Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Suasana di aula utama Mansion Mahendra mencapai titik didih yang menyesakkan. Udara seolah tersedot keluar, menyisakan ketegangan yang membuat setiap pasang mata terpaku pada satu titik: Adelard Mahendra, yang berdiri sendirian di tengah lantai marmer, berhadapan dengan tembok manusia yang terdiri dari orang-orang yang seharusnya menjadi dunianya.
Tuan Mahendra berdiri di sana, mengamati riak wajah para tamunya. Sebagai pria yang telah memimpin kerajaan bisnis selama tiga dekade, ia bisa merasakan perubahan atmosfer. Ia melihat bagaimana bisikan-bisikan pedas mulai menyerang Adel. Ia melihat bagaimana para investor utama Mahendra Group saling bertukar pandang, mulai merasa "simpati" pada drama keluarga yang disajikan Siska dan Clarissa.
Bagi Hendra Mahendra, kebenaran adalah variabel yang fleksibel. Jika kebenaran merusak neraca laba-rugi, maka kebenaran itu harus dikubur.
Dengan langkah yang berat dan wajah yang sengaja dibuat layu, Tuan Mahendra melangkah mendekati Siska. Ia tidak menyentuh Adel. Sebaliknya, ia membungkuk, merangkul pundak Siska yang bergetar hebat karena isakan, lalu satu tangannya lagi menarik Clarissa bangkit dari posisi berlututnya.
"Hadirin sekalian... rekan-rekan bisnis saya yang saya hormati," suara Tuan Mahendra menggema, berat oleh kepalsuan yang dibungkus wibawa. "Malam ini seharusnya menjadi bukti cinta dua puluh lima tahun pernikahan kami. Namun, seperti yang kalian lihat... badai datang dari tempat yang tidak kami sangka."
Adel menatap pria itu, ayahnya, dengan mata yang membelalak. "Ayah? Apa yang Ayah lakukan? Ayah memegang bukti itu di tangan Ayah! Bukti bahwa Clarissa menyuap orang untuk mencelakaiku!"
Tuan Mahendra menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat kecewa di depan mikrofon. Ia menoleh perlahan pada Adel, menatapnya dengan tatapan seorang hakim yang sudah menjatuhkan vonis.
"Adelard... cukup," ucapnya dingin. "Ayah sudah mencoba bersabar. Ayah sudah mencoba mengabaikan laporan-laporan tentang bagaimana kau menekan Clarissa di sekolah. Ayah pikir, itu hanya persaingan saudara biasa. Tapi malam ini... kau telah melampaui batas."
"Aku melampaui batas?" Adel tertawa hampa, air mata kemarahan mulai jatuh ke pipinya. "Dia mencoba membunuhku dengan pisau di depan semua orang! Ayah melihatnya sendiri! Polisi melepaskan tembakan peringatan karena dia gila!"
"Dia melakukannya karena kau memaksanya sampai ke ujung jurang, Adel!" Siska berteriak dari balik bahu suaminya, wajahnya tampak bengkak namun matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau menghantuinya! Kau memerasnya dengan identitas DNA itu! Kau bilang kau akan membuatnya menjadi gelandangan jika dia tidak menyerahkan statusnya! Anak mana yang tidak akan kehilangan akal jika diteror seperti itu?"
Tuan Mahendra mengeratkan rangkulannya pada Clarissa yang kembali terisak di dadanya. "Lihatlah anak ini, Adel. Clarissa adalah simbol kelembutan yang telah kami didik dengan hati-hati. Sedangkan kau... kau membawa hawa kebencian panti asuhan itu ke dalam rumah ini. Kau menggunakan kecerdasanmu bukan untuk membangun, tapi untuk meruntuhkan."
"Hendra, tolong..." Clarissa meratap, suaranya sengaja dibuat lemah. "Jangan marahi Adel. Mungkin ini salahku karena aku 'mencuri' tempatnya selama tujuh belas tahun tanpa kusadari. Aku akan pergi, Ayah... biarkan Adel memiliki semuanya asalkan Ayah tidak malu lagi."
"Tidak ada yang pergi!" Tuan Mahendra membentak pelan namun tegas, matanya kini tertuju tajam pada Adel. "Adel, lihat betapa besarnya hati kakakmu ini. Di saat kau mencoba menghancurkannya, dia justru ingin mengalah demi kau. Di manakah rasa syukurmu?"
"Rasa syukur?" Adel melangkah maju, suaranya bergetar hebat. "Bersyukur untuk apa? Untuk diabaikan di paviliun saat aku sekarat? Untuk dihina sebagai anak tidak terdidik oleh wanita yang melahirkanku sendiri? Ayah... kau tahu siapa pemilik darah Mahendra yang asli di sini! Kau tahu siapa yang menyelamatkan proyek Jakarta Utaramu minggu lalu!"
Tuan Mahendra terdiam sejenak. Ia ingat betul bahwa Adel-lah yang menyelamatkan asetnya. Namun, ia juga melihat wajah Direktur Bank Nasional di barisan depan yang tampak sangat setuju dengan narasi Siska. Reputasi sebagai "Keluarga Harmonis" adalah jaminan kredit perusahaannya.
"Analisis bisnismu mungkin tajam, Adel. Tapi hatimu tumpul," ucap Tuan Mahendra, suaranya kini mendatar, mematikan segala harapan Adel. "Malam ini, di depan semua kolega saya, saya menyatakan bahwa kekacauan ini dipicu oleh ketidaksiapan mental Adelard Mahendra untuk masuk ke dalam peradaban tinggi. Dia memiliki luka masa lalu yang membuatnya menjadi provokator."
"Ayah... kau mengkhianatiku," bisik Adel. Suaranya hancur. "Kau lebih memilih keuntungan saham daripada darah dagingmu sendiri."
Tuan Mahendra memalingkan muka, seolah-olah menatap Adel adalah hal yang memuakkan baginya. "Pulanglah ke kamarmu di paviliun. Jangan keluar sampai kau benar-benar bertaubat atas kerusuhan yang kau buat malam ini. Jika kau masih ingin menyandang nama Mahendra, belajarlah untuk rendah hati dan hargai ibumu serta saudari yang sudah menyambutmu."
"Bertaubat?" Adel tertawa, kali ini suaranya terdengar gila karena rasa pedih yang meluap. "Aku harus bertaubat karena aku lahir sebagai anakmu? Aku harus bertaubat karena aku tidak mati saat Clarissa mencoba mendorongku?"
"DIAM!" bentak Tuan Mahendra, suaranya menggelegar memenuhi aula, membuat beberapa tamu terlonjak kaget. "Jangan tunjukkan sikap kurang ajarmu lagi di sini! Pergi dan renungkan kesalahanmu! Hardi! Bawa dia keluar dari aula ini!"
Asisten Hardi melangkah ragu, namun Tuan Mahendra memberinya tatapan yang tak bisa dibantah. Devan Dirgantara mencoba maju menghalangi, namun Adel memegang tangan Devan, menghentikannya.
"Jangan, Devan," ucap Adel. Ia menyeka air matanya dengan kasar, berdiri dengan punggung tegak yang menantang. "Biarkan mereka. Biarkan mereka berpelukan di atas kebohongan mereka sendiri."
Adel menatap ibunya, Siska, yang kini tersenyum tipis—sebuah seringai iblis di balik sapu tangan sutra. Lalu ia menatap Clarissa yang berpura-pura pingsan di pelukan ayahnya. Dan terakhir, ia menatap Tuan Mahendra.
"Ayah..." panggil Adel untuk terakhir kalinya. "Malam ini, Ayah baru saja melakukan transaksi bisnis paling buruk dalam sejarah hidup Ayah. Ayah menjual satu-satunya hal yang asli di rumah ini demi sebuah bungkus yang kosong."
Tuan Mahendra tidak menjawab. Ia justru menoleh pada para tamu undangan, mengangkat gelas sampanyenya yang masih tersisa di meja podium. "Mohon maaf atas gangguan ini, rekan-rekan. Pesta akan dilanjutkan. Musik! Mainkan musiknya!"
Musik klasik kembali mengalun, berusaha menenggelamkan rasa malu dan dosa yang baru saja terjadi. Para tamu mulai kembali berbincang, sebagian besar memuji "ketegasan" Tuan Mahendra dalam mendidik anaknya yang "bermasalah".
Adel berbalik, melangkah pergi menembus kerumunan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan menghina. Ia bisa mendengar Siska berbisik pada salah satu temannya, "Dia memang sulit diatur, gen panti asuhan memang sangat kuat."
Sesampainya di ambang pintu aula, Adel berhenti. Ia tidak menoleh ke belakang, namun suaranya cukup lantang untuk didengar oleh mereka yang berada di dekat pintu.
"Kalian ingin aku bertaubat?" Adel berbisik pada dirinya sendiri, namun matanya berkilat penuh api. "Aku akan bertaubat. Aku bertaubat karena pernah berharap kalian mencintaiku. Dan mulai besok, kalian akan melihat bagaimana 'anak kurang terdidik' ini meruntuhkan setiap kolom bangunan yang kalian banggakan."
Adel melangkah keluar, menembus rintik hujan yang mulai turun di pelataran mansion. Di belakangnya, lampu-lampu kristal masih bersinar terang, namun bagi Adel, mansion itu sudah lama mati dan membusuk. Ia telah dikhianati oleh darahnya sendiri, dan itu adalah bahan bakar terbaik untuk api yang akan ia nyalakan esok hari.
Tuan Mahendra, di dalam aula, bersalaman dengan seorang investor penting. Namun, tangannya terasa dingin. Ia sempat melirik ke arah pintu besar yang baru saja dilewati Adel. Ada secercah rasa takut yang tiba-tiba menyelinap di hatinya, sebuah firasat bahwa malam ini ia bukan hanya mengusir seorang anak, tapi ia baru saja menciptakan musuh paling cerdas yang pernah dimiliki Mahendra Group. Namun, ia segera menepis perasaan itu saat mendengar Clarissa memanggilnya "Ayah yang hebat".
Pengkhianatan itu telah tuntas. Di bawah guyuran hujan, Adel melepaskan segala sisa harapan. Ia tidak butuh bertaubat. Ia hanya butuh kemenangan.