sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
...
..
Rea masih terpaku di depan meja bar, matanya bolak-balik menatap soal Olimpiade Fisika yang sudah terisi jawaban sempurna dengan coretan tangan Axelle yang maskulin tapi rapi.
"Gak usah melongo gitu. Jelek," celetuk Axelle sambil menyambar kunci motor sport-nya di atas meja.
"Axel, tunggu!" Rea mengejar Axelle sampai ke depan pintu apartemen. "Kalau lo sepinter ini, kenapa lo biarin nilai lo merah semua di sekolah? Lo tahu nggak, satu sekolah anggep lo itu cuma beban kelas?"
Axelle berhenti, tangannya yang sudah memegang gagang pintu membeku. Dia berbalik, menatap Rea dengan tatapan yang tiba-tiba berubah dingin, sedingin es yang membeku di kutub.
"Karena nilai sempurna itu punya Elgard Atharic, bukan punya gue," jawab Axelle datar.
. Ingatannya mendadak terlempar ke masa 13 tahun lalu. Aroma oli, suara deru mesin motor, dan tawa keras daddy nya saat menggendongnya di pundak sambil memegang kunci inggris. Masa di mana rumah selalu ramai dengan kedatangan Om dan Tante sahabat orang tuanya yang selalu membawakan mainan.
Tapi semua itu hancur saat kecelakaan itu terjadi. Kakek dan neneknya pergi, dan "Daddy" yang asik di bengkel itu mati bersama mereka, digantikan oleh robot kaku bernama Tuan CEO Atharic.
Dia membuka pintu apartemen dan keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan suara dentum pintu yang cukup keras.
axelle pov on
Deru mesin motor sport gue membelah jalanan Bandung yang masih berkabut, tapi suara bising knalpot ini nggak pernah cukup buat nenggelemin suara-suara di kepala gue.
Orang liat gue sebagai Axelle yang berandalan. Si pemberontak yang nggak punya masa depan. Tapi nggak ada yang tahu kalau setiap kali gue narik gas sedalem ini, gue lagi berusaha lari dari memori anak kecil yang masih nempel di ingatan gue.
Gue inget banget rasanya digendong Daddy di bengkel. Bau oli itu dulu adalah bau paling nyaman di dunia. Daddy adalah idola gue. Dia hebat, dia pinter, tapi dia punya waktu buat gue. Rumah kita dulu nggak pernah sepi. Ada Om Gio yang berisik, Om Kelvin yang kaku tapi sayang gue, aunty Icel, aunty Anna, om kenzo dan om tante gue yang lain yang gak bisa gue sebut satu satu saking rame nya rumah gue... setiap hari rasanya kayak pesta. Dan ada kakek-nenek yang selalu pasang badan kalau Mommy mulai omelin gue karena baju kotor kena minyak motor.
Tapi, semua kehangatan itu mati dalam satu malam.
Pas kakek dan nenek pergi karena kecelakaan itu, rasanya separuh jiwa gue ikut dikubur. Dan yang paling nyakitin? Daddy juga "pergi". Fisiknya ada, tapi jiwanya berubah jadi Tuan CEO yang cuma kenal angka dan rapat. Mommy yang biasanya manjain gue, tiba-tiba sibuk sama oty ELs dan bantu Daddy bangkitin bisnis keluarga yang sempat goyang.
Gue yang baru masuk SMP, umur 13 tahun yang lagi bingung-bingungnya sama perubahan diri, mendadak ditinggal sendirian di rumah yang gedenya kayak lapangan bola tapi senyapnya kayak kuburan. Nggak ada lagi tawa di meja makan. Nggak ada lagi Daddy yang ngajak bongkar mesin motor di hari Minggu. Semuanya diganti sama transferan uang bulanan yang nominalnya gila, tapi nggak bisa gue pake buat beli pelukan mereka.
Setiap malam di umur 13 tahun itu, gue cuma bisa duduk di depan jendela kamar, nunggu lampu mobil mereka masuk ke gerbang. Seringkali gue ketiduran sebelum mereka pulang. Pas bangun pagi, mereka udah berangkat lagi.
Gue kangen Daddy yang dulu. Gue benci robot yang sekarang ada di depannya. Itu sebabnya gue nggak mau pinter di sekolah. Buat apa? Biar gue makin mirip sama dia? Biar gue makin cepet ditarik masuk ke dunianya yang kaku itu? Nggak. Gue mending dianggap sampah daripada jadi robot kayak Daddy.
Gue sengaja bikin masalah. Gue sengaja bolos. Gue pengen mereka liat gue. Gue pengen mereka marah, atau apa aja, asal jangan diemin gue seolah gue cuma inventaris rumah yang nggak bernyawa. Tapi ternyata, yang gue dapet cuma tatapan kecewa Daddy dan tangisan lelah Mommy.
Sekarang, ada Rea di hidup gue. Cewek yang hidupnya cuma buat dapet validasi dari papanya lewat nilai. Liat dia, gue kayak liat bayangan Daddy yang gue benci. Tapi pas dia meluk gue semalam yang takut gelap, gue ngerasa ada setitik kehangatan yang udah lama hilang dari rumah gue.
Gue nggak benci Rea. Gue benci takdir yang bikin kita berdua sama-sama kesepian di tengah kemewahan ini.
"Maaf ya, Re," gue ngerem mendadak di depan gerbang sekolah. "Gue harus jadi bajingan, biar nggak ada yang tahu kalau di dalem sini, gue masih anak umur 13 tahun yang nunggu Daddy-nya pulang dari bengkel."
...----------------...
Axelle sengaja memacu motornya berputar-putar di jalanan Dago, membiarkan angin dingin Bandung menampar wajahnya, mencoba membuang sesak yang menghimpit dada. Akibatnya, ia tiba di gerbang SMA Galaksi tepat saat satpam baru saja menggembok pagar besi tinggi itu.
Dari balik helm fullface-nya, mata Axelle menangkap sosok Rea yang berdiri tegak di tengah lapangan, lengkap dengan ban lengan OSIS-nya. Tidak sendirian, Rea dikelilingi oleh tiga sahabat setianya: Clarabella, si cantik yang modis; Giselle, atlet voli yang tegas; dan Jovanka, si jenius perangkat lunak yang selalu memegang tablet.
"Eh, lihat deh, itu si jagoan kesiangan lagi," celetuk Clarabella sambil merapikan rambut highlight-nya. "Axelle emang nggak ada kapoknya ya, Re? Padahal tadi pagi kayaknya gue lihat Porsche hitam mirip punya dia lewat depan komplek."
Rea membeku sesaat, namun ia segera memasang wajah kaku. "Biarkan saja, Cla. Aturan tetap aturan."
Setelah melalui perdebatan singkat dengan satpam, Axelle akhirnya diperbolehkan masuk. Ia berjalan santai di tengah lapangan, menenteng helmnya seolah-olah ia sedang berjalan di atas karpet merah, bukan menuju tempat eksekusi.
"Telat tiga puluh menit, Atharic," suara Rea terdengar dingin di tengah keheningan lapangan.
Giselle maju selangkah, melipat tangan di dada. "Sesuai aturan sekolah, lo harus lari sepuluh putaran dan bersihin toilet gedung B setelah istirahat pertama."
Axelle tidak menjawab Giselle. Matanya hanya tertuju pada Rea, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang kembali lagi menjadi badut nilai yang disiplin, bukan rea yang semalam meluk axelle
"Sepuluh putaran? Kecil," gumam Axelle pendek. Ia mulai berlari, namun saat melewati posisi Rea, ia sengaja melambatkan langkahnya dan berbisik sangat pelan, "Inget, Xavandra... di rumah lo yang minta perlindungan gue, tapi di sini lo yang paling semangat nyiksa gue."
Jovanka yang berdiri paling dekat mengernyitkan dahi. "Dia ngomong apa barusan, Re? Kok mukanya deket banget ke lo?"
"Nggak... nggak penting," jawab Rea cepat, meskipun jantungnya mulai berpacu liar.
Dari kejauhan, Vanya yang baru saja keluar kelas memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit. Baginya, ada yang aneh dengan cara Axelle menatap Rea—tatapan yang tidak seharusnya dimiliki oleh dua orang yang jadi musuh bebuyutan si tukang hukum dan si tukang buat onar
Axelle terus berlari di bawah terik matahari, membiarkan keringat membasahi seragamnya. Baginya, rasa lelah fisik ini jauh lebih baik daripada harus berdiam diri di rumah mewah yang sepi, atau di apartemen yang kini mulai terasa seperti medan perang perasaan. Di setiap langkahnya, ia hanya bisa bertanya pada Tuhan, sampai kapan sandiwara ini harus bertahan sebelum salah satu dari mereka hancur
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁