NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Transisi

Hari Rabu tiba dengan sisa-sisa hujan semalam yang masih membekas di aspal jalanan SCBD. Jakarta terlihat lebih bersih, seolah polusi yang selama ini mencekik kota telah luruh bersama badai. Di dalam kepalaku, badai itu juga baru saja reda, meninggalkan keheningan yang sedikit asing namun sangat menenangkan.

​Aku duduk di kubikelku, menatap layar monitor yang menampilkan draf final untuk presentasi hari Jumat di Adhitama Group. Sejak instruksi Pak Dimas kemarin sore, aku memegang kendali penuh. Namaku tertera di halaman depan sebagai penanggung jawab utama, sementara nama Kaivan terselip di bagian pendukung operasional.

​Aku melirik ke arah samping. Kaivan sedang menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Ia tidak sedang mengetik. Ia hanya diam, memutar-mutar pena di jarinya dengan gerakan yang menunjukkan kegelisahan luar biasa. Biasanya, di jam-jam seperti ini, kami akan saling melempar lelucon atau ia akan memintaku memeriksa drafnya sambil sedikit merayu agar aku mau memesankan makan siang kesukaannya.

​Hari ini, ada sekat transparan yang tebal di antara kami.

​"Rel," panggilnya lirih. Suaranya terdengar parau, seolah ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya.

​Aku tidak menoleh. Aku sedang sibuk menandai beberapa poin penting pada grafik logistik. "Ya, Van?"

​"Soal laporan vendor C... aku beneran nggak bisa akses folder revisinya. Kamu kunci?"

​"Aku pindahkan ke server privat, Van. Pak Dimas yang minta," jawabku datar. "Kamu hanya butuh data administrasi dasar untuk korespondensi, kan? Aku sudah siapkan folder terpisah untukmu di cloud tim."

​Kaivan memutar kursinya sepenuhnya ke arahku. Aku bisa merasakan tatapannya yang berat. "Kamu beneran mau bikin aku kayak anak magang, ya? Folder terpisah? Administrasi dasar? Rel, tujuh tahun aku yang pegang akun-akun strategis di kantor ini."

​"Tujuh tahun kamu pegang akun itu karena aku yang jaga semua datanya dari belakang, Van," aku akhirnya menoleh, menatapnya dengan pandangan yang jernih. "Sekarang, aku hanya melakukan apa yang diminta klien dan Pak Dimas. Mereka ingin akurasi. Dan aku akan memberikan akurasi itu."

​Kaivan hendak membalas, namun ponselnya di meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama Nadine dengan foto profil yang sangat cantik. Ia tampak ragu sejenak, melirik ke arahku, lalu meraih ponsel itu dan berjalan cepat menuju pintu keluar balkon.

​Aku menarik napas panjang. Pemandangan itu tidak lagi membuat hatiku hancur berkeping-keping. Ada rasa sakit, tentu saja, tapi itu adalah rasa sakit yang familiar—seperti luka lama yang mulai mengering dan gatal. Aku tahu dia akan menghabiskan waktu tiga puluh menit ke depan untuk menenangkan Nadine yang mungkin sedang mengeluh tentang hal sepele, sementara pekerjaannya di kantor terbengkalai.

​Jam makan siang, Maya menarikku keluar dari kantor. Kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Senopati.

​"Lu harus tampil gila di Gala Dinner itu, Rel," kata Maya sambil memilah-milah gaun di sebuah butik ternama. "Ini bukan cuma soal proyek. Ini soal pernyataan kalau Arelia sudah lepas dari bayang-bayang si pengecut itu."

​"Aku sudah dapat gaun dari Bastian, May. Dia yang pilihkan," kataku pelan.

​Maya menghentikan gerakannya. Ia menoleh padaku dengan mata yang membelalak. "Bastian Adhitama? Si CEO itu? Dia yang pilihin gaun buat lu?"

​Aku mengangguk. "Tadi pagi sudah sampai di apartemen lewat kurir pribadinya. Warnanya marun gelap, silk material."

​Maya menutup mulutnya dengan tangan, lalu memekik kecil. "Rel! Itu bukan cuma urusan kerjaan lagi namanya! Laki-laki sekelas Bastian nggak bakal pilihin gaun buat rekan bisnis kalau dia nggak punya rasa hormat atau... ketertarikan yang serius. Lu tahu kan dia itu most eligible bachelor di Jakarta tahun ini?"

​"Dia hanya ingin analis utamanya terlihat merepresentasikan perusahaannya dengan baik, May. Jangan berpikiran terlalu jauh," jawabku, meskipun dalam hati aku juga merasakan getaran yang sama.

​"Tapi Rel," Maya mendekat, suaranya merendah. "Lu lihat wajah Kaivan nggak tadi pagi? Dia kayak orang yang baru sadar kalau hartanya yang paling berharga baru saja dicuri orang. Dia itu narsistik. Dia nggak bakal lepasin lu gitu aja pas tahu ada 'hiu' yang lebih besar yang lagi dekatin lu."

​"Dia sudah pilih tujuannya sendiri, May. Nadine tujuannya. Aku cuma tempat pulangnya. Sekarang rumahnya sudah kukunci, harusnya dia sudah tahu diri."

​Sore harinya, suasana kantor semakin moody. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan lampu meja di beberapa kubikel. Aku masih duduk di mejaku, memandangi kerlap-kerlip lampu SCBD di balik jendela besar. Pemandangan ini selalu membuatku merasa kecil, namun malam ini, aku merasa seperti bagian dari cahaya-cahaya itu.

​Kaivan masuk kembali ke ruangan setelah menghilang sejak jam makan siang. Ia tampak kacau. Rambutnya berantakan, dan kemejanya tidak lagi rapi. Ia duduk di mejanya, namun bukannya bekerja, ia justru menatapku.

​"Rel," panggilnya lagi. Kali ini ia tidak menggunakan suara parau, tapi suara yang penuh dengan manipulasi emosional. "Ingat nggak waktu kita pertama kali kerja di sini? Kita janji bakal jadi power couple di divisi riset. Kita janji bakal sukses bareng-bareng."

​"Kita memang sukses, Van. Kamu yang sukses," balasku tanpa menoleh.

​"Enggak, Rel. Tanpa kamu, aku bukan apa-apa. Aku baru sadar hari ini pas Pak Dimas maki-maki aku karena laporan itu. Aku merasa... kosong. Kayak ada bagian dari otakku yang hilang pas kamu nggak bantu."

​Aku tertawa hambar. "Itu namanya ketergantungan, Kaivan. Bukan kasih sayang. Kamu baru sadar nilai seseorang setelah kamu nggak bisa pakai tenaganya lagi untuk kepentinganmu."

​"Rel, tolong... kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku bakal bicara sama Nadine. Aku bakal batasi hubunganku sama dia. Aku mau kita balik kayak dulu," ia bangkit, berdiri tepat di belakang kursiku.

​Aku bisa merasakan kehadirannya yang sangat dekat. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang mulai bercampur dengan keringat. Dulu, kedekatan ini akan membuatku luluh. Dulu, aku akan langsung berbalik dan memeluknya, menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​Tapi sekarang, aku hanya merasa dingin.

​"Balik kayak dulu?" Aku berputar menghadapnya. "Kayak dulu itu artinya aku yang lembur sementara kamu kencan? Kayak dulu itu artinya namamu yang ada di depan dan namaku yang ada di catatan kaki? Kayak dulu itu artinya aku yang menangis diam-diam pas kamu jemput wanita lain?"

​"Rel..."

​"Tahu nggak apa yang paling menyakitkan, Kaivan? Selama tujuh tahun, aku nggak pernah minta kamu buat jadi tujuanku. Aku cuma minta dihargai sebagai manusia yang punya hati. Tapi kamu bahkan nggak bisa kasih itu," suaraku bergetar, tapi aku menahannya. Aku tidak akan menangis di depannya lagi.

​Tiba-tiba, pintu kaca divisi terbuka. Bastian Adhitama masuk.

​Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat formal, seolah baru saja menyelesaikan pertemuan dengan pejabat tinggi. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer ruangan. Kaivan langsung mundur satu langkah, wajahnya menunjukkan rasa permusuhan yang nyata.

​"Arelia, maaf mengganggu. Saya lewat daerah sini dan teringat ada berkas tambahan untuk presentasi Jumat besok yang tertinggal di mobil saya," ucap Bastian. Suaranya tenang, berat, dan sangat berwibawa.

​Bastian melirik ke arah Kaivan sejenak, tatapan yang begitu dingin hingga Kaivan membuang muka.

​"Terima kasih, Bastian. Anda tidak perlu repot-repot naik ke atas," kataku sambil berdiri.

​Bastian berjalan mendekat ke arah mejaku, mengabaikan keberadaan Kaivan sepenuhnya. Ia menyerahkan sebuah map kulit hitam yang sangat mewah. "Saya ingin kamu membacanya malam ini. Ada beberapa poin tentang ekspansi mereka ke Asia Tenggara yang ingin saya kamu kuasai."

​"Saya akan pelajari sekarang juga."

​Bastian menatapku, tatapannya melembut. "Kamu terlihat lelah. Jangan terlalu memaksakan diri. Saya ingin kamu tampil segar di Gala Dinner nanti. Oh ya, apa kurirnya sudah mengantarkan paketnya?"

​"Sudah. Terima kasih untuk gaunnya," jawabku.

​Mendengar kata "gaun", napas Kaivan terdengar memburu di sampingku.

​"Bagus. Saya yakin warna itu akan terlihat sangat cantik padamu," Bastian menepuk bahuku pelan—sebuah gestur yang sangat protektif. "Ayo, saya antar pulang. Tidak aman untuk wanita sendirian di kantor sesunyi ini pada jam segini."

​"Rel sudah ada janji sama aku!" sela Kaivan tiba-tiba. Suaranya meninggi, mencoba merebut kembali otoritas yang sudah lama hilang.

​Bastian menoleh perlahan ke arah Kaivan. Ia mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah, Arelia? Kamu ada janji dengan pelaksana operasionalmu?"

​Kata "pelaksana operasional" itu terasa seperti tamparan bagi Kaivan.

​Aku menatap Kaivan, lalu menatap Bastian. Aku melihat masa laluku yang penuh dengan rasa sakit, dan masa depanku yang penuh dengan pengakuan.

​"Tidak ada janji apa pun, Bastian. Mari," jawabku mantap.

​Aku menyambar tasku, mengambil map dari Bastian, dan berjalan melewatinya menuju pintu keluar. Aku tidak menoleh ke arah Kaivan. Aku tidak ingin melihat wajah hancurnya. Aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu untuk memikirkan perasaannya sampai aku lupa bagaimana rasanya memiliki perasaan sendiri.

​Di dalam lift, Bastian berdiri di sampingku. Kami diam, namun keheningan ini terasa penuh.

​"Kamu melakukannya dengan baik, Arelia," ucapnya saat kami sampai di lobi. "Memutus rantai memang sulit, tapi itu satu-satunya cara untuk mulai terbang."

​"Terima kasih, Bastian. Untuk semuanya."

​Di dalam mobilnya yang melaju membelah malam Jakarta, aku menatap ke luar jendela. Aku melihat bayangan diriku di kaca mobil—wanita yang akhirnya berani keluar dari sekat transparan yang selama ini mengurung hatinya.

​Transisi ini menyakitkan, tapi ini adalah jenis sakit yang membuatku tumbuh. Dan malam ini, aku tahu bahwa nyaris jadi kita adalah sebuah buku yang sudah selesai kutulis. Esok, aku akan mulai menulis bab tentang diriku sendiri. Tanpa bayang-bayang, tanpa keraguan.

​Jakarta malam ini terlihat sangat indah. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa aku adalah bagian dari keindahan itu.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!