NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Aroma antiseptik yang tajam berbaur dengan ketegangan yang belum sepenuhnya reda di dalam kamar perawatan.

Tirai pembatas ditarik cepat, menyembunyikan tubuh kuyu Humairah yang kembali tak sadarkan diri dari pandangan orang-orang di sekitarnya.

Seorang dokter pria paruh baya bersama dua perawat bergerak taktis.

Dengan cekatan, perawat membetulkan posisi jarum infus Humairah, menghentikan aliran darah yang sempat naik ke selang plastik akibat kepanikan sebelum ia pingsan.

Dokter menempelkan stetoskop di dada Humairah, memeriksa denyut nadinya yang melemah, serta memeriksa pupil matanya.

Di balik tirai, Abi Sasongko berdiri mendampingi Umi Mamik yang tak henti-hentinya merapalkan selawat sambil menggenggam tangan putrinya yang sedingin es.

Setelah beberapa menit yang terasa begitu menyiksa, dokter akhirnya melangkah mundur.

Ia merapikan kembali letak selimut Humairah sebelum menoleh ke arah Abi Sasongko dengan raut wajah yang dipenuhi teguran halus.

"Kondisi fisik pasien drop total. Demamnya naik lagi menjadi 39,8'" ucap dokter dengan suara rendah namun tegas.

"Tifusnya belum reda, dan sekarang ada tekanan psikologis yang sangat hebat. Jantungnya dipaksa bekerja terlalu keras dalam kondisi tubuh yang kekurangan nutrisi. Tolong, jangan biarkan pasien mengalami syok atau keributan lagi. Itu bisa membahayakan keselamatannya."

Dokter menghela napas panjang, lalu menatap Abi Sasongko lekat-lekat.

"Tolong untuk sementara Anda yang menjaga pasien. Batasi dulu orang yang menjenguk, termasuk suaminya, sampai kondisi emosionalnya benar-benar stabil."

Abi Sasongko menganggukkan kepalanya dengan berat.

Wajahnya yang kaku menyiratkan ketegasan seorang ayah yang siap menjadi benteng terakhir bagi putrinya.

"Baik, Dokter. Saya sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun orang yang mengganggu putri saya lagi," jawab Abi Sasongko, suaranya sarat akan penekanan yang dingin.

Setelah dokter dan perawat keluar, ruangan itu kembali dicekam kesunyian yang menyakitkan.

Abi Sasongko menatap wajah pucat Humairah, berjanji di dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan air mata putrinya luruh lagi untuk pria-pria egois itu.

Sementara itu, di bawah temaram lampu selasar luar rumah sakit, angin malam berembus kering, menerbangkan beberapa lembar daun kering di atas paving.

Kyai Umar berdiri mematung di dekat pilar. Bahunya yang biasa tegak berwibawa kini tampak melorot, seolah memikul beban yang teramat berat.

Beliau menggelengkan kepalanya perlahan, menatap kedua putranya yang berdiri terpisah beberapa meter di hadapannya.

Fathan berdiri di sebelah kanan dengan sudut bibir yang biru dan tangan yang gemetar.

Di sebelah kiri, Abraham tertunduk lesu sambil memegangi rahangnya yang bengkak dan memerah.

Keduanya tidak berani saling pandang, apalagi menatap mata sang ayah yang dilingkupi duka mendalam.

"Apa yang kalian lakukan? Astaghfirullah..."

Suara Kyai Umar meluncur begitu lirih, namun getaran kekecewaan di dalamnya terasa lebih menyakitkan daripada tamparan keras.

Beliau mengusap wajahnya yang kuyu, berulang kali merapalkan istigfar demi menahan sesak yang seolah menyumbat dadanya.

"Abah membesarkan kalian dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Abah mendidik kalian di dalam pesantren agar kalian paham apa itu adab, apa itu memuliakan manusia!" Kyai Umar menunjuk mereka bergantian dengan jari yang gemetar.

"Tapi apa yang kalian tunjukkan hari ini? Di depan wanita shalihah yang sedang bertaruh nyawa dengan sakitnya, kalian bertingkah seperti binatang liar! Saling pukul, saling caci, memperebutkan ego kalian sendiri!"

Kyai Umar melangkah mendekati Abraham. "Kamu, Abra! Kamu melarikan diri bagai pengecut, lalu datang kembali tanpa tahu malu, meminta istri kakakmu untuk bercerai? Di mana akal sehatmu?!"

Beliau kemudian berbalik, menatap Fathan dengan pandangan yang menghujam. "Dan kamu, Fathan! Gelar Ustadz-mu, hafalan kitabmu, tidak ada gunanya jika lisan dan tanganmu justru menjadi sumber petaka bagi istrimu sendiri! Kamu memukul adikmu karena cemburu, atau karena kamu takut aib dan kebusukanmu membubung tinggi?!"

Fathan jatuh berlutut di atas lantai semen yang dingin, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di hadapan ayahnya.

"Abah, Fathan khilaf. Fathan tidak bermaksud..." rintih Fathan dengan suara parau.

"Cukup, Fathan! Cukup, Abraham!" potong Kyai Umar, suaranya mendadak dingin dan datar.

Beliau berbalik memunggungi kedua putranya, menatap lurus ke arah pintu masuk rumah sakit yang kokoh.

"Mulai detik ini, jangan ada yang berani melangkah masuk ke kamar Humairah. Biarkan dia tenang bersama orang tuanya. Dan untuk kalian berdua, bersiaplah mempertanggungjawabkan setiap tetes darah dan air mata Humairah di hadapan Allah."

Mendengar titah tegas sang ayah, Fathan dan Abraham perlahan saling pandang.

Di bawah temaram lampu selasar rumah sakit, tidak ada lagi kilat amarah badai yang berkecamuk di antara keduanya.

Yang tersisa hanyalah kekosongan, rasa malu yang membakar, dan penyesalan yang terlambat.

Hubungan darah mereka yang sempat memanas kini mendingin dalam kecanggungan yang amat pekat.

Tanpa sepatah kata pun, Abraham memalingkan wajah terlebih dahulu.

Dengan langkah gontai dan bahu yang merosot, ia berbalik arah menuju tempat parkir.

Pria itu memutuskan untuk menuruti perintah abahnya: menjauh dari Humairah dan kembali menuju pondok pesantren untuk merenungi segala kekacauan yang telah ia ciptakan sejak hari pernikahannya.

Sementara itu, Fathan masih bersimpuh di lantai semen yang dingin.

Setelah bayangan adiknya menghilang di kegelapan malam, ia bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar.

Dadanya terasa begitu sesak, dipenuhi oleh dosa dan kalimat-kalimat tajam Humairah yang terus berdenging di telinganya.

Menyadari dirinya terlalu kotor dan tak memiliki hak lagi untuk mendekati kamar perawatan istrinya, Fathan melangkah perlahan menjauh. Langkah kakinya membawa tubuh yang kuyu itu menuju mushola rumah sakit yang terletak di sudut lorong.

Ia membutuhkan sujud yang panjang. Ia perlu mengadukan segala kebusukan hatinya dan memohon ampun atas amanah suci yang telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Di koridor ruang perawatan, suasana kembali hening.

Kyai Umar menarik napas panjang, merapikan sorbannya, lalu melangkah mendekati pintu kamar Humairah.

Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, beliau mengetuk pintu kayu itu.

Tok... tok... tok...

Hening sejenak, sebelum terdengar suara selot kunci diputar dari dalam.

Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Abi Sasongko.

Pria paruh baya itu berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua.

Matanya merah, dan gurat ketegasan yang tadi menyala kini berganti dengan kelelahan seorang ayah yang hatinya ikut tercabik-cabik.

Kyai Umar menatap sahabat lamanya itu dengan pandangan yang sarat akan permohonan maaf dan kedukaan mendalam.

"Bagaimana keadaannya, Sasongko?" tanya Kyai Umar dengan suara yang rendah dan bergetar parau.

Abi Sasongko tidak langsung menjawab. Ia menoleh sebentar ke belakang, menatap ke arah brankar di mana Humairah masih terbaring kaku di bawah selimut dengan bantuan selang oksigen tipis di hidungnya, lalu kembali menatap Kyai Umar.

"Demamnya kembali naik setelah perdebatan antara Fathan dan Abraham, Umar," ucap Abi Sasongko, suaranya terdengar datar namun ada nada dingin yang tak bisa disembunyikan.

"Dia juga masih pingsan. Dokter bilang jiwanya terlalu lelah. Putriku memilih menutup matanya karena dunia di sekitarnya terlalu menyakitkan untuk dilihat."

Abi Sasongko menghela napas berat, matanya berkaca-kaca.

"Dua bulan, Umar. Dua bulan dia menyimpan neraka ini sendirian demi menjaga nama baik pesantrenmu, dan malam ini aku hampir kehilangannya."

Air mata yang sejak tadi ditahan Kyai Umar akhirnya luruh juga.

Beliau meraih pundak Abi Sasongko, meremasnya dengan tangan yang gemetar hebat.

Keangkuhan sebagai seorang pemimpin pondok pesantren besar luruh total di depan kamar perawatan ini.

"Maafkan aku, Sasongko. Demi Allah, maafkan aku," bisik Kyai Umar dengan suara yang pecah dan parau.

"Aku yang bersalah. Aku yang telanjur buta, mengira pernikahan ini bisa menjadi jalan kebaikan, tanpa tahu bahwa aku justru mendorong putri kemuliaanmu ke dalam jurang penderitaan. Dosaku teramat besar pada keluargamu, Sasongko."

Abi Sasongko menatap sahabat karibnya itu dengan pandangan yang sarat akan kedukaan.

Tidak ada rasa puas melihat sang Kyai menangis, yang ada hanyalah kelelahan batin yang teramat sangat.

Beliau perlahan melepaskan tangan Kyai Umar dari pundaknya dengan halus.

"Sudahlah, Umar. Semua sudah terjadi," ucap Abi Sasongko, suaranya terdengar datar dan dingin.

"Untuk saat ini, aku meminta dengan sangat... pulanglah. Bawalah keluargamu menjauh dari Humairah terlebih dahulu. Biarkan putriku bernapas tanpa bayang-bayang ketakutan dari pesantrenmu."

Kyai Umar tertegun, namun beliau sadar bahwa hak Abi Sasongko atas Humairah kini jauh lebih besar setelah semua kezaliman ini terungkap.

Dengan hati yang berat, Kyai Umar menganggukkan kepalanya perlahan.

"Baik, Sasongko. Aku pamit. Jaga Humairah, titip salam dan maafku jika dia terbangun nanti."

Kyai Umar membalikkan badannya, melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit yang sepi.

Di saat yang sama, Fathan baru saja keluar dari mushola.

Wajahnya tampak basah oleh air wudhu, matanya sembap dan merah setelah menghabiskan waktu bersujud dan menangis di atas sajadah, mengadukan segala kekerdilan jiwanya.

Melihat sang ayah berjalan dengan bahu yang melorot sendirian, Fathan segera mempercepat langkahnya dan menghampiri beliau.

"Abah..." panggil Fathan lirih.

Kyai Umar menoleh, menatap putranya dengan tatapan yang tak lagi menyala oleh amarah, melainkan sisa-sisa kekecewaan yang mendalam.

"Antarkan Abah pulang ke pesantren, Fathan. Biarkan mertuamu menjaga Humairah tanpa gangguan kita," ucap beliau tenang namun dingin.

Fathan mengangguk patuh. Selama perjalanan di dalam mobil, keheningan yang mencekam kembali menyergap.

Fathan mencengkeram kemudi dengan erat, sementara pikirannya berkecamuk hebat.

Bayangan ketegasan Humairah yang menolak suapannya, kalimat-kalimat sarkas istrinya, serta kedatangan Abraham yang berani meminta cerai tadi membuat dada Fathan seperti dihantam badai yang tak kunjung usai.

Fathan tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Di tengah jalanan malam yang sunyi, ia membuka suara dengan nada yang sangat putus asa.

"Abah, Fathan harus bagaimana?" rintih Fathan, air matanya kembali menetes membasahi pipi.

"Dinding yang dibangun Humairah sangat tinggi, Abah. Dia menatap Fathan dengan tatapan yang sangat asing, seolah hati dan rasa hormatnya untuk Fathan sudah mati sepenuhnya. Dan sekarang, Abraham datang ingin merebutnya kembali. Fathan takut, Bah. Fathan takut kehilangan amanah ini justru di saat Fathan baru menyadari betapa berharganya dia."

Kyai Umar tidak langsung menjawab. Beliau menatap lurus ke arah jalanan yang temaram dari balik kaca depan, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum memberikan nasihat yang mendalam.

"Fathan, anakku..." ucap Kyai Umar dengan suara yang berat namun sarat akan kebijaksanaan.

"Dinding tinggi yang dibangun Humairah hari ini bukan tumbuh dalam semalam. Kamu yang menyusun batu batanya dengan sikap dinginmu, dan kamu pula yang merekatkannya dengan makianmu. Jangan mengharapkan kehangatan dari hati yang sudah kamu bekukan selama dua bulan ini."

Beliau menoleh, menatap wajah kuyu putranya dari samping.

"Jika sekarang kamu merasa sakit karena dinding itu, maka rasakanlah. Itu adalah kafarat atas kesombonganmu yang menyamakan wanita suci seperti Humairah dengan masa lalumu yang kelam. Soal Abraham, dia hanyalah ujian bagi egomu. Allah sedang mengujimu, apakah kamu mempertahankan Humairah karena kamu benar-benar ingin memuliakannya sebagai istrimu, atau hanya karena kamu gengsi dan takut kehilangan kepemilikanmu."

Kyai Umar memegang pundak Fathan, memberikan penekanan pada setiap kalimatnya.

"Nasihat Abah, runtuhkan dulu egomu sebelum kamu bermimpi bisa meruntuhkan dinding hati Humairah. Jangan dekati dia sebagai seorang Ustadz yang merasa paling benar. Dekati dia sebagai seorang hamba yang penuh dosa yang sedang mengetuk pintu maaf. Tunjukkan perubahanmu lewat adab, lindungi dia dari lisan Umi mu, dan belajarlah menjadi tameng untuknya. Jika kamu menyerah hanya karena dinding itu tinggi, maka kamu memang tidak pernah pantas menjadi imam bagi seorang alimah sepertinya."

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!