Dibuang. Dihina. Dilupakan.
Sebagai istri kedua, aku tak pernah lebih dari bayangan—alat politik yang bisa disingkirkan kapan saja.
Saat mereka mengusirku dalam keadaan hancur, tidak ada satu pun yang tahu… aku membawa sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Tiga tahun berlalu.
Aku kembali—bukan sebagai wanita yang sama.
Bukan sebagai istri yang menangis memohon.
Tapi sebagai ratu yang bahkan takdir pun tak berani sentuh.
Sekarang, satu per satu mereka datang…
dengan lutut menyentuh tanah.
Memohon ampun.
Sayangnya…
aku sudah lupa bagaimana cara memaafkan
Mengingat alur cerita yang dramatis, saya telah membuat sampul yang menonjolkan elemen pemberdayaan, transformasi, dan pembalasan. Anda akan melihat visual yang menunjukkan perubahan drastis pada protagonis, dari sosok yang teraniaya menjadi wanita yang kuat dan mandiri, serta momen emosional saat karakter lain 'berlutut' di hadapannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERLUTUT
Kabut belum sepenuhnya hilang saat Reina berjalan meninggalkan desa.
Langkahnya tenang.
Tidak tergesa.
Seolah apa pun yang terjadi di belakangnya… sudah tidak penting.
Tapi langkah lain mengikuti.
Tidak dekat.
Tidak berani.
Namun cukup konsisten… untuk tidak bisa diabaikan.
Reina berhenti.
Tanpa menoleh.
“Kalau kau ingin mengikutiku…”
Suaranya pelan.
Datar.
“…setidaknya jangan setengah hati.”
Sunyi sejenak.
Lalu—
langkah itu mendekat.
Darven muncul dari balik kabut.
Kondisinya tidak lagi seperti sebelumnya.
Pakainnya masih kotor.
Tubuhnya masih lelah.
Tapi matanya—
berbeda.
Bukan lagi penuh perlawanan.
Melainkan sesuatu yang lebih berbahaya.
Kesadaran.
“Aku tidak tahu harus ke mana lagi.”
Reina tidak langsung merespons.
“Aku bisa saja membunuhmu sekarang,” lanjutnya,
“dan tidak ada yang akan menghentikanku.”
“Benar.”
Jawaban Reina singkat.
Darven menunduk sedikit.
“Tapi kau tidak melakukannya.”
Sunyi.
“Dan aku tidak cukup bodoh untuk mengabaikan itu.”
Reina akhirnya menoleh.
Tatapannya jatuh langsung ke mata Darven.
Tidak hangat.
Tidak dingin.
Hanya… menilai.
“Jadi?”
Satu kata.
Darven menarik napas.
Dalam.
“Aku ingin tahu.”
Reina sedikit memiringkan kepala.
“Tahu apa?”
Darven menatapnya lurus.
“Bagaimana rasanya… memiliki kekuatan seperti itu.”
Sunyi.
Untuk beberapa detik—
tidak ada yang bergerak.
Lalu—
Reina tersenyum tipis.
“Ini bukan sesuatu yang bisa kau miliki.”
Nada suaranya tidak merendahkan.
Lebih seperti… fakta.
“Tapi aku bisa berada di dekatnya.”
Jawaban Darven cepat.
Tegas.
Dan itu—
membuat sesuatu dalam diri Reina… tertarik.
“Kau tidak takut?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Darven tidak langsung menjawab.
“Aku takut.”
Jujur.
“Setiap detik sejak aku melihatmu… aku takut.”
Dia berhenti sejenak.
“Tapi itu bukan alasan untuk lari.”
Tatapannya semakin dalam.
“Itu alasan untuk… tetap melihat.”
Sunyi kembali.
Angin berhembus pelan di antara mereka.
Reina menatapnya lama.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan tidak terlihat.
Lalu—
dia berbalik.
“Kalau begitu…”
Langkahnya mulai berjalan lagi.
“…ikuti.”
Darven tidak langsung bergerak.
Seolah butuh satu detik—
untuk benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.
Lalu—
dia tersenyum kecil.
Bukan karena senang.
Tapi karena… akhirnya dia menemukan sesuatu.
Dia berjalan.
Mengikuti.
Tanpa bertanya lagi.
Tanpa ragu.
Beberapa waktu kemudian—
mereka berhenti di tepi hutan yang lebih dalam.
Tempat yang bahkan pemburu pun jarang berani masuk.
Reina berdiri di sana.
Menatap ke depan.
“Kau ingin tahu bagaimana rasanya?”
Darven mengangguk.
Reina mengangkat tangan.
Pelan.
Udara di sekitar mereka berubah.
Lebih berat.
Lebih padat.
Darven langsung membeku.
Bukan karena diperintahkan.
Tapi karena tubuhnya… menolak bergerak.
Napasnya terhenti.
“Ini…”
Suaranya hampir tidak keluar.
“Ini bahkan bukan sebagian kecilnya.”
Reina menurunkan tangan.
Tekanan itu hilang.
Darven jatuh ke satu lutut.
Mengatur napasnya.
Tubuhnya gemetar.
Tapi—
dia tidak mundur.
Dia justru… tertawa pelan.
“Gila…”
Dia mengangkat kepala.
Menatap Reina.
“Dan aku masih berdiri di sini.”
Reina menatapnya tanpa ekspresi.
“Kau bisa pergi sekarang.”
Darven diam.
Lalu—
perlahan—
dia menggeleng.
“Aku sudah memilih.”
Dia berdiri.
Meski kakinya masih lemah.
Meski napasnya belum stabil.
Dia tetap berdiri.
“Aku akan mengikutimu.”
Sunyi.
Reina tidak menjawab.
Tapi dia juga tidak menolak.
Dan itu—
sudah cukup.
Dari kejauhan—
dua sosok itu berjalan lebih dalam ke hutan.
Satu—
tidak perlu menoleh.
Satu lagi—
tidak akan berhenti mengikuti.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun—
itulah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Bukan hanya tentang ketakutan.
Tapi tentang…
kekuatan yang mulai mengumpulkan orang-orang di sekitarnya.
Tetap semangat berkarya Thor
Semangat berkarya Thor.