Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
"Sin, kamu baik-baik saja?" Lili langsung melontarkan pertanyaan ketika melihat Sinta yang baru muncul setelah sesaat menghilang.
Sebisa mungkin, Sinta memaksakan senyum kecil agar terlukis di bibirnya. "Iya. Aku baik, Lilian."
"Kamu yakin?"
"Hm."
"Oh iya, barusan, kamu dari mana, Sinta?"
"A-- aku ... dari ... kamar mandi."
Sinta memilih untuk berbohong bukan karena ingin melindungi Rama. Hanya saja, dia tidak punya bukti untuk bicara kepada semua orang apa yang sudah Rama lakukan pada Lusi. Jika saja dia punya bukti, maka Rama akan tamat.
*
Hari-hari berlalu sejak kejadian itu. Lusi sudah pulih sepenuhnya. Tapi kenyataan tentang Rama yang menyakiti Lusi, masih tersimpan dengan baik karena Sinta yang masih tidak punya bukti untuk mengungkapkannya.
Untuk hubungan Rama dan Sinta, jarak semakin tercipta. Sedangkan Risa, dia semakin dekat saja dengan Rama. Sampai-sampai, Dorin angkat bicara saat dia datang ke kantor cabang untuk bertemu sepupunya itu.
"Ram, kamu kok semakin menjauh saja dari Sinta? Kalian, masih berniat untuk melanjutkan pernikahan atau nggak sih sebenarnya?"
Rama mengalihkan pandangannya dari laptop. Hembusan napas berat nan panjang dia perdengarkan. "Aku ... entahlah, Dorin."
"Entahlah? Apa maksudnya itu?"
"Ya ... entahlah. Aku sedikit tidak yakin untuk melanjutkan pernikahan. Kalau bisa, aku berniat untuk menunda pernikahan ini. Lagian, Sinta yang ngebet banget pengen nikah. Hari penentuan tanggal, aku kan gak datang. Eh ... malah menetapkan pernikahan dua bulan kedepan."
Penjelasan panjang lebar dari Rama membuat Dorin menatap lekat ke arah sepupunya itu.
"Kamu tidak yakin?"
Hembusan napas berat Dorin lepaskan. "Pernikahan ini bukan main-main, Ram. Sinta sudah lama menunggu. Masa iya kamu seperti ini sih sama dia."
"Ya terus harus gimana, Dorin? Sinta itu anak manja. Pencemburuan lagi. Salah dikit aja, urusannya akan panjang sama dia."
"Kamu tahu dia pencemburuan, tapi kamu malah bikin gara-gara. Harusnya, kamu jaga perasaan Sinta biar semua baik-baik saja."
Rama langsung memberikan Dorin tatapan tajam. "Sebenarnya, kamu ini saudara siapa, Dorin? Kamu terlalu jelas memihak Sinta. Padahal, dia cuma orang luar yang sama sekali belum jadi bagian dari keluarga kita."
Dorin pun akhirnya terdiam. Dia ingin tetap membela Sinta. Hanya saja, dia tidak ingin berdebat dengan sepupunya ini.
Satu tepukan pelan Dorin jatuhkan ke pundak Rama. "Ram, pikirkan lagi jika ingin berulah. Sinta itu perempuan. Dia gak akan suka jika harus menunggu lebih lama. Kamu mengertikan dengan apa yang aku maksudkan?"
Rama tidak langsung menjawab. Matanya menatap lekat wajah sepupunya itu. Sesaat kemudian, dengusan pelan terdengar.
"Heh .... Sinta sangat mencintai aku. Aku yakin kalau dia akan sabar menunggu. Sekalipun aku menunda pernikahan, dia tetap akan terima."
"Apa? Jangan terlalu percaya diri kamu, Rama. Jika Sinta bosan-- "
"Dia gak akan bosan. Lagian, pernikahan keluarga ini sudah ditetapkan sejak kami sama-sama remaja. Jadi, dia akan tetap nunggu aku walau dengan penantian yang sangat lama."
Dorin benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. Rama yang terlalu percaya diri sangat sulit untuk dinasehati. Dia pikir, Sinta tidak akan rela melepaskannya. Gadis itu akan menunggu walau seberapa lama waktu yang dia ulurkan. Sayangnya, Rama lupa, selain dirinya, di keluarga Hermawan juga punya tuan muda yang lainnya. Yang bisa menggantikan posisinya untuk menikah dengan Sinta.
Di sisi lain, Risa sedang memikirkan cara agar pernikahan Rama bisa diundur. Paling bagus, bisa dibatalkan sekalian. Dia tentu saja tidak akan rela jika Rama menikahi Sinta. Karena setelah usaha panjang, mimpi indahnya hampir terwujud. Jika Rama menikah, sama saja dengan menghancurkan mimpi indah yang telah ia bangun sebelumnya.
"Aku harus apa?" Risa bertanya pada dirinya sendiri sambil maju mundur di kamar sederhana miliknya.
"Pernikahan kak Rama tidak akan lama lagi. Cara untuk memojokkan Sinta tidak ada yang berhasil. Akhir-akhir ini malahan aku gagal melulu. Selalu saja Sinta tidak bisa aku temui."
"Aduh ... gimana caranya ya? Gimana?"
Sementara itu, persiapan pernikahan Sinta memang sudah hampir selesai. Mulai dari tempat resepsi, hingga gaun pengantin. Semua sudah siap. Bahkan, Wana juga sudah menyiapkan gaun cadangan untuk istrinya ini. Gaun yang dia pesan sendiri untuk dewi bulan yang dia puja selama ini.
"Bagaimana, Danu? Gaunnya sudah siap, bukan?"
"Sudah, tuan muda. Jangankan gaun, set perhiasan, hingga sepatu tuan putri juga sudah siap. Singkatnya, semua persiapan sudah rampung, tuan muda."
Senyum manis langsung terukir di bibir Wana. "Bagus. Tuan putriku harus cantik saat resepsi nanti."
Kebahagiaan yang ada di depan mata tidak sepenuhnya menyentuh hati Danu. Bagaimana tidak? Hati si asisten tuan muda itu sangat was-was sekarang. Dia sangat takut jika pernikahan itu tidak terjadi. Padahal, tuan mudanya sudah menyiapkan segala keperluan dengan susah payah, juga disiapkan dengan sepenuh hati.
"Tuan muda. Bagaimana kalau ... nona Sinta berubah pikiran?"
Wana tidak menoleh. Namun, ucapan itu jelas mampu mengusik hatinya. "Itu ... aku tidak keberatan. Yang penting, gadis dewi bulan ku bahagia, Danu."
"Tapi, tuan muda .... "
"Danu. Tidak perlu terlalu cemas. Aku sudah sering terluka. Jadi, jika aku harus terluka lagi untuk orang yang aku suka. Aku juga gak papa. Asal dia bahagia, maka aku juga akan bahagia."
Tentu saja Danu langsung kehabisan kata-kata. Tapi, dia tetap tidak ingin tuan mudanya terlalu berharap. Karena jika terlalu berharap, luka yang akan dialami oleh tuan mudanya akan semakin parah.
"Tuan muda. Ee ... saya punya kabar tentang nona Sinta sebenarnya."
"Kabar apa? Katakan!"
"Itu ... kemarin, tuan muda Rama datang untuk menemui nona Sinta. Tapi apa yang mereka bicarakan, saya tidak tahu. Saya hanya tahu kalau mereka bertemu saja."
Deg. Jantung Wana berdetak sedikit lebih cepat dari yang sebelumnya. Walau begitu, Rama berusaha untuk tidak memperlihatkan apa yang ia rasakan pada Danu.
"Mereka bertemu, biarkan saja. Bagaimanapun, mereka memang sangat dekat sebelumnya, bukan?"
"Iya. Itu .... "
"Danu, aku tahu apa yang sedang kamu cemaskan. Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas, Danu."
'Jika pernikahan itu bukan untukku. Aku akan tetap menerimanya.' Wana berucap dalam hati.
Bagaimanapun, Wana selalu menjaga hati agar tetap sadar siapa dirinya. Dia tidak mungkin memaksa. Dia juga tidak sepenuhnya berharap jika pernikahan itu nyata. Sebab, dia sangat sadar akan kekurangan yang ia miliki. Dia tidak sempurna. Sedangkan gadis yang akan dia nikahi terlalu sempurna di matanya. Jadi, jika gadis itu berbalik hati dengan tidak setuju untuk menikah dengannya nanti, dia akan tetap berbesar hati untuk menerima keputusan itu.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️