NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Luka Hanyalah Secuil Bukti

Udara di kawasan hutan pinus Lembang yang biasanya terasa sejuk dan menyegarkan, siang itu terasa pekat oleh aroma tanah basah, anyir darah, dan kepanikan yang mencekik. Di dasar jurang yang tersembunyi dari pandangan jalur utama, Angga Raditya melangkah dengan susah payah. Setiap pijakan sepatu boots-nya pada tanah yang gembur dan berlumpur menuntut tenaga ekstra yang luar biasa, terlebih dengan beban tubuh Anandara yang tak sadarkan diri di dalam pelukannya.

Bahu kanan Angga berdenyut hebat, mengirimkan sinyal rasa sakit yang nyaris membutakan pandangannya setiap kali ia bergerak. Kemeja flanelnya telah robek di berbagai sisi, memperlihatkan sayatan-sayatan panjang akibat duri semak belukar yang kini terus mengucurkan darah segar. Namun, pemuda bermata elang itu mematikan seluruh sensor rasa sakit di otaknya. Matanya hanya terpaku pada wajah pucat pualam gadis di pelukannya. Wajah Nyonya Es yang selalu membentaknya, kini terlihat begitu rapuh, begitu damai, dan begitu membutuhkan perlindungan.

"Bertahanlah, Nanda. Sebentar lagi," desis Angga dengan napas memburu, mempererat dekapannya, memastikan tubuh Anandara tetap hangat menempel pada dadanya.

Dari arah atas tebing, terdengar suara gemerisik semak yang diterjang secara kasar. Rehan dan Reza, duo yang biasanya tidak pernah bisa serius dan selalu menjadikan segala hal sebagai lelucon, kini meluncur turun menuruni lereng curam itu dengan wajah pias dan tegang. Mereka mengabaikan ranting-ranting yang memukul wajah mereka, didorong oleh solidaritas persahabatan yang menolak untuk berdiam diri saat anggota keluarga mereka sedang bertarung nyawa.

"Angga!" teriak Rehan saat matanya menangkap siluet Angga yang sedang menggendong Anandara.

Kedua pemuda itu segera menghampiri Angga. Wajah Rehan dan Reza memucat melihat kondisi Angga yang bersimbah darah dan Anandara yang terkulai tak berdaya dengan noda tanah dan goresan di pelipisnya.

"Biar gue bantu bawa Nanda, Ngga. Tangan lo luka parah," ucap Reza cepat, bersiap untuk mengambil alih tubuh Anandara dari pelukan Angga.

Namun, di luar dugaan mereka berdua, Angga justru memundurkan tubuhnya sedikit, menolak untuk melepaskan gadis itu. Rahang pemuda itu mengeras. Tatapannya menajam.

"Nggak. Gue yang bawa dia sampai atas," tolak Angga dengan suara baritonnya yang serak dan tak terbantahkan. Sebuah naluri protektif yang sangat primitif dan posesif menguasai dirinya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan teman terdekat Anandara sekalipun, mengambil alih tanggung jawab ini. "Tolong pegangin bahu gue aja dari belakang, cariin pijakan yang aman buat gue naik. Tarik gue kalau gue mulai kepleset."

Rehan dan Reza saling berpandangan sekilas, menyadari ada sebuah tekad baja di mata pemuda itu yang tidak bisa ditentang. Mereka tidak berdebat. Keduanya segera memposisikan diri, satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Angga, memegangi pinggang dan punggung Angga, memberikan dorongan ekstra agar pemuda itu bisa terus melangkah mendaki tebing yang curam dengan beban di tangannya.

Sementara itu, di atas bibir tebing, sebuah pertempuran emosional yang tak kalah hebat sedang terjadi.

Sinta meronta-ronta di atas tanah yang berlumpur. Air mata membanjiri wajah cantiknya, menciptakan jejak kotor di pipinya. Bidadari ceria itu telah kehilangan sayapnya, digantikan oleh keputusasaan yang melolong memilukan. Ia terus berusaha melepaskan diri dari kukungan lengan kokoh yang menahan pinggangnya dari belakang.

"Lepasin gue, Dimas! Gue mau lihat Nanda! Nanda sahabat gue!" jerit Sinta histeris, suaranya mulai serak karena terlalu banyak menangis. Ia memukul lengan Dimas yang melingkar di perutnya, pukulan yang sama sekali tak menyakiti fisik pemuda itu, namun menghancurkan hatinya.

Dimas tidak melepaskannya. Pemuda berkacamata itu justru menarik tubuh Sinta semakin dekat ke dadanya, menahan gadis itu dengan sebuah pelukan yang sangat protektif. Dimas memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa sesak yang luar biasa di dalam dadanya sendiri.

Melihat Sinta menangis hingga sehancur ini adalah siksaan terburuk bagi Dimas. Ia mencintai gadis ini dalam diam. Ia memuja tawa Sinta, ia menyukai senyum gingsulnya, dan ia benci melihat air mata penderitaan di wajah gadis itu. Namun, cinta Dimas bukanlah cinta yang menuntut, melainkan cinta yang menjaga. Dan saat ini, menjaga Sinta berarti ia harus menjadi jangkar yang menahan gadis itu dari tindakan nekat yang bisa membahayakan nyawanya sendiri.

"Tenang, Sin. Tenang. Angga udah turun, Rehan sama Reza juga udah nyusul. Nanda pasti selamat. Lo harus percaya sama mereka," bisik Dimas tepat di telinga Sinta, suaranya dibuat serendah dan setenang mungkin, mencoba menyalurkan energinya untuk meredam kepanikan gadis itu.

"Gimana kalau dia mati, Dimas?! Gimana kalau dia mati ninggalin gue?!" isak Sinta, tubuhnya melemas tak bertenaga di dalam pelukan Dimas. Ia menyandarkan kepalanya ke dada pemuda itu, menangis tergugu. "Nanda itu satu-satunya keluarga yang gue punya di kampus ini. Dia yang selalu ngelindungin gue. Gue nggak bisa hidup tanpa Nanda..."

Dimas mempererat pelukannya. Tangannya yang besar dan hangat mengusap rambut Sinta yang basah oleh keringat dan embun pegunungan dengan sangat lembut. Sebuah afeksi yang ia berikan secara sembunyi-sembunyi di tengah kekacauan.

Gue tahu, Sin. Gue tahu, batin Dimas merintih pedih. Dan gue nggak bisa hidup tanpa lo. Makanya gue rela nahan lo di sini, biarpun lo bakal benci sama gue karena ngelarang lo turun.

"Nanda itu Nyonya Es, Sin. Dia terlalu keras kepala buat mati semudah ini," ucap Dimas dengan nada tegas, memberikan afirmasi rasional untuk melawan kepanikan Sinta. "Lo harus kuat. Kalau lo hancur sekarang, siapa yang bakal ngerawat Nanda pas dia diangkat ke atas nanti? Nanda butuh lo buat tetap waras, bukan buat ikut nangis."

Kata-kata Dimas bagaikan mantra yang sukses menyadarkan Sinta. Perlahan, rontaan gadis itu berhenti. Sinta menarik napas panjang yang terputus-putus, berusaha mengendalikan isakannya. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang kotor oleh tanah. Sinta menyadari bahwa Dimas benar; menangis tak akan mengembalikan sahabatnya, ia harus menjadi orang pertama yang menyambut Anandara.

Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam kemudian, suara derap langkah berat terdengar mendekati bibir tebing.

"Tarik! Tarik tangan gue!" teriak Reza dari bawah.

Panitia senior yang sudah bersiaga dengan tambang langsung menarik Rehan dan Reza ke atas. Dan di belakang mereka, dengan napas yang memburu dan wajah yang memucat menahan sakit, Angga muncul dari balik semak belukar. Pemuda itu berjalan tertatih, membawa tubuh Anandara yang masih tak sadarkan diri di dalam pelukannya.

"NANDA!" jerit Kiera dan Ami secara bersamaan. Keduanya langsung berlari menghampiri, air mata mereka tumpah melihat kondisi sahabat mereka yang biasanya selalu terlihat tak tersentuh itu kini terkulai lemas dengan pakaian kotor dan luka di pelipis.

Angga tidak memedulikan tatapan takjub, ngeri, atau panik dari puluhan pasang mata mahasiswa lain. Ia membawa Anandara menuju area datar yang lebih aman, yang telah dialasi matras oleh panitia divisi medis. Dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang meletakkan sebuah porselen yang sangat berharga dan rapuh, Angga membaringkan tubuh Anandara ke atas matras tersebut.

Sinta langsung menjatuhkan dirinya di samping matras. Gadis itu tidak memedulikan lututnya yang menghantam batu. Ia meraih tangan Anandara yang dingin sedingin es, menggenggamnya erat-erat, dan menempelkannya ke pipinya sendiri.

"Nanda... bangun, Nan. Ini gue, Sinta. Jangan bikin gue takut, please," isak Sinta, air matanya menetes jatuh membasahi punggung tangan Anandara.

Di sisi lain matras, Kiera dan Ami berlutut. Mereka berdua menangis tersedu-sedu, memegangi tangan kanan Anandara. Kiera yang biasanya selalu tampil modis dan sassy, kini terlihat sangat kacau, bahunya bergetar hebat. "Nanda, lo nggak boleh kenapa-napa... lo kan otak kelompok kita, lo nggak boleh ninggalin kita..." rintih Kiera disela tangisnya.

Angga berdiri perlahan, melangkah mundur untuk memberikan ruang bagi tim medis kampus yang segera datang membawa kotak P3K dan tabung oksigen kecil. Pemuda itu menatap tubuh Anandara yang sedang diperiksa dengan tatapan elang yang kelam dan dipenuhi oleh kelegaan yang menyesakkan dada. Ia berhasil membawanya kembali. Ia tidak membiarkan tangan itu terlepas lagi.

Saat Angga mundur, Dimas menghampirinya. Pemuda berkacamata itu menatap sahabatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kondisi Angga sangat memprihatinkan. Kemeja flanelnya robek di banyak tempat. Kedua lengannya dipenuhi luka goresan panjang yang cukup dalam, darahnya merembes mencampur dengan lumpur di kulitnya. Bahu kanannya terlihat sedikit turun, indikasi memar yang sangat parah atau bahkan pergeseran otot.

"Lengan lo hancur, Ngga," ucap Dimas datar, namun ada rasa hormat yang mendalam di balik suaranya.

Angga menoleh sekilas pada lengannya sendiri, lalu kembali menatap Anandara. "Cuma luka luar. Nggak penting."

"Buat ukuran cowok yang ditolak mentah-mentah dan diusir secara brutal kemarin, aksi lo nekat lompat ke jurang tadi adalah tindakan paling irasional yang pernah gue lihat," sindir Dimas tajam, mencoba menguji seberapa jauh batas perasaan Angga yang sebenarnya.

Angga mendengus pelan, sebuah senyum sinis yang getir muncul di sudut bibirnya. "Lo pikir logika masih berfungsi di saat lo lihat orang yang... di saat lo lihat ada nyawa yang terancam di depan mata lo, Dim?" Angga menelan kata 'lo cintai', menggantinya dengan kalimat yang lebih diplomatis, namun Dimas tahu persis apa kalimat aslinya.

Luka fisik di lengan dan bahu Angga hanyalah secuil bukti. Luka itu adalah monumen berdarah dari perasaan yang ia tolak untuk diakui secara terbuka. Ia rela menghancurkan tubuhnya sendiri hanya untuk memastikan gadis yang memusuhinya itu tetap hidup.

Di tengah kepanikan tim medis yang sedang membersihkan luka di pelipis Anandara dan memberikannya inhaler amonia untuk memancing kesadarannya, Sinta—yang matanya terus memancarkan air mata—tiba-tiba menoleh.

Pandangan Sinta menangkap sosok Angga yang berdiri tak jauh darinya. Bidadari ceria itu terkesiap ngeri melihat kondisi pemuda yang ia cintai. Darah segar yang menetes dari ujung jari Angga membuat hati Sinta mencelos. Ia baru menyadari seberapa besar harga yang harus dibayar Angga untuk menyelamatkan sahabatnya.

Sinta melepaskan genggamannya dari tangan Anandara. Ia mengusap air matanya dengan kasar. "Ami, Kiera, tolong jagain Nanda bentar," pintanya dengan suara parau.

Sinta bangkit berdiri. Ia berjalan setengah berlari menghampiri panitia medis, merebut sebuah kotak P3K cadangan, sebotol cairan antiseptik, kapas, dan perban dari tangan mereka. Setelah itu, ia melangkah menghampiri Angga.

"Angga..." panggil Sinta lirih, suaranya bergetar menatap luka-luka mengerikan di lengan pemuda itu. "Ya ampun, tangan lo... luka lo parah banget."

Angga menoleh, memaksakan senyum yang kaku. "Nggak apa-apa, Sinta. Ini cuma kegores duri."

"Nggak apa-apa gimana?! Ini darahnya banyak banget!" Sinta setengah membentak, panik dan khawatir bercampur menjadi satu. Tanpa meminta izin, gadis itu menarik lengan kiri Angga dengan hati-hati dan menuntun pemuda itu untuk duduk di atas sebuah batu besar di dekat mereka.

Angga menurut, tubuhnya memang sudah kehabisan adrenalin dan mulai merasakan sakit yang luar biasa.

Sinta berlutut di depan Angga. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mulai menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas. "Tahan ya, ini pasti perih," bisik Sinta lembut.

Gadis itu mulai membersihkan luka di lengan bawah Angga dengan sangat telaten dan penuh kasih sayang. Wajahnya yang sangat dekat dengan lengan Angga memancarkan raut kekhawatiran yang luar biasa tulus. Ia meniup-niup pelan luka itu setiap kali Angga sedikit mendesis menahan perih.

"Makasih banyak, Angga," ucap Sinta di sela kegiatannya membalutkan perban putih ke lengan pemuda itu. Air matanya kembali menetes jatuh mengenai pergelangan tangan Angga. "Makasih udah nyelamatin nyawa Nanda. Kalau lo nggak ada... gue nggak tahu harus gimana. Lo pahlawan buat gue dan Nanda. Gue ngutang nyawa sama lo."

Angga menatap puncak kepala Sinta yang sedang menunduk merawat lukanya. Pemuda itu merasakan ketulusan yang sangat murni dari gadis ini. Sinta adalah definisi dari kebaikan hati. Namun, ironisnya, hati Angga tidak bergetar sedikit pun. Perhatian dan sentuhan lembut Sinta di lengannya tidak memicu debaran apa pun di dadanya.

Tatapan Angga tidak mengunci pada Sinta. Mata elang itu kembali terangkat, melintasi bahu Sinta, dan mengunci pada satu-satunya objek yang menguasai pikirannya: Anandara yang masih terbaring pucat di atas matras.

Sinta sibuk membalut luka Angga, menuangkan seluruh perasaannya dalam setiap lilitan perban, tanpa menyadari bahwa pemuda yang ia rawat dengan penuh cinta itu sedang menatap gadis lain. Sebuah tragedi klasik yang terjadi di depan mata Dimas yang kembali menjadi penonton bisu.

Lihatlah mereka, batin Dimas menghela napas, bersandar pada batang pohon pinus dengan tangan terlipat di dada. Sinta merawat luka fisik Angga, sambil memikirkan cintanya pada pria itu. Angga membiarkan lukanya dirawat, sambil memikirkan cintanya pada Nanda. Dan gue berdiri di sini, membiarkan hati gue berdarah melihat gadis yang gue cintai menangisi laki-laki lain. Kita semua adalah badut di taman bermain takdir ini.

Satu jam berlalu dengan ketegangan yang sangat menyiksa. Udara pegunungan semakin mendingin, kabut tipis mulai turun menyelimuti area perkemahan.

Sinta baru saja selesai memplester ujung perban di lengan kanan Angga ketika sebuah pekikan tertahan terdengar dari arah matras.

"Sin! Sin! Jari Nanda gerak!" jerit Kiera histeris.

Sinta langsung melepaskan tangan Angga, melupakan kotak P3K-nya yang jatuh berserakan, dan melesat secepat kilat kembali ke sisi Anandara. Angga pun ikut berdiri dengan cepat, menahan napasnya.

Di atas matras, kelopak mata Anandara perlahan bergetar. Keningnya berkerut, seolah sedang menahan pusing yang luar biasa hebat. Sangat pelan, mata hitam legam itu membuka, disambut oleh cahaya langit sore yang mendung dan wajah-wajah buram di atasnya.

Bau tanah basah dan rasa sakit di sekujur tubuhnya adalah hal pertama yang menyapa kesadaran Anandara. Ia mengerjap beberapa kali. Pandangannya mulai fokus. Wajah Sinta yang sembab dan menangis, serta wajah Kiera dan Ami yang merah, menjadi hal pertama yang ia lihat dengan jelas.

"Nanda! Ya Tuhan, Nanda!"

Sinta tidak menunggu Anandara untuk berbicara. Bidadari ceria itu langsung menerjang dan memeluk erat tubuh bagian atas Anandara, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sahabatnya itu. Sinta menangis tergugu, menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh teror dan ketakutan kehilangan yang menyiksa kewarasannya selama satu jam terakhir.

"Lo gila, Nan! Lo bikin jantung gue mau copot!" isak Sinta meronta di pelukan Anandara. "Kenapa lo ngelepasin tangan Angga?! Kenapa lo mau mati ninggalin gue?! Lo jahat banget, Nanda!"

Mendengar nama itu disebut, ingatan Anandara kembali dengan brutal seperti kaset yang diputar ulang dengan kecepatan maksimal.

Ia ingat tanah yang licin. Ia ingat tubuhnya yang jatuh. Ia ingat tangan besar yang menggenggamnya kuat di tepi maut. Dan ia ingat mata elang yang memohonnya untuk bertahan.

Aku masih hidup, batin Anandara merintih, sebuah kesadaran yang sangat ironis. Bukannya merasa bersyukur telah diselamatkan dari maut, Nyonya Es itu justru merasakan keputusasaan yang semakin dalam. Ia gagal memutuskan rantainya. Ia masih terjebak di dunia ini, terjebak di antara rasa bersalahnya pada Sinta dan cintanya yang terlarang pada pemuda itu.

Dengan tubuh yang masih lemah dan bergetar kedinginan, Anandara membalas pelukan Sinta. Ia melingkarkan lengannya di punggung Sinta, menghirup aroma parfum sahabatnya yang bercampur dengan bau tanah.

"Maaf, Sin... maafin gue," bisik Anandara dengan suara parau yang nyaris habis. Air matanya kembali menetes jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis bukan karena luka di tubuhnya, melainkan karena luka tak kasat mata di jiwanya.

Di sela-sela pelukan itu, mata Anandara tanpa sengaja mendongak, menatap ke arah kerumunan di balik bahu Sinta.

Di sana, berdiri Angga Raditya.

Tatapan mereka bertabrakan untuk kesekian kalinya. Namun kali ini, tidak ada kemarahan atau kebencian di mata Angga. Yang ada hanyalah sebuah kelegaan yang luar biasa dalam, dan sebuah pertanyaan bisu yang menyayat hati.

Tatapan Anandara turun secara perlahan, menyusuri tubuh Angga. Napasnya langsung tercekat saat melihat lengan kemeja pemuda itu yang robek, dan perban putih bersih yang melilit kedua lengannya, menyembunyikan luka yang mengerikan. Noda darah masih tersisa di kemeja flanelnya.

Dia terluka... dia terluka parah karenaku, jerit batin Anandara, dadanya seakan ditikam oleh ribuan pedang rasa bersalah. Kenapa kau menolongku, Angga? Kenapa kau harus melompat menyusulku? Padahal aku sudah sangat kejam padamu. Tidakkah kau tahu bahwa dengan menyelamatkanku hari ini, kau membuatku semakin tidak bisa melupakanmu? Kau membuatku semakin mencintaimu, dan itu membunuhku.

Anandara memejamkan matanya rapat-rapat, mengalihkan pandangannya dan menyembunyikan wajahnya kembali di bahu Sinta. Ia meremas kemeja Sinta dengan kuat, membiarkan dirinya tenggelam dalam kebohongan.

Di balik pelukan Sinta yang hangat, Anandara menyadari sebuah realita yang tak terbantahkan. Luka fisik di tangan Angga dan perban putih itu hanyalah secuil bukti dari tragedi yang sedang mereka mainkan. Luka yang sebenarnya, pendarahan yang tidak akan pernah berhenti, terletak jauh di dalam dada mereka. Sinta yang mencintai Angga dengan membabi buta, Angga yang terluka fisiknya demi Nyonya Es, dan Anandara yang rela hancur berkeping-keping demi menjaga senyum di wajah sahabatnya yang sedang memeluknya saat ini.

Lingkaran setan ini baru saja dimulai, dan hutan Lembang menjadi saksi bisu dari hati-hati yang memilih untuk berdarah dalam kesunyian.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!