NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Panggung

Malam ini, Jakarta tidak hanya memamerkan kemacetannya, tetapi juga kemewahannya yang angkuh. Dari jendela unit apartemenku, lampu-lampu kota terlihat seperti tumpahan emas di atas aspal hitam. Aku berdiri di depan cermin besar, menatap sosok yang hampir tidak kukenali.

​Gaun pemberian Bastian—sutra berwarna marun gelap—melekat sempurna di tubuhku. Potongannya sederhana namun sangat berkelas, dengan kerah halter yang menonjolkan garis bahu dan punggungku yang selama tujuh tahun ini selalu membungkuk demi beban orang lain. Rambutku yang biasanya hanya dikuncir seadanya kini tertata dalam sanggul modern yang elegan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah.

​Aku memoleskan gincu berwarna merah bata, memberikan ketegasan pada bibir yang biasanya hanya digunakan untuk membela kesalahan Kaivan. Malam ini, aku tidak akan bicara untuk orang lain. Aku akan bicara untuk diriku sendiri.

​Bel apartemen berbunyi. Aku tahu itu bukan Bastian—dia terlalu sopan untuk naik ke atas tanpa izin—tetapi sopir pribadinya yang sudah menunggu di lobi. Aku mengambil tas pesta kecilku, menarik napas panjang, dan melangkah keluar.

​"Panggungmu sudah siap, Arelia," bisikku pada sunyinya lorong apartemen.

​Ballroom Grand Hyatt malam ini disulap menjadi ruang yang luar biasa megah. Aroma bunga sedap malam yang mahal bercampur dengan wangi cerutu dan parfum-parfum kelas atas. Musik orkestra mengalun lembut, mengisi setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh jajaran direksi, komisaris, dan pengusaha-pengusaha paling berpengaruh di negeri ini.

​Begitu aku melangkah masuk, aku merasakan puluhan pasang mata tertuju padaku. Selama tujuh tahun, aku sering hadir di acara seperti ini, tetapi aku selalu berjalan dua langkah di belakang Kaivan, memegang map dokumen atau ponselnya. Aku adalah aksesori yang tidak terlihat. Namun malam ini, aku berjalan sendirian di atas lantai marmer yang mengkilap.

​"Arelia. Kamu luar biasa."

​Suara bariton itu datang dari arah depan. Bastian berdiri di sana, mengenakan tuksedo hitam yang dipotong sangat presisi. Ia terlihat sangat berwibawa, namun senyumnya saat melihatku memiliki kehangatan yang tidak ia tujukan pada orang lain.

​"Terima kasih, Bastian. Gaun ini... ini sangat indah," jawabku tulus.

​Bastian melangkah mendekat, menawarkan lengannya untuk kupeluk. "Bukan gaunnya yang indah, Arelia. Kamu yang menghidupkan gaun itu. Mari, ada beberapa komisaris Adhitama Group yang ingin mendengar lebih detail tentang analisis auditmu."

​Selama dua jam berikutnya, aku ditarik ke dalam dunia yang selama ini hanya kulihat dari kejauhan. Bastian memperkenalkanku sebagai "Analis Utama" dan "Pemimpin Strategis Proyek". Ia memberikan panggung sepenuhnya padaku saat para komisaris bertanya tentang mitigasi risiko vendor C. Untuk pertama kalinya, suaraku tidak bergetar. Aku bicara dengan data, dengan otoritas, dan dengan kepercayaan diri yang telah lama kupendam.

​Aku baru saja selesai menjelaskan poin tentang efisiensi logistik kepada salah satu komisaris senior saat mataku menangkap sosok yang sangat kukenal di sudut ruangan.

​Kaivan.

​Ia berdiri di dekat meja prasmanan, memegang gelas sampanye dengan tangan yang tampak tegang. Ia tidak mengenakan tuksedo, hanya setelan jas kantor biasa yang terlihat kusam di bawah lampu kristal. Di sampingnya ada Hendra, manajer pemasaran yang sepertinya membawanya masuk sebagai "staf pendukung".

​Mata kami bertemu.

​Wajah Kaivan memucat. Ia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi yang sulit didefinisikan—campuran antara keterkejutan, kekaguman, dan rasa sakit yang nyata. Ia melihat wanita yang selama ini ia anggap sebagai "tempat pulang" yang membosankan, kini bersinar terang di samping pria yang jauh lebih berkuasa darinya.

​Bastian menyadari arah pandanganku. Ia mempererat pegangannya pada lenganku, seolah memberiku kekuatan tambahan. "Jangan biarkan bayangan mengusik cahayamu, Arelia."

​"Aku tidak akan membiarkannya, Bastian," jawabku mantap.

​Namun, Kaivan tidak tinggal diam. Ia menyerahkan gelasnya pada Hendra dan berjalan lurus ke arah kami. Langkahnya goyah, seolah-olah ia sedang menembus badai yang ia ciptakan sendiri.

​"Rel," panggilnya saat jarak kami tinggal dua meter. Suaranya serak, kontras dengan alunan biola di sekitar kami. "Kamu... kamu cantik banget malam ini."

​Aku menatapnya dengan pandangan yang sangat jernih. Tidak ada kemarahan, hanya ada rasa asing yang mendalam. "Terima kasih, Kaivan. Kamu sedang apa di sini? Bukankah kamu seharusnya di rumah sakit menemani Nadine?"

​Rahang Kaivan mengeras. "Nadine sudah ditangani suster. Aku... aku hanya tidak menyangka Pak Dimas benar-benar mengundangmu ke acara eksklusif ini sendirian."

​"Pak Dimas tidak mengundangku, Kaivan. Bastian yang mengundangku sebagai mitra strategis utamanya," kataku, sengaja menekankan kata 'mitra strategis'.

​Kaivan beralih menatap Bastian dengan tatapan penuh kebencian. "Pak Bastian, Anda hebat ya. Dalam seminggu, Anda bisa mengubah asisten saya menjadi seseorang yang lupa daratan."

​Bastian meletakkan gelasnya di nampan pelayan yang lewat. Ia berdiri tegak, menjulang di depan Kaivan dengan aura yang sangat mengintimidasi. "Saya tidak mengubah apa pun, Kaivan. Saya hanya membukakan pintu untuk seseorang yang selama ini Anda kunci di dalam gudang. Arelia tidak lupa daratan, dia hanya akhirnya menyadari bahwa dia punya sayap untuk terbang."

​"Ayo, Rel. Kita pulang. Ini bukan tempatmu," Kaivan mencoba meraih lenganku, sebuah gestur posesif yang dulu selalu membuatku luluh.

​Kali ini, aku menepis tangannya sebelum ia sempat menyentuh kulitku.

​"Ini justru tempatku, Kaivan. Tempat di mana kompetensiku dihargai, bukan disembunyikan. Tempat di mana aku adalah tujuan, bukan sekadar persinggahan," kataku dengan nada yang sangat rendah namun tajam. "Pulanglah. Urus hidupmu yang berantakan itu. Jangan bawa kekacauanmu ke panggungku."

​Beberapa orang di sekitar kami mulai menoleh. Hendra segera datang dan menarik lengan Kaivan. "Van, sudah. Kita cuma staf teknis di sini, jangan bikin malu di depan Pak Bastian."

​Kaivan menatapku sekali lagi, matanya berkaca-kaca. Ada sebuah kehancuran yang mutlak di sana—kesadaran bahwa rumah yang selama ini selalu menunggunya kini telah resmi meruntuhkan dindingnya dan membangun gedung yang baru.

​Ia ditarik pergi oleh Hendra, menghilang di balik kerumunan tamu.

​Aku menghela napas panjang, merasakan beban berat terakhir dari masa laluku baru saja lepas. Bastian menatapku, mencari tanda-tanda kelemahan, namun ia hanya menemukan ketenangan.

​"Kamu oke?" tanyanya lembut.

​"Aku lebih dari sekadar oke, Bastian. Aku merdeka," jawabku.

​Malam itu berlanjut dengan berdansa. Di bawah lampu-lampu megah Grand Hyatt, aku berdansa dengan Bastian. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang bersembunyi. Aku merasa terang. Benar-benar terang.

​Nyaris jadi kita? Tidak, Kaivan. Kalimat itu salah. Seharusnya: Nyaris aku hancur karenamu, tapi kini aku bersinar tanpamu.

​Malam ini, panggung ini adalah milikku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan lampunya redup lagi.

1
Kinanda Husnancandra
bentar thorrr,,,
tarik nafas dulu aku yaaa🤭
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!