NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Gedung perkantoran bertingkat itu selalu menjadi tempat pelarian yang paling masuk akal bagi Siham. Begitu ia melangkah melewati pintu kaca otomatis, aroma kertas baru, kopi yang diseduh, dan deru pendingin ruangan seolah menjadi tabung oksigen bagi jiwanya yang nyaris mati di rumah tadi pagi. Di sini, ia bukan hanya istri dari Dewangga sang CEO dingin. Di sini, ia adalah Siham, Editor Senior yang setiap kata-katanya mampu menentukan nasib sebuah naskah.

​Siham berjalan melewati lorong meja-meja editor muda. Beberapa dari mereka menyapa dengan hormat, namun Siham hanya membalas dengan senyum tipis yang profesional. Matanya masih sedikit sembab, namun ia telah menutupinya dengan riasan concealer yang tebal, sebuah teknik "editing wajah" yang sudah ia kuasai di luar kepala.

​Begitu ia duduk di kursinya, asistennya, Maya, langsung menghampiri dengan wajah yang tampak sangat bersemangat.

​"Bu Siham! Ibu sudah lihat media sosial pagi ini? Akun Aksara Renjana baru saja mengunggah sajak baru semalam. Isinya... ya Tuhan, benar-benar menyayat hati! Media-media besar langsung mengutipnya, dan pagi ini tim kreatif kita kebanjiran telepon!" seru Maya dengan mata berbinar.

​Siham tetap tenang, tangannya membuka laptop dengan gerakan yang terkontrol. "Apa yang mereka katakan?"

​"Semua orang ingin tahu siapa sosok di balik Aksara Renjana, Bu! Sajaknya semalam tentang 'perpustakaan terlarang' dan 'kotak bludru' itu viral luar biasa. Banyak yang menduga penulisnya adalah seorang wanita yang sedang hancur di tengah kemewahan. Bahkan, ada tiga produser film yang menghubungi saya tadi pagi, mereka ingin membeli hak adaptasi dari sajak-sajak itu kalau memang Aksara Renjana mau menuliskan novel utuhnya!" Maya menjelaskan dengan menggebu-gebu.

​Siham terdiam sejenak. Jantungnya berdesir. Sajak yang ia tulis semalam memang lahir dari luka nyata setelah ia melihat kotak inisial D & A. Ia tidak menyangka bahwa kejujuran lukanya akan meledak secepat itu. Namun, di kantor ini, tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa editor senior yang kaku dan tenang ini adalah sang penulis misterius tersebut.

​"Lalu, apa respons dari pihak Aksara Renjana?" tanya Siham, berpura-pura menjadi pihak ketiga.

​Maya menghela napas, sedikit kecewa. "Itu dia masalahnya, Bu. Pagi ini Aksara Renjana mengunggah pesan singkat di story-nya. Dia bilang, dia tetap tidak mau muncul ke publik. Dia menegaskan bahwa semua urusan kontrak, pertemuan, dan manajemen karyanya hanya diserahkan dan dipercayakan kepada satu orang yaitu Siham."

​Siham menaikkan alisnya, berakting seolah-olah dia terkejut. "Kepada saya?"

​"Iya, Bu! Dia menyebut nama Ibu secara eksplisit. Katanya, hanya Ibu satu-satunya editor yang mengerti jiwanya. Sekarang, Direktur Utama kita ingin mengadakan rapat mendadak sepuluh menit lagi. Mereka ingin Ibu menjadi jembatan agar Aksara Renjana mau menandatangani kontrak eksklusif dengan penerbitan kita sebelum diambil pihak lain."

​Siham mengangguk. "Baiklah. Siapkan berkasnya. Saya akan ke ruang rapat."

​Begitu Maya pergi, Siham menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap layar ponselnya. Notifikasi di akun rahasianya meledak. Ribuan pesan masuk menyatakan simpati, namun ada satu hal yang ia nikmati yaitu kekuatannya sebagai editor sekaligus penulis kini berada di tangannya sendiri. Ia memegang kendali atas dirinya sendiri, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumah Dewangga.

​Sepuluh menit kemudian, di ruang rapat yang berdinding kaca, suasana terasa sangat tegang. Para petinggi penerbitan, tim pemasaran, hingga tim kreatif sudah duduk melingkari meja panjang.

​"Bu Siham, kita tahu Anda adalah editor terbaik kami," buka Pak Hendra, sang Direktur Utama. "Tapi pengumuman Aksara Renjana tadi pagi benar-benar mengejutkan. Bagaimana bisa penulis se-fenomenal itu hanya mau berhubungan dengan Anda? Apakah Anda mengenalnya secara pribadi?"

​Siham meletakkan tangannya di atas meja, jemarinya bertautan dengan tenang.

"Kami telah berkomunikasi lewat email selama dua tahun terakhir, Pak. Dia adalah sosok yang sangat tertutup dan memiliki trauma mendalam. Dia mempercayai saya karena saya tidak pernah memaksa dia untuk membuka identitasnya. Baginya, kata-kata adalah satu-satunya wajah yang ingin ia tunjukkan."

​"Tapi pasar menuntut sosok, Bu Siham!" potong kepala pemasaran dengan nada mendesak. "Jika kita bisa membawa Aksara Renjana ke peluncuran buku, penjualannya akan mencetak sejarah. Kenapa dia hanya menyerahkan semuanya pada Anda?"

​Siham menatap tajam ke arah kepala pemasaran tersebut. "Karena dia tahu, di tangan saya, lukanya tidak akan dijadikan komoditas murahan. Dia menyerahkan urusan padaku karena dia tahu aku akan melindunginya."

​Siham berbicara dengan penuh penekanan, seolah ia sedang membela dirinya sendiri di depan dunia. Rapat berlangsung alot. Pihak penerbitan bersikeras ingin bertemu, namun Siham dengan tegas berdiri pada posisinya: Aksara Renjana hanya akan bicara melalui Siham, atau tidak sama sekali.

​"Baiklah, Bu Siham," akhirnya Pak Hendra menyerah. "Kami serahkan urusan negosiasi ini sepenuhnya kepada Anda. Tolong sampaikan padanya, kita akan memberikan royalti tertinggi yang pernah ada di industri ini. Tapi tolong, pastikan dia segera menyelesaikan draf novelnya. Publik sedang haus akan penderitaannya."

​Publik sedang haus akan penderitaannya. Kalimat itu terngiang di telinga Siham saat ia keluar dari ruang rapat. Ia merasa seperti sedang menjual lukanya sendiri kepada industri, namun di sisi lain, ini adalah senjatanya. Uang dan ketenaran yang ia kumpulkan dari nama Aksara Renjana akan menjadi tiket baginya untuk keluar dari rumah Dewangga suatu saat nanti.

​Siham kembali ke mejanya, namun pikirannya melayang pada pesan Dewangga pagi tadi. Sore ini, Papa dan Mama mengundang kita makan malam.

​Dua dunia yang sangat kontras. Di kantor ini, ia adalah pemegang kunci dari seorang penulis paling dicari di negeri ini. Di rumah Dewangga, ia adalah wanita yang dianggap ngelantur dan harus diperiksa ke psikiater.

​Ia mulai mengetik sebuah email balasan dari akun pribadinya ke akun Aksara Renjana sebuah percakapan dengan dirinya sendiri untuk menciptakan jejak digital yang rapi agar tidak ada yang curiga.

​"Siham, tolong urus mereka. Aku sedang tidak ingin bicara. Hatiku baru saja menemukan kotak merah yang isinya lebih tajam dari sembilu. Sampaikan pada penerbit, novel ini akan selesai saat aku sudah benar-benar bebas."

​Siham menarik napas dalam, menutup laptopnya, dan bersiap untuk pulang lebih awal. Ia harus mandi, memakai gaun terbaik, dan mengedit wajahnya kembali menjadi menantu idaman untuk keluarga Dewangga. Ia tahu, di meja makan nanti malam, Dewangga akan membanggakan bisnisnya, sementara Siham akan duduk di sana, menyimpan rahasia bahwa istrinya adalah wanita yang sedang mengguncang dunia literasi dengan rasa sakit yang Dewangga berikan.

1
falea sezi
bertele tele cerai sat set 😒
falea sezi
cerai trs pergi sembuhin diri 😒 ngapain meratapi nasib 😒
Lee Mba Young
laki blm move on di paksa nikah ya bgini hasil nya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
sukensri hardiati
ya Allah ....sihaaam....kuat yaa...
Lee Mba Young
Sdh tau laki gk Cinta, ngapain bertahan smp 5 th.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
lulu oey
AAHH TERLALU LAMA THOR PELAN TAPI PASTI
stela aza
kelamaan Thor ,,, q udh gemes bgt sama si dewangga pingin getok kepalanya biar otaknya balik ketempatnya ,,, 🤦
falea sezi
knp mesti dk kasih skit Thor jd males😕 harusnya abis ne pergi jauh males bgt liat lu nulis scene menderita buat siham 😒
falea sezi
sakit bgt jd siham😕
falea sezi
laki kayak gini harus di buang di laut😕
Lee Mba Young
bner juga sih, mnujual kesedihan sdng penulis alias siham sendiri gk berusaha bangkit. cm jual kesedihan tok tp gk nglawan. coba kl berani main terbuka 🤣. gk akn berani siham. ya cm bisa mnujual tulisan kesedihan itu smp mati. nnti sekarat berharap belas kasian.
Lee Mba Young
ibu meninggal bpk mninggal bukan ninggalin warisan mlh ninggalin penderitaan buat anak. yg mati enak gk ngrasain apapun. yg hidup hrs bertahan dng penderitaan. dosa ortu banget itu.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
Haryati Atie
ka cerita nya bagus banget😍 .
Bunga
buat sigam bahagia dong Thor...jangan bikin tragis banget hidupnya
stela aza
lanjut thor up-nya double donk ❤️❤️❤️
blcak areng: udah up ya kak tiap hari 2 bab kakak 🙏
total 1 replies
stela aza
next thor ❤️❤️❤️
Nurlaila Ikbal
ya Allah sedih sekali thor baca bab ini..semangat thor upnya 🙏🙏🙏🙏
Bunga
sigam perjalanan hidup mu begitu menyakitkan...adakah kebahagian menemui mu....
Bunga
kasian sekali hidupmu shiham.
kenapa di buat semenderita itu thor
stela aza
kelamaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!