Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi pertama setelah Arkana tinggal di rumah itu dimulai jauh lebih awal dari biasanya. Saat langit masih gelap dan sebagian penghuni rumah masih terlelap, lampu dapur sudah menyala. Arkana berdiri di depan meja dapur sambil memegang ponsel. Di layar ponselnya terdapat catatan yang ia buat sendiri setelah diam-diam mencari tahu berbagai hal tentang kedua anaknya.
Arkana mencatat makanan kesukaan Anaya, makanan favorit Abinaya, sampai makanan yang tidak mereka sukai. Semua informasi itu ia dapatkan dari Mbok Sari dan beberapa pegawai yang sudah lama bekerja di rumah Kanaya.
Arkana tersenyum kecil saat membaca ulang catatan itu.
"Lima tahun terlambat mengenal mereka," gumamnya pelan. "Tapi aku akan mulai dari sekarang."
Tak lama kemudian suara langkah kaki kecil terdengar dari arah belakang. "Ayah lagi ngapain?"
Arkana menoleh dan mendapati Anaya berdiri di ambang pintu sambil memeluk boneka kelincinya. Rambut gadis kecil itu masih berantakan karena baru bangun tidur.
"Ayah lagi bikin sarapan."
Mata Anaya langsung membulat. "Sendiri?"
"Iya," balas Arkana sambil mengusap pipi chubby putrinya.
"Memangnya Ayah bisa masak?" tanya Anaya meragukan.
Pertanyaan polos itu membuat Arkana tertawa. "Memangnya kenapa?"
"Soalnya Om Shaka pernah bilang kalau masak itu ilmu tingkat tinggi," jelas gadis kecil itu memberi tahu.
Arkana terkekeh. "Itu Om Shaka yang enggak bisa masak."
Anaya ikut tertawa. "Kalau masakan Ayah gosong gimana?"
"Berarti kita sarapan roti," ucap Arkana tersenyum lebar.
"Kalau gosong semua?" tanya Anaya lagi.
"Ya kita pesan makanan," jawab Arkana dengan santainya.
Anaya tertawa semakin keras. "Ayah ada-ada aja. Ya, kita suruh Bunda buat masak, dong!"
Arkana tersenyum kecil. Sudah lama sekali dia tidak menikmati makanan buatan Kanaya. Dia jadi rindu dengan masakan wanita itu.
Tak lama kemudian aroma nasi goreng mulai memenuhi dapur. Anaya duduk di kursi sambil memperhatikan setiap gerakan ayahnya.
"Itu kecapnya kebanyakan, Ayah," kata Anaya ketika melihat warna nasinya terlalu cokelat.
"Oh, ya?" Arkana tidak tahu takaran, memasak hanya mengikuti feeling-nya saja.
"Iya." Walau begitu Anaya langsung memakannya.
"Kamu kok tahu?" tanya Arkana sambil memerhatikan putri kecilnya makan.
"Aku sering lihat Bunda masak," jawab Anaya dengan nada ceria.
Arkana tersenyum. Lagi-lagi ia sadar bahwa selama lima tahun terakhir, semua pengalaman yang seharusnya ia lalui bersama anak-anaknya sudah lebih dulu diisi oleh Kanaya seorang diri.
Saat sarapan dimulai, suasana meja makan terasa berbeda. Anaya makan dengan lahap sambil terus memuji masakan ayahnya.
"Bunda, nasi goreng buatan Ayah enak!"
Kanaya mencicipi sedikit. Setelah beberapa detik, ia mengangguk pelan. "Masih layak dimakan."
Jawaban itu membuat Anaya tertawa.
Sedangkan Arkana hanya bisa tersenyum pasrah. "Terima kasih atas pujiannya."
Kanaya tidak menjawab. Namun, setidaknya kali ini ia tidak mengkritik.
Di sisi lain, Abinaya makan dengan tenang. Anak laki-laki itu sesekali melirik Arkana, lalu kembali fokus pada piringnya. Meski masih menjaga jarak, setidaknya ia tidak lagi menunjukkan penolakan terang-terangan seperti kemarin.
Matahari baru naik ketika sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah. Dari dalam mobil turun Bu Winda dan Aruna. Gadis itu masih berjalan sedikit hati-hati karena kakinya belum benar-benar pulih dari cedera yang dialaminya beberapa hari lalu.
Begitu bel rumah berbunyi, Anaya yang sedang bermain balok di ruang keluarga langsung berlari ke arah jendela. Matanya membulat penuh semangat.
"Oma datang!" seru Anaya nyaring.
Abinaya yang sedang duduk membaca buku ikut menoleh. Wajahnya langsung berbinar ketika melihat Bu Winda melambaikan tangan dari luar pagar.
Tak lama kemudian pintu dibuka. "Assalamualaikum!" sapa Bu Winda dengan senyum lebar.
"Waalaikumsalam!" jawab Anaya sambil berlari memeluk pinggang wanita itu.
Bu Winda tertawa bahagia. Ia mengusap kepala cucunya berkali-kali. "Ya ampun, baru sehari tidak bertemu, Oma sudah kangen."
"Aya juga kangen, Oma!"
Di belakang Bu Winda, Aruna berdiri sambil memperhatikan kedua anak kecil yang kemarin hanya ia lihat dari foto dan video yang dikirim ibunya.
"Jadi ini keponakan-keponakanku yang terkenal itu?" tanyanya sambil tersenyum.
Anaya langsung mendongak. "Kakak cantik ini siapa?"
Aruna tertawa geli. "Aku bukan kakak. Aku tante."
Anaya mengernyit lalu memperhatikan wajah Aruna dari atas sampai bawah. "Tapi, Tante kok masih muda."
Ucapan polos itu membuat semua orang tertawa.
"Kalau begitu panggil Tante Aruna saja," kata Aruna gemas.
"Baik, Tante Aruna!" seru Anaya ceria.
Abinaya yang biasanya lebih pendiam ikut menghampiri. Dia kemudian mencium tangan Aruna. "Halo, Tante. Senang bisa bertemu."
Aruna tersenyum semakin lebar. "Halo juga, Abi. Masya Allah, sopan sekali."
Dalam waktu singkat suasana menjadi akrab. Anaya tanpa malu-malu menarik tangan Aruna masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Tante main sama Aya!" Anaya berlari.
"Main apa?" tanya Aruna melangkah cepat mengimbangi lari sang keponakan.
"Banyak! Aya punya mainan, punya buku gambar, punya eksperimen juga."
Aruna tertawa. Dia pasrah mengikuti langkah kecil keponakannya itu. Tak sampai beberapa menit, Anaya sudah bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, video-video yang dibuat bersama Om Shaka, sampai cita-citanya yang berubah hampir setiap minggu.
Sementara itu Abinaya duduk di dekat mereka sambil mendengarkan. Awalnya ia hanya mengamati, tetapi lama-kelamaan ikut terlibat dalam percakapan. Apalagi ketika Aruna mulai menceritakan masa kecil Arkana.
"Dulu Ayah kalian itu sering dimarahi Oma," ujar Aruna.
Anaya langsung menoleh. "Kenapa?"
"Soalnya suka memanjat pohon mangga."
"Masa?" Anaya seperti tak percaya.
"Iya."
"Tidak takut jatuh?" tanya Anaya.
"Pernah jatuh," jawab Aruna terkekeh
Anaya menutup mulutnya. "Habis itu nangis?"
Aruna mengangguk mantap. "Nangisnya sangat keras."
"Ayah suka nangis keras kayak Aya?" tanya Anaya sambil menoleh ke arah Arkana yang sedang duduk di ruang tengah.
Arkana yang baru saja minum teh hampir tersedak. "Aruna!"
Semua orang langsung tertawa.
Menjelang siang, mereka berkumpul di ruang keluarga. Kanaya menyiapkan teh hangat, jus buah, dan beberapa camilan sederhana di atas meja.
Aruna yang sejak tadi menyimpan rasa penasaran akhirnya membuka suara. "Kak Kanaya, boleh aku tanya sesuatu?"
Kanaya mengangguk. "Tentu."
Aruna melirik sekilas ke arah Arkana sebelum kembali menatap Kanaya. "Sebenarnya kenapa dulu Kak Arka dan Kak Kanaya menikah diam-diam? Kenapa keluarga tidak diberi tahu?"
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit berubah.