Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pakaian Kurang Bahan
Di rumah Rayga.
Bi Nery dan beberapa orang pelayan lain membawa banyak paper bag menuju kamar yang ditempati oleh Aurellia.
Termasuk Xaviera dan seorang pelayan yang tadi sempat menyudutkan Aurellia juga ikut membawa paper bag.
Raut wajahnya begitu masam dan sangat menonjol di antara mereka yang menuju kamar Aurellia.
"Non ..." Bi Nery mengetuk pintu kamar, dia tidak langsung masuk ke dalam.
Menghormati Aurellia sebagai penghuni kamar tersebut.
"Iya, Bi. Masuk saja,"' sahut Aurellia dari dalam kamar.
Bi Nery dan yang lainnya masuk ke dalam kamar dengan segala bawaannya.
"Apa itu, Bi?" tanya Aurellia terkejut melihat banyak paper bag yang mereka bawa.
Bi Nery meletakkan barang bawaannya di atas tempat tidur, dikuti oleh yang lainnya.
"Ini perlengkapan Non Aurellia yang tadi disuruh pilih oleh Tuan Rayga, Ternyata Bibi ke sana hanya menjemput saja, semuanya sudah disiapkan," jawab Bi Nery yang diangguki oleh Aurellia.
"Sebanyak ini, isinya apa saja, Bi?" tanya Aurellia penasaran.
"Bibi juga tidak tahu apa saja isinya, Non. Bibi hanya membawanya saja, tidak mengecek isinya." Bi Nery menjawab dengan jujur, karena memang dia tidak melihat isinya apa saja.
Bi Nery mengambil salah satu paper bag yang sudah ditandai sebelumnya.
Dia memberikan paper bag itu kepada Aurellia.
"Tadi Tuan berpesan, Non Aurellia disuruh memakai ini untuk menunggu kepulangan Tuan," kata Bi Nery menyampaikan pesan Rayga pada Aurellia.
Aurelia mengambil paper bag yang diberikan padanya, lalu memeriksa isinya.
"'Apa ini, Bi?" tanya Aurellia mengangkat pakaian berbahan tile seperti jaring berwarna baby pink.
"Lingerie, Non," bisik Bi Nery sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aurellia.
"Halah ... jangan sok polos! Wanita penghuni rumah bordil sepertimu masa gak tahu pakaian apa itu. Bukankah itu pakaian favorit kalian para penghuni rumah bordil untuk menjajakan diri pada tua bangka haus servis?" sela wanita yang terang-terangan menampakkan ketidaksukaannya pada Aurellia.
"Huss... jangan sampai Tuan Rayga memecatmu." Bi Nery menoleh ke belakang, tepatnya ke arah wanita yang merendahkan Aurellia.
"Aku salah apa? Bukannya penghuni rumah bordil memang pakaian dinasnya seperti itu semua, termasuk mantan penghuninya yang itu." Tunjuknya pada Aurellia.
Aurellia menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya agar tidak terpancing.
"Kapan Tuan Rayga pulang, Bi?" tanya Aurellia pada Bi Nery.
Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dan tidak mau menanggapi wanita yang bermulut pedas di belakang Bi Nery.
"Katanya nanti malam, Non. Untuk pukul berapa Tuan sampai di sini, Bibi juga tidak tahu," jawab Bi Nery.
"Ciee ... barang bekas mau obral gawangnya pada Tuan Rayga," ledek Rosa, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Persiapkan saja mentalmu, jangan kepedean Tuan Rayga akan mencicipinya. Palingan sebelum diaduk-aduk, kamu sudah langsung dihempaskan," lanjutnya membuat wajah Aurellia merah padam.
Aurellia berjalan maju beberapa langkah ke depan, sampai dia kini berdiri berhadap-hadapan dengan pelayan yang berani terus-terusan merendahkannya.
"Sebenarnya kamu punya dendam apa padaku, hah?" tanya Aurellia, dia melipat kedua tangannya di dada dan menatap intens pelayan di depannya itu.
Ketika berjarak dengan Aurellia, mulutnya begitu tajam dan pedas.
Ketika didekati Aurellia seperti itu, malah nyalinya jadi ciut.
Tidak ada lagi kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya, bahkan mengangkat wajahnya untuk menatap Aurellia saja tidak berani.
"Aku diam jangan kau kira takut padamu. Aku memang dibawa oleh Tuan Rayga dari rumah bordil, tetapi rumah bordil bukan lah tempatku. Lagian, seburuk-buruknya rumah bordil, tetapi lebih buruk mulutmu yang tidak beretika!" ucap Aurellia telak membuat pelayan itu tidak berkutik.
"Ingat, kamu di sini digaji oleh suamiku bukan untuk mengomentari buruk istrinya, tetapi untuk menjadi ART yang melayani majikannya. Sadar posisi dikit, donk!" balas Aurellia puas di saat pelayan itu bungkam seribu bahasa.
"Silahkan keluar dari sini kalau masih mau melihat cahaya matahari," ancam Aurellia yang makin menjadi membalas pelayan itu yang telah berani merendahkannya seharian ini.
Pelayan yang bernama Rosa itu keluar sambil menggerutu.
Rasa cemburunya pada Aurellia tidak bisa dia sembunyikan.
Rosa termasuk wanita yang terlalu bar-bar untuk urusan perasaan.
Telah lama dia menaruh hati pada majikannya sendiri, bahkan dia juga pernah menggoda Rayga dengan berpakaian seksi saat Rayga pernah pulang ke rumah itu.
Namun, Rayga tidak memberinya peluang, bahkan tidak meliriknya sama sekali.
"Bibi juga lanjut bekerja ya, Non," pamit Bi Nery yang diangguki oleh Aurellia.
"Iya, Bi," jawabnya.
Bi Nery keluar dari kamar Aurellia bersama yang lainnya.
Setelah menutup kembali pintu kamar yang ditempati Aurellia, Bi Nery melangkah terburu-buru menuruni anak tangga.
Tujuan utama Bi Nery melangkahkan kakinya menuju dapur, sedangkan pelayan yang ikut masuk ke kamar Aurellia tidak lagi mengikutinya.
Mereka balik pada pekerjaan masing-masing.
Di dapur, terlihat Rosa yang berdiri di depan wastafel hanya memandangi air kran yang dia biarkan lepas mengalir begitu saja.
"Ros!" panggil Bi Nery.
Rosa hanya menoleh sekilas pada Bi Nery yang berjalan mendekat padanya.
Dia acuh dan tidak peduli pada Bi Nery yang memanggilnya.
"Kenapa kamu begitu lancang pada Non Aurellia? Dia itu nyonya di rumah ini. Apa kamu mau cari gara-gara sama Tuan Rayga?" Bi Nery mematikan air kran yang dibiarkan mengalir sejak tadi oleh Rosa.
"Dia itu bukan nyonya sesungguhnya. Dia hanya wanita yang dibeli oleh Tuan Rayga dari rumah bordil untuk mengandung pewaris Tuan Rayga saja. Setelah anak Tuan Rayga lahir, dia akan diusir dari rumah ini dan pergi tanpa membawa apa-apa," jawab Rosa begitu percaya diri dan jelas saat mengucapkan kalimat yang keluar dari
mulutnya.
Mata Bi Nery membola, mulutnya menganga lebar terkejut mendengar penuturan Rosa yang dia anggap hanya mengada-ada saja.
"Tidak percaya? Kita lihat saja nanti setelah dia hamil dan melahirkan," lanjut Rosa menanggapi keterkejutan Bi Nery.
"Astaga Ros. Kamu jangan asal ngomong" Bi Nery tak habis pikir, kenapa Rosa begitu percaya diri dan yakin mengatakan itu.
"Aku tidak asal ngomong, Bi. Aku mendengarnya sendiri informasi itu dari mulut Tuan Rayga," jawabnya tidak mau dikecam oleh Bi Nery.
Kepala Bi Nery mendadak terasa pusing mendengar penuturan Rosa.
Bagi Bi Nery, Rosa sudah sangat berlebihan dan halusinasi yang telah melampaui batas.
"Kamu boleh menaruh hati pada Tuan Rayga, karena itu hak kamu, tetapi jangan sampai gila," Bi Nery menyindir Rosa yang dianggap sedang berhalusinasi.
"Terserah Bibi, yang pasti itu beneran aku dengar sendiri. Pas wanita itu dibawa Tuan Rayga ke sini, aku ngikutin mereka sampai ke atas. Malamnya aku nguping, Tuan Rayga menekankan pada wanita itu kalau Tuan Rayga telah mengeluarkan duit banyak membelinya dari pelelangan rumah bordil. Tuan Rayga meminta wanita itu mengandung anaknya dan setelah melahirkan harus pergi dari sini," jelas Rosa mengatakan dengan jujur apa yang dia dengar.
Memang saat itu dia menguping dan apa yang dia katakan juga tidaklah suatu kebohongan.
Bi Nery menggeleng-geleng, tak habis pikir terhadap perbuatan Rosa yang terlalu berlebihan dan terlalu nekat.
"Itu urusan Tuan Rayga, kamu tidak berhak untuk ikut campur. Mau dia beli Non Aurellia untuk mengandung anaknya, atau memang dinikahi karena cinta, itu bukan ranah kita untuk mengetahuinya terlalu dalam."
Rosa memutar bola matanya jengah.
Dia begitu kesal ditatar seperti itu oleh Bi Nery.
Dengan langkah kaki yang menghentak kasar, Rosa meninggalkan Bi Nery yang tak kalah kesal dan marah padanya.
***
Gelapnya malam mulai menyapa sebagian belahan bumi.
Kedatangannya mengingatkan Aurellia pada perintah Rayga yang disampaikan melalui Bi Nery.
Perintah yang meminta Aurellia menunggunya malam ini dengan pakaian khusus.
Aurellia melaksanakan tugasnya sesuai perintah.
Pakaian berbahan tile seperti saringan minyak yang tadi diberikan Bi Nery sudah dia kenakan.
"Walau dia bukan pria yang kucinta, tetapi dia pemilik mahkotaku. Malam ini akan aku persembahkan sesuatu paling berharga yang aku jaga selama ini, untuk dia yang sudah bergelar suami bagiku." Aurellia menatap bayangan tubuhnya di dalam cermin di depannya.
"Aku berhutang budi padanya dan aku akan membayar dengan ikhlas sesuai timbal balik yang dia pinta." Aurellia menyeringai, membentuk garis lengkung senyuman di bibir ranumnya.
Sedangkan di pelupuk mata Aurellia menggenang cairan bening yang telah menganak sungai.
Aurellia beranjak sebentar dari posisinya, mengambil botol parfum yang isinya masih full.
Dia kembali berdiri di depan cermin, lalu menyemprotkan parfum itu ke seluruh badannya.
"Wangi." Aurelia menghirup aroma segar dari parfum yang baru saja dia semprotkan.
Bau harum begitu semerbak di dalam kamar yang ditempati Aurellia.
Aroma parfum itu menyebar memenuhi seisi ruangan yang lumayan luas untuk ukuran sebuah kamar.
Setelah selesai ritual di depan cermin, Aurellia melangkah gontai menuju tempat tidur berukuran king size.
Naik ke atasnya dan memilih duduk bersandar menunggu kehadiran Rayga yang telah berstatus suami baginya.
"Pukul delapan," gumam Aurellia.
Dia melirik jam di dinding, jarum pendek jam tersebut mengarah pada angka delapan.
"Mungkinkah dia akan segera pulang?" Aurellia bertanya sendiri, tentu tidak ada jawaban yang dia dapatkan atas pertanyaan itu, karena yang ada di dalam kamar hanya dia seorang diri.
Satu jam berlalu, Rayga belum juga datang menemuinya.
Bosan menunggu, akhirnya Aurellia rebahan sambil menonton film action melalui ponsel miliknya.
Jika sebagian besar perempuan menyukai drama Korea yang begitu manis dan romantis, berbeda dengan Aurellia yang lebih suka menonton film Action.
Sampai larut malam ponsel Aurellia masih menayangkan film kungfu untuk kesekian episode yang telah diputar.
Namun, Rayga belum juga pulang.
Bahkan, Aurellia pun telah tidur begitu nyenyak walau di layar ponselnya masih menyuguhkan film dengan pertarungan yang begitu seru.