Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 My elite lover
Seminggu telah berlalu semenjak keputusan besar itu diambil Renata. Renata membatalkan pernikahannya dengan Rendy. Namun, ajaibnya ia tidak merasa sedih atau kehilangan. Yang ada hanyalah rasa kecewa yang mendalam dan rasa muak yang luar biasa karena pengkhianatan sang sahabat yang selama ini ia anggap seperti saudara sendiri.
Sore itu, Rena duduk sendirian di bangku taman yang teduh. Wajahnya yang biasanya ceria dan manis kini terlihat datar, dingin, dan jauh dari kata ramah. Matanya menatap kosong ke depan, sementara tangannya sibuk menyenduk es krim rasa stroberi kesukaannya.
"Dasar munafik! Selama ini sok baik, sok tulus, ternyata cuma topeng doang. Aku kira sahabat, ternyata hanya pelakor yang berkedok sahabat. Dan sekarang prianya ... malah jadi pahlawan yang berkedok 'bertanggung jawab'?" cibir Rena dalam hati.
"HUH!" Rena mendengus kesal, alisnya mengerut dalam. Ia menyenduk es krim dengan kasar seolah-olah itu adalah kepala Sasa dan Rendy.
"Nikah sana! Nikah aja sekalian! Pengkhianat memang cocoknya sama pengkhian! Dan semoga keturunannya nanti tidak mewariskan sifat pengkhianat orang tuanya, kan bisa berabe kalau dunia ini penuh dengan generasi pengkhianat," gerutunya sambil menikmati eskrim di tangannya.
Belum hilang rasa kesalnya, ingatannya kembali melayang pada undangan pernikahan yang dikirimkan Sasa kemarin. Undangan itu dikirim bukan untuk mengundang, tapi jelas-jelas untuk pamer dan menantang dirinya.
Sasa sengaja datang ke rumah sakit dan menemui dirinya di ruangan kemarin.
"Rena! Maaf bangat ya, aku harus menggantikan posisi kamu minggu depan. Dan terima kasih juga sudah mau mengalah demi aku! Kamu memang sahabat terbaik! Jadi atas semua kebaikan kamu itu, aku mewajibkan kamu untuk datang buat liat kebahagiaan aku dan Rendy. Upz! Tapi kalau bisa bawa pasangan ya biar nanti ada yang menghiburmu di sana! Aku tahu kamu pasti tak akan kuat nanti!'' sindirnya dengan penuh percaya diri.
"Cih!" desis Rena saat terngiang ucapan Sasa yang membuat bulu kuduknya merinding karena jijik.
"Dasar nggak tahu malu! Ngajak-ngajak orang liat muka lo berdua yang penuh dosa!" Rena mencubit-cubit kesal angin yang tak bersalah di sekitarnya.
"Tapi aku nanti gandeng siapa? Dan jika aku datang sendirian tuh dua makhluk astral malah makin besar kepada dan mengira aku menyedihkan! Tidak-tidak aku nggak akan biarkan kalian tertawa bahagia! Aku bakal dateng dengan senyum paling lebar! Biar kalian berdua tahu siapa Renata sebenarnya!"
Dengan semangat balas dendam yang membara Rena kembali melahap es krimnya. Satu, dua, tiga cup es krim sudah tandas. Rasanya manis dingin, tapi tidak bisa mendinginkan emosi yang masih membara di dadanya.
"Ah sialan! Es krimnya udah habis!" Rena menggerutu lagi. Dengan kesal, ia melempar cup es krim kosong itu ke samping tanpa melihat arah.
Bruk!
"Sial!"
Suara umpatan kesal terdengar jelas di telinga Rena. Cup plastik itu mendarat sempurna di dada seseorang yang sedang berjalan di sampingnya, membuat sisa es krim itu berceceran mengotori jaket kulit pria itu.
Rena terperanjat kaget. "Mampus kamu Rena!" jerit batin Rena. Lalu dengan cepat ia memutar tubuhnya dan meminta maaf.
"Maaf! Maaf banget, saya tidak sengaja,"
Saga dan Kevin baru saja melangkah masuk. Mereka berniat sekadar jalan kaki menghirup udara segar, mencoba menghibur Saga yang masih murung karena patah hati. Namun langkah Saga dan Kevin terhenti mendadak saat sesuatu yang dingin dan lengket menghantam dada Saga.
Wajah Sang Komandan langsung berubah gelap. Aura membunuhnya keluar secara otomatis. Kevin di sebelahnya langsung siap siaga.
"Waduh ... siapa yang cari mati sore-sore gini!" seru Kevin pelan.
Saga menoleh tajam ke arah sumber suara, siap untuk memberi pelajaran siapa pun yang berani menganggu moodnya.
"Siapa yang ...,"
Kalimatnya terputus, matanya membelalak saat melihat sosok wanita cantik yang kini menunduk dalam-dalam, tampak panik dan bersalah.
Rena menunduk sangat dalam, tak berani mengangkat wajah. "Maaf banget Mas, Kang, Tuan, Pak! Eh siapapun itu, Saya minta maaf! Saya gak sengaja! Saya akan tanggung jawab cuciin! Atau ganti rugi,"
Suara itu ... suara yang sudah lama ia rindukan. Suara yang selalu membuat hatinya bergetar.
Saga terpaku. Napasnya seakan berhenti bisa melihat wanita di hadapannya.
"Re ... Rena!" serunya tak percaya,
Rena tersentak mendengar namanya dipanggil. Ia perlahan mengangkat wajahnya, dan saat itu juga matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang sangat dikenalnya.
"Eh ... Kak Saga!" Rena terbelalak kaget lalu buru-buru ia meminta maaf pada sepupu sahabatnya, Lena. "Maaf ya Kak! Rena beneran gak sengaja! Sini sini ... jaket Kakak aku bersihin ya!!" lanjutnya dengan nada menyesal dan gugup.
Rena panik bukan main ia sangat tahu karakter Kakak kelasnya itu yang terkenal dingin dan tak tersentuh! Di tambah ia mendengar cerita dari Lena jika sekarang Saga sudah menjadi komandan elit yang di seganni di dunia militer.
Rena buru-buru melangkah maju ingin membersihkan noda es krim di baju Saga dengan tangannya. Namun karena terlalu terburu-buru dan gugup, kakinya malah tersandung sepatunya sendiri.
"Aww!"
"Hap!"
Tubuh Rena hilang keseimbangan dan terhuyung ke depan. Namun sebelum wajahnya membentur tanah, sepasang tangan kekar dan kokoh dengan sigap menangkapnya.
BRUK!
Tubuh mungil Rena tepat menubruk dada bidang Saga. Wajahnya terpental tepat di ceruk leher pria itu, ia bahkan bisa merasakan detak jantung yang kuat dan bau maskulin yang khas dari Saga.
Saga memeluk pinggang Rena erat, menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh. Dunia seakan berhenti berputar bagi keduanya. Hanya ada mereka berdua di sana, terjebak dalam kedekatan yang tak terduga.
Rena bisa merasakan betapa hangat dan amannya berada dalam pelukan itu. Saga pun bisa merasakan betapa lembutnya tubuh wanita yang selama ini hanya ia kagumi dari jauh.
"Tuhan ... kenapa kau buat aku semakin jatuh cinta di saat seperti ini?" batin Saga berteriak tak terima seolah takdir sedang mempermainkan dirinya.
"Apa ini mimpi? Jika ia tolong jangan bangunkan aku! Aku ingin lebih lama di pelukannya." batin Rena tak percaya bisa berada dalam posisi sedekat itu dengan pria yang sempat ia kagumi dalam diam.
Mereka saling diam, terpaku dalam lamunan masing-masing, sampai sebuah suara sengau memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
HEM! HEMMM!
Kevin berdehem keras sambil memalingkan wajah, tangannya mengibas-ngibas udara seolah ada asap romance yang terlalu tebal.
"Ehm ... maaf ganggu momen drama korea-nya. Ini masih taman umum lho ya. Kalau mau pelukan atau mau pingsan romantis gitu, mending lanjut di kamar aja kali ya?" serunya dengan terkekeh menggoda.
Bersambung ....