NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genderang Perang Media

Matahari pagi belum sepenuhnya naik di atas langit Jakarta, namun atmosfer di dalam ruang rapat utama Dirgantara Tower sudah terasa sepanas bara api. Rendra berjalan mondar-mandi di depan meja panjang berbahan kaca tempered, ponselnya tak henti-hentinya bergetar dan berdering dari tadi. Di layar televisi layar datar yang terpasang di dinding, running text dari stasiun berita bisnis terus menampilkan grafik merah—saham Dirgantara Group anjlok tajam hingga tujuh persen dalam pembukaan pasar sesi pertama akibat rumor suap yang disebarkan oleh jaringan Rendy Baskoro semalam.

Sementara itu, Adrian Dirgantara duduk tenang di kursi kebesarannya di ujung meja. Ia sama sekali tidak menyentuh cangkir espresso yang sudah mendingin di hadapannya. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap dari wol Italia, kemeja putih yang disetrika sempurna, dan jam tangan kronograf mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya sedingin es wall, seolah badai finansial yang sedang mengancam takhtanya hanyalah angin lalu.

"Adrian, tim humas kita sudah tidak bisa menahan gelombang telepon dari para jurnalis!" Rendra akhirnya menghentikan langkahnya, menatap sahabatnya itu dengan frustrasi yang memuncak. "Beberapa investor utama dari Singapura juga mulai menuntut penjelasan mengenai proyek pelabuhan baru. Jika kita tidak memberikan klarifikasi yang kuat dalam konferensi pers dua jam lagi, posisimu di dewan direksi bisa digoyang oleh pamanmu sendiri!"

Adrian mengangkat pandangannya secara perlahan. Sorot mata elangnya tetap tenang, memancarkan kalkulasi yang matang. "Biarkan paman saya bermimpi untuk mengambil kursi ini, Rendra. Dia tidak akan pernah bisa," jawab Adrian, suaranya bariton dan stabil. "Bagaimana dengan persiapan berkas yang aku minta?"

Rendra menghela napas panjang, mencoba menekan kepanikannya. Ia melangkah mendekati Adrian dan meletakkan sebuah map kulit hitam tebal beserta sebuah diska lepas (*flashdisk*) terenkripsi di atas meja. "Semua sudah siap. Tim IT dan investigasi swasta kita bekerja semalaman suntuk. Di dalam sini ada seluruh bukti aliran dana ilegal milik Baskoro Logistics, rekaman kesaksian dari perawat di sanatorium Lisa Amelia, hingga foto-foto forensik digital dari memar di tubuh Kirana yang diambil oleh tim medis kita semalam."

Adrian mengusap permukaan *flashdisk* tersebut dengan ujung jarinya. "Bagus. Rendy Baskoro mengira dia bisa menyerang benteng bisnisku untuk membuatku mundur dan melepaskan Kirana. Dia lupa bahwa Dirgantara Group dibangun bukan dari sekadar uang, melainkan dari fondasi kekuasaan yang tidak bisa diruntuhkan oleh pengusaha logistik kelas teri seperti dia."

Adrian bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya dengan satu gerakan tegas. "Rendra, pastikan keamanan di apartemen Menteng dilipatgandakan menjadi tiga lapis selama aku berada di ruang konferensi pers. Tempatkan dua pengawal bersenjata di depan pintu unit, dan pastikan Kirana tidak menyalakan televisi atau mengakses media sosial hari ini. Aku tidak ingin dia stres melihat namanya diseret-seret oleh media."

"Sudah saya laksanakan sejak subuh tadi, Adrian. Kirana saat ini didampingi oleh Dr. Elena, psikolog kepercayaan kita, untuk membantunya menghadapi trauma," sahut Rendra.

"Baik. Mari kita temui para kuli tinta itu," ucap Adrian dengan senyuman dingin yang mengerikan terukir di bibirnya.

---

Sementara itu, di apartemen penthouse Menteng, suasana terasa begitu sunyi dan terisolasi. Kirana duduk di tepi ranjang kamarnya yang luas, menatap kosong ke arah jendela yang menyajikan pemandangan kota Jakarta yang mulai sibuk. Di atas meja nakas di sampingnya, sebuah nampan berisi sarapan bubur gandum dan buah-buahan segar hampir tidak tersentuh sama sekali.

Di dekat pintu kamar, seorang wanita paruh baya dengan pakaian kasual yang rapi dan kacamata berbingkai tipis—Dr. Elena—duduk dengan tenang sambil memegang sebuah catatan kecil. Ia tidak memaksa Kirana untuk berbicara, ia hanya memberikan ruang aman bagi wanita yang sedang terguncang itu.

"Ibu Kirana," panggil Dr. Elena dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan. "Jika ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan, atau jika Anda hanya ingin menangis, silakan. Anda tidak perlu menahan semuanya sendirian di tempat ini. Anda sudah aman sekarang."

Kirana perlahan menoleh, matanya yang sayu menatap Dr. Elena dengan pandangan yang kosong namun sarat akan kepedihan. "Apakah aku benar-benar aman, Dok? Ataukah aku hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lain?"

Dr. Elena tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya perlahan. "Pak Adrian tidak mengurung Anda, Ibu Kirana. Beliau menempatkan Anda di sini karena beliau sangat peduli pada keselamatan Anda. Perbedaan antara sangkar dan tempat perlindungan adalah... di sini, Anda memiliki kendali penuh atas diri Anda sendiri. Pintu ini tidak dikunci dari luar. Anda bebas untuk melangkah keluar jika Anda sudah merasa siap secara mental."

Kirana menundukkan kepalanya, menatap kedua telapak tangannya yang saling bertautan di atas pangkuannya. Kalimat psikolog itu ada benarnya. Sejak kemarin, Adrian tidak pernah memaksanya untuk melakukan apa pun. Pria itu bahkan tidak berani menyentuhnya tanpa izin terlebih dahulu. Kontras yang luar biasa jika dibandingkan dengan Rendy, yang menganggap tubuh dan jiwa Kirana sebagai barang milik pribadi yang bisa diperlakukan sesuka hati.

Namun, ketakutan di dalam diri Kirana tidak bisa hilang begitu saja. Pikiran manipulatif Rendy selama empat bulan terakhir telah tertanam kuat di kepalanya bak racun yang menggerogoti logika. *“Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku, Kirana. Ke mana pun kamu pergi, aku akan menemukanmu dan menghancurkan siapa pun yang berani menyembunyikanmu.”* Ancaman Rendy itu terus terngiang-ngiang di telinganya setiap kali keheningan melanda.

"Aku takut, Dok..." bisik Kirana, sebutir air mata kembali meluncur membasahi pipinya yang pucat. "Aku takut Mas Adrian akan hancur karena membela wanita tidak berguna seperti aku. Rendy sangat licik. Dia bisa melakukan apa saja."

Dr. Elena bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menghampiri Kirana dan duduk di sampingnya tanpa melanggar batas kenyamanan pasiennya. Ia menyerahkan selembar tisu bersih kepada Kirana. "Pak Adrian adalah seorang pria yang sangat kuat, Ibu Kirana. Dari apa yang saya lihat, motivasi terbesar beliau saat ini bukanlah tentang bisnis atau reputasinya, melainkan tentang menebus kesalahan masa lalunya kepada Anda. Biarkan dia berjuang untukmu. Tugas Anda sekarang hanyalah satu: menyembuhkan diri Anda sendiri dan bertahan."

Kirana menerima tisu itu, mengusap air matanya perlahan. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah doa tulus mengalir untuk keselamatan Adrian—pria yang dulu pernah ia benci karena sikap dinginnya, namun kini menjadi satu-satunya pahlawan yang mempertaruhkan segalanya demi mengeluarkannya dari neraka.

---

Tepat pukul sepuluh pagi, ruang auditorium utama Dirgantara Tower sudah dipenuhi oleh ratusan jurnalis dari berbagai media cetak, elektronik, dan portal berita daring. Kilatan lampu kilat (*flash*) kamera tak henti-hentinya menyambar panggung utama yang masih kosong. Bisik-bisik spekulasi mengenai kejatuhan Dirgantara Group terdengar riuh di setiap sudut ruangan.

Pintu samping panggung terbuka, dan suasana mendadak senyap seketika saat Adrian Dirgantara melangkah masuk dengan wibawa yang luar biasa dominan. Di belakangnya, Rendra dan tim hukum senior yang terdiri dari lima pengacara papan atas Jakarta mengikuti dengan langkah tegap. Adrian berjalan langsung menuju podium utama, menatap lurus ke arah puluhan lensa kamera yang membidiknya.

Tanpa basa-basi atau senyuman formalitas, Adrian menyesuaikan mikrofon di depannya. Suara baritonnya yang berat segera menggema di seluruh ruangan, memutus semua keraguan yang ada di udara.

"Selamat pagi rekan-rekan media dan seluruh pemegang saham Dirgantara Group," buka Adrian, nadanya sangat dingin dan tegas. "Saya berdiri di sini hari ini untuk menanggapi rumor dan fitnah tidak berdasar yang disebarkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab mengenai proyek pelabuhan baru kementerian perdagangan dalam waktu dua puluh empat jam terakhir."

Adrian memberi isyarat dengan tangan kirinya, dan layar proyektor raksasa di belakang panggung langsung menyala, menampilkan dokumen-dokumen audit keuangan independen serta surat keputusan resmi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyatakan bahwa proses tender yang diikuti oleh Dirgantara Group adalah seratus persen bersih dan transparan.

"Dirgantara Group tidak pernah, dan tidak akan pernah membutuhkan cara-cara kotor seperti suap untuk memenangkan sebuah proyek. Reputasi kami selama tiga generasi adalah buktinya," tegas Adrian, membuat beberapa jurnalis langsung sibuk mencatat dan mengetik di laptop mereka.

Namun, Adrian tidak berhenti di situ. Sorot matanya berubah menjadi semakin tajam dan berbahaya, mengunci perhatian seluruh ruangan.

"Namun, hari ini saya tidak hanya ingin membersihkan nama baik perusahaan saya. Saya ingin membongkar dalang asli di balik serangan fitnah ini. Seseorang yang menggunakan isu bisnis untuk menutupi kejahatan kriminal personalnya yang sangat menjijikkan," ujar Adrian, membuat suasana auditorium mendadak menjadi sangat tegang. Para jurnalis saling berpandangan, menyadari bahwa ada skandal yang jauh lebih besar yang siap meledak.

Adrian menekan tombol remote di tangannya. Tampilan di layar proyektor langsung berubah. Kali ini, yang muncul adalah foto profil Rendy Baskoro, CEO dari Baskoro Logistics, bersanding dengan dokumen-dokumen resmi kepolisian, rekaman medis, serta foto-foto bukti kekerasan fisik.

"Pria di layar ini, Rendy Baskoro, adalah dalang di balik penyebaran rumor palsu terhadap perusahaan saya," kata Adrian, suaranya terdengar bagai palu hakim yang menjatuhkan vonis. "Dia menyerang saya karena saya telah menyelamatkan seorang wanita—yang merupakan istri sahnya saat ini, sekaligus mantan istri saya, Kirana Larasati—dari tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang sangat ekstrem, penyekapan, dan percobaan pembunuhan karakter psikologis yang dia lakukan selama empat bulan terakhir."

*Keriuhan langsung pecah di dalam ruangan.* Suara jepretan kamera meningkat sepuluh kali lipat. Para jurnalis berebut untuk maju ke depan panggung, mengacungkan perekam suara mereka tinggi-tinggi. Skandal KDRT yang melibatkan dua pengusaha papan atas Jakarta adalah berita terbesar tahun ini.

"Pak Adrian! Apakah Anda memiliki bukti valid atas tuduhan luar biasa ini?!" teriak salah seorang jurnalis dari barisan depan.

Adrian tidak gentar. "Semua bukti fisik, hasil visum rumah sakit kepolisian, serta rekaman CCTV rumah yang sempat dihancurkan oleh sistem pintar milik Rendy Baskoro namun berhasil dipulihkan oleh tim IT kami, telah resmi kami serahkan kepada Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia subuh tadi. Tidak hanya itu..."

Adrian mengganti slide proyektor, menampilkan dokumen lama dari sebuah sanatorium di Jawa Barat mengenai Lisa Amelia. "Kami juga membuka kembali kasus tiga tahun lalu mengenai mantan tunangan Rendy Baskoro, Lisa Amelia, yang secara sistematis dihancurkan mentalnya hingga mengalami gangguan jiwa berat oleh pria yang sama dengan metode manipulasi psikologis yang serupa. Rendy Baskoro bukan hanya seorang pengusaha, dia adalah seorang predator domestik yang berlindung di balik topeng kedermawanan publiknya."

Adrian mencengkeram sisi podium, menatap lurus ke arah salah satu kamera televisi yang sedang menyiarkan acara ini secara langsung (*live*). Ia tahu betul, Rendy pasti sedang menontonnya saat ini.

"Saya, Adrian Dirgantara, menyatakan perang terbuka secara hukum, bisnis, dan sosial terhadap Rendy Baskoro. Saya tidak akan mundur satu langkah pun sampai pria itu mendekam di balik jeruji besi yang paling dalam, dan sampai keadilan untuk Kirana Larasati serta korban-korban lainnya ditegakkan seadil-adilnya. Terima kasih. Konferensi pers selesai," tutup Adrian dengan mutlak.

Ia langsung berbalik dan melangkah meninggalkan panggung tanpa memedulikan rentetan pertanyaan lanjutan dari para jurnalis yang histeris berteriak memanggil namanya. Rendra dan tim hukum segera membuat barikade, menutup akses panggung dengan rapat.

---

Di saat yang sama, di dalam ruang VIP sebuah vila pribadi di kawasan Puncak yang menjadi tempat persembunyian sementaranya, Rendy Baskoro menyaksikan seluruh jalannya konferensi pers tersebut melalui layar televisi berukuran besar.

Wajah Rendy yang biasanya tampak ramah dan penuh senyuman kini benar-benar telah berubah menjadi monster yang mengerikan. Rahangnya bergetar hebat menahan amarah yang luar biasa, urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol kemerahan, sementara sepasang matanya melotot tajam penuh dengan kabut kegilaan.

*PRANGGG!*

Rendy melemparkan gelas kristal berisi wiski mahal di tangannya ke arah layar televisi, membuatnya hancur berantakan dan mati seketika dalam letupan arus pendek.

"ADRIAN DIRGANTARAAA!!!" raung Rendy dengan suara melengking yang mengerikan, menggema di seluruh penjuru vila yang sepi. Pria itu mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan, mondar-mandir seperti binatang buas yang terperangkap di dalam kandang.

Topeng kesempurnaan yang ia bangun dengan sangat rapi selama bertahun-tahun di mata publik, kolega bisnis, dan media kini telah dihancurkan berkeping-keping oleh Adrian hanya dalam waktu tiga puluh menit di depan seluruh masyarakat Indonesia. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tak henti-hentinya bergetar—panggilan dari dewan komisaris Baskoro Logistics, para pengacara, dan relasi politiknya yang panik menuntut penjelasan. Rendy tahu, dalam beberapa jam ke depan, surat perintah penangkapan dari Mabes Polri pasti akan diterbitkan atas namanya.

Sekretaris pribadinya, pria paruh baya berpakaian safari hitam yang bernama satria, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang sangat tegang dan panik. "Pak Rendy... situasi di luar kendali kita. Polisi sudah mulai mendatangi kantor pusat kita di Jakarta, dan beberapa aset rekening perusahaan Anda telah dibekukan sementara oleh PPATK atas permintaan tim hukum Dirgantara Group."

Rendy menghentikan gerakannya, perlahan menurunkan kedua tangannya dari kepala. Seringai kegilaan yang dingin dan asimetris kembali muncul di wajah tampannya yang kini tampak menyeramkan. Amarahnya yang meledak-ledak mendadak berubah menjadi ketenangan yang sangat gelap—ciri khas dari seorang psikopat yang telah kehilangan seluruh rem kewarasannya.

"Satria..." panggil Rendy, suaranya sangat rendah dan berbisik, memancarkan aura kematian yang pekat.

"Ya, Pak Rendy?" sahut Satria dengan tubuh sedikit membungkuk ketakutan.

"Adrian berpikir dia sudah memenangkan permainan ini karena dia kaya dan berkuasa," ujar Rendy sambil melangkah perlahan menuju jendela besar yang mengarah ke pemandangan jurang dan kabut gunung Puncak. "Dia mengira bisa mengambil Kirana dariku dan menjadikannya pahlawan. Dia salah besar. Jika aku harus hancur dan masuk ke dalam neraka, maka aku akan memastikan aku membawa mereka berdua bersamaku."

Rendy berbalik, menatap Satria dengan mata yang dingin tanpa emosi sama sekali. "Gunakan seluruh sisa dana tunai rahasia kita di brankas Swiss. Sewa orang-orang terbaik dari kelompok bayaran hitam. Aku tidak peduli dengan polisi atau reputasiku lagi. Malam ini, tembus pengamanan apartemen Menteng milik Adrian. Culik Kirana kembali, dan jika Adrian menghalangi... bunuh dia di tempat."

Rendy mengepalkan tinjunya dengan sangat kuat hingga sendi-sendinya berbunyi keras. "Kirana adalah barang milikku. Dan tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang boleh memilikinya jika aku tidak bisa memilikinya. Perang yang sesungguhnya... baru saja dimulai, Adrian."

---

Bersambung ke Episode 9

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!