NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KENANGAN YANG TERLUPAKAN

...BAB 21...

...KENANGAN YANG TERLUPAKAN...

Aditya tidak bisa sepenuhnya menerima keputusan berat yang diambil istrinya. Meskipun ia mengerti niat mulia di baliknya, hatinya menolak membayangkan hidup terpisah dari Kirana dan Dimas, meskipun hanya untuk sementara waktu. Malam itu, ia berbaring di tempat tidur yang terasa terlalu luas dan sunyi, pikirannya terus berputar memikirkan Alina—putri kandungnya yang kini hidup sendirian dalam ketakutan. Ia merasa ada jalan lain selain memisahkan keluarganya.

Keesokan paginya, Aditya memutuskan untuk pergi sendiri menuju alamat kosan Alina yang diberikan Dimas. Ia tidak memberitahu rencananya kepada siapa pun; ia ingin bertemu putrinya secara pribadi, berbicara dari hati ke hati, dan membujuknya untuk pulang ke rumah tempat ia seharusnya merasa aman dan dicintai.

Perjalanan menuju daerah perumahan sederhana itu terasa panjang baginya. Saat tiba di depan bangunan kecil yang berderet rapi, Aditya merasa sesak di dada membayangkan putrinya tinggal di tempat yang jauh dari kenyamanan yang biasa ia nikmati. Dengan langkah hati-hati, ia menaiki tangga kayu yang berderit pelan, lalu mengetuk pintu kamar nomor tujuh.

Beberapa saat hening, sebelum suara lembut terdengar dari balik pintu. “Siapa ya?”

“Ini Papa, Nak. Boleh Papa masuk?”

Suara itu terdengar terkejut. Tidak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Alina berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, matanya masih terlihat sembab, dan rambutnya tergerai tidak rapi. Ia tertegun melihat kehadiran ayahnya, dan tanpa sadar, matanya kembali berkaca-kaca.

"Papa…” bisiknya pelan. "Da_darimana Papa tahu Alina tinggal di sini?" suaranya tersendat kaget.

Aditya menarik napas dalam dan sesak. "Dimaslah, yang memberikan alamat ini dari Farhan, temannya yang menyelamatkanmu kemarin dari anak berandalan itu!"

Tanpa bisa menahan diri lebih lama, Alina tiba-tiba melangkah maju dan memeluk tubuh Papanya erat-erat. Selama ini ia menahan semua rasa takut, kesepian, dan rindu yang menumpuk di dadanya, namun saat merasakan kehadiran sosok yang selalu menjadi tempat berlindungnya sejak kecil, semua pertahanannya runtuh. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Aditya, menangis terisak-isak.

“Papa… Alina kangen. Alina takut, Pah…” ucapnya terbata-bata di sela isak tangisnya.

Aditya membalas pelukan itu dengan erat, mengelus punggung putrinya dengan lembut, berusaha menenangkan tubuhnya yang masih gemetar. Rasa nyaman dan ketenangan yang lama hilang seketika terasa menyelimuti hati Alina. Di pelukan Papanya, ia merasa tidak ada yang bisa menyakitinya, tidak ada bahaya yang bisa mendekat. Di sinilah tempatnya merasa paling aman di dunia ini.

“Sudah, Nak. Papa ada di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi,” ucap Aditya dengan suara lembut namun tegas, berusaha menenangkan hati putrinya. Ia membiarkan Alina melepaskan semua beban yang selama ini ia pendam.

Setelah suasana agak tenang, Aditya mengajak Alina duduk di pinggir kasur tipis di kamar kecil itu. Ruangan itu terasa pengap dan sempit, membuat hati Aditya semakin perih melihat kondisi putrinya.

“Alina, Papa datang ke sini untuk mengajakmu pulang. Rumah itu seharusnya menjadi tempatmu berlindung, bukan tempat yang membuatmu merasa tidak diinginkan,” ucap Aditya pelan.

Mendengar kata ‘pulang’, raut wajah Alina berubah. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. Namun, sebelum ia sempat menjawab, ingatan mengerikan yang menimpanya kembali menghantui pikirannya. Tubuhnya kembali gemetar hebat, napasnya memburu.

“Papa… Alina takut,” ucapnya tiba-tiba, suaranya bergetar. “Waktu itu… waktu itu Raka memojokkan Alina di gang kosong. Dia mencengkeram Alina dengan kasar, merobek baju Alina… Dia ingin berbuat jahat pada Alina, Pah. Dia membenci Papa, dan dia merasa keluarganya dulu terinjak-injak karena Papa. Kalau saja tidak ada Farhan yang lewat, waktu itu, Alina tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Air mata kembali mengalir deras di pipinya. Ia menceritakan semuanya dengan jujur—rasa takut yang mencekam, rasa jijik yang menyelimuti tubuhnya, dan perasaan tidak berdaya yang membuatnya merasa seperti binatang buruan yang terpojok.

Aditya mendengarkan setiap kata putrinya dengan rahang yang mengeras. Tangannya terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membara meluap di dadanya, membuat darahnya mendidih. Ia membayangkan betapa ngerinya peristiwa itu, betapa takutnya putri semata wayangnya menghadapi orang jahat sendirian. Di dalam hatinya, ia bersumpah akan membalas perbuatan Raka. Ia tidak akan membiarkan pemuda itu hidup tenang setelah berani menyakiti putrinya.

Namun, kenyataan pahit segera menyadarkannya. Ia tidak lagi memiliki kekuasaan seperti dulu. Bisnisnya hancur, harta benda berkurang drastis, dan pengaruhnya di masyarakat hampir hilang. Ia bukan lagi orang yang bisa menggerakkan banyak hal dengan mudah. Rasa frustasi dan sakit hati bercampur menjadi satu, membuat dadanya terasa sesak.

“Papa akan memastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal, Nak. Papa tidak akan membiarkan dia mengancammu lagi,” ucap Aditya, berusaha terdengar meyakinkan meski di dalam hatinya ia merasa tidak berdaya.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap mata Alina dengan lembut, mencoba mengubah suasana menjadi lebih tenang. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan, hal yang mungkin bisa mengubah pandangan Alina selama ini.

“Alina, sebelum kita bicara soal pulang, Papa ingin mengingatkanmu sesuatu. Sesuatu yang mungkin sudah lama terlupakan di ingatanmu,” mulai Aditya pelan. “Apakah kamu masih ingat saat kamu berusia lima tahun? Mamamu, Ratna, dulu pernah memanggil seorang guru privat untuk mengajarimu membaca, menulis, dan berhitung di rumah?”

Alina mengerutkan kening, mencoba menggali memori masa kecilnya yang sudah samar-samar. Wajahnya menunjukkan kebingungan. “Guru privat? Alina… Alina tidak ingat jelas, Pah. Dulu banyak orang yang datang ke rumah, kan?”

Aditya tersenyum tipis, melihat ekspresi putrinya yang tampak berusaha keras mengingat. “Benar, tapi ada satu wanita yang sering datang hampir setiap hari selama hampir dua tahun. Dia masih sangat muda saat itu. Dia datang atas permintaan Mamamu, karena Mamamu merasa tidak ada orang lain yang bisa dipercaya untuk mengajarimu dengan sabar.”

Aditya berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. “Wanita itu adalah Ibu Kirana.”

Mata Alina terbelalak. Ia menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. “Kirana? Ibu tiri Alina? Tidak mungkin… Alina tidak ingat itu.”

“Coba pikirkan lagi, Nak,” bujuk Aditya lembut. “Wajah yang sering tersenyum, yang selalu membawakanmu kue kecil buatan ibu Kirana, yang dengan sabar mengulang huruf demi huruf sampai kamu bisa mengeja namamu sendiri. Kamu dulu sering menangis karena tidak bisa menulis, tapi dia tidak pernah marah. Dia hanya memegang tanganmu, menggerakkan pensil itu perlahan, sampai kamu bisa melakukannya sendiri. Apakah ada sedikit bayangan yang muncul di ingatanmu?”

Alina memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha keras menyusun potongan-potongan kenangan yang kabur. Gambar-gambar samar mulai melintas di benaknya: ruang tamu yang luas, meja belajar kecil, suara lembut yang memanggil namanya, tangan halus yang memegang tangannya saat memegang pensil. Ada sosok wanita muda yang sering tersenyum, yang kepalanya selalu memakai kerudung. Namun, wajah sosok itu masih kabur, belum jelas terlihat.

“Alina… Alina merasa ada sedikit ingatan, tapi wajahnya tidak jelas. Apakah benar dia orang yang sama?” tanyanya ragu, matanya masih terpejam.

“Benar sekali. Kirana adalah wanita yang sama yang dulu didatangkan Mamamu untuk mengajarimu. Dia sangat menyayangimu saat itu, Nak. Bahkan setelah dia berhenti mengajar, dia masih sering menanyakan kabarmu kepada orang-orang di rumah. Ketika Mamamu sakit dan akhirnya pergi meninggalkan kita, dia yang diam-diam membantu Ayah mengurus beberapa hal di rumah, meskipun dia tidak berani mendekat karena kamu masih terlalu muda masih kekanak-kanakkan.”

Aditya mengelus puncak kepala putrinya. “Ketika Papa memutuskan untuk menikahinya enam tahun lalu, itu bukan hanya karena Papa jatuh cinta. Tapi juga karena Papa tahu hatinya yang baik, hatinya yang sudah lama mengenalmu. Dia tidak pernah datang untuk merebut apa pun darimu, Alina. Dia datang karena dia sudah mengenalmu sejak kamu masih kecil, dan dia ingin merawatmu sebaik mungkin.”

Alina tetap terdiam, matanya masih terpejam, mencoba menyatukan kenangan masa kecil yang kabur dengan sosok Kirana yang ia kenal selama ini. Ada perasaan aneh yang muncul di hatinya—rasa bingung, sedikit rasa terkejut, dan sebuah rasa penasaran yang perlahan tumbuh. Kenangan itu masih samar, seperti kabut yang belum hilang sepenuhnya, namun benih ingatan itu mulai tumbuh perlahan di sudut hatinya.

Bersambung...

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!