"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Menjadi Pelayan Han seol
"Han-Seol... kau iblis licik," desis Nara.
"Jaga mulutmu!"
Madam Oh memberi isyarat pada para pengawal.
"Tuan Muda Han-Seol secara khusus meminta agar kau tidak diserahkan ke penjara kota. Beliau ingin kau 'menebus dosa' dengan menjadi pelayan pribadinya. Kau akan berada di bawah pengawasannya secara langsung."
Nara diseret kasar keluar dari pasar. Ia meronta, namun tubuh Seol-Ah sudah mencapai batasnya.
‘Dia sengaja menjebakku agar aku tidak punya pilihan selain bersembunyi di kediamannya,’ batin Nara penuh amarah.
‘Dia tahu aku butuh perlindungan, dan dia menggunakan hukum untuk mengikatku sebagai budaknya.’
Niskala benar-benar tempat yang kejam. Nara, sang Pembasmi yang ditakuti, baru saja masuk ke dalam sangkar emas milik satu-satunya pria yang berhasil mengakali jiwanya.
Perjalanannya menuju jantung keluarga Han baru saja dimulai, dan kali ini, ia adalah tawanan dari pria yang menganggapnya "milik pribadi".
****
Langkah kaki Nara terasa sangat berat saat ia diseret melewati gerbang kayu raksasa berukir naga keluarga Han. Kediaman ini begitu megah namun terasa dingin, sangat berbeda dengan Rumah Mawar yang penuh hiasan.
Di sini, setiap sudut dijaga ketat oleh para penyihir yang berdiri kaku seperti patung batu. Tubuh Seol-Ah yang sudah letih dipaksa berlutut di atas lantai batu halaman dalam yang kasar.
"Tuan Muda, kami membawanya," lapor Oh Myung-Ja dengan nada tegas namun penuh hormat.
Han-Seol duduk santai di teras kayu, menyandarkan tubuhnya pada tiang penyangga sembari memutar-mutar cawan teh yang mengepulkan uap. Ia tidak lagi mengenakan jubah sutra Rumah Mawar, melainkan pakaian rumah yang sederhana namun tetap memancarkan aura bangsawan.
"Ah, kau sudah sampai, Pencuri Kecil?" ucap Han-Seol tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat puas.
Nara mendongak, matanya berkilat penuh amarah meski ia masih berakting meraba-raba lantai seolah-olah buta.
"Kau menjebakku! Kau memberiku emas itu agar aku ditangkap!"
Han-Seol meletakkan cawannya, lalu melangkah turun dari teras. Ia mendekati Nara, bayangannya yang tinggi menelan tubuh kecil Seol-Ah. Ia membungkuk sedikit, menatap langsung ke arah mata Nara yang tertutup kain.
"Menjebak? Itu kata yang kasar," bisik Han-Seol, suaranya hanya bisa didengar oleh Nara.
"Aku menyebutnya 'memberikan perlindungan permanen'. Di luar sana, kau adalah buronan Nyonya Kim dan pasukan Do-Kwang. Tapi di sini, kau hanya seorang pelayan yang berhutang nyawa pada keluarga Han."
"Aku lebih baik membusuk di penjara daripada menjadi budakmu!" desis Nara.
"Sayangnya, kau tidak punya pilihan," sahut Han-Seol datar.
Ia berpaling ke arah Oh Myung-Ja. "Bibi Oh, mulai hari ini, Seol-Ah adalah pelayan pribadiku. Dia yang akan menyiapkan mandiku, merapikan buku-bukuku, dan yang paling penting, dia tidak boleh lepas dari pengawasanku."
Oh Myung-Ja mengernyitkan dahi. "Tuan Muda, dia adalah pencuri. Apakah aman menempatkan orang seperti ini di sisimu?"
"Justru karena dia pencuri, dia sangat berguna bagiku, Bibi Oh," Han-Seol kembali menatap Nara dengan senyuman misterius.
"Dia baru saja mencuri sesuatu yang sangat berharga dariku semalam... yaitu rasa penasaranku."
****
Setelah Oh Myung-Ja menunjukkan kamar pelayan yang sempit, Han-Seol langsung memberikan tugas pertamanya. Ia membawa Nara ke sebuah paviliun terpisah yang berisi kolam pemandian batu raksasa yang dipahat langsung dari gunung. Aroma uap air dan minyak cendana memenuhi ruangan itu.
"Angkut air dari sumur di halaman belakang, masak airnya di dapur, lalu pindahkan ke bak mandi ini," perintah Han-Seol.
"Aku ingin berendam air hangat sebelum tidur. Cepat lakukan."
Nara melotot di balik cadarnya. Ia menyisir ukuran kolam batu yang luas dan sangat dalam itu.
"Tuan, Anda tidak salah? Menyuruh saya mengisi kolam seluas ini sendirian? Ini sudah tengah malam!"
Han-Seol mengerutkan kening, wajahnya tampak sangat tidak peduli. "Lakukan saja apa yang kusuruh. Jangan banyak membantah jika kau masih ingin menghirup udara di rumah ini besok pagi."
Han-Seol melengos pergi, meninggalkan Nara yang berdiri mematung sambil mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih.
Han-Seol sebenarnya tidak sedang ingin mandi; ia sedang melakukan pengujian fisik. Ia ingin melihat seberapa besar daya tahan dan tekad yang disembunyikan oleh jiwa "Nara" di dalam tubuh Seol-Ah yang rapuh itu.
"Aku akan benar-benar menebas lehernya suatu hari nanti," gerutu Nara dengan suara yang sangat pelan.
Dengan napas yang mulai tersengal, Seol-Ah mulai bekerja. Ia menyambar ember kayu berat yang terasa sangat besar untuk lengannya yang mungil dan mulai menimba air dari sumur belakang yang gelap.
Raga yang tidak pernah bekerja berat itu segera bergetar hebat menahan beban air yang tumpah-tumpah. Setiap langkah dari sumur ke dapur terasa seperti siksaan fisik yang nyata. Ia harus menyalakan api tungku, menunggu air mendidih, lalu mengangkutnya kembali ke kolam pemandian.
Kain cadar yang ia pakai sudah terlepas entah ke mana, dan ia menyeka keringat dengan kain penutup matanya yang ia simpan di saku hanbok.
Proses itu ia lakukan berulang-ulang, belasan kali, hingga peluh membanjiri raga kumalnya. Otot-otot lengannya terasa seperti diperas habis-habisan.
Namun, harga dirinya sebagai seorang pendekar melarangnya untuk menyerah.
Hampir tengah malam saat kolam itu akhirnya penuh. Dengan tubuh yang gemetar, Seol-Ah menghampiri Han-Seol. "Tuan... airnya sudah siap," ucapnya dengan sisa tenaga di tenggorokannya.
Han-Seol berdiri dan berjalan menuju ruang pemandian tanpa mengucapkan satu pun kata terima kasih. Ia melepas jubah luarnya dan menyerahkannya begitu saja pada Seol-Ah untuk dipegang.
Namun, begitu kulitnya menyentuh permukaan air, Han-Seol berdecak kesal. "Kenapa airnya dingin?"
"Tentu saja mendingin, Tuan! Saya harus mengisi kolam itu sendirian dalam waktu yang sangat lama! Air yang pertama saya masukkan tentu sudah mendingin saat air terakhir baru saja matang!" jawab Seol-Ah dengan nada membentak. Ia sudah tidak peduli lagi jika harus dihukum saat itu juga.
Han-Seol menatapnya tajam, namun ada kilatan aneh di matanya—seolah ia puas melihat pelayannya marah.
"Tugasmu gagal total karena kau tidak bisa mengatur waktu. Sekarang, cepat pergi ke kamarku dan sediakan baju ganti yang baru untukku."
Seol-Ah mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Saat ia hendak berbalik, matanya tertuju pada punggung Han-Seol yang sedang bersandar santai di tepi kolam.
Amarahnya meluap, dan dalam sekejap, dunianya berubah menjadi biru gelap yang mistis.
[Imajinasi Seol-Ah]
Seol-Ah berdiri tegak, bukan dalam raga pelayan yang ringkih, melainkan dalam wujud aslinya sebagai sang Pembasmi yang perkasa. Ia tidak lagi memegang jubah kotor, melainkan pedang perak yang berkilau tajam. Dengan satu sentakan tangan, ia merapal mantra kuno.
"Mendidih-lah!" desisnya kejam.
Seketika, air kolam di bawah Han-Seol bergejolak hebat, berubah menjadi pusaran air panas yang meledak-ledak.
Han-Seol yang tadi angkuh kini terperangkap, matanya membelalak ketakutan saat Seol-Ah melayang di atas permukaan air dengan seringai predator.
"Kau ingin mandi air hangat, Tuan Muda?"
Seol-Ah tertawa melengking, suara tawa kemenangan yang menggema.
"Akan kubuat kau mendidih sampai ke tulang-tulangmu!"
[Kembali ke Realita]
Seol-Ah masih berdiri di ambang pintu, bahunya berguncang pelan karena ia tertawa kecil tanpa sadar, wajahnya terlihat sedikit menyeramkan di bawah cahaya obor yang bergoyang.
"Kenapa kau masih berdiri di sana dan tersenyum mengerikan seperti itu? Apa kau sedang merencanakan pembunuhan di dalam kepalamu?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Han-Seol membuat Seol-Ah tersentak hebat hingga hampir terjungkal. Khayalan agungnya hancur berkeping-keping.
"M-maaf, Tuan! Saya tidak tertawa! Saya hanya... sedang sesak napas karena uapnya terlalu panas! Saya segera pergi!"
Seol-Ah buru-buru berlari menuju kamar utama dengan wajah memerah karena malu ketahuan melamunkan hal gila.
****
Seol-Ah melangkah masuk ke dalam kamar utama yang sunyi. Ia segera bergerak menyiapkan pakaian tidur sutra yang halus, berusaha mengalihkan rasa kesal akibat kejadian di kolam mandi tadi.
Namun, saat ia merapikan meja jati di sudut ruangan, gerakan tangannya mendadak membeku.
Di bawah temaram lampu minyak, sesuatu berkilau dengan pendar perak yang dingin. Sebuah Lencana Perak Cheon-gi Won tergeletak begitu saja di atas nampan kecil, seolah-olah memang sengaja diletakkan di sana untuk menggodanya.
Jantung Seol-Ah berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ia tahu persis benda itu; itu bukan sekadar hiasan bangsawan. Lencana itu adalah kunci akses utama untuk melewati gerbang terlarang Kompleks Cheon-gi Won.
‘Jika aku memilikinya, aku bisa mengambil kembali pedang perakku sebelum mereka menyegelnya di dalam Paviliun Jinyowon,’