Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Neraka
"Terima kasih banyak, Kak Aris," ucap Putri saat mereka tiba di depan bangunan asrama putri yang asri. "Mohon bimbingannya, ya. Saya baru pertama kali mondok, jadi mungkin akan banyak bertanya."
Aris mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Tidak ada beban rahasia, tidak ada misi terselubung. Kehadiran Putri justru membawa kesegaran yang selama ini Aris rindukan: sebuah interaksi yang normal, lugas, dan tidak menuntut apa pun.
Ia sadar, hidupnya memang telah berubah. Kehadiran Putri—seorang orang baru yang benar-benar asing baginya—justru menjadi bukti nyata bahwa ia telah berhasil keluar dari lingkaran masa lalunya.
Di pesantren itu, di bawah bimbingan Kyai sepuh, Aris kini benar-benar memulai babak baru sebagai manusia biasa yang menghargai setiap detak waktu tanpa harus melihatnya melalui layar hologram.
***
Kini, kehidupan Aris di pesantren berjalan dengan ritme yang damai. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas tanpa teknologi. Suatu hari, saat sedang berada di perpustakaan pondok, Putri datang mendekat untuk meminjam buku yang sebelumnya dipegang oleh Aris.
Sudah tiga minggu Putri berada di pesantren. Suasana pondok yang tenang mulai membuatnya nyaman, namun ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya setelah pengajian rutin bersama Kyai sepuh kemarin sore.
Sore itu, saat mereka sedang piket membersihkan halaman di dekat pohon beringin, Putri menghentikan sapunya. Ia menatap Aris dengan kerutan kecil di dahinya. "Kak Aris, boleh tanya? Jujur, aku kurang paham penjelasan Kyai tadi pas bahas soal neraka. Kyai bilang itu tempat pembalasan, tapi aku masih sulit membayangkan... seperti apa sebenarnya tempat itu? Kenapa harus ada tempat seperti itu?"
Aris terdiam. Mendengar pertanyaan itu, naluri lamanya sebagai pengelana waktu mendadak bangkit. Sebenarnya Aris tidak berniat memakainya lagi, tapi rasa penasaran Putri menggugah sisi terdalam dalam dirinya.
Dan akhirnya Aris tidak ingin mengubah takdir, ia hanya ingin memenuhi rasa penasaran yang logis—sebuah observasi singkat.
"Putri, sebenarnya itu adalah hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata," ucap Aris pelan. "Kalau kamu benar-benar ingin tahu, tutup matamu sejenak. Aku akan... membantumu memahami."
Aris memutar tuas jam peraknya. Bukan ke masa lalu atau masa depan, melainkan melintasi dimensi yang selama ini belum pernah ia jamah. Gelang itu bergetar hebat, mengeluarkan cahaya redup berwarna tembaga yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
Dalam sekejap, udara di sekitar mereka berubah. Suasana pesantren yang hijau dan damai seolah menguap. Aris dan Putri mendapati diri mereka berdiri di ambang batas sebuah realitas yang tak terlukiskan. Itu bukan tempat yang bisa digambarkan dengan api biasa, melainkan sebuah dimensi di mana keadilan mutlak ditegakkan. Hawa panas yang dirasakan bukan hanya menyentuh kulit, melainkan juga langsung membakar kesadaran.
Putri terbelalak. Ia melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia. Ia melihat siksaan fisik yang vulgar, dan juga sebuah ruang di mana setiap penyesalan yang pernah disembunyikan manusia selama hidupnya terpampang nyata, menjadi beban yang harus ditanggung sendiri.
"Ini..." suara Putri bergetar hebat, wajahnya pucat pasi. Ia segera memejamkan mata, tidak sanggup melihat lebih jauh.
Aris pun segera menarik tuas kembali. Detik itu juga, mereka kembali ke halaman pesantren, di bawah bayang-bayang pohon beringin yang tenang.
Setelah mereka kembali ke halaman pesantren, kesunyian yang mencekam menyelimuti keduanya. Putri terduduk di atas tanah, napasnya memburu dan jemarinya mencengkeram erat ujung gamisnya. Wajahnya yang semula ceria kini tampak pucat pasi, matanya memancarkan tatapan kosong yang dalam.
Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak lagi penasaran. Ia baru saja melihat realitas yang selama ini hanya ia dengar dalam ceramah, kini ia yakin seyakin-yakinnya bahwa itu benar adanya. Ketakutan yang merayap di hatinya perlahan berubah menjadi rasa takut yang khusyuk kepada Tuhan.
Aris berdiri mematung, masih memegang jam tangan peraknya. Gelang tersebut kini melingkar permanen di pergelangan tangannya, memancarkan cahaya redup yang seolah menyatu dengan nadi Aris. Ia tidak lagi memandangnya sebagai alat untuk melarikan diri, melainkan sebagai beban tanggung jawab yang berat.
Putri perlahan mendongak, menatap Aris dengan mata yang berkaca-kaca. "Kak Aris..." suaranya nyaris berbisik, namun penuh dengan ketegasan yang baru. "Aku tidak akan pernah melupakan apa yang aku lihat tadi. Itu bukan sekadar peringatan. Itu adalah alasan mengapa kita harus benar-benar menghargai setiap detak napas kita sekarang."
Aris mengangguk pelan. "Aku mengerti, Putri. Aku membawamu ke sana agar kamu mengerti, tapi aku sadar bahwa membawa orang lain ke dimensi itu adalah kesalahan yang tidak akan ku ulang."
Putri berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar. Ia tidak lagi melihat Aris sebagai sekadar santri senior yang pendiam. Ia melihat Aris sebagai seseorang yang memikul beban rahasia besar tentang batasan antara dunia dan akhirat.
"Kak," lanjut Putri, "apa yang akan Kakak lakukan sekarang dengan benda itu? Jika benda itu bisa membawa kita ke tempat tadi... bukankah Kakak bisa menggunakannya untuk menuntun banyak orang agar mereka kembali ke jalan yang benar?"
Aris menatap jam tangannya, lalu menatap Putri. Ia kini dihadapkan pada dilema baru: apakah kekuatan ini adalah ujian untuk kembali menjadi penyelamat dunia dengan cara yang lebih religius, atau apakah ini adalah tanda bahwa ia harus benar-benar meninggalkan segala bentuk manipulasi waktu dan membiarkan takdir berjalan sebagaimana mestinya?
Dinamika hubungan mereka berubah sejak hari itu. Putri kini tidak lagi memandang Aris dengan rasa penasaran biasa, melainkan dengan pandangan penuh harap bahwa Aris memiliki kunci untuk memperbaiki arah hidup banyak orang.
Aris menatap Putri dengan tatapan yang berat, penuh dengan kesadaran akan bahaya yang ia pendam di pergelangan tangannya. Ia meraih tangan Putri, memastikan gadis itu menatap matanya dalam-dalam.
"Tidak, Putri. Tolong dengarkan aku," suara Aris rendah namun tegas. "Benda ini bukan untuk ditunjukkan, apalagi digunakan untuk memengaruhi orang lain. Apa yang kita lihat tadi bukanlah alat untuk dakwah atau paksaan. Itu adalah urusan hati yang sangat pribadi antara hamba dan Tuhannya."
Putri terdiam, bibirnya bergetar. Ia bisa merasakan intensitas di mata Aris—sebuah peringatan bahwa mencoba mengajak orang lain melihat dimensi tersebut justru bisa menghancurkan kewarasan mereka.
"Jika aku menggunakannya lagi," lanjut Aris, "aku tidak akan menjadi penunjuk jalan. Aku justru akan menjadi orang yang sombong, merasa seolah aku memegang kendali atas kebenaran. Dan itulah jalan pintas menuju kesesatan yang sesungguhnya."
Aris menarik napas panjang, merapikan lengan bajunya untuk menutupi jam tangan perak itu. "Putri, aku mohon padamu. Rahasiakan ini. Jangan pernah bicarakan hal ini kepada siapa pun, termasuk Kyai sepuh. Bukan karena kita ingin menipu beliau, tapi karena ini adalah beban yang harus ku pikul sendiri sebagai konsekuensi dari kesalahanku di masa lalu."
Putri menunduk, meresapi setiap kata Aris. Ia menyadari bahwa dunianya telah berubah selamanya. Ia kini memegang rahasia besar yang bisa mengguncang iman atau justru menghancurkan jiwa seseorang.
"Aku mengerti, Kak," jawab Putri akhirnya, suaranya kini terdengar dewasa dan matang. "Aku janji akan mengubur hal ini dalam-dalam. Aku akan menjaganya seperti menjaga aibku sendiri."
"Terima kasih," bisik Aris.
Sejak hari itu, ada ikatan sunyi yang terbentuk di antara mereka. Sebuah rahasia besar yang memisahkan mereka dari santri-santri lainnya di pondok tersebut. Mereka tetap berinteraksi seperti biasa, namun ada kedalaman baru dalam tatapan mereka; sebuah kesadaran bahwa hidup ini jauh lebih rapuh dan sakral daripada yang orang lain bayangkan.
***
Kehidupan di pondok berlanjut. Namun, Aris kini merasa jam tangan itu terasa jauh lebih berat di pergelangan tangannya. Setiap detiknya seolah menjadi peringatan bahwa ia harus terus menjaga jarak dari keinginan untuk "melihat" lagi.
Beberapa waktu kemudian, Kyai sepuh memanggil Aris untuk sebuah urusan penting di ruangannya. Apakah Kyai sepuh, dengan ketajaman batinnya, mulai merasakan adanya perubahan besar dalam diri Aris, ataukah beliau memanggil Aris untuk tugas lain yang akan menguji keteguhan hatinya sekali lagi?
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor