NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter tiga puluh dua

Rumah terasa lebih sepi setelah kepergian Seina.

Meskipun dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya di lantai atas, ada energi tertentu yang selalu dia bawa. Dengan kepergiannya, keheningan seolah menyelimuti kediaman keluarga Arshawirya. Dan yang mengejutkanku, Selina tampak lebih ceria. Syukurlah, dia tidak pernah membahas lagi tentang panggilan telepon rumah pada saat aku dan Jeffran pergi malam itu.

Jeffran dan aku sudah berusaha saling menghindari dengan sangat cermat, yang mana hal itu cukup sulit dilakukan mengingat kami tinggal di bawah atap yang sama. Jika kami berpapasan, kami berdua akan langsung memalingkan wajah. Kuharap kami bisa melewati fase ini, karena aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini. Sudah cukup buruk bagiku karena tidak memiliki peluang untuk menjalin hubungan nyata dengan pria pertama yang kusukai dalam satu dekade terakhir.

Malam ini aku sedang bergegas menyiapkan makan malam agar hidangan sudah siap di atas meja sebelum Jeffran pulang. Namun, saat aku sedang membawa gelas-gelas berisi air menuju ruang makan, aku langsung menabrak Jeffran. Benar-benar menabraknya. Salah satu gelas terlepas dari tanganku dan hancur berkeping-keping di atas lantai.

"Astaga!" Seruku.

Aku memberanikan diri untuk melirik ke arah Jeffran. Dia mengenakan setelan jas biru tua dengan dasi gelap, dan sekali lagi, dia terlihat sangat tampan. Dia baru saja bekerja seharian penuh dan bayangan janggut tipis di dagunya justru membuatnya terlihat semakin seksi. Mata kami bertemu selama sepersekian detik, dan di luar kendaliku, aku merasakan sengatan ketertarikan yang kuat. Matanya melebar, dan aku yakin dia juga merasakannya.

"Biar kubantu membersihkan ini." Katanya.

"Anda tidak perlu melakukan itu."

Namun dia bersikeras. Aku menyapu pecahan-pecahan kaca yang besar, dan dia memegangi pengki lalu membuangnya ke dapur. Selina tidak akan pernah mau membantuku, tetapi Jeffran berbeda darinya. Saat dia mengambil sapu dariku, jari-jari kami tidak sengaja bersentuhan. Mata kami bertemu lagi, dan kali ini kami tidak bisa mengabaikan percikan gairah di antara kami. Rasanya secara fisik menyakitkan karena aku tidak bisa bersama pria ini.

"Laily..." Bisiknya dengan suara serak.

Tenggorokanku terasa sangat kering. Jaraknya hanya tiga puluh sentimeter dariku. Jika aku condong ke depan, dia pasti akan menciumku. Aku tahu dia akan melakukannya.

"Oh tidak! Apa yang terjadi?"

Mendengar suara Selina, Jeffran dan aku langsung melompat menjauh satu sama lain seolah-olah tubuh kami baru saja disundut api. Aku mencengkeram gagang sapu begitu erat hingga jari-jariku memutih. "Saya menjatuhkan gelas." Kataku.

"Hanya saja.... bisa anda lihat, saya sedang membersihkannya."

Mata Selina tertuju ke lantai, tempat serpihan-serpihan kaca kecil berkilauan di bawah lampu langit-langit. "Ya ampun, Laily." Katanya.

"Tolong lebih berhati-hati lain kali."

Aku sudah bekerja di sini selama berbulan-bulan dan aku tidak pernah sekali pun menjatuhkan atau merusakkan barang apa pun. Baiklah, kecuali pada malam ketika dia memergoki aku dan Jeffran sedang menonton televisi larut malam. Namun dia tidak tahu tentang hal itu.

"Ya, saya minta maaf, Selina. Saya akan mengambil alat penyedot debu untuk membersihkan serpihan kacanya."

Mata Jeffran mengiringi langkahku saat aku kembali ke lemari perlengkapan; yang ukurannya sedikit lebih besar daripada kamarku di lantai atas. Aku memasukkan kembali sapu ke dalam sana, dan mengambil penyedot debu. Ada ekspresi tersiksa di wajahnya. Apa pun yang ingin dia katakan kepadaku semenit yang lalu, dia masih ingin mengatakannya. Namun dia tidak bisa—tidak dengan adanya Selina di dalam ruangan.

Atau mungkin sebenarnya dia bisa.

"Kita harus bicara nanti." Bisiknya di telingaku, tepat saat dia mengikuti Selina ke ruang tamu untuk menungguku selesai membersihkan lantai. "Oke?"

Aku mengangguk. Aku tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan denganku, tetapi aku menganggap ini sebagai pertanda baik. Kami sudah sepakat untuk tidak pernah membahas apa yang terjadi malam itu di hotel. Jadi, jika dia ingin membahasnya kembali...

Namun, aku tidak boleh terlalu berharap tinggi.

Sekitar sepuluh menit kemudian, aku sudah membersihkan semuanya dan memanggil Jeffran serta Selina kembali dari ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa, tetapi di ujung yang saling berlawanan. Mereka sedang menatap ponsel masing-masing, bahkan tidak mencoba untuk saling berbicara. Aku memperhatikan mereka mulai melakukan hal yang sama saat waktu makan malam tiba.

Mereka mengikutiku kembali ke ruang makan dan Selina mengambil tempat duduk di seberang Jeffran. Dia melihat ke arah piring berisi potongan daging panggang dengan saus apel dan brokoli kecil. Dia tersenyum kepadaku, dan saat itulah aku menyadari lipstik merah terangnya terlihat agak berantakan. Lipstik itu tercoreng di sisi kanan bibirnya, yang membuatnya terlihat hampir seperti badut iblis.

"Ini kelihatan lezat, Laily."

"Terima kasih."

"Bukankah aromanya sangat harum, Jeffy?" katanya.

"Mmm." Jeffran mengambil garpunya. "Sangat harum."

"Aku yakin..." Selina melanjutkan, "...kau tidak pernah mendapatkan makanan seperti ini di penjara, kan, Laily?"

Seketika suasana menjadi hening yang mencekam.

Selina sedang tersenyum menatapku dengan ramah menggunakan bibir iblisnya itu. Jeffran, yang duduk di seberangnya, menatapku dengan mulut ternganga. Jelas sekali, ini adalah informasi baru baginya.

"Um..." Ujarku.

"Makanan seperti apa yang mereka sajikan untukmu di sana?" Dia mendesakku. "Aku selalu penasaran tentang hal itu. Seperti apa makanan penjara?"

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak bisa menyangkalnya. Dia tahu tentang masa laluku. "Makanannya lumayan."

"Baiklah, kuharap kau tidak terinspirasi oleh makanan apa pun yang kau santap di sana." Dia tertawa. "Tetaplah memasak seperti yang biasa kau lakukan. Kau melakukan pekerjaan rumah ini dengan baik."

"Terima kasih." Gumamku.

Wajah Jeffran tampak sepucat pasi. Tentu saja, dia sama sekali tidak tahu kalau aku pernah mendekam di penjara. Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk memberi tahu hal itu kepadanya. Entah bagaimana, saat aku bersamanya, masa lalu dalam hidupku itu terasa seperti sesuatu dari masa lalu yang sangat jauh—kehidupan yang lain. Namun kebanyakan orang tidak melihatnya dengan cara seperti itu. Bagi kebanyakan orang, aku hanyalah satu hal. Seorang narapidana.

Dan Selina ingin memastikan agar aku tahu diri akan posisiku.

Saat ini, aku sangat ingin melarikan diri dari ekspresi terkejut Jeffran. Aku berbalik untuk kembali ke kamarku. Aku sudah hampir sampai di tangga ketika Selina memanggilku lagi, "Laily?"

Aku berhenti, punggungku mendadak kaku. Dibutuhkan seluruh pengendalian diriku untuk menahan diri agar tidak membentaknya saat aku berbalik. Aku berjalan perlahan kembali ke ruang makan dengan senyum buatan di wajahku. "Ya, Selina?"

Dia merengut. "Kau lupa mengeluarkan tempat garam dan merica. Dan sayangnya, daging panggang ini memang butuh sedikit garam. Kuharap kau bisa lebih royal dalam memberi bumbu."

"Baik. Maaf."

Aku berjalan ke dapur dan mengambil wadah garam serta merica dari atas meja konter. Jaraknya hanya sekitar dua meter dari tempat Selina duduk di ruangan sebelah. Aku membawanya ke ruang makan, dan meskipun aku sudah berusaha keras untuk tidak melakukannya, aku mengempaskan wadah bumbu itu ke atas meja dengan keras. Ketika aku melihat ke arah Selina, sudut-sudut bibirnya tampak berkedut menahan senyum.

"Terima kasih banyak, Laily." Katanya. "Tolong jangan lupakan itu lagi."

Kuharap dia menginjak serpihan kaca yang pecah tadi.

Aku bahkan tidak sanggup melihat ke arah Jeffran. Hanya Tuhan yang tahu apa yang pasti sedang dia pikirkan tentang diriku sekarang.

Aku tidak percaya sempat memikirkan semacam masa depan bersamanya. Aku tidak benar-benar memikirkannya, tetapi untuk sepersekian detik...

Baiklah, hal-hal aneh bisa saja terjadi. Namun harapan itu sekarang sudah musnah sepenuhnya. Dia tampak ngeri saat Selina menyebutkan bahwa aku pernah dipenjara. Seandainya saja aku bisa menjelaskan semuanya...

Aku berhasil mencapai tangga kali ini tanpa Selina memanggilku kembali untuk menyuruhku, entahlah, mengoper mentega dari sisi lain meja atau hal semacam itu. Aku berjalan gontai menaiki anak tangga menuju lantai dua, lalu menaiki tangga yang lebih gelap dan sempit menuju kamar tidurku. Aku membanting pintu di belakangku, berharap—bukan untuk yang pertama kalinya—bahwa aku bisa mengunci pintu ini.

Aku menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Aku bertanya-tanya sudah berapa lama Selina tahu tentang masa laluku. Apakah dia baru saja mengetahuinya baru-baru ini, atau apakah dia sebenarnya melakukan pemeriksaan latar belakangku saat mempekerjakanku dulu?

Mungkin dia menyukai ide mempekerjakan seorang mantan narapidana. Seseorang yang bisa dia perintah sesuka hati. Orang lain pasti sudah mengundurkan diri berbulan-bulan yang lalu.

Saat aku sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengasihani diriku sendiri, sesuatu di atas meja nakas menarik perhatianku.

Itu adalah salinan pamflet acara dari pertunjukan Showdown malam itu.

Aku mengambilnya dengan perasaan bingung. Mengapa pamflet acara ini bisa ada di atas meja nakasku? Aku memasukkannya ke dalam tas tanganku setelah pertunjukan selesai, dan aku menyimpannya di sana sebagai pengingat akan malam ajaib itu. Tas tanganku tergeletak di lantai, bersandar pada lemari laci. Jadi, bagaimana bisa pamflet ini berpindah ke atas meja nakas? Aku pasti tidak pernah mengeluarkannya. Aku sangat yakin akan hal itu.

Seseorang telah meletakkannya di sana. Aku memang mengunci pintu kamar ini, tetapi aku bukan satu-satunya orang di sini yang memiliki kuncinya.

Perasaan hampa yang mengerikan mendadak merayapi perutku. Aku akhirnya mengerti mengapa Selina tiba-tiba membongkar fakta bahwa aku pernah dipenjara. Dia tahu kalau aku menonton pertunjukan teater itu bersama Jeffran. Dia tahu kami pergi keluar bersama malam itu, hanya berdua saja. Aku tidak yakin apakah dia tahu kami menghabiskan malam di Hotel Horizon Palace, tetapi dia tahu kami tidak ada di rumah pada jam sebelas malam. Dan aku yakin jika dia cukup cerdas, dia bisa dengan mudah mencari tahu apakah kami memesan kamar di hotel tersebut atau tidak.

Selina tahu segalanya.

Aku baru saja mempunyai musuh yang sangat berbahaya.

.

.

.

.

.

.

To be continue.....

Like gaes🥰

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!