NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

fokus pada yang dimiliki

“Sindi, aku mau turun.”

“Mau ngapain?”

“Aku akan melabrak Ratna. Dari dulu dia memang terobsesi memiliki apa pun yang aku miliki. Aku harus menghancurkan pesta itu.”

Sindi memegang pundak Nadia erat.

“Sayang, aku tanya sama kamu. Kamu mau cerai atau tidak sama Raka?”

Nadia terdiam.

Cerai?

Kata itu tak pernah benar-benar hadir dalam pikirannya.

Selama ini, seburuk apa pun keadaan rumah tangga mereka, Nadia selalu percaya bahwa semuanya masih bisa diperbaiki.

Namun hari ini, dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan Raka mengucapkan ijab kabul dengan perempuan lain.

“Ayo, Nadia. Tadi kamu bilang mau bercerai. Kenapa sekarang ragu?”

Nadia menutup mata sejenak.

Dadanya terasa sesak.

Tetapi rasa sakit yang baru saja ia saksikan jauh lebih besar daripada ketakutannya menghadapi masa depan.

“Iya,” ucapnya lirih. “Aku mau cerai, Sin.”

“Kalau begitu, jangan melabrak mereka di sini.”

“Kenapa?”

“Kamu harus kumpulkan semua bukti perselingkuhan Raka, lalu gugat dia di pengadilan.” Suara Sindi terdengar penuh emosi. “Raka itu memang tidak pantas buat kamu. Dia itu sampah.”

Nadia menggeleng.

“Aku harus membubarkan pernikahan ini. Pernikahan ini tidak sah. Aku harus mempermalukan mereka.”

“Untuk apa, Nadia?” Sindi menatapnya lekat. “Jangan pernah tunjukkan kalau kamu hancur karena suami sampahmu menikah lagi. Dia sudah mengkhianati kamu. Suami seperti itu tidak layak dipertahankan.”

Ucapan itu membuat air mata Nadia kembali jatuh.

Rasa sesak memenuhi dadanya.

“Sin, kurang apa aku sama Mas Raka?” isaknya pecah. “Apa yang kurang dariku?”

Sindi memeluk sahabatnya.

“Sudahlah. Memang Mas Raka itu buta.” Sindi mengusap punggung Nadia lembut. “Perempuan sebaik kamu, secantik kamu, dia sia-siakan begitu saja. Suatu hari nanti dia pasti menyesal.”

Nadia tidak menjawab.

Ia hanya menarik napas panjang beberapa kali, berusaha menenangkan dirinya yang nyaris runtuh.

Akhirnya, dengan suara lelah, ia berkata, “Sin, bawa aku pergi dari sini. Aku mau pulang.”

Sindi mengangguk.

“Oke. Kita pulang.”

Ia meraih ponsel untuk menelepon Mang Darman.

Namun, sebelum tombol hijau sempat ditekan, pintu mobil sudah terbuka.

Mang Darman berdiri di luar.

“Mang, kita pulang,” ucap Sindi.

“Baik, Neng,” jawab Mang Darman.

Mobil pun melaju perlahan meninggalkan hotel itu.

Meninggalkan gedung tempat suaminya mengucapkan janji suci dengan perempuan lain.

Nadia menatap ke luar jendela.

Lampu-lampu hotel semakin menjauh.

Janur kuning yang tadi terlihat begitu mencolok kini perlahan menghilang dari pandangannya.

Sindi terus menggenggam tangan Nadia erat.

Seolah ingin memastikan bahwa meski dunia Nadia baru saja runtuh, ia tidak sedang melewati semua itu sendirian.

Akhirnya Nadia sampai di rumah.

“Beb, kamu mending tinggal di apartemenku saja,” tawar Sindi.

Nadia menggeleng pelan.

“Untuk sementara, aku di sini dulu saja, Sin. Sekalian, tolong carikan aku rumah sederhana, ya?”

“Tenang saja.” Sindi tersenyum. “Aku sekarang sedang membangun cluster. Rumah minimalis, cocok buat kamu.”

Nadia tertegun.

“Hal seperti itu saja kamu jadikan bisnis?”

Sindi tertawa kecil.

“Kita ini perempuan harus punya banyak uang, Sayang. Kalau tidak, kita akan terus ditindas.”

Nadia ikut tersenyum.

Dulu, kalimat semacam itu terdengar seperti slogan yang terlalu berlebihan.

Sekadar euforia tentang perempuan yang ingin terlihat kuat.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Nadia memahami maknanya.

Seorang perempuan memang harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

“Terima kasih, ya,” ucap Nadia pelan. “Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus melewati semua ini seperti apa.”

Sindi menatapnya sambil mengangkat telunjuk.

“Kamu jangan blokir lagi nomor aku.”

Nadia tersenyum tipis.

“Iya.”

Ia turun dari mobil.

Sindi melambaikan tangan sebelum mobil itu perlahan menjauh dan akhirnya menghilang di tikungan.

Nadia tetap berdiri di depan rumah.

Rumah yang pernah ia anggap sebagai tempat pulang.

Rumah yang sempat terasa hangat.

Namun lebih sering meninggalkan luka.

Ia menatap bangunan itu lama.

Dinding-dinding yang selama ini menyimpan tawa, doa, dan harapan.

Dan juga kebohongan.

Memasuki ruang tengah, Nadia memandang sekeliling.

Rumah ini pernah ingin ia jadikan tempat tumbuhnya sebuah keluarga.

Namun kini ia sadar, satu rumah ini telah sepakat menyembunyikan pengkhianatan dari dirinya.

Nadia melangkah masuk ke kamar.

Ia menutup pintu, lalu duduk di tepi ranjang.

Kedua lututnya ditarik ke dada.

Tangannya memeluk tubuh sendiri.

Dan perlahan, tangis itu kembali pecah.

“Andai Ayah dan Mama masih ada,” gumamnya.

Air mata terus mengalir membasahi pipi.

“Kenapa, Mas Raka? Kenapa?”

Malam itu, Nadia menangis sendirian.

Hanya berhenti ketika waktu salat tiba.

Selebihnya, ia membiarkan air mata mengalir, seolah dengan begitu beban di dadanya bisa sedikit berkurang.

Menjelang pukul dua dini hari, Nadia bangkit.

Ia mengambil air wudu, lalu berdiri menghadap kiblat.

Di sepertiga malam, ketika dunia begitu sunyi, Nadia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Allah.

Tidak ada kata-kata indah.

Tidak ada doa yang panjang.

Hanya tangis seorang perempuan yang merasa dikhianati oleh orang yang paling dicintainya.

Setelah berdoa, Nadia duduk kembali di atas sajadah.

Bibirnya melengkung tipis.

Ia tertawa kecil, meski air mata masih mengalir.

“Kenapa aku berharap pada orang yang tidak pernah benar-benar mengharapkanku?”

Nadia menarik napas panjang.

Dadanya masih sesak.

Namun untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya mulai jernih.

“Aku memang tidak punya keluarga,” bisiknya pelan.

Kalimat itu terasa pahit.

Tetapi justru di situlah ia menemukan kekuatan.

Ia menatap ke depan dengan mata sembap.

“Tapi aku punya deposito miliaran rupiah. Tabungan ratusan juta. Beberapa ruko.”

Nadia menghapus air matanya.

“Kalau harus bercerai, ya bercerai.”

Suaranya terdengar pelan, tetapi mantap.

“Aku akan tetap hidup dengan baik.”

Ia terdiam sejenak.

Lalu satu nama terlintas di benaknya.

Nanda.

Nadia menggenggam ujung sajadah erat.

“Dan aku akan memperjuangkan Nanda untuk tetap bersamaku.”

Malam itu, di antara tangis, luka, dan doa-doa yang basah oleh air mata, Nadia akhirnya menemukan sesuatu yang nyaris hilang.

Keberanian untuk memulai hidup baru.

Waktu terus berlalu.

Pagi berganti siang, lalu merambat menuju sore.

Nadia hanya menghabiskan hari itu di ruang keluarga, menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditayangkan.

Pikirannya kosong.

Atau mungkin justru terlalu penuh.

Menjelang sore, suara mobil Raka terdengar memasuki halaman.

Biasanya, begitu mendengar suara mesin mobil suaminya, Nadia akan bergegas keluar untuk membukakan gerbang.

Namun kali ini, ia tetap duduk di tempatnya.

Tidak bergerak.

Beberapa kali klakson mobil berbunyi.

Nyaring.

Berulang-ulang.

Tetapi Nadia tetap diam.

Tak lama kemudian terdengar suara gerbang dibuka.

Raka terpaksa turun dan membuka gerbang sendiri.

Sesaat kemudian, langkah kaki terdengar tergesa memasuki rumah.

“Nadia!” teriak Raka.

Nadia bangkit perlahan dan melangkah ke ruang depan.

Wajahnya datar.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kehangatan yang biasanya menyambut kepulangan suaminya.

“Ada apa?” tanyanya tenang.

Tanpa mencium tangan Raka.

Tanpa menundukkan kepala.

Raka mengerutkan kening.

“Cepat turunkan semua barang. Dari tadi aku pencet klakson, kamu enggak keluar-keluar.”

Nadia tidak menjawab.

Ia hanya memandang Raka lurus-lurus.

Tatapan yang membuat lelaki itu mendadak tidak nyaman.

Tatapan itu berbeda.

Bukan tatapan Nadia yang biasa.

Bukan tatapan seorang istri yang selalu berusaha menyenangkan suaminya.

“Mana Nanda?” tanya Nadia.

“Di mobil. Tidur.”

Tanpa menanggapi Raka, Nadia langsung melangkah ke luar.

Ia membuka pintu mobil dan mendapati Nanda tertidur pulas di kursi belakang.

Dengan hati-hati, Nadia menggendong anak itu ke dalam rumah.

“Nadia, sekalian ambilkan koper Mama,” ucap Yuni dari dalam mobil.

Nadia menoleh.

Tatapannya tenang.

“Mama masih sanggup menghadiri pesta. Masa tidak sanggup mengambil koper sendiri?”

Suaranya datar.

Nyaris tanpa emosi.

“Nadia!” suara Raka meninggi.

Namun Nadia tidak menoleh.

Ia tetap melangkah masuk sambil menggendong Nanda.

Raka dan Yuni saling berpandangan.

Untuk pertama kalinya, mereka melihat sesuatu yang berbeda pada diri Nadia.

Perempuan yang selama ini selalu menunduk, selalu mengalah, dan selalu diam itu...

Kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang.

Namun ketenangan itu justru terasa lebi menakutkan daripada kemarahan.

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!