Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegang
Arlan menatap Adira dengan tatapan murka saat mendengar wanita itu membentaknya. Adira seketika tersadar dan bingung mengapa ia bisa melakukan hal senekat itu. Suara langkah kaki Arlan yang mendekat membuat Adira waspada, meski ia berusaha keras untuk menutupinya.
Ia sendiri tidak tahu mengapa refleks membentak pria itu. Mungkin karena ia sudah terlalu lelah, apalagi dengan sikap Arlan yang selalu menuduhnya sembarangan.
"Sepertinya aku terlalu baik padamu sampai kau mulai lupa dengan posisimu di rumah ini," ucap pria itu dengan nada rendah yang terdengar mengancam, seolah siap membunuhnya.
Adira memilih diam, tak ingin memperpanjang masalah. Ia sadar, entah ia diam atau bersuara, ujung-ujungnya Arlan tetap akan marah karena ia telah melakukan kesalahan fatal di mata pria itu.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja melakukannya," ucap Adira lirih.
"Kau tidak sengaja? Apakah kau membenciku?" tanya Arlan sembari menatap Adira tajam. Pria itu terus melangkah, semakin mengikis jarak di antara mereka hingga Adira merasa terpojok.
"Saya tidak punya alasan untuk itu, Tuan, saya tidak seberani itu," jawab Adira lagi, berusaha tetap tenang meski hatinya berdebar ketakutan.
"Benar? Lantas? Kenapa kau berani pergi tanpa sepengetahuan sopir?" tanya pria itu menatapnya tanpa berkedip.
Glek!
Adira meremas ujung bajunya berusaha menahan nafas.
Drrrtt...drrrtt..
Beruntung, ponsel Arlan tiba-tiba berdering, memecah ketegangan dan menyelamatkan Adira dari kemarahan pria itu. Arlan mengangkat telepon, hanya berdehem singkat, lalu mematikannya kembali.
"Turunlah sekarang dan makan. Masih terlalu awal bagimu untuk mati kelaparan. Kau sudah tidur seharian," ucap pria itu datar, lalu melangkah keluar kamar dengan kaki yang sedikit pincang.
Wanita itu menatap punggung belakang Arlan hingga menghilang dibalik pintu.
Adira menarik napas lega dan berusaha menenangkan perasaannya yang berdebar-debar. "Syukurlah... Dan, apa yang sudah aku lakukan? Ingat, Adira! Kau sudah merenggut nyawa adiknya, jadi tolong berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu," gumam Adira menasihati dirinya sendiri dengan penuh penyesalan.
Adira tertunduk, matanya tak sengaja kembali tertuju pada pakaian yang melekat di tubuhnya.
Loh, kenapa aku memakai baju lengkap? Bahkan... pakaian dalam pun terpasang? Tunggu... sepertinya ada yang tidak beres... Aku rasa... gumamnya dalam hati sembari meraba kain yang membungkus tubuhnya.
Ingatannya seketika berputar kembali ke kejadian semalam. Ia ingat betul bagaimana ia pulang dalam keadaan basah kuyup setelah kehujanan. Begitu sampai di kamar, dengan hati yang hancur dan air mata yang tak berhenti mengalir, ia menanggalkan seluruh pakaiannya yang basah. Tanpa sehelai benang pun, Adira langsung menyelinap ke balik selimut tebal, menangis hingga tertidur dalam keadaan polos karena rasa lelah yang luar biasa.
Matanya seketika melebar. Napasnya tertahan. Ia baru teringat kata-kata Arlan tadi sebelum ia pergi. Pria itu sempat bilang dengan nada dingin yang menyebalkan, "Apa kau tidak punya rasa malu tidur dalam keadaan polos seperti itu? Memang siapa yang ingin kau goda?"
Seketika, wajah Adira memerah padam. Rona merah itu menjalar cepat dari pipi, turun ke leher jenjangnya, bahkan hingga ke seluruh permukaan kulit tubuhnya yang tertutup pakaian. Ia merasa panas bukan karena air yang menyiramnya, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat.
Jika saat ini ia sudah berpakaian lengkap, itu artinya... ada seseorang yang memakaikan baju itu ke tubuhnya saat ia sedang tidur lelap.
Tidak mungkin... mana mungkin Arlan yang melakukannya? batinnya menjerit. Tuhan, di mana aku harus menyembunyikan mukaku? Sungguh memalukan sekali.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang