NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 SEBUAH PERTEMUAN (Bagian Keempat)

Zaki hanya bisa duduk diam dengan sedikit tegang ekpresi wajahnya, saat menyadari bahwa perewangan si wanita (yang ternyata bernama Nisa) di hadapannya itu hadir saat Sekar Mayang berbuat jahil padanya.

Dan, Zaki yang saat itu juga melihat perewangannya berhadapan langsung dengan perewangan Nisa, masih bisa bersikap tenang. Tak ada kepanikan. Tak ada degup jantung yang lebih cepat. Tak ada gerakan tubuhnya yang tiba-tiba. Menandakan bahwa tingkat kemampuan ghoib Zaki mungkin berbeda dengan kemampuan ghoib Nisa.

Hanya saja, wajahnya sedikit tegang. Bukan karena panik atau takut, melainkan ada rasa malu, kesal, dan juga kaget karena jahilnya Sekar Mayang yang menjatuhkan tiket Nisa di hadapannya. Dan hal itu langsung mengundang Dayang Putri untuk hadir.

Zaki mencoba duduk lebih santai dan rileks. Dia kembali sandarkan punggungnya ke bangku. Dan sedikit menunduk, memandang ke arah tiket Nisa yang jatuh tepat di depan ke dua kakinya itu.

Dan, dengan tenang, ia ambil tiket itu. Memegangnya dengan tangan kanan, lalu tanpa memandang ke arah Dayang Putri maupun Sekar Mayang, Zaki berkata dengan sopan,

"Saya minta maaf ya, bukan atas perintah saya dia jahil seperti ini kepada si Mbak itu..." maksud dari ucapan Zaki tentu mengarah kepada kelakuan Sekar Mayang.

Tak ada jawaban apapun dari Dayang Putri atas permintaan maafnya.

"Saya minta maaf sekali lagi... Dayang Putri..." tambahnya kemudian masih dalam keadaan tertunduk pandangannya, hanya memandang ke arah tiket milik Nisa di tangan kanannya itu.

Dan, seperti ketika sebelum Zaki menaiki kereta, terlihat kedua bibirnya yang agak tipis itu berkomat-kamit pelan, nyaris tanpa suara. Seperti merapalkan sebuah mantra khusus ketika dirinya sedang dalam kondisi tak terduga seperti sekarang.

Lalu, secara perlahan, aura serta energi kuat dari Sekar Mayang dan Dayang Putri memudar, dua sosok perewangan itu pun menghilang. Seiring dengan cahaya matahari yang berganti dengan gelapnya malam di luar kereta, suasana di bangku E-13 dan E-14 kembali normal.

Sekarang, kembali hanya berdua saja. Zaki yang tenang sambil memandang ke arah luar jendela gerbong menikmati pemandangan malam sepanjang jalur kereta, dan Nisa yang masih saja tertidur dengan lelapnya.

Tiket milik Nisa masih dipegang ditangannya, dia lihat dengan seksama tiket itu. Di bawah sinar lampu dalam gerbong, tertulis dengan jelas tujuan akhir dari wanita manis di hadapannya itu.

"Kediri ya Mbak Nisa tujuanmu?" gumamnya dalam hati.

Sedetik kemudian, dia pandang lagi wajah manis Nisa. Dan kemudian Zaki kembali tersenyum.

"Ternyata kamu bukan orang sembarangan ya Mbak Nisa..." tambahnya dalam hati.

Sejenak, ada rasa syukur dalam diri Zaki. Ternyata memang ada seseorang yang punya kemampuan sama seperti dirinya. Bahkan secara jelas, apa yang dia alami barusan, melihat Sekar Mayang sebagai perewangannya dan Dayang Putri sebagai perewangan Nisa bertemu secara langsung.

Tapi ada juga pertanyaan yang muncul kemudian di dalam pikiran Zaki...

Sekar Mayang sudah mengenal Dayang Putri sejak lama?

Mengapa aura dan energi kedua-duanya terasa berimbang?

Mengapa Sekar Mayang tampak senang saat melihat Dayang Putri?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain mulai mengganggu pikirannya sendiri. Terus saja Zaki mencoba menerka atas semua kemungkinan jawaban dari semua pertanyaan itu, sambil melamun sejenak memandang ke luar jendela gerbong, dan sesekali melirik wajah Nisa.

--------------------

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🚂🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃

--------------------

Singkat cerita, laju kereta api ini mulai melambat...

Menandakan bahwa mungkin akan tiba di sebuah stasiun di tengah perjalanannya itu...

Dan benar saja, tak selang lama, laju kereta benar-benar berhenti di sebuah stasiun kecil, tapi masih cukup ramai dengan penumpang.

Zaki tampak mengambil sebotol minuman, lalu segera meminumnya sampai habis. Dan dia merasa ingin turun dari gerbong untuk menikmati suasana malam di stasiun kecil itu. Sambil meregangkan sendi-sendinya yang mulai sedikit pegal.

Dan tentunya juga, untuk menetralisir energi dari pertemuan dua sosok perewangan tadi di tubuhnya.

Ditaruhnya tiket Nisa dalam kantong baju bagian depan. Kemudian dia segera berdiri. Sejenak ia kembali melihat Nisa, yang kali ini mulai ada pergerakan, menandakan bahwa dirinya mungkin sebentar lagi akan terbangun dari tidur lelapnya itu.

"Apa aku bangunin sekarang aja ya? Atau..." gumamnya sambil berpikir.

"Ah, nanti aja deh aku kasih tiketnya kalo dia udah bangun." ucapnya dalam hati.

Zaki merapikan tas biru tua miliknya di atas bangku E-14, kemudian berjalan menuju pintu gerbong, lalu turun.

Dia langsung menghirup dalam-dalam udara yang cukup terasa sejuk malam ini. Bercampur dengan beberapa aroma makanan siap saji dari food court yang menyediakan makanan untuk para penumpang.

Tampak dia mengobrol sedikit dengan beberapa penumpang lain yang ikut turun, saling bertanya nama, asal, dan tujuan mereka masing-masing. Tampak juga beberapa kali canda tawa di antara mereka, mencoba menikmati suasana perjalanan dengan beberapa humor receh.

Selang beberapa menit kemudian, petugas stasiun melalui pengeras suara memberikan pengumuman bahwa kereta yang dinaiki Zaki itu akan melanjutkan perjalanannya dalam lima menit. Dan itu membuat Zaki beserta penumpang lain yang turun sebentar, mulai bersiap untuk memasuki gerbongnya masing-masing.

Ketika Zaki sudah naik lagi, langkahnya terhenti tepat di depan pintu penghubung antar gerbong yang ada di belakangnya. Ke dua matanya melihat ke arah kursi yang menjadi tempat duduknya itu.

Ternyata, Nisa sudah bangun tadi tidurnya. Dan tampak ia sedang berbicara dengan petugas pemeriksa tiket kereta.

Tapi, tampak kebingungan Nisa, atau lebih tepatnya terlihat sedikit panik. Dengan gestur berbicara yang sedikit memohon kepada sang petugas pemeriksa tiket itu.

"Wah, jangan-jangan..." gumam Zaki dalam hati.

Sejurus kemudian, ia melangkah dengan segera. Dan ketika sudah sampai di hadapan sang petugas pemeriksa tiket tersebut, Zaki langsung berbasa-basi sebentar.

"Maaf Pak, ada apa ya?" tanya Zaki pada sang petugas.

"Ini Pak, si Mbak penumpang ini tidak memiliki tiket. Jadi saya minta untuk turun dan beli tiket baru." jawab sang petugas. Dan Zaki melirik sebentar ke arah Nisa, ternyata benar dirinya tampak bingung dan panik karena tiketnya tidak bisa ia temukan.

Mendengar jawaban itu, Zaki merespon, "Oh gitu, sebentar..."

Zaki langsung merogoh kantong bajunya itu, di mana memang dirinya lah yang menyimpan tiketnya Nisa. Dengan segala rahasia ghoib yang terjadi sebelumnya.

Langsung saja disodorkan tiket itu kepada Nisa, "Tiket ini punya Mbak?"

Spontan Nisa langsung menerimanya, dan dengan seksama memeriksa apakah benar itu tiket miliknya. Sambil terus ditunggui oleh sang petugas.

"Eh, iya Mas, ini tiket saya. Ya Alloh, terima kasih ya Mas, terima kasih." jawab Nisa dengan ekspresi wajah yang tersenyum lebar dan langsung tampak tenang.

Seketika itu juga, tatapan mata Zaki menjadi seperti terpaku menatapnya. Sedikit tergambar senyuman kecil di bibirnya yang tipis itu. Seolah merasakan juga ketenangan yang ada di hati Nisa.

Dan dengan segera sang petugas bicara, "Boleh saya periksa tiketnya Mbak?"

"Iya Mas, silahkan..." jawab Nisa.

Beberapa saat, akhirnya sang petugas memberikan tanda dengan pulpen yang ia bawa bahwa tiketnya itu memang benar dan asli milik Nisa. Tampak setelahnya sang petugas menasihati Nisa supaya tidak ceroboh meninggalkan tiket atau barang-barangnya.

Padahal, dalam hati Zaki berkata, "Duh, maafin aku ya Mbak. Seandainya kamu tau tiket itu jatuh karena ulah perewanganku, entah apa reaksimu sekarang..."

Kemudian sang petugas melanjutkan tugasnya memeriksa tiket penumpang lain.

Belum sempat Zaki duduk, Nisa segera berkata lagi padanya, "Alhamdulillah, Ya Alloooh... Terima kasih ya Mas udah balikin tiket saya."

Sedetik kemudian, Zaki terkejut dalam hati, "Apa jangan-jangan perewangannya udah kasih tau ya? Kok dia sampe bilang gitu?"

Tapi, ia segera berusaha bersikap santai dan biasa saja, lalu merespon ucapan terima kasih dari Nisa dengan senyuman, "Iya Mbak Nisa, sama-sama..."

Lantas, Zaki pun segera duduk di bangku yang sudah jadi tempatnya, bahkan saat Nisa masih terlelap tidur.

"Loh, Mas duduk di sini juga?" tanya Nisa.

"Em, iya Mbak, saya duduk di sini." sambil Zaki menggeser sedikit tas biru tua miliknya itu.

Entah ada rasa canggung atau tak enak hati atas kejadian yang membuat tiket wanita di hadapannya itu jatuh, Zaki tak berani menatap wajahnya. Justru dirinya malah sok sibuk merapikan barang-barang di dalam tas nya. Padahal sedari tadi juga memang selalu rapi. Tak ada yang berantakan.

Sambil kembali terulang dalam hatinya, "Aduh... Perewangannya udah kasih tau dia belom ya? Kalo udah, wah... Malu banget aku... Lagian, Sekar Mayang ada-ada aja sih kelakuannya."

Dan, Zaki sedetik kemudian merasa kalau dirinya sedang diperhatikan oleh wanita manis di hadapannya itu, mulai sedikit berdegup lebih cepat jantungnya, dan ia memberanikan diri untuk melihat ke arah Nisa.

Dan ternyata benar saja, sedari tadi Nisa terus memperhatikannya. Dengan wajahnya yang tampak sedikit malu-malu, atau lebih tepatnya terpesona dengan Zaki.

Tapi Zaki tetap tenang, dan tetap bersikap biasa saja...

Dan akhirnya Zaki hanya bisa membalas tatapan Nisa dengan sebuah senyuman manis dari bibirnya...

🤭🤭🤭

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!