NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Diplomasi Kamar Mandi dan Jebakan Outdoor

Setelah sesi senam jantung, maksudnya senam pagi berakhir, penderitaan Aiswa belum usai. Ia yang sudah membayangkan sarapan tenang sambil mengantre bubur ayam bersama peserta seminar lainnya, harus menelan kekecewaan.

Zianna, dengan kekuatan imutnya, menarik tangan Aiswa menuju restoran privat VVIP, diikuti Devan yang berjalan santai di belakang dengan aura "penguasa dunia".

Di sana, Aiswa makan dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Meski piringnya berisi Smoked Salmon dan Croissant premium, rasanya tetap saja seperti makan kerupuk kaleng karena tatapan Devan yang tak pernah lepas darinya.

Sabar, Ai. Demi Zianna. Anggap saja si Bapak di depan ini cuma patung manekin pajangan yang nggak sengaja hidup, batin Aiswa menguatkan diri.

Selesai sarapan, Aiswa langsung menyusun rencana pelarian. Ia harus menjauh dari radius sepuluh meter dari Bapak dan Anak ini. Namun, saat ia sedang berjalan-jalan di taman resort untuk mencari udara segar sebelum seminar dimulai, ia malah berpapasan dengan Zianna yang sedang bermain bersama Mbak Suci. Devan tidak terlihat di sana.

"Kesempatan!" bisik Aiswa penuh kemenangan.

Aiswa mendekati Suci, sang baby sitter.

"Mbak Suci, boleh ngobrol sebentar?" tanya Aiswa pelan sambil melirik Zianna yang asyik mengejar kupu-kupu.

"Iya, Mbak Aiswa. Ada apa ya?" jawab Suci ramah.

Aiswa menarik Suci sedikit menjauh, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pengasuh itu.

"Mbak... saya minta tolong banget. Mbak tahu kan, Zianna belakangan ini nempel terus sama saya? Sebenarnya saya senang, Zianna itu pinter dan lucu banget, tapi..." Aiswa menggantung kalimatnya, matanya waspada.

"Tapi kenapa, Mbak?"

"Bapaknya... agak kurang waras," bisik Aiswa tajam.

"Hah?!" Suci memekik kaget, matanya hampir keluar.

Ia seolah baru saja mendengar bahwa bumi itu berbentuk segitiga. Bagaimana mungkin Tuan Muda Devan Argian,.pria idaman jutaan wanita yang pesonanya bisa meruntuhkan gedung pencakar langit dibilang kurang waras?

"Sssshhh! Mbak, jangan keras-keras!" Aiswa membungkam mulut Suci dengan telapak tangannya.

"Ada apa, Mbak Suci?" tanya Zianna yang sempat menoleh karena teriakan tadi.

"Eh, nggak apa-apa, Nona! Lanjutkan saja mainnya, ini ada semut gede lewat!" sahut Suci kikuk.

Begitu Zianna kembali fokus, Suci menatap Aiswa tak percaya.

"Mbak Aiswa serius? Tuan Muda itu..."

"Iya, Mbak! Pokoknya saya minta tolong. Setengah jam lagi saya ada seminar penting. Saya ini ke sini mau cari ilmu, mau belajar, saya nggak bisa tertekan. Kalau saya ketemu Zianna terus Bapaknya ikutan nongol, yang ada saraf saya putus duluan karena gila," bujuk Aiswa dengan wajah memelas.

Suci terdiam, lalu perlahan ia mengangguk mantap. Sebenarnya, ada rasa cemburu sedikit di hati Suci melihat betapa perhatiannya Devan pada Aiswa, jadi permintaan ini terasa seperti "gayung bersambut".

"Nah, Mbak Suci ajak Zianna sama Bapaknya jalan-jalan aja. Bali kan luas banget, banyak spot foto bagus. Ngapain coba dengerin seminar yang isinya teori pendidikan? Bosan, Mbak! Ajak aja mereka ke mana gitu yang jauh," lanjut Aiswa lagi.

"Baik, Mbak Aiswa. Saya usahakan atur jadwal Tuan Muda dan Nona," janji Suci.

Setelah kesepakatan rahasia itu tercapai, Aiswa berpamitan pada Zianna dengan akting kelas atas. Ia memegangi perutnya sambil meringis.

"Zianna sayang, Tante Guru harus ke kamar mandi dulu, perut Tante mulas banget. Zianna lanjut main ya, jangan tunggu Tante, nanti Tante langsung ke tempat kerja."

Zianna tampak sedih, tapi melihat wajah Aiswa yang berakting seolah ingin meledak karena sakit perut, ia akhirnya mengangguk.

"Ya sudah, Tante Guru hati-hati ya di kamar mandi."

Aiswa pun berlari kecil menuju bangunan hotel. Begitu sampai di balik tembok, ia berhenti, lalu melakukan gerakan "Yes!" penuh kemenangan.

"Diplomasi berhasil! Akhirnya aku bebas dari bayang-bayang sultan songong itu!"

Dengan langkah riang dan semangat belajar yang membara, Aiswa masuk ke dalam aula besar tempat seminar dijadwalkan. Namun, pemandangan di depannya membuat ia mematung. Aula itu kosong melompong. Kursi-kursinya masih tertata rapi, tapi tak ada satu pun manusia di sana.

Ting!

Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Dari rekan sejawat yang kamarnya di sebelah Aiswa.

Bu Desi: "Mbak Aiwa di mana? Kok nggak ada di lokasi? Seminarnya diubah jadi konsep outdoor, katanya biar dapet inspirasi dari alam. Lokasinya di gazebo besar dekat pantai, buruan ke sini nanti nggak dapet kursi yang adem! Panas banget loh!"

Aiswa ternganga. Jantungnya berdisko, tapi kali ini karena rasa curiga yang mendalam.

"Seminar... outdoor? Konsep alam?"

Ia segera bergegas menuju lokasi yang dimaksud. Dari kejauhan, ia sudah melihat kerumunan guru-guru berpakaian rapi sedang duduk di gazebo mewah yang terbuka lebar. Dan di sana, di barisan paling depan, di sebuah kursi empuk bergaya sofa, duduklah pria yang seharusnya sedang "diajak jalan-jalan" oleh Mbak Suci.

Devan Argian duduk tenang sambil memangku Zianna, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dan sebuah senyum miring yang sangat menyebalkan terbit saat ia melihat Aiswa datang dengan napas terengah-engah.

Aiswa mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.

"Ini bukan seminar pendidikan... ini seminar cara menjerat guru TK secara sistematis dan terstruktur!" geram Aiswa dalam hati.

Baru saja ia ingin mencari tempat duduk paling pojok, suara Devan terdengar menggema lewat mikrofon yang entah sejak kapan ada di tangannya.

"Nona Aiswa, silakan duduk di depan. Di sini kursinya masih kosong. Kita baru saja akan memulai diskusi soal... pendekatan personal pada anak."

Aiswa ingin pingsan saja rasanya.

"Sultan songong ini... bener-bener mau main perang urat syaraf ya?!"

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!