Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Logam Dan Uap Berdarah
Episode 21
Suasana di dalam pipa pembuangan ini jauh lebih menyesakkan daripada yang kubayangkan saat berada di luar tadi. Dinding pipa yang terbuat dari logam hitam terasa sangat panas seolah olah ia sedang menyerap panas dari seluruh aktivitas esensi yang ada di dalam istana Lord Valos. Cairan merah sisa semburan tadi masih mengalir di bawah tubuhku setinggi mata kaki menciptakan suara percikan yang sangat pelan setiap kali lutut atau tanganku menyentuh permukaannya. Aku merangkak dengan posisi tubuh yang sangat rendah menjaga agar jubah isolasi ku tidak terlalu banyak bergesekan dengan dinding logam guna meminimalisir suara yang bisa memicu sensor pendengaran mahluk penjaga.
Dug... dug... dug...
Jantung esensi ku berdetak dengan ritme yang sengaja aku perlambat melalui kontrol kesadaran jiwa. Di dalam ruang tertutup seperti ini gema dari detak jantung yang terlalu kuat bisa menjadi bumerang yang membongkar posisiku. Aku bisa merasakan bagaimana otot otot di punggung dan bahuku bekerja dengan sangat presisi setiap kali aku menarik tubuhku maju satu jengkal demi satu jengkal. Sebagai seorang pendaki aku sudah terbiasa merangkak di dalam celah celah sempit di pegunungan namun kali ini yang ku hadapi bukan sekadar batu mati melainkan sistem pembuangan yang memiliki denyut energinya sendiri.
"Goma jangan terlalu cepat. Aku bisa merasakan ada getaran frekuensi tinggi di depan sana. Sepertinya ada baling baling atau penyaring energi yang sedang berputar secara berkala," bisik Kharis yang kini mengeluarkan sedikit asap hitamnya untuk memeriksa kondisi udara di depan kami.
Aku menghentikan gerakanku seketika. Aku menempelkan telapak tangan kananku yang sudah berkulit metalik ke dinding pipa mencoba untuk menangkap getaran tersebut melalui syaraf perasa ku yang sensitif. Benar saja aku merasakan adanya getaran ritmis yang sangat kuat yang berasal dari jarak sekitar dua puluh meter di depan.
[ SISTEM: MEMINDAI AREA DI DEPAN ]
[ SISTEM: OBJEK TERDETEKSI: TURBIN PENYARING ESENSI ]
[ SISTEM: KECEPATAN PUTARAN: 300 ROTASI PER MENIT ]
[ SISTEM: JARAK ANTAR BILAH: 40 SENTIMETER ]
[ SISTEM: SARAN: TUNGGU SIKLUS PENDINGINAN SAAT PUTARAN MELAMBAT SELAMA 3 DETIK ]
Tiga detik. Itu adalah waktu yang sangat singkat untuk mahluk berukuran sepertiku melewati bilah bilah tajam yang berputar secepat itu. Namun di dunia pendakian tiga detik adalah keabadian jika kau tahu kapan harus meledakkan kekuatan ototmu secara bersamaan.
Aku mulai merangkak mendekati turbin tersebut. Semakin dekat bau asam esensi terasa semakin kuat hingga membuat mata kuning keemasan ku sedikit berair. Cahaya kemerahan dari balik turbin mulai menyinari lorong pipa yang gelap memberikan bayangan yang panjang pada tubuhku. Aku melihat bilah bilah turbin itu terbuat dari tulang mahluk laut yang diperkuat oleh kristal obsidian yang sangat tajam. Jika aku menyentuhnya sedikit saja maka tubuhku akan tercacah menjadi potongan daging dalam sekejap.
"Kau harus sangat hati hati Goma. Jika kau ragu meskipun hanya satu milidetik maka tamatlah riwayat kita di dalam pipa kotor ini," ucap Kharis dengan nada suara yang sangat cemas.
"Aku tidak mengenal kata ragu Kharis. Aku hanya mengenal waktu yang tepat," jawabku dengan suara yang sangat rendah hampir menyerupai bisikan angin.
Aku mengatur posisi tubuhku dalam posisi siap meluncur. Aku menekuk kedua kaki bawahku yang sudah memiliki otot betis yang sangat kuat serta tendon Achilles yang elastis. Aku menggunakan tangan tanganku untuk mencengkeram lekukan sambungan pipa di sampingku. Aku memfokuskan pandanganku pada poros turbin tersebut menunggu putarannya mulai melemah seiring dengan siklus pembuangan energi yang berakhir.
Dug... dug... dug...
Detak jantungku mendadak meningkat sesaat memberikan pasokan energi murni ke seluruh sel otot di kakiku. Aku bisa merasakan bagaimana energi esensi di dalam pembuluh darah hitamku mulai bergejolak siap untuk diledakkan.
[ SISTEM: SIKLUS PENDINGINAN DIMULAI DALAM 3... 2... 1... ]
[ SISTEM: SEKARANG! ]
Aku meledakkan kekuatan otot pahaku dalam satu gerakan yang disebut Burst Dash. Tubuhku melesat maju seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Aku tidak merangkak lagi melainkan aku meluncur di atas permukaan cairan merah yang licin. Saat tubuhku melewati bilah bilah turbin yang mulai melambat aku bisa merasakan hembusan angin tajam yang hanya berjarak beberapa milimeter dari punggung jubahku.
Wusss!
Aku berguling di seberang turbin tepat saat mesin itu kembali berputar dengan kecepatan penuh. Sraakkk! Suara putaran turbin itu kembali menggema di belakangku seolah olah sedang meratapi mangsanya yang baru saja lolos. Aku terengah engah sejenak merasakan adrenalin yang meluap di seluruh jaringan syaraf kepalaku.
"Hah... hah... itu tadi sangat dekat Goma. Benar benar gila," bisik Kharis sambil keluar dari sakuku untuk memeriksa apakah ada bagian tubuhku yang terluka.
"Tapi kita berhasil lewat. Itulah yang paling penting," jawabku sambil mulai berdiri meskipun dengan posisi membungkuk karena langit langit pipa yang rendah.
Aku melihat ke depan. Lorong pipa ini mulai melebar serta bercabang menjadi tiga bagian. Cahaya di sini tidak lagi merah melainkan mulai berubah menjadi ungu terang menandakan bahwa aku sudah mendekati area pemukiman atau area fungsional di dalam istana. Aku melihat adanya simbol simbol yang terukir di setiap pintu masuk cabang pipa tersebut.
[ SISTEM: MENERJEMAHKAN SIMBOL ARAH ]
[ SISTEM: CABANG KIRI: AREA PENJARA DAN RUANG PENYIKSAAN ]
[ SISTEM: CABANG TENGAH: RUANG MESIN ESENSI PUSAT ]
[ SISTEM: CABANG KANAN: AREA PELAYAN DAN DAPUR ESENSI ]
Dapur esensi. Itu adalah jalur terbaik untuk menyelinap ke lantai utama tanpa dicurigai sebagai penyusup bersenjata. Pelayan biasanya tidak memiliki indera perasa yang setajam para prajurit Silent Watcher.
"Kita ambil jalur kanan Kharis. Kita akan mencari pakaian pelayan atau apa pun yang bisa membuatku membaur di dalam istana ini."
Aku mulai merangkak masuk ke cabang pipa sebelah kanan. Di sini pipa tidak lagi terbuat dari logam kasar namun dilapisi oleh porselen tulang yang halus serta bersih. Aku bisa mendengar suara suara aktivitas dari arah depan. Suara dentuman kuali suara percakapan mahluk mahluk kecil serta aroma makanan iblis yang sangat kuat memenuhi indera penciumanku.
Aku mencapai sebuah lubang ventilasi yang tertutup oleh jeruji besi yang diukir dengan indah. Aku mengintip dari balik jeruji tersebut. Di bawah sana terdapat sebuah ruangan dapur yang sangat luas dan sibuk. Puluhan iblis kerdil dengan empat tangan sedang sibuk mengolah berbagai macam daging mahluk liar dan tumbuhan esensi yang bercahaya. Mereka bergerak dengan sangat cepat di bawah pengawasan seorang kepala koki bertubuh besar yang memiliki tanduk melengkung.
"Ini adalah kesempatan kita Goma. Lihat di pojok sana ada tumpukan seragam pelayan yang sedang dicuci," Kharis menunjuk ke arah sebuah keranjang besar di dekat pintu keluar dapur.
"Aku melihatnya. Aku akan menunggu saat koki besar itu berpaling."
Aku menggunakan jari jari tangan kiriku untuk melonggarkan baut baut pada jeruji ventilasi tersebut secara perlahan lahan. Aku tidak menggunakan kekuatan kasar karena suara patahan logam akan langsung menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Aku memutar bautnya satu per satu dengan sangat sabar menggunakan kekuatan ujung jari Black Iron ku yang sangat presisi.
Setelah jeruji terlepas aku menyimpannya di dalam pipa agar tidak jatuh. Aku menggantungkan tubuhku di langit langit dapur menggunakan teknik daki tebing horizontal di antara celah celah balok kayu tulang yang menopang atap. Aku merayap dengan sangat senyap tepat di atas kepala para iblis kerdil tersebut.
Jangan sampai ada debu yang jatuh. Jaga ritme detak jantung agar tidak terdeteksi.
Saat sang kepala koki berteriak memarahi salah satu anak buahnya menciptakan kegaduhan di sisi lain ruangan aku meluncur turun dengan sangat cepat di dekat keranjang pakaian. Aku mengambil satu set jubah pelayan berwarna abu abu gelap yang memiliki simbol mawar hitam di bagian dadanya. Aku segera mengenakannya di atas jubah isolasi ku kemudian menarik tudungnya untuk menutupi wajahku yang sudah mulai manusiawi.
[ SISTEM: PENYAMARAN BERHASIL ]
[ SISTEM: STATUS ANDA SEKARANG: PELAYAN ISTANA TINGKAT RENDAH ]
[ SISTEM: PERINGATAN: JANGAN BERBICARA PADA PELAYAN LAIN UNTUK MENGHINDARI KECURIGAAN ]
Aku berdiri tegak di antara kerumunan pelayan pelayan lain yang sedang sibuk membawa nampan berisi botol botol esensi. Aku menundukkan kepalaku berjalan dengan langkah yang teratur mengikuti arus pergerakan mereka keluar dari dapur. Kharis kembali bersembunyi di dalam jubahku tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Aku melangkah melewati pintu dapur menuju ke arah koridor utama istana yang dilapisi oleh karpet merah dari kulit mahluk laut purba. Dinding dinding koridor ini dipenuhi oleh lukisan lukisan besar yang menggambarkan sejarah kejayaan Lord Valos. Aku bisa merasakan kemewahan yang sangat kontras dengan penderitaan yang ada di wilayah luar Gehenna.
Ibu Widya aku sudah berada di jantung wilayah musuh. Aku sedang berjalan di antara mereka sebagai salah satu dari mereka. Selangkah lagi aku akan menemukan Aula Pengetahuan pribadi milik Lord Valos serta mengambil peta menuju Bumi.
Setiap langkah yang kuambil sekarang terasa sangat berat namun penuh dengan kepastian. Aku tidak lagi merangkak di dalam kegelapan namun aku sedang berjalan di bawah cahaya lampu kristal musuhku sendiri. Pendakianku menuju informasi ini telah mencapai tahap yang paling berbahaya serta aku siap untuk menelan siapa pun yang berani merobek penyamaranku.
Aku terus berjalan menyusuri koridor yang panjang mencari petunjuk lokasi perpustakaan pribadi tersebut. Di dalam istana yang luas ini aku adalah sebuah bayangan yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan taringku yang sesungguhnya.