Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin...?
Hazel melangkah ragu mendekati meja dapur lalu mengambil dengan menu terbilang sederhana. Di tempat seperti ini, menu sederhana pun terasa seperti hidangan restoran bintang lima bagi lambungnya yang kosong. Setelah menyendok nasi dan lauk secukupnya ke atas piring aluminium, Hazel berbalik dan mencari tempat duduk.
"Dokter Hazel! Sini, Dok, masih muat satu orang!" seru Suster Rara dengan melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Hazel tersenyum lega lalu berjalan pelan dengan kondisi kaki agak pincang karena tumitnya yang lecet. Di sana sudah ada Dokter Tyas, Dokter Edo, Suster Nayla dan Suster Rara yang tampak asyik mengobrol.
"Wah, Dokter Hazel akhirnya bangun juga," goda Dokter Edo sambil terkekeh.
"Iya, Dokter Edo. Saya mungkin kelelahan makanya sampai tidur lama," jawab Hazel jujur sembari mendudukkan diri di ujung bangku kayu.
"Jangankan Dokter Hazel yang biasa di kota, saya saja yang dari daerah pegunungan rasanya mau copot ini betis," timpal Suster Nayla dan membuat yang lain tertawa.
Disaat mereka mengobrol, Dokter Tyas justru hanya diam dan enggan menanggapinya. Matanya berulang kali melirik ke arah pintu kantin, seolah sedang menunggu seseorang yang sangat penting.
"Tyas, kamu kenapa sih? Dari tadi gelisah gitu? makanannya sampai dicuekin," tanya Dokter Edo.
Dokter Tyas langsung menoleh dan merendahkan suaranya, setengah berbisik penuh semangat. "Kalian belum tahu ya? Tadi pagi-pagi, rombongan patroli perbatasan utara udah kembali ke pos! Artinya... Kapten Gavin yang kita bicarakan kemarin itu sekarang sudah ada di barak utama!" bisik Dokter Tyas.
"Bukannya katanya ada urusan lain? Kok bisa ikut rombongan patroli?" tanya Dokter Edo.
"Emang urusan lain, terus pulangnya bareng gitu," jawab Dokter Tyas.
"Serius, Dok?" tanya Suster Rara langsung menghentikan suapannya, matanya melebar antusias.
"Iya! Tadi saya dengar dari beberapa tentara, katanya siang ini Kapten Gavin mau mengecek logistik di kantin sekalian makan siang di sini. Makanya sekarang kantin ramai," ucap Dokter Tyas berapi-api, pipinya bahkan merona merah karena tidak sabar.
Hazel sendiri hanya menyimak obrolan itu sambil mengunyah makanan perlahan, ia tidak ingin tahu atau ikut campur dengan urusan lain selain tugasnya, ia hanya ingin segera menyelesaikan semua ini dan pulang.
Tiba-tiba, suasana kantin yang semula riuh rendah dengan tawa dan obrolan santai mendadak berubah menjadi sunyi senyap dalam hitungan detik, denting sendok yang beradu dengan piring aluminium langsung berhenti.
Dari arah pintu masuk kantin, terdengar suara langkah sepatu laras yang berat dan tegas di atas lantai papan. Di belakangnya, beberapa prajurit mengikuti dengan sikap tubuh tegap.
"SIAP, HORMAT, KAPTEN!" seru salah seorang sersan yang berdiri paling dekat dengan pintu dan langsung mengambil sikap sempurna.
Dalam sekejap, para prajurit yang tadinya duduk santai refleks bangkit berdiri dari bangku mereka dan memberikan penghormatan militer yang serempak dan berwibawa.
Hazel, Dokter Tyas dan seluruh tim medis ikut refleks menoleh ke arah pintu. Di mana, seorang pria melangkah masuk ke dalam kantin, pria itu mengenakan seragam lapangan lengkap dengan baret yang terpasang rapi di kepalanya. Di pundaknya, tersemat pangkat tiga balok emas menandakan posisinya sebagai seorang Kapten.
Tubuh Pria itu tinggi besar, tegap dengan kulit yang terpanggang matahari, memancarkan aura ketegasan dan otoritas yang sangat kuat. Rahangnya tegas, hidungnya mancung dan tatapan matanya tajam bak elang, dingin tanpa ekspresi.
"Silakan dilanjutkan makan siangnya," terdengar suara bariton yang berat dan berwibawa memecah keheningan.
"SIAP, TERIMA KASIH, KAPTEN!" jawab para prajurit serempak sebelum kembali duduk di tempat masing-masing.
Suasana kantin kembali seperti semula, namun kali ini dengan volume yang jauh lebih pelan karena segan dengan kehadiran sang kapten.
Di meja tim medis, Dokter Tyas hampir saja memekik pelan kalau tidak segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Astaga... demi apa, ganteng banget asli! Itu karismanya nggak main-main!" bisik Dokter Tyas dengan mata berbinar-binar dan menyenggol lengan Suster Rara.
Namun, berbeda dengan rekan-rekannya yang sibuk mengagumi ketampanan sang kapten, tubuh Hazel justru mendadak kaku dan membeku di tempatnya duduk, bahkan piring aluminium yang dipegangnya bergetar.
Hazel menatap pria di depan sana tanpa berkedip, napasnya seolah tertahan di tenggorokan dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.
Sorot mata itu, meskipun kini tampak jauh lebih dewasa, lebih tegas dan dipenuhi aura yang mengintimidasi, Hazel tidak akan pernah bisa melupakannya. Pria itu adalah Gavin Andrean, pria yang dulu mengenalkan dunia yang penuh warna pada Hazel, pria itu kini berdiri tegak sebagai seorang perwira tinggi militer yang dihormati semua orang.
'Gavin...?' batin Hazel menjerit parau.
Air mata yang sudah bertahun-tahun tidak pernah mengalir untuk urusan cinta, mendadak terasa menggenang di sudut kelopak matanya. Kenangan masa lalu, tawa mereka di atas motor tua, janji-janji manis di bawah rintik hujan, semuanya berputar cepat di kepala Hazel seperti rol film yang rusak.
Seolah bisa merasakan tatapan intens yang menghujam ke arahnya, Gavin perlahan memutar tubuhnya. Sepasang mata tajam bak elang itu bergerak menyapu sudut kantin, hingga akhirnya berhenti tepat pada sosok Hazel yang duduk bersila di ujung bangku kayu.
Pandangan mereka bertemu di udara, Hazel menahan napas dan menanti reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh pria itu. Mungkin Gavin akan terkejut, marah atau justru langsung menghampirinya untuk menuntut penjelasan tentang kepergiannya yang tiba-tiba dulu.
Namun, dugaan Hazel meleset total. Wajah Gavin tetap datar, sedatar dinding batu. Tidak ada binar keterkejutan, tidak ada kilat kemarahan, bahkan tidak ada sedikit pun tanda bahwa ia mengenali Hazel. Tatapan matanya yang dingin hanya melewati wajah Hazel begitu saja selama dua detik, seolah Hazel hanyalah salah satu dari sekian banyak staf medis asing yang baru datang dari kota.
Setelah itu, Gavin memalingkan wajahnya kembali dan melanjutkan langkahnya menuju meja logistik di sudut kantin sembari mendengarkan laporan dari salah satu tentara yang berjalan di sampingnya. Pria itu benar-benar mampu menyembunyikan raut wajahnya dengan sangat sempurna, terlatih sebagai seorang prajurit yang tidak boleh menunjukkan emosi di depan umum.
Hazel menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap nasi di piringnya yang mendadak terasa hambar. Dadanya terasa sesak, jauh lebih sesak daripada saat ia ditampar oleh Ibunya. Rasa perih kembali menjalar, bukan di tumit atau telapak tangannya, melainkan di dalam hatinya yang paling dalam. Pria itu ada di sini, sangat dekat dengannya, namun terasa ribuan kilometer jauhnya.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak