NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09

Beberapa jam kemudian, Aletta akhirnya sadar. Dia melihat Dilan dan Ruby yang sedang menunggunya dengan wajah khawatir.

"Sudah berapa lama gue tidur?" tanya Aletta dengan suara lembut memperhatikan sekelilingnya yang nampak asing baginya.

"Kurang lebih tiga jam," jawab Ruby dengan senyum lembut.

"Loh membuat kita semua khawatir tau. Dokter bilang loh harus banyak beristirahat."

Alya melihat ke sekeliling kamar dan tidak menemukan Tamara di manapun. "Dimana Tamara?" Bersiap beranjak untuk bangun dan segera di bantu oleh Dilan

"Dia pergi mengambil makanan untuk loh," jawab Dilan dengan suara pelan.

"Dia juga sangat khawatir pada loh." Ucapnya agar Aletta tidak memikirkan orang lain terlebih dahulu untuk sekarang karena kondisinya lah yang paling penting sekarang.

Saat itu pula, Tamara masuk ke kamar dengan membawa makanan dan minuman. Dia memberikan senyum lembut pada Aletta tapi tidak melihat ke arah Dilan.

"Loh sudah sadar ya, Al," ucap Tamara dengan suara lembut.

"Gue bawain bubur ayam dan air putih buat loh. Loh harus makan sedikit saja agar cepat pulih."

Alya mengambil tangan Gita dengan lembut. "Makasih yah Tamara, maaf gue udah ngerepotin loh. Harusnya loh suruh aja Dilan"

"Gak papa sekalian keliling aja liat liat daerah hotel ini" Ucap Tamara tersenyum dengan lembut kepada Aletta.

Setelah Tamara memberikan makanan dan kemudian keluar dari kamar untuk memberi ruang pada Aletta beristirahat, Dilan tetap tinggal dan membantu Aletta makan sedikit demi sedikit.

"Loh harus makan perlahan ya, Al," ucap Dilan dengan suara lembut sambil memberikan suapan bubur ayam padanya. "Jangan terburu-buru."

Aletta tersenyum lembut melihat perhatian yang diberikan Dilan. "Terima kasih sudah merawat gue, Dilan. Loh gak perlu repot repot ngelakuin sejauh ini kok."

"Kenapa gak? Loh adalah orang yang paling berharga di hidup gue," jawab Dilan dengan senyum hangat.

"Selain ini, gue merasa bertanggung jawab karena membuat loh terlalu lelah selama perjalanan."

Setelah makan, Aletta merasa tubuhnya lebih kuat dan ingin keluar untuk melihat sekeliling hotel. Dilan sudah pergi meninggalkan Aletta di kamarnya karena dia bilang mau istirahat.

Tamara dan Ruby baru masuk ke kamarnya, melihat Aletta sedang duduk bersandar di kepala ranjang, wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Tiba-tiba handphone Aletta berdering, nama JONATHAN muncul di layar. Aletta mengangkatnya dengan ragu.

"Halo Al...!!" suara Jonathan terdengar dari seberang sana, nadanya terdengar agak keras dan khawatir.

"Kamu kenapa sih?! Kenapa gak jaga kesehatan?! Aku dengar dari orang lain kamu pingsan di Jogja?! Aku khawatir setengah mati tau gak?!" omel Jonathan panjang lebar.

Aletta hanya bisa menunduk malu, "Iyaa... maaf Jo. Aku gak papa kok cuma kecapean dikit aja."

"Dikit apanya?! Badan kamu itu bukan besi Al! Jangan dipaksa terus! Kamu harus istirahat yang cukup, makan yang banyak! Aku gak mau kalau kamu sakit-sakitan gini!" Jonathan terus mengomel tapi jelas sekali itu tanda sayang dan perhatian yang sangat besar.

Saat itu Tamara sedang duduk di dekat situ, dia mendengar percakapan itu. Dengan hati-hati, Tamara mendekat dan berbisik pelan ke arah handphone, "Jo... beneran kok tadi Aletta sampe pingsan gitu loh. Dilan sampe panik banget angkat-angkat dia."

"HAH?! BENERAN PINGSAN?!" Jonathan makin kaget dan panik.

"Ya ampun Aletta... Kamu ini ya! Pokoknya sekarang kamu harus nurut apa kata aku! Istirahat total! Nanti aku kirim vitamin lagi buat kamu!"

Aletta hanya bisa mengangguk patuh, merasa bersalah sudah bikin Jonathan khawatir.

Siang harinya, karena perut terasa lapar dan sudah agak fit, Aletta turun ke area makan hotel yang sudah disediakan. Dia mengambil sedikit nasi dan lauk, lalu mencari tempat duduk.

Awalnya dia ingin mengajak Tamara dengan Ruby tetap mereka sangat terlelap tidur dia tak enak membangunkannya.

Ketika Aletta sedang menelusuri lorong dia melihat Dilan sedang duduk sendirian di meja sudut. Dia melihat Aletta datang dan langsung menepuk kursi di sebelahnya.

"Sini duduk sama gue," ucap Dilan singkat menepuk tempat duduk di sebelahnya.

Aletta duduk di sebelahnya. Karena malas ambil sendok baru atau mungkin karena sudah terbiasa sangat dekat, tanpa sadar mereka berdua makan dari satu piring besar yang berisi nasi tumpeng dan lauk yang dibagi.

"Makan yang banyak yah Al, biar cepet seger," kata Dilan sambil menyendokkan nasi dan lauk ke mulut Aletta.

"Ih Dilan... Kalau orang liat gimana," Aletta tersipu tapi tetap membuka mulut menerima suapan itu. Rasanya hangat dan nyaman banget. Mereka terlihat sangat akrab dan kompak layaknya sepasang kekasih, membuat beberapa teman yang lewat ikut senyum-senyum melihatnya.

"Udah makan aja lagian mereka juga gak akan bilang sama siapapun" Ucap Dilan cuek dan menyuapi Aletta.

"Gimana sekarang kondisinya" Ucap Dilan bertanya di kala mereka menyelesaikan sesi makannya.

"Udah mendingan kok" Ucapnya tersenyum kepada Aletta dan sibuk melihat lihat foto yang dikirim oleh Dilan ke handphone nya.

"Yap bagus semua, kalau gitu makasih yah" Ucapnya beranjak dari sana namun segera ditahan oleh Dilan

"Ikut gue sebentar yuk" Ucapnya Dilan menarik tangannya mencoba menuntut jalan.

"Mau ke mana" Tanya Aletta namun dia tetap mengikuti Dilan yang jalan lebih dulu darinya sambil terus menggenggam tangannya.

Sampai pada akhirnya Aletta di bawa ke kamar Dilan yang membuat Aletta sedikit bingung "loh gak bakal ngapa-ngapain gue kan" Ucap Aletta sedikit takut dan melepaskan genggaman tangannya.

"Loh tunggu di sini" Ucap Dilan masuk ke kamarnya meninggalkan Aletta sendirian di lorong kamar ada perasaan lega di hatinya, ternyata Dilan tidak macam macam kepadanya.

Dilan keluar dari kamarnya dan membawa to teu beg yang berisi baju couple yang dia beli khusus buat dia dan Aletta. Itu adalah baju kaos warna pastel yang nyaman, dengan desain yang sama persis, ukurannya pas banget buat badan Aletta.

"Al, nih. Baju couple. Besok kita pake bareng ya biar serasi," kata Dilan sambil menyerahkan baju itu dengan bangga.

"Wah bagus ya Dilan... makasih," jawab Aletta menerima baju itu jujur saja ada keraguan di dalam hatinya padahal ini bukan kali pertama dia di berikan hadiah oleh Dilan.

"Kalau gitu gue duluan yah" Ucap Aletta beranjak meninggalkan Dilan karena takut ada yang tahu kalau mereka sedang bersama di kamar laki-laki pula.

"Mau gue anter ke atas nya gak" Ucap Dilan takutnya dia tidak tahu jalan pulang.

"Gak papa gue bisa kok, lagian cuma beda satu lantai kan" Ucap Aletta

"Kalau gitu gue duluan yah" Ucap Aletta kali ini dia pergi melangkahkan kakinya Dilan hanya menyaksikan kepergian Aletta yang semakin jauh dan tak terlihat.

"Apakah hubungan kita tidak bisa seperti dulu lagi yah Al, gue kangen" Keluhannya menatap kepergian Aletta yang sudah menghilang di hadapannya.

Saat Aletta masuk ke dalam kamar dia melihat Tamara yang duduk di pojok kamar sedang melamun dan terlihat sedih sekali. Hati Aletta tergerak, dia tidak tega melihat sahabatnya kesepian dan terus menerus sedih karena Dilan.

Dia melihat hadiah pemberian dari Dilan untuknya, dia berfikir apakah dia pantas mendapatkan hadiah ini darinya tapi untuk sekarang hanya Tamara lah yang lebih pantas memaparkan baju ini tanpa pikir panjang, Aletta langsung berjalan menghampiri Tamara.

"Tamara... nih buat loh. Baju baru nih, coba deh dipake," kata Aletta memberikan baju pemberian Dilan itu kepada Tamara sebelum sempat dia melanjutkan perkataannya Tamara langsung membawanya.

Mata Tamara berbinar, dia pikir itu hadiah buat dia. "Wah makasih Al! Baju lucu nih." Dia langsung memakainya tanpa banyak bicara.

Tamara langsung mencobanya. Tapi... ZIP! Saat dipakai, baju itu ternyata sangat ketat dan kecil di badan Tamara. Bahunya sempit, dan panjangnya pun kurang pas. Karena kan emang ukuran standar Aletta yang lebih kecil dan mungil.

"Hah? Kok kecil banget sih?" Tamara kaget dan sedikit sedih. "Gak muat Al... kegedean badan gue kayaknya."

Wajah Tamara langsung berubah murung dan merasa minder. Dilan yang melihat itu langsung mendengus kesal.

"Yaelah... itu kan gue beli khusus ukuran badan Aletta! Mana muat kalau dipake lo!" batin Dilan kesal tapi tidak berani bilang keras-keras karena dia sedang mengintip di kamarnya Aletta dan teman temannya.

Dilan pergi dari kamarnya Aletta dengan perasaan yang kecewa dan rasa kesal karena kelakuan Aletta yang memberikan hadiah kepada orang lain padahal dia sudah susah payah mendapatkan baju itu untuknya.

Melihat Tamara jadi sedih dan menarik diri ke sudut kamar, Aletta langsung merasa bersalah. Dia segera mendekati Tamara dan memeluk bahu sahabatnya itu.

"Eh jangan sedih dong Tamara... maaf ya gue gak tau kalau ukurannya gak pas, gue pikiran kita satu ukuran makanya gue beli ukuran gue. Maafin gue ya?" bujuk Aletta lembut.

"Enggak apa-apa Al... mungkin emang gak jodoh kali ya sama baju ini l, padahal bajunya bagus gue suka," jawab Tamara pelan.

"Ya udah nih gue balikin lagi, lagian ngapain gue nyimpen baju yang gak muat di gue" Ucap Tamara mengembalikan bajunya.

"Iya deh gue simpen aja deh" Ucap Aletta memasukannya ke dalam koper dan duduk di sebelah Tamara.

"Udah jangan mikir aneh-aneh ya. Besok gue bantuin cariin baju yang pas banget buat loh, yang paling bagus dan muat di badan Tamara yang cantik ini ya! Janji deh!" Aletta mencubit hidung Tamara pelan.

"Lo kan sahabat terbaik gue. Kita hadapi semuanya bareng-bareng ya. Gue bakal bantu loh sebisa mungkin."

Mendengar bujukan manis Aletta, hati Tamara perlahan luluh dan tersenyum lagi. "Iya deh... makasih ya Al."

Hari ini tidak ada kegiatan apa apa karena tor akan di lanjutkan besok, mereka hanya menghabiskan waktu bertiga di kamar saja sambil menonton film horor.

Tak lupa dengan popcorn yang sudah mereka beli di minimarket depan sambil membeli makanan lainnya alih-alih mereka lapar tengah malam.

Mereka menikmati menonton film horor yang di setel dari leptop Tamara, hari semakin larut, tapi entah kenapa ketiga sahabat ini matanya justru semakin melek. Tidak ada satu pun yang bisa tidur. Suasana kamar jadi sepi dan membosankan.

"Gak bisa tidur nih gue," keluh Tamara sambil membalikkan badan.

"Gue juga nih, padahal tadi capek banget yah udah nonton film ketawa tawa, nangis iya, serem juga" sahut Aletta.

Aletta dan Tamara saling melirik Ruby yang sedang telfonan di sofa yang menghadap ke depan jendela.

Mereka nampaknya memiliki ide bagus untuk menghabiskan malam yang panjang ini bersama sama.

Tiba-tiba Aletta mengambil bantal besar di tempat tidurnya, lalu dengan iseng melemparnya pelan ke arah Ruby.

"DUG!"

"HEH! LO BERANI YA!" teriak Ruby kaget tak lupa mematikan sambungan telfonnya terlebih dahulu lalu langsung membalas melempar bantal ke arah Aletta.

"Hahaha! Perang bantal dimulai!!" teriak Tamara dengan heboh ikut bergabung.

Akhirnya suasana sepi berubah jadi sangat ramai dan berisik. Mereka bertiga malah main Pesta Bantal! Bantal-bantal beterbangan ke mana-mana, rambut mereka berantakan, tertawa terbahak-bahak sampai lupa waktu.

"Awas lo Al! Serang!!" Ucap Ruby memberikan pukul bertubi-tubi tidak memberikan celah sedikit pun.

"Tolongin gue Tamara! Ruby nakal!!" Ucap Aletta meminta pertolongan karena badannya tidak bisa di gerakan tertindih Ruby.

Bukannya membantu Aletta namun Ruby malam ikut loncat ke tempat tidur Aletta dan Ruby lalu menutup pandangan mereka dengan selimut yang besar.

Mereka tertawa lepas, melupakan semua masalah cinta, cemburu, dan sedih untuk malam ini. Hanya ada tawa dan kebahagiaan persahabatan yang murni.

Sedangkan ditempat lain ada Dilan yang sedang menunggu Aletta untuk turun ke bawah menghabiskan malam bersamanya.

Dia melihat orang yang berlalu lalang melewatinya tetapi tidak ada satupun dari mereka yang satu kamar dengan Aletta.

Apakah dia sakit? atau terjadi sesuatu kepadanya? kenapa dia tidak menghabiskan makannya di luar seperti orang lain? .

Banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul di dalam benaknya Erik sangat masih melihat kawannya itu karena lebih banyak murung dari pada menikmati liburannya.

"Udah lah mungkin Aletta sedang istirahat kali, kan besok kita mau ke rumah sakit buat tugas sekolah" Ucap Erik mencoba menghibur sahabatnya agar tidak terlalu cemas.

Dilan mulai merasa tenang dan berfikir positif terhadap Aletta. "Semoga loh bener bener baik baik aja ya Al" Keluhannya dalam hati.

 ~back to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!