NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev

Kebahagiaan kecil sering membuat seseorang lengah. Saat hari-hari mulai terasa ringan, manusia mudah percaya bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Padahal hidup punya kebiasaan aneh, ia gemar menguji sesuatu justru ketika hati sedang nyaman menjaganya.

Beberapa hari terakhir, dunia Airel Virellia berubah lebih hangat dari biasanya. Jalan menuju kampus tak lagi terasa panjang, jam kerja di toko buku lewat tanpa banyak keluhan, dan sore hari di halte kini identik dengan satu sosok yang muncul seolah kebetulan padahal terlalu sering terjadi untuk disebut begitu. Ia mulai hafal langkah kaki Zevarion Hale, cara pria itu memanggil namanya, juga perhatian kecil yang selalu diberikan dengan wajah datar seakan itu hal biasa.

Airel bahkan mulai terbiasa diganggu. Ia terbiasa pada pesan singkat yang datang malam-malam, pada kopi yang tiba-tiba sudah tersedia di meja, pada kalimat sederhana seperti sudah makan atau pulang hati-hati. Semua hal kecil itu diam-diam menempati ruang yang sebelumnya kosong.

Mungkin karena itulah, ketika sesuatu yang asing datang, guncangannya terasa lebih besar dari seharusnya.

Pagi itu kampus ramai oleh persiapan festival tahunan. Tenda berwarna putih berdiri di halaman depan, panitia berlarian sambil membawa gulungan kabel dan banner, sementara musik dari pengeras suara terdengar putus-putus karena sedang diuji coba. Udara masih segar setelah hujan malam, tetapi suasana sudah sibuk sejak pagi.

Airel berjalan bersama Kalista menuju gedung utama sambil membawa lembar tugas yang harus dikumpulkan sebelum siang. Kalista berbicara terus tanpa jeda, seperti biasa, sementara Airel lebih banyak mendengar.

“Kamu nanti jaga stand jam berapa?”

“Jam dua sampai lima.”

“Zev juga katanya bantu dokumentasi.”

Airel berusaha terdengar santai. “Oh.”

Kalista melirik dengan senyum tipis. “Oh yang bahagia.”

“Aku biasa aja.”

“Kalau bohong, minimal jangan senyum dulu.”

Airel hendak membalas, tetapi langkahnya mendadak melambat. Pandangannya tertarik ke depan gedung utama, tepat di dekat tangga masuk yang dipenuhi mahasiswa berlalu-lalang.

Zev berdiri di sana bersama seorang perempuan yang belum pernah ia lihat.

Perempuan itu tinggi dan berpenampilan rapi. Ia mengenakan blus putih sederhana dipadukan celana bahan krem, rambut hitamnya jatuh lurus sampai bahu, dan caranya berdiri memancarkan rasa percaya diri yang tenang. Ia berbicara sambil sesekali menyentuh lengan Zev dengan gerakan ringan, seperti kebiasaan lama yang dilakukan tanpa pikir panjang.

Yang paling mengganggu, Zev tidak menjauh.

Ia justru tampak santai. Bahunya rileks, wajahnya tidak setegang saat menghadapi orang asing, bahkan sesekali ia menjawab dengan nada ringan yang jarang ia pakai pada banyak orang.

Dada Airel menegang pelan.

“Siapa itu?” gumam Kalista.

“Aku mana tahu.”

Namun matanya belum lepas dari pemandangan di depan. Perempuan itu mengatakan sesuatu yang membuat Zev menghela napas singkat, lalu tertawa kecil seolah sudah hafal sifatnya. Tawa itu tidak keras, hanya pendek, tetapi cukup membuat Airel merasa asing.

Terlalu akrab.

Terlalu mudah.

Dan terlalu jelas bahwa ada cerita yang sudah berjalan jauh sebelum dirinya hadir.

Kalista menyentuh siku Airel. “Jangan diliatin terus.”

“Aku enggak lihat.”

“Kamu dari tadi enggak berkedip.”

Airel memaksa kakinya bergerak. Mereka masuk ke gedung tanpa menyapa siapa pun. Biasanya jika Zev melihatnya, pria itu akan menoleh duluan atau berjalan mendekat seolah itu refleks. Hari ini tidak ada apa-apa.

Hal sederhana itu justru terasa mengganggu.

Sepanjang kelas, Airel sulit menangkap isi penjelasan dosen. Tulisan di papan berganti, slide bergeser, teman-teman mencatat, tetapi kepalanya sibuk menyusun dugaan yang tak diminta. Mungkin itu saudara. Mungkin teman lama. Mungkin panitia eksternal. Mungkin tidak ada hal penting sama sekali.

Masalahnya, logika datang jauh lebih lambat daripada rasa tidak nyaman.

Saat istirahat, Kalista langsung menarik tangannya ke luar kelas.

“Kita ke kantin.”

“Aku enggak lapar.”

“Kamu butuh fakta, bukan makanan.”

“Aku enggak butuh apa-apa.”

“Kamu butuh berhenti pura-pura.”

Airel mendecak, tetapi tetap ikut. Kantin sudah cukup ramai. Meja-meja terisi mahasiswa yang bercakap keras, suara sendok beradu dengan piring, dan aroma gorengan memenuhi udara.

Mereka baru beberapa langkah masuk ketika suara perempuan terdengar dari meja pojok.

“Zev, kamu masih enggak suka tomat?”

Airel menoleh spontan.

Perempuan tadi duduk di seberang Zev. Dengan santai ia memindahkan irisan tomat dari piringnya ke piring Zev, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil tersenyum kecil. Zev menatap datar seperti biasa, namun membiarkannya.

“Masih,” jawab Zev singkat.

“Aneh. Dari dulu enggak berubah.”

Dari dulu.

Dua kata itu terasa kecil, tetapi cukup membuat perut Airel kosong seketika. Ia tidak tahu Zev tidak suka tomat. Ia tidak tahu kebiasaan lamanya. Ia belum tahu banyak hal, padahal pria itu sudah mengisi banyak ruang di harinya.

Sementara perempuan ini tahu detail sepele yang datang dari waktu panjang.

Kalista memandang Airel hati-hati. “Mau duduk?”

“Enggak lapar.”

“Kamu tadi juga bilang gitu.”

“Sekarang lebih enggak lapar.”

Airel berbalik sebelum Zev sempat melihatnya. Atau mungkin sebagian dirinya justru berharap Zev melihat dan menyusul. Namun sampai mereka keluar kantin, tak ada langkah yang datang.

Rasa kesal pada diri sendiri mulai bercampur dengan kecewa yang ia malu akui.

Sore hari festival resmi dibuka. Airel menjaga stand buku komunitas di sisi lapangan bersama dua mahasiswa lain. Ia melayani pengunjung, menjelaskan daftar buku diskon, menerima pembayaran, dan sesekali tersenyum otomatis saat diajak bicara. Tubuhnya bekerja, pikirannya tidak.

Dari kejauhan ia beberapa kali melihat Zev membawa kamera. Ia bergerak di antara stand, mengambil foto panggung, memotret panitia, lalu sesekali berhenti memeriksa hasil gambar.

Dan beberapa kali juga, perempuan itu ada di dekatnya.

Kini Airel tahu namanya dari obrolan panitia.

Naresta.

Nama yang cocok dengan penampilannya. Dewasa, rapi, tenang, dan terlihat tahu bagaimana menempatkan diri di sisi seseorang tanpa memaksa. Ia bicara dengan banyak orang mudah, tetapi tetap sering kembali ke dekat Zev.

Menjelang sore, saat pengunjung mulai ramai, Naresta datang ke stand buku sambil membawa gelas kopi dingin.

“Halo,” sapanya ramah. “Ini stand kamu?”

Airel mengangguk. “Iya.”

“Kamu Airel, kan?”

Jantungnya berdetak aneh. “Kok tahu?”

Naresta tersenyum tipis. “Zev nyebut nama kamu.”

Kalimat itu seharusnya menyenangkan. Nyatanya justru membuat Airel gugup.

“Sering?” tanyanya sebelum sempat menahan diri.

Naresta mengangkat alis kecil, lalu tertawa halus. “Lumayan.”

Ia melihat-lihat susunan buku di meja, membalik satu novel, lalu menaruhnya kembali. Gerakannya santai, seolah percakapan ini tidak berarti apa-apa.

“Aku kenal Zev cukup lama,” katanya. “Jadi gampang sadar kalau ada yang berubah dari dia.”

Airel diam, menunggu.

“Dulu dia lebih susah didekati. Sekarang lebih sering lihat ponsel, lebih sering melamun, kadang senyum sendiri. Jarang kejadian.”

Setiap kata masuk perlahan ke dada Airel. Bukan karena tajam, melainkan karena datang dari seseorang yang mengenal versi Zev yang belum pernah ia lihat.

Versi sebelum dirinya hadir.

Versi yang dibentuk waktu panjang dan masa-masa sulit yang belum pernah diceritakan sepenuhnya.

“Kamu teman lama?” tanya Airel, berusaha netral.

“Bisa dibilang begitu.” Mata Naresta beralih ke lapangan tempat Zev sedang memotret panggung. “Aku ada di masa sulitnya.”

Kalimat itu membuat Airel kehilangan pijakan sesaat.

Ia teringat percakapan di taman. Tentang hidup Zev yang punya bagian kosong, ingatan yang berlubang, hal-hal yang hilang dan tak selesai. Perempuan ini ada di sana ketika semuanya terjadi.

Sedangkan dirinya datang setelah keadaan lebih tenang.

“Airel.”

Suara Zev muncul dari samping.

Ia datang membawa kamera tergantung di leher. Pandangannya singgah di wajah Airel lebih dulu, lalu bergeser ke Naresta.

“Kamu ganggu orang kerja?”

“Aku beli buku,” jawab Naresta santai. “Sekalian ngobrol.”

“Kamu kalau ngobrol suka kebanyakan.”

“Masih galak ternyata.”

Nada mereka ringan. Tidak ada jarak, tidak ada canggung, dan justru itulah yang membuat hati Airel semakin sempit.

Zev menoleh kepadanya.

“Kamu udah makan?”

“Udah.”

“Bohong,” sela Kalista yang tiba-tiba muncul sambil membawa es teh. “Dia dari tadi belum makan.”

Airel ingin menutup wajah sendiri.

Zev mengernyit. “Kenapa?”

“Enggak lapar.”

“Airel.”

Nada suaranya rendah seperti biasa. Biasanya satu panggilan itu cukup membuat hatinya tenang. Hari ini tidak semudah itu.

Karena sekarang ia sadar, ada banyak sisi Zev yang belum ia kenal. Ada orang lain yang pernah berdiri di tempat-tempat yang tak pernah ia lihat.

“Aku sibuk,” jawab Airel singkat sambil merapikan tumpukan buku yang sebenarnya sudah lurus.

Zev diam sejenak. Naresta memandang keduanya bergantian dengan mata yang terlalu paham.

“Aku pergi dulu,” katanya akhirnya sambil mundur selangkah. “Nanti ketemu lagi, Zev.”

Ia melambaikan tangan kecil lalu berjalan pergi.

Zev memperhatikan punggungnya sebentar sebelum kembali pada Airel.

“Kamu kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Kamu beda dari tadi.”

“Aku capek.”

“Kamu pakai alasan itu terus.”

Airel menatap meja. Ia ingin mengatakan semuanya. Bahwa ia merasa tersisih oleh cerita yang tak ia tahu. Bahwa ia mendadak sadar betapa baru dirinya di hidup pria ini. Bahwa kehadiran Naresta membuatnya seperti tamu yang datang telat di kisah orang lain.

Namun semua itu terdengar kekanak-kanakan jika diucapkan.

“Beneran capek,” katanya pelan.

Zev melangkah lebih dekat hingga suara festival di sekitar terasa menjauh.

“Airel.”

“Iya?”

“Lihat aku.”

Ia mengangkat kepala perlahan. Tatapan Zev serius, tanpa main-main, seolah ingin membaca isi kepalanya sebelum ia sempat berbohong lagi.

Namun sebelum kata lain keluar, seseorang berteriak dari lapangan.

“Zev! Cepat sini, butuh foto panggung!”

Ia menoleh kesal ke arah suara itu, lalu kembali menatap Airel.

“Aku balik lagi.”

Airel hanya mengangguk.

Zev pergi sambil sempat menoleh sekali. Kamera di bahunya bergoyang mengikuti langkah cepatnya, lalu sosoknya hilang di antara kerumunan panitia dan lampu stand yang mulai menyala.

Airel tetap berdiri di belakang meja buku, memegang satu novel tanpa benar-benar melihat sampulnya.

Dan saat punggung pria itu menjauh, ia merasakan sesuatu yang baru tumbuh di sela rasa suka yang selama ini manis.

Bukan sekadar cemburu.

Bukan sekadar kesal.

Melainkan takut.

Takut bahwa ia sedang jatuh terlalu dalam pada seseorang yang punya masa lalu luas, sementara dirinya baru berdiri di ambang pintu, belum tahu apakah akan dipersilakan masuk atau hanya lewat sebentar.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!