tangan di atas meja, tubuhnya bergetar pelan. "Saya... saya atas nama seluruh warga Gang Rejeki benar-benar tidak tahu harus berbicara apa lagi. Program yang Mbak Rum dan Mas Dimas bawa ini bukan cuma sekadar bantuan sosial, ini adalah mukjizat kehidupan buat warga kami!"

​Pak RT menyeka sudut matanya yang mulai basah di balik kacamata. "Mbak Rum tahu sendiri, semenjak krisis ekonomi dan PHK massal kemarin, banyak ibu-ibu di sini yang menangis setiap malam karena bingung besok mau masak apa untuk anak-anaknya. Warung-warung kelontong sepi, utang warga menumpuk. Proyek rumah lantai tiga Mbak Rum kemarin saja sudah seperti oase di gurun pasir buat bapak-bapak. Sekarang... Mbak Rum malah mau bikin perusahaan katering besar yang memberikan pekerjaan tetap bulanan untuk ibu-ibu? Gusti Allah... mulia sekali hatimu, Mbak Rum!"

​"Ini semua juga berkat jaringan bisnis yang dibawa oleh Dimas dan dorongan dari Nasya, Pak RT," ujar Arumi rendah hati, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Nasya yang duduk di sampingnya. "Saya tidak akan bisa melangkah sejauh ini tanpa ekosistem profesional yang mereka sediakan."

​"Ah, jangan merendah begitu, Rum. Kalau kamu tidak punya hati yang besar untuk menolong wargamu, bisnis ini tidak akan pernah punya jiwa," timpal Nasya dengan senyuman bangganya yang khas.

​"Saya setuju seratus persen dengan Nasya, Pak RT," tambah Dimas, sepasang matanya menatap Arumi dengan binar kekaguman yang begitu pekat dan tidak bisa disembunyikan lagi. "Ide mulia ini murni lahir dari ketulusan hati Arumi. Saya di sini hanya bertindak sebagai pelaksana teknis yang memastikan visi kemainan Arumi bisa berjalan secara profesional dan menghasilkan keuntungan jangka panjang untuk warga."

​Pak RT yang sejak tadi memperhatikan dinamika di terasnya, mendadak menangkap sesuatu yang sangat menarik dari cara Dimas berbicara dan menatap Arumi. Sebagai pria paruh baya yang sudah makan asam garam kehidupan, Pak RT bisa melihat dengan sangat jelas bahwa tatapan mata Dimas kepada Arumi bukan sekadar tatapan seorang rekan bisnis biasa. Ada rasa hormat yang mendalam, ada rasa ingin melindungi yang teramat kuat, dan ada percikan kasih sayang yang begitu tulus terpancar dari sana.

​Di tengah diskusi yang mulai membahas teknis perizinan lingkungan, Bintang yang sejak tadi duduk tenang di samping Arumi tiba-tiba menguap kecil dan menjatuhkan mainan robotnya ke lantai teras. Dengan sangat sigap, bahkan sebelum Arumi sempat bergerak, Dimas sudah terlebih dahulu membungkuk dan mengambil robot tersebut.

​Dimas kemudian menggeser kursi duduknya mendekati Bintang. Pria muda itu dengan sangat telaten mengangkat tubuh Bintang yang mulai lunglai karena mengantuk, lalu mendudukkan anak laki-laki itu di atas pangkuannya yang kokoh.

​"Om Dimas... Bintang ngantuk," bisik Bintang dengan suara serak khas anak-anak yang kelelahan, menyandarkan kepalanya dengan sangat nyaman di dada bidang Dimas.

​"Iya, jagoan. Tidur saja, Om jagain di sini ya," balas Dimas dengan nada suara yang teramat lembut. Tangannya yang besar mengusap-usap rambut dan punggung Bintang dengan gerakan konstan yang menenangkan, membuat anak pertama Arumi itu dalam hitungan menit langsung tertidur pulas di dalam pelukannya.

​Pemandangan itu begitu indah dan menyentuh hati. Arumi yang melihatnya hanya bisa tertegun dengan dada yang berdesir hebat, ada kehangatan yang menjalar masuk ke dalam relung batinnya yang selama ini beku dan terluka. Selama sepuluh tahun menikah dengan Revan, ia belum pernah sekalipun melihat Revan mau memangku Bintang atau Langit dengan penuh kasih sayang seperti itu saat mereka kelelahan. Revan selalu mengeluh baju kantornya akan kusut, atau merasa terganggu dengan rengekan anak-anak. Namun Dimas, pria muda dengan kemeja kasual mahalnya, sama sekali tidak peduli jika bajunya bererut demi kenyamanan anak laki-laki Arumi.

​Pak RT yang menyaksikan pemandangan itu dari seberang meja terdiam seribu bahasa. Di dalam hati kecil pria paruh baya itu, sebuah doa yang teramat tulus seketika melambung tinggi ke langit.

"Ya Allah, Gusti Pangeran..." batin Pak RT dengan mata yang berkaca-kaca menatap kedekatan Dimas dan Bintang. "Wanita sebaik dan semulia Arumi ini sudah terlalu banyak menderita selama hidup dengan si Revan kikir itu. Dia berhak untuk bahagia. Lihatlah anak muda ini, meskipun usianya kelihatan lebih muda, tapi jiwanya begitu matang, royal, dan begitu tulus menyayangi anak-anak Arumi tanpa ada pamrih. Saya berdoa, ya Allah... jika memang anak muda ini adalah jodoh yang Engkau siapkan, satukanlah mereka suatu saat nanti.

Berikanlah Arumi seorang pendamping hidup yang sejati, yang mampu memuliakan dirinya dan menyayangi kedua jagoan kecilnya dengan seutuhnya."

​Bu RT yang datang membawa camilan pisang goreng pun sampai harus menyeka air matanya di sudut pintu, ikut merapikan doa yang sama di dalam hatinya melihat pemandangan manis tersebut.

​"Jadi, Pak RT, bagaimana soal izin lingkungan dan persetujuan dari pengurus warga?" tanya Arumi kembali memfokuskan pembicaraan, mencoba menutupi detak jantungnya yang kian berdegup kencang karena salah tingkah melihat posisi Bintang yang begitu nyaman di pelukan Dimas.

​Pak RT langsung menggebrak meja pelan dengan wajah penuh semangat yang meluap-luap. "Jangankan cuma setuju, Mbak Rum! Malam ini juga, setelah salat Isya, saya sendiri yang akan mengumpulkan seluruh kepala keluarga di balai RW. Saya yang akan berdiri paling depan untuk memaparkan program luar biasa ini kepada warga. Saya jamin seratus, tidak, seribu persen seluruh warga Gang Rejeki akan mendukung dan mengawal proyek pembangunan dapur katering Mbak Rum dan Mas Dimas ini sampai berdiri kokoh!"

​Pak RT berdiri, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dimas yang masih memangku Bintang dengan tangan kirinya. "Mas Dimas, terima kasih banyak sudah mau membawa jaringan bisnisnya ke kampung kami yang sempit ini. Tolong bantu Arumi bimbing warga kami agar bisa maju bersama."

​Dimas membalas jabat tangan Pak RT dengan sangat mantap dan penuh wibawa. "Sama-sama, Pak RT. Ini sudah menjadi komitmen awal saya semenjak bekerja sama dengan Arumi. Kami yang berterima kasih karena sudah diterima dengan sangat hangat di sini."

​Pertemuan sore itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan bulat yang sangat manis. Saat rombongan bersiap untuk pulang ke rumah Bu Ida tempat Arumi menumpang sementara, Dimas dengan sukarela tetap menggendong Bintang yang tertidur pulas, berjalan beriringan di samping Arumi yang menggendong Langit, membelah temaramnya senja Gang Rejeki di bawah tatapan mata penuh haru, doa, dan restu dari seluruh warga kampung.

​Langkah awal menuju kejayaan yang sesungguhnya telah resmi dipancang di atas tanah Gang Rejeki. Sementara di belahan kota yang lain, bayang-bayang kehancuran karma finansial yang mengerikan perlahan namun pasti mulai merayap mendekati ruko dan rumah milik keluarga Revan yang kikir, bersiap untuk menguliti habis kesombongan mereka tanpa sisa.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!