Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu di Layar
"Seriusan? Seumur hidup nulis cuma dapat segini?"
Dori menatap layar laptopnya dengan mata melotot. Angka di depannya terlihat sangat menyakitkan. Saldo masuk hari ini hanya cukup untuk membeli sebungkus mi instan dan air putih.
Ini penghinaan bagi seorang penulis, atau setidaknya bagi egonya.
Ia menghela napas panjang, lalu memukul pelan body komputer yang sudah kusam. Suara mesin berdecit kasar, memprotes perlakuan tuannya.
Laptop ini sudah tua, sangat tua. Layarnya belang, keyboard-nya ada yang hilang tutsnya, dan sering mati mendadak tanpa alasan jelas.
Tapi apa boleh buat?
Dori mahasiswa biasa, kantong tipis, dan cita-cita setinggi langit. Satu-satunya harta dan senjatanya hanyalah benda rongsok ini.
"Harus ganti. Kalau nggak ganti sekarang, naskahku yang bakal mati duluan," gumamnya pelan.
Sore itu juga, dengan sisa uang tabungan hasil ngirit jajan berbulan-bulan, Dori pun pergi ke pasar loak. Ia berjalan menyusuri deretan toko elektronik bekas, matanya mencari-cari barang yang paling masuk akal.
Matanya tertuju pada sebuah laptop di sudut etalase. Warnanya hitam pekat dengan ukiran motif naga hijau yang samar di tutsnya. Desainnya kuno tapi terlihat kokoh dan misterius.
Penjualnya memberikan harga sangat murah.
"Beli ini aja deh. Yang penting bisa ngetik dan nggak berat," batin Dori memutuskan.
Sesampainya di kamar kos yang sempit dan pengap, Dori langsung menyambungkan kabel power. Jantungnya berdegup cepat, campuran antara harap dan cemas.
Ia menekan tombol power.
Bruzzt...
Mesin menyala. Namun, bukan cahaya putih biasa yang muncul. Layar tiba-tiba memancarkan cahaya hijau pekat yang menyilaukan mata. Asap putih tipis mengepul keluar dari celah-celah keyboard.
Dori terlonjak kaget, tubuhnya mundur cepat hingga kursinya bergeser keras.
"Kebakaran?!" teriaknya panik, siap-siap mencari air.
Tapi asap itu tidak membakar. Asap itu justru memadat, berputar, dan membentuk sebuah sosok manusia yang melayang di udara.
Sosok itu tinggi tegap, mengenakan jubah sutra hijau zamrud yang terlihat sangat mewah dan kuno. Rambutnya hitam panjang diikat tinggi dengan Jepit giok. Wajahnya ... sempurna. Tampan, tajam, dan sangat berwibawa.
Dori sampai lupa caranya bernapas.
"Di ... di mana ini?" suara pria itu berat, lembut.
"K—kamu ... hantu?" tanya Dori terbata-bata.
Pria itu mengerutkan kening tajam, tampak sangat tersinggung. Ia menatap Dori dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Hantu? Beraninya kau menghinaku. Dengarkan baik-baik, manusia kecil. Aku adalah Matcha. Penulis agung, penyusun kitab kerajaan dari Dinasti Tang."
"Dinasti Tang? Itu kan udah ribuan tahun lalu?!" Dori melongo tak percaya.
"Oh ya ... Berarti dunia sudah berubah menjadi sangat menjijikkan," gumam Matcha sambil melayang mendekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dori. "Dan kau ... pemilik baru benda ini? Penampilanmu biasa saja, tidak ada istimewanya."
Rasa takut Dori tiba-tiba lenyap, digantikan oleh rasa kesal yang memuncak. Baru ketemu sudah langsung dihina.
"Heh! Jangan menghina orang seenaknya! Aku ini calon penulis terkenal lho!" sergah Dori membela diri.
Matcha tertawa kecil. Tawanya elegan tapi terdengar sangat menyindir. "Penulis? Mari kita lihat seberapa hebat kau."
Dengan satu jentikan jari, pandangan Matcha beralih ke dokumen Word yang terbuka di layar. Wajah yang tadi tenang, seketika berubah masam mendung.
Alisnya berkerut dalam, matanya menyala marah.
"APA INI?!" teriaknya, suaranya menggema langsung di dalam kepala Dori. "Kalimat berantakan! Ejaan kacau! Emosi karakternya datar! Kau berani menyebut ini tulisan?! Di masaku, orang yang menulis seburuk ini kepalanya sudah dipenggal!"
Matcha mengibaskan lengan bajunya. Tiba-tiba sebuah kuas tulis raksasa muncul di tangannya. Ia mulai mencoret-coret layar dengan kasar, seakan menghancurkan sesuatu yang najis.
"Ubah ini! Hapus itu! Semuanya salah! Mulai dari awal lagi!" hardiknya tanpa ampun.
Dori menatap kosong. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena emosi yang membludak. Ia baru saja membeli laptop murah, tapi ternyata isinya bukan data atau sistem. Ia baru saja menampung hantu sombong, galak, dan perfeksionis yang siap menyiksa hidupnya.
"Kenapa diam saja? Cepat tulis!" Matcha menatap tajam, ujung kuasnya menunjuk tepat ke dahi Dori. "Atau kau ingin aku mengganggu tidurmu sepanjang malam?"
Dori menggertakkan gigi. Tangannya mengepal kuat di atas keyboard laptop barunya.
"Dasar hantu kuno! Kamu pikir kamu siapa sampai berani menghapus naskahku?!"
Dori membentak keras, tangannya memukul meja hingga gelas air di sana berguncang hebat.
Ia tidak peduli lagi jika lawannya adalah makhluk halus atau dewa penulis. Yang jelas, kerja kerasnya selama berbulan-bulan dirusak begitu saja.
Matcha hanya mendengus dingin, wajahnya datar tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kau beruntung aku hanya menghapusnya, bukan menghancurkan laptop ini menjadi debu," balasnya sinis.
Ia melayang mundur sedikit, menyilangkan kedua tangan di dada. Jubah hijaunya bergerak anggun meski sedang bertengkar.
"Karyamu itu tidak pantas disebut tulisan. Itu hanyalah coretan anak kecil yang belum bisa memegang kuas dengan benar."
Dori memicingkan mata. Dadanya terasa sesak menahan amarah. Ini bukan soal kualitas tulisan lagi. Ini soal harga diri.
"Kamu nggak ngerti apa-apa soal dunia sekarang!" sergah Dori. "Pembaca zaman sekarang nggak suka basa-basi puitis kayak zaman batu kamu! Mereka suka yang cepat, seru, dan langsung pada intinya!"
"Omong kosong!" potong Matcha cepat. Ia menunjuk ujung kuasnya tepat ke hidung Dori. "Seni itu abadi. Gaya boleh berubah, tapi standar keindahan tidak boleh diturunkan seenaknya. Kau menulis bukan hanya untuk dimakan, tapi untuk dinikmati akal budi!"
"Terus kamu mau apa?! Aku harus nulis kayak naskah sejarah gitu? Siapa yang mau baca?!"
"Setidaknya orang tidak akan muntah melihatnya!"
Perdebatan itu semakin panas. Suara mereka bergantian memenuhi ruangan sempit itu.
Dori merasa tidak adil. Ia menulis untuk bertahan hidup, untuk makan. Sedangkan Matcha bicara seolah dunia ini penuh kemewahan dan waktu luang tanpa batas.
Sementara itu, Matcha merasa geram melihat generasi muda yang begitu santai dan tidak disiplin. Baginya, menulis adalah tugas suci, bukan sekadar pekerjaan sampingan.
"Lihat kalimat ini," Matcha menunjuk layar dengan ujung kuas. Tinta hitam muncul entah dari mana dan melingkari sebuah paragraf.
"Kau menulis 'dia sangat marah'. Kenapa tidak tulis saja 'api berkobar di matanya'? Kenapa harus menjelaskan seolah-olah berbicara dengan orang bodoh?!"
"Karena itu lebih simpel dan mudah dimengerti!" Dori membela mati-matian.
"Kesederhanaan yang membosankan!" Matcha menggelengkan kepala dengan wajah jijik. "Kau ini penulis atau mesin pencetak kata?!"
Dori terdiam. Kata-kata itu menusuk tepat di hatinya.
Ia tahu tulisannya mungkin tidak sempurna. Ia tahu mungkin masih banyak kekurangan. Tapi mendengarnya dihina seburuk itu oleh orang asing, atau hantu asing, sakitnya bukan main.
Tangannya mengepal kuat di atas paha. Matanya memanas, tapi ia menahan agar air mata tidak jatuh.
Tidak boleh kalah. Tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan hantu sombong ini.
"Kamu nggak punya hak buat ngatur hidupku," suara Dori bergetar menahan emosi. "Aku beli laptop ini, jadi isinya pun milikku. Keluar kalau nggak suka!"
Matcha tertekan sejenak. Matanya menatap tajam, namun ada kilatan aneh di sana. Ia tertawa kecil, kali ini tawanya terdengar lebih rendah dan mengintimidasi.
"Kau pikir kau bisa mengusirku? Aku terikat pada benda ini selamanya. Dan sejak kau memilikinya ... kau pun terikat padaku."
Matcha melayang semakin dekat, wajahnya sangat dekat dengan wajah Dori hingga gadis itu bisa merasakan hawa dingin yang menusuk kulit.
"Selama aku masih di sini, kau tidak akan bisa menulis satu kata pun yang tidak sesuai seleraku. Aku akan mengawasi setiap huruf, setiap tanda baca. Kau budakku sekarang. Dan aku adalah tuanmu yang paling kejam."
Dori menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut dan kesal yang luar biasa.
Ia pikir ia membeli alat kerja. Ternyata ia baru saja menandatangani kontrak kerja paksa dengan hantu edan.
"Tunggu dulu ... terikat selamanya?" Dori tiba-tiba teringat ucapan penjual laptop tadi.
"Barang ini ... 'berisi', ya."
Baru sekarang Dori mengerti arti kata itu.
"Nah, sekarang ..." Matcha tersenyum miring, senyuman yang terlihat sangat tampan tapi juga sangat jahat. "Tulis ulang. Dan kali ini ... jangan membuatku menyesal telah bangkit dari kematianku."