GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Matahari sudah mulai turun ke barat, langit berubah menjadi ungu kemerahan yang indah, tapi suasana di dalam rumah besar itu sama sekali tidak seindah pemandangan di luar. Kabar besar yang baru saja mereka terima tadi, rasanya masih terasa seperti mimpi yang begitu nyata namun menyakitkan. Semuanya berubah dalam sekejap mata. Posisi, status, perasaan, dan musuh yang harus mereka hadapi.
Setelah pembicaraan serius itu selesai, Pak Herman pun berpamitan pulang dengan janji akan terus mencari bukti-bukti lain yang bisa memperkuat posisi mereka di pengadilan nanti. Bu Rina pun kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya, meski di dalam hatinya dia masih terkejut luar biasa dan sangat bahagia ternyata Luna adalah bagian dari keluarga besar ini.
Kini, tinggalah Aditya dan Luna berdua di teras belakang yang mulai diselimuti kabut tipis. Hening. Suasana di antara mereka terasa canggung dan berat, jauh berbeda dari beberapa menit yang lalu saat mereka berdua saling menatap penuh cinta dan harapan. Sekarang, dinding pemisah itu sudah berdiri kembali, bukan lagi sebagai aturan majikan dan bawahan, melainkan sebagai batas darah dan persaudaraan yang tak bisa diruntuhkan.
Luna berdiri memeluk tubuhnya sendiri, rasanya dingin meskipun angin sore ini tidak terlalu kencang. Dia menundukkan pandangan, takut untuk menatap mata Aditya. Dia takut kalau dia menatap lebih lama lagi, perasaannya yang sudah dia kunci rapat-rapat itu akan kembali keluar dan menyakiti hati mereka berdua.
"Kamu... kamu masuk ke kamar dulu saja, Luna. Istirahatlah. Pasti kepalamu pusing sekali menerima semua kabar ini sekaligus," suara Aditya terdengar lembut, namun ada nada getar yang tak bisa dia sembunyikan. Dia pun merasakan hal yang sama. Rasanya berat sekali harus bersikap biasa saja, rasanya sulit sekali mengubah perasaan dari kekasih menjadi saudara dalam waktu yang begitu singkat.
Luna mengangguk pelan, lalu melangkah pergi perlahan. "Baik... aku masuk duluan, Aditya. Terima kasih untuk semuanya."
Saat dia melewati sisi Aditya, tangan gadis itu sempat tersentuh sedikit saja dengan tangan Aditya. Seketika itu juga, rasa listrik yang biasa mereka rasakan saat bersentuhan kembali hadir. Rasa yang hangat, akrab, dan membuat hati bergetar. Luna buru-buru menarik tangannya dan mempercepat langkahnya, sementara Aditya hanya diam terpaku di tempat, menatap punggung Luna yang menjauh dengan perasaan yang hancur lebur namun harus dia kuat-kuatkan.
Kenapa harus begini? batin Aditya berteriak keras. Kenapa harus dia yang aku cintai? Kenapa dia harus jadi keluargaku sendiri? Mengapa takdir begitu jahat mempermainkan perasaan kami?
Dia menghela napas panjang, lalu menepuk pelan dadanya yang terasa sesak. Dia harus kuat. Dia harus menjadi pelindung bagi Luna. Dia harus melupakan perasaan itu, menguburnya dalam-dalam, dan menganggap Luna sebagai adik kandungnya sendiri. Itulah satu-satunya cara supaya mereka berdua bisa selamat dan hidup tenang.
Malam itu, suasana di meja makan terasa sangat berbeda. Biasanya, Luna akan duduk sedikit jauh, menunduk hormat, dan makan dengan sangat sopan dan takut-takut. Tapi malam ini, meskipun dia masih berusaha bersikap seperti biasa, ada perbedaan aura yang terpancar dari dirinya. Dia terlihat lebih tenang, lebih berwibawa, namun di balik itu semua terlihat kesedihan yang mendalam.
Aditya duduk di ujung meja, sesekali melirik ke arah Luna dengan tatapan yang sulit diartikan. Di hadapan para pelayan yang sedang melayani mereka, mereka harus berpura-pura semuanya masih sama. Luna masih pelayan, Aditya masih majikan yang dingin. Tidak ada yang boleh tahu kebenaran itu, tidak ada satu jiwa pun yang boleh mengetahuinya, sampai waktu yang tepat tiba.
"Kenapa makanmu sedikit sekali? Kamu tidak suka masakannya?" tanya Aditya tiba-tiba, memecah keheningan. Nadanya terdengar ketus seperti biasa, tapi sebenarnya dia hanya khawatir melihat Luna yang terlihat kurus dan tidak bersemangat.
Luna terkejut sedikit, lalu segera mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Ti... tidak, Tuan. Enak kok. Cuma... perut saya sedang terasa sedikit mual, mungkin karena kelelahan."
Aditya mengangguk pelan, lalu kembali menunduk memakan makanannya. "Kalau begitu, habiskan saja, lalu kamu boleh istirahat lebih awal. Jangan lupa besok pagi-pagi sekali kamu harus bersihkan ruang kerja saya. Ada banyak berkas yang harus dirapikan."
"Baik, Tuan," jawab Luna patuh, meskipun di dalam hatinya dia tahu, perintah itu sebenarnya hanyalah alasan supaya dia bisa berada di dekat Aditya, supaya Aditya bisa terus mengawasinya dan menjaganya dari bahaya yang mengintai.
Saat makan malam selesai, Luna berjalan menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah, kamar kecil yang dulu selalu membuatnya merasa terasing dan kesepian. Tapi malam ini, kamar itu terasa jauh lebih sunyi dan menyedihkan. Dia duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela yang memandang ke arah taman yang gelap.
Pikirannya melayang kembali ke kejadian sore tadi. Foto lama itu, penjelasan Pak Herman, fakta bahwa dia adalah bagian dari keluarga Pratama, dan yang paling menyakitkan... fakta bahwa dia dan Aditya tidak akan pernah bisa bersama. Air mata kembali menetes membasahi pipinya yang lembut. Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya dia punya keluarga, punya asal-usul yang jelas, tapi di saat yang sama dia merasa sangat kehilangan. Dia kehilangan kesempatan untuk dicintai oleh orang yang paling dia sayangi.
"Kenapa harus begini, Tuhan..." bisiknya lirih sambil memeluk lututnya. "Kenapa Engkau satukan kami, tapi pisahkan dengan cara yang sesakit ini? Mengapa Engkau beri aku rasa cinta, tapi tak izinkan aku memilikinya?"
Di kamar lain, tidak jauh dari sana, Aditya juga sedang tidak bisa memejamkan matanya. Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar tidurnya yang luas dan mewah, pikirannya kacau balau. Di atas meja kerjanya, tergeletak foto lama yang tadi ditunjukkan oleh Pak Herman. Foto ibu kandungnya dan adik kembarnya—ibu kandung Luna. Kemiripan itu sungguh luar biasa, seolah mereka adalah orang yang sama. Itu bukti nyata yang tak bisa dia sangkal lagi.
Namun, selain rasa bingung dan sedih, ada rasa amarah yang membara di dalam dada Aditya. Amarah terhadap Bapak Surya. Pria yang selama ini dia hormati dan percaya, ternyata adalah musuh utama mereka. Pria itulah penyebab semua penderitaan keluarganya, penyebab kematian orang tuanya, penyebab penderitaan Luna selama dua puluh tahun ini. Aditya mengepal tangannya kuat-kuat, matanya menatap tajam ke arah kegelapan. Dia bersumpah dalam hatinya, dia tidak akan membiarkan Bapak Surya hidup tenang. Dia akan membalas semuanya, dia akan membuat orang itu merasakan rasa sakit yang seribu kali lebih parah dari apa yang dia lakukan pada keluarga Pratama.
Keesokan harinya, seperti biasa, Luna bangun pagi-pagi sekali untuk melakukan tugasnya. Dia mengenakan seragam pelayan yang sederhana, menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Dia tahu, mulai hari ini, hidupnya akan menjadi sebuah sandiwara panjang. Dia harus berpura-pura menjadi pembantu yang polos dan lugu, sementara musuh besar mereka sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Saat dia sedang menyapu di ruang tamu, terdengar suara mobil mewah memasuki halaman rumah. Luna menengok dengan rasa penasaran, dan seketika jantungnya berdegup kencang ketakutan. Dari dalam mobil turun seorang pria paruh baya yang berpakaian sangat rapi dan mewah, dengan senyum yang selalu terukir manis di bibirnya. Itu Bapak Surya. Pria yang ternyata adalah dalang di balik semua kejahatan itu. Pria yang kemarin sore baru saja dibicarakan.
Luna langsung menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya dan ketakutannya. Dia ingat pesan Aditya, dia tidak boleh menunjukkan rasa curiga atau rasa takut sedikit pun. Dia harus bersikap seolah dia hanyalah gadis pembantu biasa yang tidak tahu apa-apa.
Bapak Surya berjalan masuk dengan langkah yang penuh percaya diri, matanya menyapu seisi ruangan hingga akhirnya tertuju pada Luna yang sedang menyapu di sudut ruangan. Dia berjalan mendekat perlahan, membuat keringat dingin membasahi seluruh tubuh Luna.
"Eh, ini gadis baru ya? Aditya pernah cerita kalau dia mempekerjakan gadis miskin untuk melunasi hutang," ucap Bapak Surya dengan suara yang terdengar ramah namun entah kenapa membuat bulu kuduk berdiri. Dia menatap Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang tajam dan menyelidik, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.
Luna menunduk makin dalam, tangannya gemetar memegang gagang sapu. "I... iya, Tuan. Saya Luna, pembantu baru di sini."
Bapak Surya tersenyum lebar, senyum yang terlihat manis tapi di baliknya tersimpan pisau yang tajam. Dia mengangkat dagu Luna dengan ujung jarinya, memaksa gadis itu menatapnya.
"Kamu terlihat berbeda dari pembantu lain, Nak. Wajahmu... ada yang familier sekali. Seperti pernah aku lihat di mana..." Bapak Surya berbicara pelan, matanya menyipit curiga.
Jantung Luna rasanya mau copot. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan tidak membiarkan rasa takutnya terlihat. "Mungkin Tuan salah lihat. Saya cuma gadis kampung biasa, belum pernah ketemu Tuan sebelumnya."
Belum sempat Bapak Surya melanjutkan ucapannya, terdengar langkah kaki tegas mendekat. Aditya muncul dari arah tangga dengan wajah yang dingin dan tidak tersenyum, aura kejamnya kembali muncul seolah dia ingin melindungi Luna dengan segala cara.
"Paman Surya? Sejak kapan ada di sini? Ada urusan penting ya sampai datang pagi-pagi begini?" tanya Aditya ketus, langsung berdiri di antara Bapak Surya dan Luna, memutus kontak mata di antara mereka berdua.
Bapak Surya segera menarik tangannya dan kembali bersikap santai seolah tidak ada yang terjadi. Dia menoleh ke arah Aditya dan tertawa kecil. "Ah, Aditya, anakku sayang. Paman cuma kebetulan lewat dan ingin menengokmu sebentar saja. Kamu ini, dingin sekali sama Paman sendiri. Tadi Paman cuma sedang ngobrol sedikit sama gadis pembantu ini. Dia gadis yang menarik, lho. Sopan dan patuh."
Aditya melirik sekilas ke arah Luna, lalu kembali menatap Bapak Surya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia cuma pembantu, Paman. Jangan terlalu dipikirkan. Dia ada di sini cuma buat kerja dan melunasi hutang. Tidak ada yang istimewa sama dia."
Kata-kata itu keluar dari mulut Aditya dengan nada yang sangat meremehkan, seolah Luna hanyalah benda yang tidak berharga. Namun, Luna tahu, kata-kata itu hanya topeng. Aditya melakukannya supaya Bapak Surya tidak curiga, supaya pria itu berpikir Luna hanyalah gadis rendahan yang tidak berarti apa-apa. Meski begitu, hati Luna tetap terasa perih mendengarnya.
Bapak Surya mengangguk-angguk sambil tersenyum licik. "Oh begitu ya. Ya sudah, kalau begitu mari kita bicara di ruang kerja saja. Ada beberapa hal penting soal perusahaan yang ingin Paman diskusikan sama kamu."
"Tentu saja, Paman. Silakan masuk," jawab Aditya sopan namun dingin. Sebelum dia berjalan masuk bersama Bapak Surya, dia sempat melirik sekilas ke arah Luna dan memberikan kode mata yang halus: Hati-hati, dan jangan kemana-mana.
Luna menghela napas panjang saat kedua pria itu sudah menghilang di balik pintu ruang kerja. Kakinya terasa lemas sekali. Dia baru saja merasakan langsung betapa berbahayanya musuh yang sedang mereka hadapi. Bapak Surya itu pintar, licik, dan sangat berbahaya. Dia hampir saja menyadari sesuatu dari diri Luna. Bahaya itu sudah ada tepat di depan mata mereka, dan perang yang sebenarnya baru saja mulai.
Di dalam ruang kerja yang tertutup rapat, suasana terasa jauh lebih dingin dan menegangkan. Bapak Surya duduk dengan santai di kursi tamu, sementara Aditya duduk di balik meja kerjanya dengan wajah yang datar dan tanpa ekspresi. Di dalam hati, Aditya menahan rasa marah dan rasa ingin meledak yang luar biasa. Dia sedang duduk berhadapan dengan pembunuh orang tuanya sendiri, dengan orang yang sudah menghancurkan hidup keluarganya, dan dia harus berpura-pura tenang dan menghormati pria itu.
"Orang tua kamu pasti bangga sekali melihat kamu sekarang, Aditya. Kamu sudah jadi pemuda yang hebat dan tangguh, persis seperti Ayahmu dulu," ucap Bapak Surya sambil menatap foto almarhum orang tua Aditya yang ada di atas meja. Nada bicaranya penuh kekaguman dan kesedihan, seolah dia benar-benar orang yang sangat berduka dan setia kawan. Padahal, dialah penyebab kematian mereka.
Aditya menggenggam erat tangan kursinya sampai buku jarinya memutih. Dia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan emosinya. "Terima kasih, Paman. Saya berusaha jadi yang terbaik. Tapi, kadang saya masih merasa kehilangan mereka. Rasanya masih sulit menerima kenyataan kalau mereka sudah pergi selamanya."
Bapak Surya mengangguk sambil menghela napas panjang. "Memang, Nak. Kejadian itu sangat tragis dan menyedihkan. Kecelakaan yang tidak terduga... Padahal mereka orang baik. Tapi ya begitulah nasib. Tuhan berkehendak lain."
Kecelakaan? batin Aditya mengejek dalam hati. Dasar pembohong! Kau yang merencanakannya! Kau yang membunuh mereka dengan tanganmu sendiri atau perintahmu! Kau berani menyebut itu kecelakaan?!
Namun, Aditya tetap memasang wajah sedih dan berusaha seolah dia percaya sepenuhnya pada kata-kata Bapak Surya. "Iya, Paman. Saya juga sering berpikir begitu. Tapi untungnya ada Paman. Kalau tidak ada Paman yang selalu membantu dan mendampingi saya, mungkin saya sudah hancur lebur sekarang."
Bapak Surya tertawa puas, merasa dia sudah berhasil menipu Aditya sepenuhnya. Dia tidak tahu bahwa di balik tatapan hormat dan sopan itu, Aditya sedang menyimpan rencana besar untuk menjatuhkannya ke dasar jurang yang paling dalam.
"Tentu saja, Nak. Paman akan selalu ada buat kamu. Paman menganggapmu seperti anak sendiri. Dan Paman akan pastikan kamu mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Tapi..." Bapak Surya berhenti sejenak, nadanya berubah menjadi lebih serius dan berat. "Ada satu hal yang membuat Paman agak khawatir belakangan ini. Ada kabar kalau ada pewaris lain dari keluarga Pratama yang ternyata masih hidup. Kalau hal itu benar adanya, maka itu akan sangat mengganggu posisi dan kekuasaanmu di perusahaan nanti. Kamu sudah dengar soal itu belum, Aditya?"
Jantung Aditya berdegup kencang. Ternyata dugaannya benar. Bapak Surya memang sudah mendengar kabar itu dan sedang berusaha mencari tahu kebenarannya, bahkan berniat mencelakai orang itu jika ditemukan. Aditya berusaha tetap tenang dan berpura-pura bingung.
"Belum, Paman. Saya sama sekali tidak tahu. Itu cuma isu yang tidak benar, kan? Selama ini kan saya satu-satunya anak orang tua saya, dan satu-satunya pewaris sah keluarga Pratama. Mana mungkin ada orang lain?"
"Ya, semoga saja begitu, Nak. Semoga itu cuma omong kosong orang-orang yang iri sama kekayaan kita. Tapi kalau ternyata benar-benar ada orang yang mengaku-ngaku atau memang benar-benar keluarga Pratama yang hilang... kamu harus berhati-hati. Orang itu pasti berniat buruk dan ingin mengambil apa yang menjadi milikmu. Kita harus menyingkirkan orang itu, secepat mungkin, sebelum dia sempat bertindak," ucap Bapak Surya dengan nada yang dingin dan penuh ancaman, seolah nyawa orang lain tidak ada harganya baginya.
Darah Aditya mendidih mendengar itu. Dia ingin sekali melompat dan mencekik leher pria di hadapannya itu sampai mati. Bagaimana mungkin orang sejahat ini bisa hidup dengan tenang selama bertahun-tahun? Bagaimana mungkin dia dengan santainya berbicara soal menyingkirkan nyawa orang lain, padahal orang yang dimaksud adalah keponakannya sendiri, darah daging saudaranya sendiri?
Aditya menahan dirinya sekuat tenaga, lalu tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu saja, Paman. Saya setuju sepenuhnya. Kalau sampai ada orang yang berani mengganggu atau mengambil hak saya, saya akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah Ayah dan Ibu bangun dengan susah payah."
Bapak Surya terlihat sangat puas mendengar jawaban itu. Dia tidak sadar sama sekali bahwa orang yang sedang dia cari, orang yang ingin dia singkirkan, saat ini sedang berada tepat di bawah atap rumah Aditya, bahkan sedang bekerja melayani di rumah ini. Dia juga tidak sadar bahwa Aditya, pemuda yang selama ini dia anggap polos dan mudah diatur, ternyata sudah mengetahui semuanya dan sedang merencanakan balas dendam yang hebat.
Pertemuan itu berlangsung cukup lama, penuh dengan percakapan yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Di satu sisi ada yang berpura-pura menjadi kerabat yang baik dan peduli, di sisi lain ada yang berpura-pura menjadi keponakan yang patuh dan percaya. Padahal di dalam hati masing-masing, ada kebencian dan ambisi yang besar.
Saat Bapak Surya akhirnya berpamitan pulang, Aditya mengantarnya sampai ke depan pintu dengan senyum sopan yang terukir indah di bibirnya. Namun, saat mobil pria itu sudah hilang di tikungan jalan, senyum itu seketika lenyap berganti dengan tatapan tajam dan penuh tekad. Aditya mengepal tangannya kuat-kuat.
Tunggu saja, Bapak Surya. Tunggu saja saat pembalasan itu datang. Kamu pikir kamu pintar bermain sandiwara? Kamu belum melihat apa-apa. Aku akan buat kamu merasakan ketakutan yang nyata. Aku akan buat kamu tahu siapa sebenarnya Aditya Pratama yang sebenarnya.
Aditya berbalik badan dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Dia harus menemui Luna dan menceritakan apa yang baru saja dibicarakan oleh Bapak Surya. Bahayanya makin dekat. Musuh mereka makin curiga. Dan mereka harus bergerak lebih cepat dan lebih cerdik lagi, kalau tidak ingin semua rencana hancur berantakan dan nyawa mereka terancam.
Perang besar sudah di depan mata, dan tidak ada jalan untuk mundur lagi.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷