NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genderang Perang di Kampus

Suara bisik-bisik yang merayap di sepanjang koridor Gedung Alpha Universitas Dirgantara pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Atmosfernya tidak lagi dipenuhi oleh obrolan santai mengenai rencana akhir pekan atau keluhan tentang kuis akuntansi. Ada ketegangan yang pekat, sejenis kehebohan yang menjalar cepat bagai api menyiram rumput kering. Puluhan mahasiswa tampak berkerumun rapat di depan papan majalah dinding (mading) utama kampus, sementara yang lain tak henti-hentinya menatap layar ponsel mereka, jemari mereka bergerak cepat menggulirkan pesan di grup obrolan angkatan.

"Astaga... seriusan dia kayak gini di luar kampus?"

"Kelihatannya aja alim dan pinter, ternyata aslinya jual diri demi bayar kosan."

Citra Kencana baru saja melangkah melewati pintu selasar ketika Kirana berlari menghampirinya dari arah berlawanan. Wajah Kirana tampak memerah padam, napasnya tersengal-sengal, dan sepasang matanya memancarkan kombinasi antara kepanikan akut dan kemarahan yang meluap-luap. Tanpa basa-basi, Kirana langsung menyambar pergelangan tangan Citra.

"Cit! Lo harus lihat ini! Sialan, ini bener-bener udah kelewatan!" seru Kirana, suaranya bergetar menahan geram. Ia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Citra, menampilkan sebuah unggahan anonim yang baru saja diledakkan di forum digital mahasiswa.

Di layar itu, terpampang beberapa lembar foto hasil manipulasi digital yang kasar namun cukup untuk mengecoh mata awam. Foto tersebut memperlihatkan sosok yang mirip dengan Citra sedang turun dari mobil mewah di kawasan remang-remang Jakarta pada larut malam. Tidak hanya itu, di bawah cetakan kertas yang ditempel besar-besar di mading utama, terdapat selembar dokumen palsu yang menarasikan bahwa Citra telah memalsukan data pendapatan orang tuanya demi menembus program beasiswa penuh Dirgantara Scholar.

Kirana menatap sahabatnya dengan cemas, bersiap untuk merangkul Citra jika gadis itu mendadak menangis atau pingsan seperti pembawaannya yang dulu. "Cit, ini pasti kerjaannya Natasha sama geng serigalanya! Mereka sengaja mau bikin lo ditendang dari kampus! Kita harus lapor…"

Namun, kalimat Kirana terputus saat ia melihat reaksi Citra.

Jiwa Nyai Kencana yang bersemayam di dalam raga Citra sama sekali tidak menunjukkan riak kepanikan. Alih-alih menangis, gemetar, atau memohon perlindungan, Citra justru melangkah tenang mendekati kerumunan mading. Kerumunan mahasiswa otomatis terbelah, memberikan jalan seolah-olah mereka sedang dilewati oleh embusan angin es yang magis.

Citra berdiri tegak di depan papan mading. Ia menatap foto-foto manipulasi dan kertas fitnah itu dengan sepasang mata bulat yang teramat dingin, datar, dan kosong dari emosi. Ketenangan kesatrianya begitu absolut hingga membuat beberapa mahasiswa di dekatnya mendadak merasa merinding dan perlahan melangkah mundur. Bagi seorang mantan pengawal ring satu yang terbiasa menghadapi intrik berdarah dan taktik adu domba antar-kerajaan di masa lalu, coretan kertas dan fitnah digital semacam ini tidak lebih dari sekadar gonggongan anjing kecil di tepi gerbang istana.

"Manipulasi yang teramat ceroboh," bisik Citra lirih, suaranya jernih tanpa ada getaran ketakutan sedikit pun.

***

"Aduh, aduh... permisi, Rek! Tolong beri jalan buat orang ganteng yang mau lewat!"

Sebuah suara medok yang sangat akrab memecah keheningan yang mencekam di koridor. Dari arah samping, Natasha melangkah maju dengan keanggunan yang dipaksakan, diikuti oleh sirkel sosialitanya yang tersenyum penuh kemenangan. Mereka sengaja berhenti tepat di belakang Citra, bersiap untuk melancarkan pukulan psikologis terakhir di depan umum.

"Wah, ada tontonan menarik apa nih pagi-pagi?" sindir Natasha, suaranya melengking tinggi dengan nada angkuh yang dibuat-buat. Ia menatap Citra dengan pandangan menghina. "Oh, ternyata si anak parasit beasiswa kesayangan para dosen lagi meratapi nasib. Gimana, Cit? Udah siap-siap kemas barang dari kosan? Universitas Dirgantara itu tempat buat orang-orang terhormat, bukan buat penipu yang menjual harga diri demi bertahan hidup di Jakarta."

Viona ikut menimpali sembari melipat tangan di dada. "Pantasan kemarin beladiri sok jagoan, ternyata emang biasa keluyuran di tempat remang-remang malam-malam."

Sebelum Kirana sempat meledak dan membalas makian tersebut, Surya mendadak muncul dari balik kerumunan mahasiswa. Ia membawa sebotol air mineral dan sebuah kerupuk kaleng di tangannya. Surya melangkah ke tengah-tengah lingkaran ketegangan tersebut, menatap kertas-kertas di mading lalu beralih menatap Natasha dengan ekspresi wajah yang sangat jenaka.

"Waduh, Mbak Natasha ini kok pagi-pagi sudah rajin sekali bikin pameran kliping," celetuk Surya dengan logat Malang-nya yang super medok, memotong ketegangan dengan humor segarnya. Ia mendekati mading, menyipitkan matanya ke arah foto manipulasi tersebut. "Tapi mohon maaf ini ya, Mbak. Ini editannya kasar banget lho. Itu bayangan mobilnya ke kanan, tapi bayangan orangnya ke kiri. Mbak Natasha kalau sewa orang buat nge-edit, minimal yang pinter sedikit toh, jangan yang amatiran begini. Malu sama tas mahalnya itu, Rek!"

"Heh! Maksud lo apa, hah?!" bentak Natasha, wajahnya yang semula putih karena bedak mahal mendadak merona merah padam karena malu dituduh secara blak-blakan di depan umum.

Kirana yang melihat celah langsung ikut menimpali dengan kalimat sarkastik yang menusuk. "Maksud Surya itu, otak lo gak sebanding sama harga perawatan salon lo, Nat! Bikin fitnah kok pakai dokumen editan Microsoft Word kelas teri!"

"Kalian…!" Natasha mengepalkan tangannya, siap memerintahkan antek-anteknya untuk membuat keributan, namun suara interkom dari pengeras suara koridor mendadak berbunyi, memanggil nama Citra Kencana dan Natasha untuk segera menghadap ke Ruang Dewan Akademik di Lantai Tiga.

***

Ruang Dewan Akademik terasa begitu sunyi dan formal. Di balik sebuah meja panjang dari kayu jati, duduk Kepala Bagian Kemahasiswaan, Profesor Rahardjo, dan dua orang perwakilan dewan dosen. Suasana di dalam ruangan tersebut dipenuhi oleh aroma kertas dokumen dan ketegangan birokrasi yang kaku.

Natasha duduk di kursi sebelah kanan dengan dagu terangkat, merasa berada di atas angin. Di atas meja, ia telah meletakkan beberapa lembar "bukti" cetak tambahan yang telah ia siapkan bersama sirkelnya untuk menyudutkan Citra agar beasiswanya segera dicabut hari itu juga. Sementara itu, Citra duduk di kursi sebelah kiri dengan posisi punggung yang tegak lurus sempurna, kedua tangannya diletakkan dengan tenang di atas pangkuan, pembawaan seorang kesatria yang siap membalikkan keadaan di atas meja perundingan.

"Kasus ini sangat serius," buka Kepala Bagian Kemahasiswaan dengan rahang tegas. "Tuduhan pemalsuan dokumen beasiswa dan pelanggaran kode etik moral dapat mengakibatkan sanksi drop-out seketika. Citra, bagaimana penjelasanmu mengenai dokumen pendapatan orang tuamu yang dilaporkan palsu ini?"

Natasha menyela dengan nada mendesak, mencoba menaruh tekanan psikologis. "Sudah jelas dia memalsukan data, Pak. Dokumen yang saya temukan menunjukkan bahwa usaha keluarga aslinya di daerah itu beromset besar, tidak masuk kategori penerima bantuan subsidi."

Citra Kencana tidak membalas dengan ledakan emosi atau tangisan defensif. Didorong oleh ketenangan batin Nyai Kencana yang biasa menghadapi taktik perang dan negosiasi wilayah di masa lalu, ia justru mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat elegan.

Ia membuka tas ransel kainnya, lalu mengeluarkan sebuah laptop tua yang layarnya sudah sedikit lecet. Dengan gerakan jemari yang tenang namun pasti, ia mengoperasikan perangkat tersebut dan memutar layarnya ke arah dewan dosen.

"Bapak dan Ibu Dewan Dosen yang terhormat," suara Citra bergaung jernih, berat, dan sarat akan wibawa yang tak terbantahkan. "Di dalam sistem administrasi modern, setiap dokumen resmi selalu meninggalkan jejak digital berupa metadata dan nomor registrasi unik pada pangkalan data pemerintah daerah. Jika Bapak Ibu memeriksa nomor dokumen yang tertera pada berkas yang dibawa oleh Saudari Natasha..."

Citra mengetuk tombol enter di laptopnya, menampilkan visualisasi perbandingan data. "Nomor registrasi tersebut sebenarnya milik sebuah yayasan usaha yang telah pailit sejak lima tahun lalu. Dokumen yang dibawa oleh Saudari Natasha adalah hasil enkripsi ilegal yang mengubah nama subjek menggunakan perangkat lunak penyunting."

Profesor Rahardjo memajukan tubuhnya, mengenakan kacamata bacanya, lalu memeriksa layar laptop Citra dengan saksama. Kening sang profesor bertaut erat. "Ini... benar. Jejak digital dari file ini menunjukkan bahwa manipulasi data baru saja dilakukan dari sebuah alamat IP publik yang terdaftar... di kafe seberang kampus, tadi malam jam sepuluh."

Wajah Natasha seketika berubah menjadi pucat pasi bagai kertas semen. Persendian tangannya mendadak lemas, dan keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Bagaimana bisa cewek miskin ini melacak jejak digital secepat ini?!

Citra tidak berhenti sampai di sana. Ia mengeluarkan sebuah diska lepas (flashdisk) dari sakunya, lalu menggesernya ke tengah meja. "Dan mengenai foto manipulasi yang menuduh saya berada di kawasan remang-remang... Di dalam diska lepas tersebut terdapat rekaman CCTV orisinal dari Perpustakaan Pusat Universitas Dirgantara pada tanggal dan jam yang sama persis dengan yang tertera di foto fitnah tersebut. Saya berada di bawah sorotan kamera perpustakaan, sedang mempelajari modul Manajemen Strategis bersama Saudari Kirana."

Citra menegakkan kembali tubuhnya, menatap lurus ke arah Kepala Bagian Kemahasiswaan dengan tatapan mata elang yang mengunci. "Dengan segala hormat, institusi ini didirikan di atas dasar kebenaran ilmiah dan hukum. Saudari Natasha tidak hanya telah melakukan pencemaran nama baik secara sistematis terhadap sesama mahasiswa, tetapi juga telah melakukan pemalsuan dokumen institusi publik demi menjatuhkan reputasi seseorang. Tindakan ini memenuhi unsur pelanggaran pidana berat."

Dewan dosen saling berpandangan, memberikan anggukan tegas. Profesor Rahardjo menatap Natasha dengan pandangan yang teramat kecewa. "Natasha... perbuatanmu ini sudah melampaui batas toleransi akademis. Kasus ini akan segera kami bawa ke rapat pleno rektorat untuk penjatuhan sanksi skorsing berat, atau bahkan dikeluarkan secara tidak hormat. Dan Citra berhak membawa kasus pencemaran nama baik ini ke ranah hukum."

Sidang ditutup dengan kemenangan mutlak bagi pihak Citra. Natasha berdiri dari kursinya dengan tubuh yang gemetar hebat, air mata frustrasi dan ketakutan akhirnya merembes keluar, merusak riasan mahalnya. Benteng keangkuhannya runtuh total dalam hitungan menit di atas meja akademik.

Saat mereka melangkah keluar dari pintu Ruang Dewan Akademik yang berat, koridor luar tampak sepi karena jam kuliah telah dimulai. Natasha berjalan terhuyung, memegangi dinding dengan wajah tertunduk hancur.

Citra Kencana melangkah menyusulnya, lalu berhenti tepat di samping Natasha. Tanpa mengubah posisi tubuhnya yang tegap, Citra memiringkan kepalanya sedikit, menatap Natasha dari sudut matanya dengan pandangan yang begitu menusuk dan mematikan, tatapan sebilah pedang yang siap mengesekusi musuh yang telah kalah.

"Dengarkan aku dengan baik, Natasha," bisik Citra, suaranya teramat lirih namun bergaung laksana guntur di telinga Natasha. "Genderang perang yang kau tabuh dengan penuh keangkuhan di kampus ini... sejak awal tidak dirancang untuk menghancurkanku. Ia dirancang oleh semesta untuk menjadi lagu pengiring bagi keruntuhan dirimu sendiri. Ini baru awal dari penebusan atas setiap jengkal kesombonganmu."

Tanpa menunggu tangisan atau balasan dari Natasha yang sudah tidak berdaya, Citra Kencana membalikkan badannya secara anggun. Ia melangkah pergi menembus koridor dengan langkah kaki yang tegap, ritmis, dan penuh kewibawaan seorang pengawal kerajaan kuno yang takkan pernah bisa ditundukkan oleh intrik murahan mana pun.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!