karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Maudi masih mematung, tubuhnya kini tertutup oleh jaring yang sangat bau akan alkohol...
"Kena kau, bakteri!" teriak Kevin girang dari balik semak-semak. Ia memakai baju APD lengkap, berwarna kuning mencolok, membuatnya tampak seperti pisang raksasa di tengah kegelapan.
Maudi membeku di dalam jaring. Ia mencium aroma menyengat dari alkohol 70% yang membasahi jaring itu. ':Serius? Mereka menculikku pakai alkohol?'' batin Maudi menahan tawa.
Rasya keluar dari balik mobil, berdiri lima meter jauhnya sambil memegang senter UV. "Maudi Daneswara, atau siapa pun namamu. Ikutlah denganku secara baik-baik ke laboratorium, dan aku akan memberikanmu lingkungan paling steril di dunia...."
Maudi pura-pura ketakutan, suaranya dibuat gemetar. "T-tuan... tolong... Maudi banyak kuman, Maudi sedang gatal-gatal, Maudi belum mandi dua hari!"
Mendengar kata belum mandi dua hari, Rasya refleks mundur dua langkah dengan wajah pucat. "Kevin! Jangan biarkan dia mendekatiku! Semprot dia lagi!"
"Siap, Tuan!" Kevin dengan semangat menyemprotkan disinfectant spray ke arah Maudi hingga udara di sana penuh kabut putih.
Memanfaatkan kabut dari semprotan Kevin yang memenuhi udara, Maudi bergerak secepat kilat. Ia mengeluarkan pisau kecil dari balik sepatunya, menyayat jaring itu dalam satu gerakan halus.
Saat kabut menipis, Kevin melongo. Jaring itu kosong.
"Lho? Tuannn! Bakterinya hilang!" pekik Kevin panik.
"Di atasmu, Kevin," suara dingin Rasya terdengar.
Kevin mendongak. Maudi sudah duduk santai di atas dahan pohon tinggi, sambil memainkan botol hand sanitizer milik Kevin yang entah sejak kapan sudah berpindah tangan ke tangannya.
"Tuan higienis" ucap Maudi dengan nada mengejek. "Terima kasih semprotannya, aromanya lumayan segar. Tapi kalau mau menculikku, lain kali jangan pakai baju kuning terang. Anda terlihat seperti target latihan tembak bagi orang-orang sepertiku." Maudi memainkan pistol nya... sesekali mengarahkannya pada Rasya dan Kevin yang bergidik ngeri.
"Kurang ajar..." desis Rasya. Ia ingin mengejar, tapi ia melihat Maudi baru saja menyentuh batang pohon yang penuh lumut dengan tangan kosong. "Kevin, jangan kejar! Dia sudah terkontaminasi lumut! Itu menjijikkan!"
Maudi tertawa kecil, ia melemparkan sebuah botol kecil ke arah Rasya. Refleks, Rasya menangkapnya dengan sapu tangannya ,ia takut menyentuh botol itu langsung.
"Itu sabun buatanku. Pakailah kalau Anda merasa dunia ini terlalu kotor untuk Anda," teriak Maudi sebelum melompat ke balik tembok dan menghilang dalam kegelapan.
Kevin mendekat, mencoba mengintip botol itu. "Tuan, apa itu racun?"
Rasya membuka tutup botolnya sedikit. Seketika, aroma bunga alami yang sangat murni dan menenangkan menyeruak, aroma yang sama dengan bidadari di bandara pagi tadi. Anehnya, Rasya yang biasanya mual dengan bau parfum menyengat, justru merasa paru-parunya seperti dibersihkan.
"Ini... bukan sabun biasa," gumam Rasya. Matanya menatap ke arah Maudi menghilang. "Dia baru saja menghina standarisasi laboratoriumku dengan satu botol kecil ini." ucap Rasya dengan ketus,dadanya merasa sesak karena baru saja mendapatkan ejekan dari gadis kecil.
"Jadi kita pulang, Tuan? Saya sudah gatal-gatal pakai baju hazmat ini," keluh Kevin sambil menggaruk punggungnya.
"Pulang. Dan Kevin... besok kau harus mandi cairan pemutih. Kau sudah membiarkan aset berharga itu lepas seperti belut," perintah Rasya ketus sambil masuk ke mobil yang bagian dalamnya sudah disemprot ulang oleh sistem otomatis.
Di kejauhan, Maudi yang sedang memantau mereka lewat teropong malam menggelengkan kepala. "CEO paling jenius di Asia ternyata bisa dikalahkan oleh ketakutannya pada lumut. Menarik juga bermain-main dengan Tuan Steril ini..." Maudi yang merasa terhibur masuk kembali ke paviliun, tidak jadi pergi ke markasnya karena sudah semakin larut.
___
Fajar baru saja menyingsing, membiaskan cahaya jingga pucat ke balik jendela kamar Maudi. Maudi baru saja selesai melaksanakan salat subuh ketika pintu kamarnya digedor kasar.
BRAK!
Seina masuk ke paviliun tanpa permisi, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi amarah yang meluap-luap. Ia terlihat seperti wanita yang tidak tidur semalaman karena teror yang ia alami.
Dor...
Dor....
Dor...
Maudi menggedor kamar mandi dengan keras.
"Maudi! Keluar kamu, dasar anak sialan!" teriak Seina.
Maudi langsung mengoleskan krim buruk rupa pada wajahnya....
Ceklek....
audi membuka pintunya dengan santai.
Seina langsung menarik paksa khimar Maudi.namun tidak sampai terlepas karena kekuatan Maudi yang jauh lebih besar dari Seina "Apa yang kamu lakukan semalam? Kamu yang menyuruh Bram datang ke sini, kan? Kamu yang membocorkan rencanaku?"
Maudi berdiri dengan tenang, ia menepis tangan Seina dengan gerakan lembut namun tegas. Ia menatap ibu tirinya itu dengan tatapan datar yang membuat bulu kuduk Seina berdiri.
"Ibu bangun terlalu pagi untuk seseorang yang baru saja gagal melakukan pembunuhan," jawab Maudi dingin.
Seina ternganga, napasnya memburu. "Apa maksudmu?"
"kemarin malam, tanpa sengaja, aku mendengar telepon Ibu dengan Bram," suara Maudi kini merendah, berat dan penuh penekanan. "Ibu merencanakan kematian Kakek dengan sangat detail. Sayang sekali, rencana Ibu tidak hanya cacat, tapi juga memalukan."
Seina memucat. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan berteriak. "Itu fitnah! Kamu mau mengadu ke Papa? Silakan! Doni tidak akan percaya pada gadis lusuh sepertimu!"
Maudi melangkah maju, memaksa Seina mundur hingga punggungnya membentur pintu. Maudi berbisik tepat di depan wajah Seina. "Aku tidak akan mengadu. Mengadu itu membosankan. Aku lebih suka... membuat Ibu melihat kematian Ibu sendiri setiap kali Ibu memejamkan mata."
"Maksudmu apa?!" desis Seina, suaranya bergetar.
"Ingat sup semalam?" Maudi tersenyum tipis di balik cadarnya. "Tadi malam, aku tidak benar-benar memberikan penawar racun yang sempurna. Aku memberikan dosis yang akan membuat Ibu mengalami mimpi buruk yang terasa nyata. Setiap kali Ibu tidur, Ibu akan mendengar suara detak jantung Kakek yang akan berhenti. Dan Ibu akan merasakan rasa sakit yang sama dengan yang Ibu rencanakan untuk Kakek...dan untuk kakek, aku sudah memberikan penawarannya terlebih dahulu di minuman kakek, jadi kakek tidak akan merasakan apapun"
Seina memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat. "Kamu... kamu iblis!"
"Aku hanya anak Ibu. Bukankah Ibu yang bilang begitu?" Maudi terkekeh pelan, tawa yang terdengar seperti gesekan pisau. "Ibu tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Ibu hanya perlu tahu bahwa setiap langkah Ibu di rumah ini, setiap percakapan Ibu dengan Bram ataupun yang lainnya , setiap niat busuk Ibu semuanya sudah berada dalam genggamanku."
Maudi berjalan menuju cermin, merapikan khimarnya dengan tenang. "Sekarang, pergilah. Ibu harus terlihat cantik di depan Kakek saat sarapan nanti. Jangan sampai dia melihat wajah ketakutan Ibu, nanti dia curiga."
" ibu yang mendidikku sangat keras dulu, dan lihatlah sekarang, aku bisa jadi teman atau musuh ibu" ucap Maudi dengan pelan.
Seina yang kehilangan akal sehatnya langsung berbalik pergi, namun ia berhenti di ambang pintu. "Aku akan menyingkirkanmu, Maudi. Aku akan pastikan kamu keluar dari rumah ini, baik dalam keadaan hidup atau mati!"
Maudi tidak menoleh. "Silakan dicoba, Ibu. Tapi ingat, kalau Ibu mencoba menyentuhku, mungkin Maudi akan melaporkan ibu ke kantor polisi...
Mendengar kantor polisi, Seina semakin meradang" heh,dasar anak tidak tahu di untung, aku yang melahirkan mu, aku yang menyusuimu, kau mau menjebloskan ibumu sendiri ke penjara, dasar anak durhaka" teriak Seina menggema di dalam paviliun itu.
"Aku seperti ini juga gara-gara ibu" jawab Maudi dengan wajah tersenyum mengejek.
Seina Mergi dengan membawa sejuta amarah, ternyata Maudi tidak selugu yang ia kira...ia harus merencanakan untuk menyingkirkan Maudi secepatnya atau, dirinya yang akan tersingkir kalau rahasianya terbongkar.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.